ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Telepon dari Prita


__ADS_3

"Hen... tolong pinjamkan lagi ponselmu, ya.... " rayu Prita.


"Tapi, Nona... Sejak kemarin Anda sudah meminjam ponsel saya." elak Heni, salah satu pelayan mansion yang bertugas melayani Prita.


Sudah tiga hari Bayu tidak pulang dan tidak ada kabar sama sekali darinya. Prita menyibukkan diri untuk mendekati para pelayannya agar lebih akrab.


"Nanti malam aku kembalikan. Janji ini yang terakhir." Prita meyakinkan Heni.


"Saya takut Tuan marah, Nona."


"Saya yang akan bertanggung jawab kalau dia marah."


"I... iya, Nona. Janji ya, ini terakhir kali." Heni menyerahkan ponselnya dengan tangan gemetaran.


"Terima kasih ya, Hen. Kamu boleh kembali bekerja."


Prita langsung berlari menuju kamarnya setelah berhasil membawa ponsel Heni.


Sejak dua hari yang lalu, ia selalu merayu Heni untuk meminjamkan ponselnya. Heni adalah tipe orang yang tidak enak hati, apalagi yang meminta adalah majikannya.


Prita menggunakan ponsel heni untuk menghubungi Ayash, karena hanya nomernya yang ia ingat. Tapi, Ayash tidak pernah mengangkat telepon darinya.


Ayash memang tipe orang yang tidak mau mengangkat telepon dari sembarang orang, apalagi nomor yang tidak dikenal.


Tapi, Prita akan terus mencoba sampai berhasil sementara Bayu belum pulang. Ini adalah kesempatannya.


Tut... Tut... Tut....


Tiga kali sudah teleponnya tidak diangkat. Ia menghela nafas, tak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Ia melihat jam di layar ponsel jadul itu. Masih jam tiga sore.


"Mungkin aku harus menghubunginya lagi nanti saat jam pulang kantor." gumam Prita.


*****


Ayash baru menyelesaikan meeting dengan salah satu client dari Kota J. Ada proyek pembuatan villa di salah satu pulau dekat Kota J dan perusahaannya terpilih sebagai konsultan perencana konstruksi. Ini adalah proyek besar pertama yang bisa diperoleh Ayash setelah bekerja di perusahaannya. Dia mempersiapkan segala sesuatu dengan matang dan teliti agar proyeknya kali ini berjalan lancar.


Ia bersama karyawannya selalu lembur demi mempersiapkan proyeknya.


"Gi, ini proyek besar pertama kita. Aku masih kurang percaya diri untuk melakukannya."


"Anda pasti bisa, Pak. Kami siap membantu."


"Kalau aku sampai gagal kali ini, papa tidak akan memberikan perusahaan ini untukku."


"Saya yakin, Anda pasti bisa, Pak. Saya sudah lima tahun mendampingi Anda. Anda tipe pemimpin yang bekerja keras dan tekun. Anda pasti berhasil."


"Terima kasih, kamu sudah mendampingi dan mengajari banyak hal padaku."


"Itu sudah tugas saya, Pak."


"Gi, apa kamu sudah menentukan tim yang akan melakukan survei ke tempat proyek kita?"

__ADS_1


"Belum, Pak."


"Segera bentuk timnya! Pilih orang-orang yang paling kompeten dan berpengalaman. Seminggu lagi berangkatkan mereka ke Kota J."


"Baik, Pak."


"Tim survei harus jeli melihat kondisi keamananan lingkungan, dampak lingkungan, dan ketidaknyamanan publik yang terkait dengan pekerjaan konstruksi nantinya."


"Teliti semua berkas-berkas terkait proyek kita. Mulai dari dokumen-dokumen perjanjian, perijinan, dan yang lainnnya. Jangan sampai ada yang janggal. Jika ada kekurangan, segera urus dan laporkan padaku."


"Itu sudah saya lakukan, Pak. Akan saya cek ulang agar lebih valid."


"Terima kasih atas kerja kerasnya."


"Pak, saya dan karyawan lainnya akan makan malam bersama di restoran sebelah. Apa Bapak berkenan ikut?"


"Ah, sepertinya aku akan pulang saja nanti selesai kerja. Kamu bersenang-senanglah dengan yang lain. Aku kembali ke ruangan dulu."


Ayash menepuk lengan Egi dan melenggang pergi meninggalkan ruang rapat. Ia kembali ke ruang kerjanya. Sesampainya di sana, ia menyandarkan punggung pada kursi kerjanya yang empuk.


