
Suasana kebun binatang cukup ramai. Kebanyakan pengunjung merupakan rombongan keluarga yang membawa serta anak mereka. Raya dan Egi berhenti di depan kandang jerapah. Hewan berleher panjang itu memang selalu bisa menarik perhatian pengunjung.
Yang lebih menarik perhatian Raya adalah seorang anak laki-laki kecil yang sangat antusias melihat jerapah bersama ayah dan ibunya. Sejak tadi anak itu terus mengoceh riuh memanggil-manggil jerapah.
"Pak Egi sudah berapa lama bekerja perusahaan keluarga Ayash?"
"Em... kalau di perusahaan yang sekarang ya belum ada satu tahun. Tapi, kalau bekerja di perusahaan keluarga Hartadi yang lain mungkin sudah sekitar sepuluh tahun."
"Hah? Selama itu?"
"Iya. Tuan Reonal juga yang membiayai kuliah saya sampai selesai. Setelah itu, saya langsung diminta masuk perusahaannya."
"Ayah saya dulu sopir Tuan Reonal. Ibu saya sudah meninggal sejak saya SMP. Saya ikut tinggal bersama ayah saya di paviliun belakang mansion Tuan Reonal. Saat masih kuliah semester 4, ayah saya meninggal. Kemudian Tuan Reonal menjadi orang tua asuh saya karena saya sudah tidak punya keluarga lagi."
"Jadi, Pak Egi tinggal sendirian?"
"Begitulah. Apa kamu mau menemani saya? Hahaha.... "
"Memangnya Bapak mau saya temani?"
Egi hanya tersenyum mendengar pertanyaan Raya.
"Kalau keluarga saya banyak, Pak. Saya anak ke tiga dari lima bersaudara. Kakak saya dua-duanya perempuan dan sudah menikah. Adik saya dua-duanya laki-laki, sagu masih SMA dan satunya masih SMP. Rumah selalu ramai apa lagi kalau kami semua sedang berkumpul. Bapak dan ibu saya petani. Walaupun sawahnya tak begitu luas, tapi hasilnya masih bisa untuk menyekolahkan anak-anaknya. Saya anak pertama yang dikuliahkan. Kakak-kakak saya hanya mengenyam pendidikan sampai bangku SMA."
"Pasti menyenangkan punya banyak saudara."
"Pak Egi juga boleh join kok."
Lagi-lagi Egi tersenyum.
"Ini pertama kalinya saya ngobrol pergi dengan dengan wanita di luar konteks pekerjaan."
"Pak Egi belum pernah pacaran?"
Egi mengangguk, mengiyakan pertanyaan Raya.
"Waktu kuliah juga?"
"Iya."
__ADS_1
"Pak Egi kan ganteng, mana mungkin tidak pernah pacaran."
"Sejak kecil saya hidup di keluarga yang miskin. Ibu saya meninggal juga karena kondisi kemiskinan kami sehingga penyakitnya tidak mendapatkan pengobatan yang layak. Jadi, saya belajar dengan sungguh-sungguh saat sekolah. Apalagi sekolah dibiayai orang. Ada tanggung jawab lebih besar yang harus dipikul. Saya tidak pernah nongkrong-nongkrong atau pacaran karena menurut saya itu hanya buang-buang waktu dan tidak ada gunanya. Saya percaya, cara merubah nasib seseorang bisa dilakukan lewat pendidikan. Jika dulu saya terlahir sebagai orang miskin, setidaknya nanti keturunan saya tidak mengalami hal yang sama."
"Pak Egi dewasa sekali pemikirannya. Saya jadi merasa minder."
"Kenapa harus minder?"
"Selama ini saya sekolah kebanyakan main-main, Pak. Tidak menyadari kalau orang tua hanya petani sudah berjuang keras agar saya bisa kuliah. Hari-hari saya tidak jauh dari pacaran, gonta-ganti pacar dan jalan-jalan bareng teman. Kalau diingat-ingat, kelakuan saya itu sangat bodoh. Seharusnya saya serius belajar saat sekolah seperti Pak Egi."
"Ah! Satu lagi yang saya setuju dari omongan Bapak. Pacaran memang hanya buang-buang waktu dan tidak ada gunanya."
"Hahaha... benarkah? Sepertinya kamu banyak pengalaman."
"Iya, Pak. Saya sudah belasan kali pacaran. Dan akhirnya saya selalu dicampakan. Benar-benar hal yang tidak berguna. Apalagi saat mengingat pernah menangisi mantan, saya serasa menjadi orang paling bodoh di dunia." Raya menepuk-nepuk dahinya sendiri.
