ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Wanita di Zero Tower Hotel 2


__ADS_3

Ting!


Pintu lift terbuka. Arga dan Glen sudah sampai di lantai 70. Suasana koridor sangat sepi karena memang area itu hanya terdapat beberapa unit kamar saja.


Arga dan Glen berjalan dengan sangat tenang. Selangkah demi selangkah mereka terus berjalan semakin mendekati kamar yang ingin mereka tuju. Tampak empat orang bertubuh kekar dan berpakaian rapi berdiri di depan kamar 1303.


"Maaf, Pak. Anda tidak boleh mendekati area ini." salah seorang di antara mereka sudah maju untuk menghentikan langkah Arga dan Glen.


"Kalian siapa? Kenapa menghalangi kami masuk?" dengan santainya Arga berpura-pura tidak tahu siapa mereka.


"Maaf, kamar ini tidak boleh dimasuki sembarang orang tanpa ijin."


"Kalian pikir aku orang sembarangan? Aku sudah booking kamar ini."


Bayu memperlihatkan kartu akses VIP yang memang khusus untuk pemesan kamar tipe president suit. Mereka tampak kebingungan dan saling melemparkan pandangan.


"Mungkin Anda salah kamar. Kamar ini sudah ada yang menempati."


"Oh, Begitu, ya?" Arga menunjukkan ekspresi kecewa.


Hemph!


Arga membekap orang itu dengan sapu tangan yang sudah diberi cairan bius. Ketika penjaga yang lain bergerak menyerang Arga. Glen cepat-cepat menahan mereka.


Orang yang dibekap Arga tumbang. Ia bergabung dengan Glen mengatasi tiga orang lainnya. Dengan metode yang sama, mereka berhasil melumpuhkan para penjaga dengan cepat. Keempatnya pingsan karena obat bius.


"Licik juga cara kita ya, Glen. Hahaha.... " Arga tampak bersemangat melakukan aksinya. Biasanya dia hanya fokus untuk bekerja, kali ini ia harus menggunakan tenaganya.


"Ternyata ada CCTV yang terpasang di sini, Pak." Glen menunjukkan CCTV yang baru saja ia tarik paksa dari sudut pintu kamar 1303.


"Hmmm... itu artinya masih ada lagi di tempat lain. Jangan lupa kamu harus membersihkannya nanti."


"Baik, Pak."


Klek!


Pintu kamar terbuka dari dalam. Beberapa anak buah Glen menyambut mereka di depan pintu.


"Hem, kalian cepat juga." puji Arga.


Mereka memang tidak datang sendiri. Glen meminta enam orang anak buahnya untuk membereskan penjaga dari pintu belakang. Sementara dia bersama bosnya membereskan dari arah depan.


"Ikat mereka dan kurung dalam kamar. Cari CCTV yang mungkin terpasang di setiap sudut kamar ini." perintah Glen.


Arga mulai memasuki unit yang berukuran luas itu. Kondisi ruang tengah sudah cukup berantakan. Sepertinya mereka sempat berkelahi di dalam. Ada empat orang wanita yang telah terikat tali dengan mulut dilakban.


"Siapa mereka?" tanya Arga.


"Bodyguard wanita, Pak."


"Oh.... " guman Arga. Ternyata Bayu juga menempatkan pengawal wanita demi mengamankan wanitanya. Sudah pasti dia sosok wanita yang sangat spesial bagi bayu.


"Bagaimana dengan penjaga di bagian belakang? Sudah kalian bereskan semua?"


"Sudah, Pak."


"Dimana wanita itu?"


"Sepertinya sudah tidur di dalam kamar."


"Apa kalian begitu lembut melakukan semua ini? Sampai dia tidak terbangun dengan kekacauan yang kalian buat."

__ADS_1


Arga menggeleng-gelengkan kepala. Ia berjalan mendekati kamar utama. "Hem, apa perlu aku bangunkan?"


Tok tok tok....


Tok tok tok....


Tok tok tok....


Prita mengerjapkan matanya. Suara ketukan pintu mengganggu tidurnya yang baru saja terlelap. Dengan malas ia mulai bangkit mengumpulkan kembali sisa-sisa nyawanya.


Tok tok tok....


Tok tok tok....


Tok tok tok....


Suara ketukan di pintu semakin keras. Ada situasi darurat apa sampai pintunya diketuk terus.


Klek!


Prita membuka pintu kamarnya, "Ada apa.... " Pertanyaan Prita terpotong setelah melihat sosok orang yang ada di balik pintunya.


"Prita?" Arga terheran-heran, kenapa Prita yang muncul dari kamar itu. "Kak Arga.... "


Keduanya saling bertanya-tanya, bagaimana bisa mereka bertemu di sana. Benarkah wanita spesial yang ada di kamar itu adalah Prita?


"Ikut aku!"


Arga menarik tangan Prita membawanya keluar kamar menuju ruang tengah. Prita terkejut melihat ruangan itu sudah sangat berantakan dan... para bodyguard-nya sudah dalam kondisi terikat.


"Jelaskan padaku, kenapa kamu bisa ada di sini?" desak Arga.


Prita tertunduk. Tangannya mengepal. Apa yang bisa ia jelaskan? Bukankah semua ini terjadi karena Kak Arga sendiri? Kenapa dia malah bertanya? Kalau boleh, ia ingin memukuli lelaki yang ada di hadapannya itu. Gara-gara Kak Arga, dia harus mengalami nasib buruk seperti itu.


