
Bayu menemani ayahnya duduk di ruang tamu. Matanya sesekali melirik ke arah dapur, memperhatikan punggung Prita yang sedang mencuci piring.
"Aku ada tugas baru untukmu." Tuan Samuel menyalakan cerutunya.
"Ya." Bayu merespon dengan malas.
"Urus bisnis kita di Kota P. Aku harap kali ini kamu tidak lagi membuat masalah."
"Kenapa tidak Ayah sendiri yang menanganinya?" Bayu mencoba mengelak karena tugasnya kali ini di tempat yang lebih jauh di luar pulau.
"Ada proyek baru yang tidak bisa ditinggalkan." Tuan Samuel meletakkan cerutunya di dalam asbak. "Senjata sudah aku persiapkan di markas baru di sana. Nanti orangku akan menunjukkannya. Kawal barangnya sampai tujuan. Ingat, kamu sendiri yang benar-benar harus mengawalnya. Jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi kalau tidak ingin aku hajar." Tuan Samuel melayangkan tatapan tajam ke arah anaknya.
Bayu paham, ayahnya tidak akan segan-segan memukuli orang sekalipun itu anak kandungnya.
"Ayah tidak berencana untuk membuangku ke sana, kan?"
Tuan Samuel menggunggingkan senyum mendengar pertanyaan anakny, "Apa ini terdengar seperti aku ingin mengusirmu dari kota ini?"
"Ya, bukankah Ayah memang sangat hobi mengganggu kesenanganku?"
"Hahaha... bagaimana bisa aku membiarkanmu menghambur-hamburkan uangku tanpa bekerja keras? Kamu boleh foya-foya dengan teman-temanmu atau menghabiskan waktu dengan banyak wanita. Tapi ingat, kamu adalah penerusku!"
Tuan Samuel bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah pintu lift setelah mengucapkan kata-katanya. Bayu masih berdiam diri. Ia menangkupkan kedua tangan ke arah wajah.
Kalau boleh jujur, dia ingin sekali meninggalkan semuanya dan hidup tenang bersama Prita. Selama hidup, belum pernah sekalipun dia merasa benar-benar menikmati kehidupannya. Dunia malam yang sering menemaninya hanya melupakan kepenatannya sejenak terhadap hidup.
Memiliki ayah seorang mafia membuatnya hidup dalam tekanan. Ibunya meninggal setelah melahirkannya. Jadi, dia hanya diasuh oleh ayahnya. Ayahnya sangat keras dalam mendidik dan tak segan-segan untuk memukul.
Setiap hari yang diajarkan hanya bela diri dan latihan menembak. Sampai saat usia SMA, ayahnya mulai memperkenalkan bisnis gelap kepadanya. Jangan ditanya, awalnya tentu saja dia merasa ketakutan.
Tapi, seiring berjalannya waktu, dia bisa terbiasa. Menjadi kaya, memiliki banyak anak buah, dan ditakuti orang membuatnya menjadi percaya diri. Sampai dia merasa, kekuasaan, kekuatan, dan harta adalah jalan untuk mendapatkan segala keinginannya.
Ada fase yang dilewatkan dalam hidupnya, yaitu masa remaja. Masa biasanya remaja mulai mengenal cinta atau melakukan kenakalan-kenakalan seperti menjahili teman, kabur saat jam pelajaran, atau tidak membayar jajan di kantin. Bayu tak pernah merasakan keseruan itu. Dia tak memiliki teman karena sekolahnya home scholing.
"Apa ayahmu sudah pulang?"
Bayu tersadar dari lamunannya. Prita tampaknya baru selesai mencuci piring. Bayu tersenyum. Melihat Prita membuat energi kehidupannya terisi penuh. Segera ia bangkit dan memeluk wanitanya. Rasanya menenangkan.
"Mmm... apa kamu mau makan siang sekarang?" tanya Prita yang tiba-tiba bingung karena dipeluk.
"Oke."
__ADS_1
Bayu menggandeng tangan Prita menuju ruang makan. Mereka duduk bersebelahan. Prita mulai mengambilkan nasi dan lauknya untuk Bayu.
"Apa ayahku mengatakan sesuatu?"
"Tidak."
"Benarkah?"
"Ya, beliau hanya bilang sambal terasinya enak." selesai mengambilkan makanan untuk Bayu, ia kemudian mengisi piringnya sendiri.
"Oh."
"Dia mengira aku pelayan di sini."
