ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Pertemuan dengan Tiger King


__ADS_3

Di salah satu ruangan VVIP sebuah tempat hiburan malam, Arga sedang duduk menikmati minuman beralkohol dengan ditemani dua orang wanita seksi. Asistennya, Glen, duduk tak jauh darinya. Salah satu wanita seksi itu menuangkan kembali botol bir ke gelasnya yang sudah kosong.


“Tuan, sebaiknya Anda tidak terlalu banyak minum. Nanti Anda mabuk.” Ujar Glen.


Arga tertawa, “Ayolah, Glen… kalau aku mabuk, kan ada kamu yang akan mengurusku.” Tanpa segan, Arga ******* bibir wanita di samping kirinya. Tangannya meraba- raba setiap jengkal lekukan tubuh seksi itu.


Glen hanya diam melihat kelakuan bosnya. Ini bukanlah pertama kalinya melihat situasi seperti itu. Sudah lama bosnya memiliki hobi bermain dengan wanita penghibur. Bahkan, dirinya acak kali harus mencarikan wanita yang mau tidur dengan bosnya. Meskipun sering menemani bosnya, namun ia tidak pernah ikut meminum alkohol atau bermain dengan wanita penghibur. Ia harus tetap dalam kewarasan untuk menjaga bosnya yang bisa dibilang kurang waras itu.


Entah sejak kapan Arga memiliki hobi mabuk-mabukan dan main perempuan. Seingat Glen, saat pertama menjadi asisten yaitu tujuh tahun yang lalu, bosnya merupakan orang yang sangat gila kerja. Tak ada waktu untuk sekedar nongkrong-nongkrong apalagi main perempuan. Bahkan bosnya tidak pernah terlihat dekat dengan seorang perempuan.


Ceklek!


Seorang pelayan membukakan pintu. Masuklah tiga orang lelaki yang memakai setelan jas berwarna hitam. Mereka adalah Bayu, Beni, dan Agung dari kelompok Tiger King. Arga langsung menghentikan kegiatannya.


“Waow… selamat datang, Tiger King. Silakan duduk.”


Ketiga lelaki itu langsung bergabung duduk di sova ruangan itu.


“Pelayan… panggilkan tiga wanita lagi kesini untuk menemani mereka!” perintah Arga kepada pelayan yang tadi membukakan pintu. Pelayan itu segera prgi untuk memenuhi permintaan tamunya.


“Terima kasih sudah mau datang memenuhi undanganku.” Kata Arga sembari merangkul kedua wanita di samping kanan kirinya.


“Ada angin apa, seorang Arga Hartadi memanggil Tiger King kemari? Setahu saya, bisnis Anda berjalan lancar dan sedang berkembang pesat.” Bayu menyilangkan kaki kanannya. Tubuhnya direbahkan pada sofa yang nyaman. Sesekali ia menghisap rokok di tangannya dan menghembuskan kepulan asap putih dari rokok.


Ceklek!


Pintu kembali terbuka. Tampak tiga orang wanita memakai model pakaian dress kemben yang hanya menutupi sebatas dada sampai setengah paha mereka. Ketiganya langsung masuk dan duduk di samping para tamu Arga. Mereka menuangkan minuman beralkohol untuk pria di sebelahnya.


“Terima kasih.” Ucap Bayu kepada wanita di samping kirinya yang telah menuangkan minuman untuknya.


Wanita itu dengan manjanya memeluk tubuh Bayu dan menyandarkan kepalanya di dada bidangnya. Bayu sudah tidak kaget dengan prilaku wanita penghibur, karena pekerjaannya memang tak jauh-jauh dari dunia malam. Ia melingkarkan tangan kirinya menyusuri pundak dan lengan polos wanita itu.


“Auww… nakal.“ pekik wanita itu ketika dengan sengaja Bayu meremas miliknya.


Bayu tersenyum, “Boleh aku menurunkan bajumu? Aku ingin melihat dan memegangnya.” Bisiknya dengan sensual.


“Boleh… tapi tunggu sampai pertemuan ini selesai dan kita bisa melanjutkan di tempat lain.” Wanita itu tersenyum sensual. Membuat Bayu ingin segera mengajaknya keluar.

__ADS_1


“Ah… sebelum wanita-wanita ini mengacaukan pikiran kita, lebih baik kita selesaikan urusan ini. Setelah itu, kalian boleh membawa wanita-wanita ini sesuka kalian.” Tutur Arga yang melihat sepertinya tamu-tamunya teralihkan oleh wanita penghibur yang ia pesan.


“Oke, apa yang Anda inginkan dari kami?” timpal Bayu.


“Aku ingin kalian menyingkirkan seseorang untukku.”


Bayu terkejut, “Waow… sepertinya sekarang Anda memiliki saingan bisnis berat sampai meminta bantuan kami. Siapa orang itu?” tanyanya penasaran.