Prita tetap membisu. Bagaimanapun juga dia jadi begini demi menyelamatkan Ayash karena Arga ingin membunuh adiknya itu. Dan dia bertanya apa dia mengkhianati Ayash? Sekalipun tak pernah terlintas niat itu dalam hatinya. Dia sungguh-sungguh mencintai Ayash.


"Ta... Jawab!"


Nada bicara Arga semakin meninggi. Prita tetap pada pendiriannya, tak mau membuka suara.


"Oke. Aku akan meminta penjelasan pada orang lain saja."


Arga menyerah. Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Ayash.


Drrt... Drrt... Drrt...


"Halo... " terdengar suara Ayash.


Arga masih menatap Prita yang setia dengan sikap diamnya, "Cepat datang ke sini, Zero Tower Hotel lantai 70 kamar president suite nomor 1303."


"Untuk apa?"


"Datang saja secepatnya. Nanti kamu akan tahu."


"Kalau hanya untuk basa-basi aku tidak ada waktu."


Ayash harus dibuat penasaran agar tetap mau datang. Arga tak bisa menjelaskan panjang lebar tentang apa yang terjadi.


"Hahaha.... kamu akan menyesal kalau sampai tidak datang. Cepat ke sini kamu adik bodoh!"


Klik.

__ADS_1


Arga memutuskan sambungan telepon. Ayash pasti terprovokasi dengan ucapannya. Ia tahu, adiknya masih marah gara-gara request-nya terhadap Tiger King.


*****


Ting!


Pintu lift terbuka. Ayash melangkah pasti menyusuri koridor lantai 70. Dicarinya kamar nomor 1303 seperti yang kakaknya katakan. Ia bersumpah akan menghajar Arga jika urusan kedatangannya bukan hal penting.


Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya ia menemukan kamar yang ia cari.


Brak!


Dia menendang pintu kamar hingga terbuka lebar. Keadaan di dalam tampak kacau dan banyak orang. Dilihatnya satu per satu orang yang ada di ruangan itu. Ada kakaknya yang menyebalkan dan juga....


"Prita!" Ayash sangat terkejut melihat Prita Ada di sana. Ia langsung berlari dan langsung memeluk orang yang sangat dirindukannya.


Prita ikut terkejut. Ia tak menyangka orang yang datang benar-benar Ayash. Air matanya meleleh saking bahagianya. Rasanya seperti mimpi bisa bertemu kembali dengan orang yang sangat ia cintai. Prita membalas pelukan erat Ayash. Jikapun itu adalah mimpi, ia tak ingin terbangun.


"Cepat juga kamu datang. Aku pikir kamu tidak akan datang." ucap Arga.


Perkataan Arga membuat mood Ayash dan Prita rusak. Mereka melepas pelukan. Ayash menggandeng erat tangan Prita.


"Prita tidak mau menjawab pertanyaanku. Jadi kamu saja yang menjawabnya, oke, adikku?"


Ayash mengedarkan pandangan. Sebenarnya ia juga memiliki banyak pertanyaan. Kenapa Arga dan Prita ada di sana? Kenapa ada orang yang mereka sekap? Dan... kenapa ruangan itu tampak berantakan?


"Kenapa Prita bisa ada di kamar yang Bayu sewa? Apa kalian sudah putus? Atau Prita selingkuh dengan Bayu?"


"Kenapa Kakak bisa ada di sini?" Pertanyaan Arga dibalas pertanyaan oleh Ayash.


"Hey, jawab dulu pertanyaanku."


"Aku akan jawab setelah mendengar jawaban Kakak."


"Oh, baiklah! Awalnya aku hanya iseng main ke sini. Aku dengar Bayu menyembunyikan wanita istimewanya di hotel ini. Ada sedikit dendam juga sebenarnya kepadanya. Jadi, aku ingin tahu saja siapa wanita itu. Tak aku sangka malah pacar adikku yang aku temukan."


"Kalian sudah puas mendengar jawabanku? Sekarang giliranku bertanya, kenapa kamu bisa ada di sini, Prita?"


"Aku... "


"Ini semua gara-gara Kakak." Ayash memotong ucapan yang ingin Prita katakan. Ia tahu saat ini Prita masih syok. Tangannya gemetar seperti orang ketakutan.


"Lho, kenapa jadi aku yang salah?" Arga heran karena merasa disalahkan.


"Kakak pernah menyuruh Tiger King untuk menculikku, kan?"


Arga memijit keningnya, "Ya... ya... aku memang pernah melakukannya."


"Waktu itu bukan hanya aku yang mereka culik. Tapi Prita juga. Aku dipukuli mereka sampai hampir patah tulang dan mereka membawa Prita pergi."


"Apa!? Mereka melakukan itu?" Arga baru tahu kejadian sebenarnya. Pantas saja Tiger King mengembalikan uang mukanya dua kali lipat. Padahal, dia sudah bilang untuk yidak menyakiti adiknya sedikitpun. "Bayu memang bajingan!" umpatnya.


"Kakak harus mengatakan semua ini di hadapan papa dan mama. Aku tunggu Kakak di Kota S."


"Kamu bisa mengatakan apa saja kepada mereka. Aku tidak peduli. Aku tetap tidak merasa bersalah dan aku tidak menyesal."


"Terserah!"


Ayash menarik tangan Prita membawanya berjalan ke arah pintu keluar.


"Tunggu!" Arga menghentikan langkah mereka. "Setidaknya ucapkan terima kasih karena aku yang telah membereskan ini semua."

__ADS_1


Ayash tak menggubris perkataan kakaknya. Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu padahal dia sendiri yang menjadi penyebab semua masalah. Ayash terus berjalan membawa Prita pergi.


__ADS_2