"Uhuk... uhuk... " Bayu tersedak mendengar perkataan Prita.
"Kamu tidak apa-apa?" Prita memberikan segelas air putih.
"Terima kasih." Bayu segera meminum air yang Prita berikan.
Bayu melirik ke arah Prita. Wanita itu mulai menyantap makanannya. "Apa kamu takut padanya?"
"Ya, tentu saja." Prita menjawab jujur.
Prita berhenti mengunyah makanannya.
"Apa kamu senang mendengarnya?" tanya Bayu. Dia ingin mendengar respon Prita dengan kepergiannya nanti.
Prita kembali terdiam, ia tahu Bayu sedang memancingnya bicara. "Aku tidak akan mencoba kabur lagi. Aku akan tetap di sini menunggumu pulang."
Bagaimana bisa Bayu masih khawatir dia akan kabur. Anak buahnya tersebar dimana-mana.
Bayu tersenyum, "Aku akan melihat kebenaran ucapanmu nanti. "
"Apa kamu takut?"
"Ya, tentu saja aku takut. Aku memang sangat takut kehilanganmu. Seandainya bisa, aku ingin selalu mengajakmu kemanapun aku pergi."
"Kenapa kali ini tidak bisa?"
Bayu kembali tersenyum, "Karena aku yakin kamu pasti tidak akan suka mendengar bunyi tembakan, darah, atau mungkin bahkan mayat."
__ADS_1
Prita menghela nafas kasar.
"It's okay. Aku tidak akan melibatkanmu dalam pekerjaanku. Kamu tenang saja."
"Apa kamu benar-benar bisa membunuh orang?"
"Kamu ingin tahu? Aku bisa menunjukkannya."
"Tidak. Aku hanya bertanya saja."
Bayu mengelus puncak kepala Prita dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi, "Ayo kita lanjutkan makannya. Setelah ini, aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Tidak akan aku beri tahu karena ini kejutan."
*****
Selesai makan siang, Prita dan Bayu turun ke lobby utama. Empat orang bodyguard berpakaian rapi tampak berjaga-jaga di sekitar mereka.
"Tunggu disini. Aku ada urusan sebentar dengan temanku. Nanti aku kembali." Bayu menyuruh Prita untuk duduk di salah satu sofa sebelum dia beranjak pergi meninggalkannya.
Keempat bodyguard itu ikut duduk di dekat Prita. Mereka tampak seru bercerita. Sementara, Prita menyibukkan diri melihat lalu lalang orang di area itu.
Tentunya apartemen yang ia tempati adalah apartemen yang elit. Terlihat dari penampilan orang-orang yang berlalu lalang tampak rapi dan fashionable. Tidak ada tanda-tanda keburikan di sana.
Sampai saat dia melihat rombongan lelaki berpakaian rapi sedang berkumpul sedikit jauh dari tempatnya duduk. Dia terus memperhatikan salah satu lelaki itu karena merasa familiar. Sampai akhirnya lelaki itu menengok sehingga ia bisa melihat wajahnya.
'Ayash!' pekik Prita dalam hati.
Tanpa pikir panjang, ia langsung berjalan cepat menghampiri rombongan itu. Para bodyguard tidak menyadari kalau Prita pergi.
Prita semakin mempercepat langkah, karena rombongan itu bergerak menjauh dari arahnya. Sepatu hak tinggi menyulitkan langkahnya. Ia lari tergopoh-gopoh.
Rombongan itu tampak akan memasuki lift. Prita berusaha sekuat tenaga untuk mengejar. Namun sayang, iya kalah cepat. Lift telah tertutup.
Sebelum lift benar-benar tertutup, mata mereka sempat bertemu. Itu benar-benar Ayash. Prita tidak salah lihat. Ayash ada di Kota J.
"Ayash....!" seru Prita. Ia langsung menjatuhkan diri di depan lift. Tangisnya pecah. Ia gagal bertemu orang yang sangat dirindukannya.
Sementara, Bayu dan keempat bodyguard-nya tampak berlari mendekati Prita. Bayu bingung, bangaimana bisa Prita ada di sana dan menangis tersedu-sedu. Keempat penjaga itu memang bodoh hingga lalai dengan tugasnya.
__ADS_1
"Hei, kenapa menangis?" Bayu mencoba menenagkan. Dibawanya Prita ke dalam dekapannya.
Tangisannya belum mereda. Prita masih sesenggukan. Bayu hanya bisa mengusap-usap surai untuk menenangkan wanitanya.