
Prita tampak kurang nyaman duduk ditemani ketiga teman Bayu. Dia kelihatan sangat canggung karena mereka terus memperhatikan dirinya seperti melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat.
Ia terpaksa harus sendirian karena Bayu tiba-tiba harus menemui temannya yang lain. Sepertinya ada perbincangan penting hingga tega meninggalkan wanita itu dengan ketiga temannya.
"Prita, ada teman yang masih jomblo nggak? Boleh dong kenalkan padaku." goda Tio seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Halah! Memangnya kamu sudah mau serius? Bukannya kamu masih suka main-main. Kasihan ceweknya nanti." Kilah Jaka.
Prita hanya tersenyum kecil.
"Hey, kalau ceweknya seperti Prita, aku mau serius kok. Tipeku memang yang imut-imut seperti Prita ini. Nanti kalau Bayu tega meninggalkanmu, jangan lupakan namaku, ya. Aku siap menggantikannya."
"Bilang seperti itu lagi nanti kalau ada Bayu." cibir Angga. "Udahlah, Prita jadi tidak nyaman mendengar gombalanmu."
"Namanya juga usaha, Ang."
"Abaikan saja, Ta. Tio memang seperti itu." saran Angga. "By the way, sudah berapa lama kamu jadi pacar Bayu?"
Prita menoleh sebentar ke arah Angga, kemudian kembali mengalihkan pandangannya. Ia bingung mau menjawab apa. Baginya, ia tak pernah merasa menjadi seorang kekasih. Lebih tepat disebut disekap atau dipaksa untuk dijadikan budak nafsu semata.
"Mungkin sekitar satu bulan. Aku tak terlalu mengingat." jawabnya.
Prita tak mungkin menceritakan yang sebenarnya kepada tiga orang itu. Ia tak yakin salah satu di antaranya bisa membantu jika ia katakan sejujurnya. Apalagi mereka teman Bayu. Sejelek apapum Bayu, mereka pasti akan tetap membelanya. Tidak mungkin mereka tak tahu jika Bayu seorang mafia. Atau bahkan, mungkin semua orang yang datang adalah mafia.
"Kalau menurut pandanganku, kamu bukan tipe wanita yang suka menggoda. Nggak mungkin juga kamu bertemu dia di club malam, kan. Kamu pasti anak baik-baik. Aku heran, bagaimana bisa seorang Bayu menyukaimu?" telisik Jaka.
Prita menggeleng tak tahu alasannya.
"Bagaimana kalian bisa bertemu? Apa kalian dijodohkan?" sambung Jaka.
Prita kembali menggeleng, "Aku pernah menolongnya saat dikeroyok preman."
Ketiganya tercengang mendengar penuturan Prita. Bagaimana mungkin seorang seperti Bayu kalah dengan preman? Itu hal yang sangat memalukan.
Mereka bertiga saling beradu pandang, kemudian tertawa bersamaan.
Prita heran dengan respon mereka.
"Hahaha... Akhirnya Bayu punya aib juga." Tio tertawa paling kencang. Sepertinya dia sangat puas.
"Btw, kamu pernah bertemu dengan ayahnya Bayu."
Prita hanya menggeleng.
"Syukurlah. Si gila Bayu pasti juga belum berani mengenalkanmu pada ayahnya. Tapi, kamu wanita pertama yang diakui Bayu sebagai pacarnya. Aku yakin Bayu serius dengan hubungan kalian." terang Angga dengan menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.
Peryataan itu tak membuat Prita merasa lega atau apapun. Ia hanya ingin bisa terlepas dari manusia berbahaya semacam Bayu.
__ADS_1
"Jangan sampai bertemu ayah Bayu dalam waktu dekat ini." ujar Jaka.
Prita mengalihkan pandangan pada Jaka.
"Kalau dalam waktu dekat ini kamu bertemu dengan ayahnya, jangan sampai dia tahu kamu pacar anaknya. Percayalah, itu lebih baik untukmu. Hati-hati."
Prita tak paham dengan ucapan Jaka. Ia justru penasaran, apakah sosok ayah Bayu lebih menyeramkan dari anaknya? Itu mungkin saja, karena memang mereka keluarga mafia.
"Hai semua.... "
Sebuah suara lembut mengalihkan perhatian mereka. Tampak seorang wanita dengan postur tubuh yang tinggi, langsing, dan seksi berjalan mendekat. Dari gesturnya, sepertinya ia seorang model atau artis.
"Wau... Karla... akhirnya kamu datang juga, sayang." Tio langsung berdiri dan memeluk Karla.
"Tio... dimanapun ada pesta, pasti ada kamu, ya."
"Ah, tidak juga. Aku hanya datang ke pesta karena ingin bertemu bidadari secantik dirimu."
"Halah, gombal!" Karla mendorong dada Tio sedikit menjauh darinya.