"Makanya, Pak. Saya sudah tidak mau pacaran lagi. Kalau Pak Egi tertarik dengan saya, tolong lamar saya dan ayo kita menikah."
Egi membelalakan mata mendengar ucapan Raya. Wanita ini benar-benar sangat terbuka dan apa adanya.
*****
"Kenapa kamu bisa di sini?"
Bayu Menyeringai, "Kamu bertanya seperti belum mengenal siapa aku. Tentu saja aku telah mempersiapkan pertemuan kita ini dengan teliti. Aku suruh anak buahku memantaumu dan mencuri password pintu ruanganmu ini."
Bayu mengangkat dagu Prita denga jari telunjuknya. "Kenapa sepertinya kamu ketakutan? Kamu tidak senang dengan kedatanganku?"
Bayu menurunkan pandangannya ke arah bibir mungil yang tampak sedikit bergetar. Ia meneguk salivanya. Nafsunya tiba-tiba bangkit ingin kembali menikmati manisnya bibir itu.
Ia mendekatkan wajahnya. Sebelum sempat mendaratkan bibirnya, tangan Prita yang lebih dulu menempel pada bibirnya.
"Tolong, jangan seperti ini. Lepaskan aku." Prita memohon dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki.
Bukan Bayu kalau mau menuruti perkataan orang. Ia jadi semakin tidak sabar. Diangkatnya Prita dengan begitu mudah kemudian memindahkannya ke sofa. Ia menindih tubuh wanita itu agar tak bisa pergi kemana-mana. Ruangan kedap suara, tak ada yang sedang terjadi di dalam.
"Menolakku bukanlah berbuatan yang sopan, Sayang. Sepertinya kamu sudah lupa bagaimana cara bersikap di depanku."
Prita mencoba memberontak. Namun, tenaganya tak sebanding dengan Bayu. Ia tak berkutik di bawah kungkungannya.
__ADS_1
"Bayu, please!"
"Kenapa kamu ingkar janji? Kamu bilang tidak akan lari dari sisiku lagi. Kenapa?"
Prita membuang muka, tatapan penuh kemarah itu membuatnya semakin takut. "Sejak awal kamu sudah tahu jawabannya. Tolong berhenti melakukan ini padaku."
"Kita sudah melewati hari-hari bersama, tidur di kasur yang sama, bahkan saling berbagi kehangatan tubuh apa masih juga kamu belum merasakan kalau aku tulus mencintaimu? Apa sikapku kurang baik padamu? Aku bahkan sudah tidak pernah lagi berhubungan dengan para ******. Aku hanya ingin bersama dirimu. Apa yang masih kurang dariku?"
"Tapi aku benar-benar tidak ada rasa cinta padamu. Kamu tidak bisa memaksaku."
Bayu menyunggingkan senyum, "Kamu mau membohongi dirimu sendiri? Aku tahu kamu mulai mencintaiku."
Bayu mulai menyusuri wajah Prita dengan bibirnya. Kecupan-kecupan kecil ia berikan hingga Prita tak bisa mengelak.
"Ah!" Prita mendesah ketika Bayu menggigit kecil telinganya.
Bayu kembali tersenyum, "Kamu menyukainya kan?"
Mata Prita mulai berkaca-kaca. Ia merasa tertekan dan tak berdaya.
"Apa kamu sudah melupakan malam-malam panas yang sudah pernah kita lewati? Aku bisa mengingatkannya kembali jika kamu lupa. Desahanmu... aku ingin sekali mendengarnya lagi. Apa kita lakukan sekarang? Aku juga menginginkannya."
"Please, stop!" seru Prita. Air matanya mulai meleleh. Ia sudah tak tahan dengan kelakuan Bayu padanya.
Bayu menyudahi perbuatannya. Waktunya tak banyak. Ia harus segera pergi.
"Hari ini aku kemari hanya untuk mengunjungimu karena sangat merindukanmu. Setelah ini aku akan pergi ke Pulau P untuk suatu pekerjaan."
Bayu melabuhkan pelukan ke tubuh Prita. Rasanya sangat nyaman. Namun ia tak bisa berlama-lama. Seandainya ia bisa serakah, ia ingin membawa Prita saat itu juga dan kabur ke tempat yang jahh dan tak ada orang yang tahu.
"Setelah urusanku selesai, aku akan datang lagi membawamu pulang ke Kota J. Jaga dirimu baik-baik selama aku pergi."
Cup
Bayu mendaratkan satu kecupan di bibir Prita.
"I love you."
Ia kembali mengenakan masker dan topinya. Dengan mudah ia menekan password pintu dan keluar begitu saja meninggalkan Prita yang masih syok.
__ADS_1