
Setelah menerima telepon dari Egi, Ayash bergegas meninggalkan apartemennya. Dia diundang untuk datang ke hotel Greenland Paradise milik ayah Raeka. Ada rasa kesal di hatinya karena niat menghabiskan weekend bersama Prita jadi terganggu. Mungkin nanti sekalian ia bisa meluapkan kekesalannya di sana terkait kejadian semalam.
Setibanya di hotel, seorang pegawai memandunya menuju lobi. Di sana sudah ada Egi, Raeka, dan Irgi. Raeka menampakkan raut wajah kesal ketika melihat kedatangannya. Namun Ayash sama sekali tidak peduli. Ia langsung duduk di sebelah Egi.
"Nggak ada rasa bersalah sedikitpun ya, setelah membuat kekacauan." sindir Raeka.
"Kamu yang seharusnya merasa bersalah. Lelaki bangs*t itu kan tamu undanganmu." ucap Ayash santai seraya menyeruput kopi di hadapannya.
"Kamu.... " Irgi menahan Raeka agar tidak berdebat dengan Ayash.
"Bagaimana kondisi Prita?" tanya Irgi.
"Dia sudah lebih baik."
"Lantas, apa yang mau kamu lakukan pada Mario?"
"Mau aku bunuh dia."
"Hahaha... kalau mau membunuhnya, ini saat yang tepat. Dia masih ada di rumah sakit. Tinggal kamu suntik mati saja."
"Ide bagus."
"Ih! Kalian otaknya kriminal." celetuk Raeka.
"Lha kamu sendiri, punya teman kok bajing*n. Jangan-jangan kamu sengaja mengundangnya untuk mengganggu Prita. Kamu kan sangat membenci Prita."
"Aku memang benci Prita. Tapi aku tidak akan berbuat seperti itu. Lagipula, mana aku tahu kalau Mario akan berbuat seperti itu."
"Sudah, sudah... " Irgi mencoba menengahi.
"Hah... baru saja diresmikan sudah ada kekacauan. Aku rasa umur hotel ini tidak akan lama. Kasihan sekali ayahku." gumam Raeka.
Ayash merasa tersindir, " Egi... "
"Iya, Pak."
"Kamu sudah memperbaiki semua pintu dan properti yang saya rusak kemarin?"
"Sudah, Pak. Semalam saya menyuruh anak buah saya kerja rodi. Jadi, sebelum matahari terbit semua sudah beres."
"Bagus. Apa kamu juga sudah memberikan kompensasi kepada semua tamu yang semalam saya ganggu?"
"Sudah, Pak. Saya mengganti biaya menginap mereka dan memberikan uang tambahan. Mereka sangat senang."
Ayash menyombongkan dirinya, "Lihat, kan... aku sangat bertanggung jawab."
Raeka memutar bola matanya dengan kesombongan Ayash. Sementara yang terlihat paling menderita adalah Egi, karena semalam kurang tidur akibat membereskan kekacauan yang dilakukan bosnya.
*****
Sementara di tempat yang berbeda, Prita sedang duduk di kafe bersama Raya dan Ibu Retno Mulyani. Selepas Ayash pergi, Prita mendapat telepon dari Raya bahwa Bu Retno ingin bertemu dengannya. Sebenarnya Prita masih butuh waktu untuk menenangkan diri dan tidak mau mengungkit kejadian semalam. Tapi Raya mendesaknya untuk datang. Sekarang, situasinya sangat canggung.
"Bagaimana keadaanmu, Prita?" tanya Bu Retno.
"Baik, Bu."
"Syukurlah. Mario masih dirawat di rumah sakit. Wajahnya babak belur. Tangan dan kakinya juga hampir patah." Bu Retno mulai berbicara dengan nada sinis.
__ADS_1
Dalam hati Prita kurang puas mendengar kondisi Mario. Seharusnya lelaki itu lenyap selamanya dari muka bumi. Sungguh, mendengar namanya saja membuatnya tidak tahan.
"Siapa orang yang sudah kurang ajar memukuli anak saya?"
Prita meremas kedua tangannya, otot-ototnya menegang. Ia tidak terima Ayash disebut orang kurang ajar. Ayash sudah melakukan hal yang benar, bahkan seharusnya ia menghajarnya sampai mati.
"Bu, yang kurang ajar itu anak ibu!"
"Berani sekali kamu mengatakan anak saya kurang ajar!" bentak Bu Retno.
"Dia mau memperkosa saya! Apa itu tidak kurabg ajar namanya?" Prita ikut meninggikan suaranya.
Bu Retno tersenyum sinis, "Hah, memperkosa? Bukannya hal yang wajar kalau orang yang jatuh cinta melakukan hal itu jaman sekarang. Apa ini hanya alasanmu saja untuk menjebak Mario? Sebenarnya kamu selingkuh kan, dengan lelaki itu? Makanya kamu menolak Mario. Kalau kamu tidak menolaknya, Mario tidak akan melakukan hal-hal aneh."
"Saya tidak pernah mencintai Mario, Bu. Makanya saya menolak untuk dijodohkan dengan dia."
"Kamu memang orang yang tidak tahu terima kasih, ya. Saya dan ibumu itu bersahabat. Setelah dia meninggal, saya sudah banyak membantumu. Benar-benar tidak ada rasa terima kasih."