“Adikku.”


Bayu semakin terkejut, “Adikmu? Anak ingusan yang baru lulus kuliah itu mau Anda singkirkan? Anda memang benar-benar kakak biadab.” Ia kembali meneguk minumannya.


“Aku menginginkan perusahaan pertama ayahku di Kota B.”


”Oh, My God! Ternyata Anda tidak sebaik image yang saya dengar selama ini. Anda serakah sekali. Di kota J ini, Anda sudah memiliki tiga perusahaan besar dan masih menginginkan perusahaan kecil yang sedang dikelola adik Anda? Sepertinya Anda dulu ingin menjadi anak tunggal. Saya yang anak tunggal saja sangat ingin memiliki saudara.”


“Aku memang anak tunggal.”


“Benarkah?”


“Istri kedua ayahku itu sudah hamil saat dinikahi oleh ayahku. Yah, wanita murahan itu sudah bersuami dan dalam kondisi hamil saat berselingkuh dengan ayahku. Jadi, anaknya bukan anak ayahku, hanya adik tiriku.”


“Aku tidak bilang untuk membunuhnya. Aku hanya meminta bantuanmu untuk menyembunyikan atau menyekapnya sementara waktu sampai ayah memberikan perusahaan pertamanya padaku. Aku tidak sekejam dirimu yang tega membunuh orang.”


“Hahaha…. “ Bayu tertawa kencang, “Bisnis saya memang untuk menyingkirkan satu orang demi kebaikan orang lain.”


“Baiklah, berapa bayaran yang kamu inginkan untuk mengurusi adikku?”


“Anda sanggup memberi saya berapa?”


“Dua miliyar. Aku akan memberikan dua miliyar jika sudah berhasil mendapatkan perusahaan pertama ayahku.”


“Hmm… oke. Jumlah yang cukup besar. Saya minta setengahnya sebagai uang muka.”


“Tidak masalah. Tapi ingat, jangan sakiti adikku!”


“Oke. Saya pastikan tak ada lecet di tubuh adikmu.”

__ADS_1


“Glen… “ panggil Arga.


Glen yang sejak tadi terus berdiri di ruangan itu akhirnya keberadaannya disadari juga. Ia segera berjalan ke arah bosnya, memberikan lembaran kertas cek dan pulpen. Arga membubuhkan tanda tangan di atas cek bernilai satu miliyar itu kemudian memberikannya kepada Bayu.


“Ngomong- ngomong, kebetulan sekali ya, kamu bisa satu kota dengan adikku. Ada urusan apa kamu di Kota S?”


“Ayah saya yang menyuruh kesana.”


“Padahal orang sepertimu pasti lebih menyukai suasana kehidupan di Kota J ini, kan?”


“Hahaha… sebenarnya iya. Tapi, setelah beberapa lama di sana, ada hal yang membuat saya betah untuk tetap tinggal di sana.” Jawab Bayu sambil membayangkan sosok Prita yang terlintas di pikirannya.


“Apa kamu sudah pernah bertemu adikku di sana?”


“Belum. Adik Anda itu kan tipe anak baik-baik, mana mungkin bisa bertemu dengan saya yang sering keluar masuk klub.”


“Ah, iya, benar. Anak itu pasti lebih memilih pacarnya.”


“Oh, adik Anda yang kelihatan kuper itu sudah punya pacar?”


“Hah! Mungkin sejak SMA anak itu sudah pacaran. Aku yang kakaknya saja tidak pernah pacaran.”


“Hahaha… Anda tidak pacaran, tapi suka main perempuan.”


“Yah… lelaki dewasa kan juga butuh hiburannya. Lha, kamu sendiri, umur sudah kepala tiga, sepertinya juga masih suka main-main.”


“Mungkin karena merasa belum ada yang cocok. Saya masih malas untuk berkomitmen. Tapi, saat ini ada wanita yang membuat saya tertarik. Kalau sudah dengannya, saya juga akan berhenti main-main.”


“Jangan-jangan wanita itu ada di kota S, ya?”


“Benar.”


“Pantas saja kamu rela meninggalkan kota J ini.”


“Hahaha… begitulah. Ngomong-ngomong, boleh tidak saya bawa wanita cantik ini?” tanya Bayu sembari memeluk wanita di sebelahnya.


“Ah, iya. Sepertinya kita terlalu banyak bicara. Aku memang memanggil mereka untuk kalian. Silakan bawa mereka dan menikmati malam kalian.”

__ADS_1


“Kalau begitu, kami pamit dulu.”


Bayu segera menggandeng wanita yang menemaninya. Kedua rekannya mengikuti sambil menggandeng pasangan masing-masing. Kini, di ruangan itu tersisa Arga yang ditemani dua wanitanya dan Glen yang sedari tadi kerjaannya hanya berdiri seperti patung.


__ADS_2