Setelah Prita pergi, terkadang ia merasa kesepian. Walaupun orang-orang mengajaknya berkumpul, tapi ia lebih memilih sendiri. Ia hanya bertemu orang untuk masalah pekerjaan. Tak ia pikirkan lagi waktu bersenang-senang dengan teman atau rekan kerjanya.


Ia meraih ponselnya. Keningnya berkerut ketika melihat lima panggilan tak terjawab di ponselnya.


"Nomor ini lagi?" gumannya.


Nomor tidak dikenal itu selalu muncul di ponselnya. Ia tak tahu, orang iseng mana yang konsisten mengganggunya. Sementara, ia tak ada waktu untuk meladeni panggilan iseng. Waktunya penuh dengan urusan pekerjaan.


Drrt... Drrt... Drrt....


Ponselnya bergetar. Nomor asing itu kembali muncul di layar ponselnya.


"Aku angkat atau abaikan saja, ya? Kenapa orang ini bisa tahu nomor pribadiku?"


Drrt... Drrt... Drrt....


Ponselnya kembali bergetar. Nomot itu lagi yang kembali muncul.


"Halo.... " akhirnya Ayash memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut. Tapi tak ada jawaban.


"Halo.... " tak ada jawaban lagi. Ayash semakin percaya kalau itu hanya telepon iseng.


"Halo... siapa ini? Kalau tidak mau bicara, saya matikan ya, teleponnya." Ayash sudah geram.


"Ayash... Ayash.... hiks... hiks... hiks.... "


Ayash langsung terkesiap mendengar suara dari seberang telepon yang disertai tangisan.


"Prita.... "


"Ayash... Ayash... Ayash.... hiks... hiks... hiks.... "

__ADS_1


"Kamu dimana?" Ayash begitu antusias bisa mendengar lagi suara Prita setelah sekian lama.


"Ayash... huhuhu.... "


"Hust... tenangkan dirimu dulu.... aku akan mendengarmu. Dimana kamu sekarang? Aku akan menjemputmu."


"Aku ada di tempat pertama kita diculik malam itu. Ada di tengah hutan. Aku tidak bisa pergi. Penjaganya sangat banyak. Huhuhu.... "


"Apa orang bernama Bayu yang menahanmu?"


"Prita! Darimana kamu mendapatkan ponsel itu?"


Ayash seperti mendengar suara lelaki sedang marah-marah dari seberang telepon.


"Halo.... "


"Berikan Ponselnya!"


"Tidak mau!"


"Siapa yang kamu telepon! Cepat berikan!"


"Jangan! Ah.... "


Krek! Krek! Krek!


"Halo... Halo... Prita!"


Ayash menggebrak meja. Sambungan telepon terputus. Prita pasti dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Ia segera berlari membawa ponselnya menuju ruangan Egi. Tampak Egi sudah siap menenteng tas kerja, tandanya ia akan pulang.


"Egi! Jangan pulang dulu. Aku butuh bantuanmu." seru Ayash sembari berjalan cepat menghampirinya.


Egi kebingungan melihat tingkah bosnya yang seperti sedang sangat panik.


"Tolong lacak nomor ponsel ini. Cari posisi terakhir ia menghubungiku!" perintah Ayash sembari memperlihatkan nomor di ponselnya.


"Nomor siapa ini, Pak?"


"Itu nomor Prita. Cepat lakukan jangan banyak tanya!" Ayash berjalan mondar-mandir. Nada bicaranya meninggi. Emosinya kini meluap-luap. Ia sangat khawatir dengan Prita. Mendengar percakapan sekilas dari telepon, bisa jadi Prita dam bahaya.


"I... iya, Pak." Egi ketakutan melihat kelakuan Ayash.


Egi langsung menghubungi anak buahnya yang seorang hacker, "Halo, kamu lacak letak posisi terakhir penelepon nomor yang sudah aku kirimkan. Penting, ini permintaan Pak Ayash. Aku tunggu dalam waktu 10 menit!" perintah Egi.


"Sudah saya lakukan, Pak."


"Kamu hubungi semua pengawal saya, suruh mereka kesini. Kita akan menuju ke sana setelah lokasi diketahui."


"Baik, Pak."

__ADS_1


"Halo... suruh semua pengawal di mansion, di rumah lama, dan di apartemen untuk ke perusahaan sekarang juga. Ini perintah dari Pak Ayash."


__ADS_2