"Saya sangat berterima kasih atas kebaikan Ibu selama ini. Tapi, saya tidak bisa menerima Mario."
"Kalau kamu ingin berterima kasih, menikahlah dengan Mario. Dia sangat mencintai kamu, makanya saya memintanya langsung sekarang. Dan saya akan memaafkan sikapmu ini."
Prita terdiam sejenak, "Saya tidak bisa."
Bu Retno menghela nafas, "Baiklah, dengan begini saya akan anggap kamu sebagai anak kurang ajar. Mulai hari ini, jangan pernah menginjakkan kaki di sekolah. Anggap kita tidak pernah saling mengenal." Bu Retno langsung beranjak pergi setelah mengucapkan hal itu.
Raya menggenggam tangan Prita, "Maaf ya, Ta. Aku tidak bisa melakukan apa-apa."
"Nggak apa-apa, Ray. Ini bukan salahmu."
Prita tersenyum, "Nggak, Ray. Aku rasa ini keputusan yang paling tepat."
"Terus, apa yang akan kamu lakukan pada Mario? Apa kamu akan melaporkannya ke polisi?"
"Tidak... aku akan memaafkannya. Aku anggap ini sebagai balas budiku kepada kebaikan Bu Retno selama ini."
Raya memeluk tubuh Prita, "Uh... harusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian semalam. Maafkan aku."
"Aku tidak marah padamu, Ray."
"Semalam aku sangat panik, mencarimu kesana kemari tidak ketemu. Ayash juga memarahiku habis-habisan karena sudah meninggalkanmu. Aku memang bodoh.... "
"Sudah, sudah.... " Prita menepuk punggung Raya.
Raya melepas pelukannya. Ia menatap tajam ke arah Prita, seakan ingin menanyakan sesuatu yang serius. "Ta... boleh aku bertanya?"
"Ya... "
"Tapi kamu jangan marah."
"Hmmm.... "
"Ta... sebenarnya... semalam... apa... Mario... sudah... benar-benar melakukan itu padamu?" Raya terdengar sangat berhati-hati mengungkapkan pertanyaannya.
Prita tahu apa yang dimaksud temannya, "Belum, tapi hampir saja begitu. Untunglah Ayash cepat datang."
"Ah, syukurlah. Aku lega. Setidaknya kamu harus melakukannya dengan orang yang kamu suka. Jangan sampai dengan cara paksa."
__ADS_1
"Iya."
"Eh! Apa jangan-jangan... kamu sudah pernah melakukannya dengan Ayash, ya?" selidik Raya.
"Apaan sih!"
"Mengakulah... kalian sudah tinggal bersama. Tidak mungkin kalau tidak melakukan hal yang iya iya, kan... " goda Raya.
"Kita sama-sama sibuk kerja, Ray... Nggak sempat memikirkan hal itu. Weekend seperti ini saja kamu masih menyuruhku keluar. Jarang kita punya waktu bersama."
"Hahaha... Maaf, maaf... malah aku yang jadi pengganggu."
*****
Ting!
Pintu lift terbuka. Prita pulang ke apartemen setelah selesai berbincang dengan Raya. Dilihatnya Ayash sedang duduk di ruang tamu menonton televisi.
"Dari mana?" tanya Ayash.
Prita langsung mendekat dan bergelayut manja, "Aku tadi ketemu Raya dan Bu Retno."
"Bu Retno? Kalian membahas Mario?" selidik Ayash.
"Ya... begitulah."
"Apa yang dikatakannya?"
"Beliau bilang... aku sudah tidak boleh datang ke sekolah lagi."
Ayash mengelus rambut Prita, "Hah... ibu dan anak sama saja. Anaknya yang salah kenapa malah kamu yang dipecat? Sepertinya aku harus menjebloskannya ke penjara supaya kapok."
"Sudahlah... jangan diperpanjang lagi. Bu Retno selama ini sudah sangat baik padaku. Kali ini, maafkan mereka."
"Baiklah... lagipula aku suka kok, melihatmu menganggur. Biarkan aku saja yang bekerja."
"Ya Tuhan... kamu manusia berhati malaikat ya, mau menampung pengangguran sepertiku."
"Hahaha... alasanku rajin bekerja kan kamu. Untuk apa aku capek-capek kerja kalau bukan untuk membahagiakanmu."
"Tapi aku ingin bekerja... "
"Oke. Mulai besok kamu bisa jadi sekertarisku."
"Lha kan sudah ada Egi."
"Hm, Egi sekertaris khusus urusan pekerjaan. Kalau kamu, bagian memijat atau menghiburku kalau aku kelelahan." goda Ayash.
"Nanti malah kamu nggak bisa konsentrasi kerja. Aku mau buka kafe kecil. Tadi Aku sudah keliling bersama Raya mencari tempat yang strategis untuk buka usaha. Aku dapat ruko di dekat kampus. Besok mau lihat ke sana bersama?"
"Boleh."
"Kamu sudah makan malam?"
Ayash menggeleng.
"Oke, aku masak dulu." Prita mencium pipi Ayash dan beranjak menuju dapur.
__ADS_1