"Jaka... " Karla beralih memeluk Jaka, "Lama tidak bertemu. Kangen pemotretan bareng kamu."
"Aku kira kamu nggak akan kembali. Kamu pasti betah jadi model internasional."
"Hah, aku di Australia hanya menyelesaikan kontrak saja. Tetap, aku hanya betah di sini bersama kalian." Karla mengutas senyum.
"Angga.... " Karla berganti memeluk Angga.
Karla menggeleng, "Harusnya aku yang berterima kasih karena kamu sudah mengundangku. Aku selalu kangen acara pesta seperti ini."
Prita masih tertegun di tempat duduknya. Ketiga prita itu tampak akrab dengan wanita yang bernama Karla. Prita tak ingin mengganggu acara reuni mereka. Jika saja bisa pergi, ia ingin sekali kabur.
"Eh, dia siapa?" sudut mata Karla menemukan sosok asing Prita.
"Dia Prita." terang Angga.
Karla tersenyum, "Hai, Prita, aku Karla." ucapnya sembari mengulurkan tangan.
Prita membalas uluran tangan itu dan tersenyum, "Prita."
"Aku sampai kaget melihat cewek imut bersama para om-om ini. Kamu teman adiknya Angga, ya?" tanya Karla keheranan.
"Dia pacarnya Bayu, Kar." celetuk Tio.
Karla tercengang mendengar perkataan Tio. Matanya menelisik sosok Prita dari atas hingga bawah. Ia tak bisa percaya, wanita yang terlihat polos, lugu, dan biasa saja mana mungkin pacar Bayu? Bayu punya pacar? Kalaupun lelaki itu ingin dekat dengan wanita, pasti hanya sebagai hiburan saja. Tidak mungkin Bayu mau berkomitmen dengan wanita. Apalagi yang perwujudannya biasa seperti itu.
"Jangan melawak kamu, Tio." kekeh Karla.
__ADS_1
"Sepertinya aku melewatkan sesuatu yang seru."
Tiba-tiba saja Bayu sudah hadir di antara mereka. Suasanya sunyi seketika.
Karla dengan mata berbinar-binar langsung berlari memeluk Bayu, lelaki yang sangat ia rindukan selama 2 bulan ini.
"Bayu... aku kangen banget sama kamu." ucapnya seraya menelusupkan kepala ke dada bidang Bayu.
Angga, Jaka, dan Tio salah tingkah. Mereka tidak enak hati membiarkan Prita melihat kejadian itu.
Sementara Prita, ia tampak biasa saja. Beberapa detik tatapannya bertemu dengan tatapan Bayu. Ia hanya mengulas senyum.
Bayu reflek melepaskan pelukan Karla dan berjalan ke arah Prita. Diraihnya tangan Prita agar bangkit dari duduknya. Ia memeluk posesif pinggang Prita.
Karla tercengang dengan perlakuan Bayu. Ia tersenyum getir.
"Karla, kenalkan. Ini Prita. Pacarku." Tegasnya.
.
Karla benar-benar tidak percaya Bayu bisa mengucapkan kalimat itu.
Pacaran? Yang benar saja! Dia yang sudah seringkali diajak tidur saja tidak pernah dianggap pacar. Diajak pacaranpun Bayu selalu menolak. Katanya, dia belum siap berkomitmen.
Tapi, hari ini, tiba-tiba dia mengakui seorang wanita yang biasa saja sebagai pacarnya? Wanita yang sangat berbeda dengan deregan wanita yang sering ia booking sebagai teman tidur.
"Bay, kamu sedang tidak bergurau, kan? Dia cuma teman tidurmu yang baru, kan?" tanya Karla frustasi.
"Aku saja yang sering kamu ajak tidur hanya kamu anggap teman saja. Masa wanita seperti dia kamu bilang pacar?"
"Karla.... "
"Biasanya kamu suka ngajak aku ke hotel, kan... Ayo kita lakukan sekarang. Aku sudah pulang. Kamu tidak perlu menyewa wanita lain untuk memuaskanmu. Aku siap malam ini."
Karla memang wanita nekat dan tak bisa menjaga kata-katanya. Bayu langsung menarik Prita untuk pergi agar wanitanya tidak lebih banyak mendengar uvapan-ucapan yang pasti membuatnya tidak nyaman.
"Angga, aku pulang dulu." pamitnya.
"Bayu! Ayo kita le hotel. Aku bisa lebih memuaskanmu datipada wanita itu!"
Bayu tak menggubris teriakan Karla. Ia terus membawa Prkta menjauh.
"Bayu.... !" teriak Karla.
Karla mencoba mengejar Bayu, namun ditahan oleh Tio.
"Sudahlah, Kar. Biarkan Bayu insyaf."
__ADS_1
"Huh! Kita kan teman, Yo. Kenapa kamu malah membela wanita itu!"
Karla segera pergi dengan perasaan kesal.