ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Rekaman Terakhir


__ADS_3

Ting


Bayu dan Prita sudah kembali ke apartemen dari pesta Angga.


"Apa kamu marah dan cemburu?" ucap Bayu seraya memeluk pinggang Prita dan mendaratkan ciuman di pipi wanitanya.


Prita tak tahu harus memberi respon apa kepada orang yang tiba-tiba saja menggelayut ketika mereka sampai. Ia pura-pura tak tahu apa yang Bayu maksud.


"Kenapa aku harus marah dan cemburu?" tanyanya.


"Kamu pasti terganggu dengan perkataan Karla di pesta tadi, kan?" tebak Bayu.


"Perkataan yang mana?" Prita masih berpura-pura bodoh.


Sebenarnya ia sama sekali tidak terganggu dengan ucapan Karla. Ia tak terkejut dengan pengakuan wanita seksi itu. Sampai hari ini, memang tak pernah ada rasa untuk Bayu. Prita tak peduli segala hal yang berkaitan dengan Bayu. Yang ia inginkan hanya segera bisa pergi dari sana.


"Dulu aku memang pernah tidur dengan Karla dan banyak wanita lainnya." terang Bayu.


Prita menyunggingkan senyum mendengar kejujuran Bayu. "Apa caramu sama untuk bisa meniduri mereka seperti yang kamu lakukan padaku? Kamu mengancam mereka?"


Mendengar jawaban Prita, Bayu langsung melepas pelukannya. Diputarnya badan Prita menghadap dirinya. Dagu Prita ia dongakkan agar pandangan mata mereka bertemu. Ia tersenyum mendengar keberanian wanitanya mengucapkan hal itu.


"Tentu tidak, Sayang... Biasanya, wanita akan dengan senang hati menyerahkan tubuhnya padaku. Hanya kamu yang harus diberi sedikit dorongan untuk bisa menurut padaku."


Prita menepis tangan Bayu. Ia hendak beranjak pergi sebelum akhirnya Bayu kembali menariknya dan tubuh mereka berdua jatuh di atas sofa.


"Mau kemana?" Bisik Bayu sembari menciumi setiap jengkal leher Prita.

__ADS_1


"Kenapa kamu lakukan ini padaku?" air mata tiba-tiba menetes di pipi Prita.


"Karena aku mencintaimu."


"Aku tidak mencintaimu." lirih Prita.


"Itu tidak penting untukku. Asalkan kamu selalu ada di sisiku, itu sudah cukup." Bayu menurunkan tangannya, menyusuri lengan wanitanya, kemudian menggenggam jari-jari halus itu. "Sejak pertama bertemu denganmu, isi kepalaku selalu dipenuhi olehmu. Bagaimana caranya agar bisa mengenalmu lebih jauh, bagaimana caranya agar bisa dekat denganmu, bagaimana caranya agar bisa bertemu denganmu setiap tanpa membuatmu canggung? Itu yang aku pikirkan setiap hari. Aku juga ingin hubungan kita berjalan natural. Sampai akhirnya aku tahu ada lelaki lain di hatimu, aku rasa aku tak akan bisa mendapatkanmu jika tidak memaksamu begini."


*****


Ayash baru kembali ke kamarnya setelah seharian meninjau lokasi pembangunan resort di Pulau S Kota J. Malam ini ia menginap di pulau karena besok masih ada pembahasan proyek dengan tim. Ia duduk di atas ranjang. Matanya mengarah pada paperbag coklat di atas meja.


Ah, dia sampai lupa. Paperbag itu berisi ponsel yang sebelumnya ia beli sebelum pergi ke pulau. Karena kesibukannya, ia hampir lupa.


Diraihnya paperbag itu dan mengeluarkan kotak kardus ponsel yang masih tersegel. Ponsel itu sengaja ia beli sama persis dengan merk ponsel yang sebelumnya Prita miliki.


Segera ia buka kotak kardus dan mengeluarkan ponselnya. Tangannya beralih meraih laci di samping meja. Ia mengambil ponsel Prita yang telah retak dari sana.


Ayash sudah cukup pusing mendengar pertanyaan orang-orang di sekitarnya tentang keberadaan Prita, terutama ibunya. Ia berencana ingin mengaktifkan kembali nomor Prita agar setidaknya orang-orang tidak terlalu khawatir lagi.


Klik!


Ponsel baru berhasil menyala. Baru saja diaktifkan, pesan beruntun langsung masuk. Ayash langsung membuka aplikasi pesan milik Prita. Banyak sekali pesan yang baru masuk. Ia teliti satu per satu, semua pesan dari orang-orang terdekat Prita. Disitu ada pesan dari mamanya, Raya, Irgi, Raeka, Dea, dan masih banyak lagi kontak yang tidak ia kenal.


'Sayang, kok nggak pernah ngabari tante? Kamu tidak sedang bertengkar kan, dengan Ayash? ' pesan dari mamanya.


Ayash tersenyum. Mamanya benar-benar sangat menyayangi Prita. Terlihat dari bahasa-bahasa pesan yang dikirim. Mamanya juga pasti sangat mengkhawatirkan Prita.

__ADS_1


'Ta, kapan nih nonton drakor true beauty bareng? Ada suamimu oppa Hwang In Yeop yang main.' pesan dari Raya


Ayash mengernyitkan keningnya, membaca salah satu pesan dari Raya. 'Apa-apaan itu... suami dia bilang? Memang siapa itu Hwang In Yeop?' batinnya.


'Terima kasih untuk hari ini yang menyenangkan. Kapan-kapan kita main berdua saja, ya. Ayash rusuh kalau diajak.' pesan dari Irgi.


"Irgi sialan!" gerutu Ayash. Semua pesan yang pernah Irgi kirimkan kepada Prita isinya tak jauh dari menjelek-jelekkannya.


'Mulai hari ini aku akan mencoba berteman denganmu. Terima kasih sudah memaafkan segala perbuatan kekanakanku yang dulu.' pesan dari Raeka.


"Hah! nenek lampir ternyata bisa minta maaf juga." Ayash menyunggingkan senyum membaca pesan dari Raeka.


Selesai membaca aplikasi pesan, Ayash beralih melihat galeri. Tampak di bagian teratas foto-foto saat di taman hiburan. Ayash tersenyum mengingatnya.


Sejurus kemudian, matanya memicing pada satu video di deretan kiri atas. Sepertinya itu video tidak diambil saat di taman hiburan. Ia memutar video itu.


Tampak Prita dengan penampilan yang cukup berantakan sambil menengok ke kanan dan ke kiri seakan mewaspadai sesuatu. Latar video itu adalah toilet.


Dengan pandangan mata sayu dan berkaca-kaca, Prita tersenyum ke arah kamera.


'Ayash... aku harap kamu orang yang akan melihat rekaman ini. Saat kamu mendengarkan ini, mungkin aku sudah pergi dibawa orang yang bernama Bayu itu. Maaf, karena telah menyembunyikan fakta kalau beberapa kali aku memang pernah bertemu lelaki itu. Tapi sungguh, aku tidak tahu siapa sebenarnya dia. Sampai akhirnya dia mengatakan sendiri kalau dia seorang mafia. Dia bilang, ada orang yang menyuruhnya untuk membunuhmu. Mungkin kamu tidak akan percaya, karena aku juga sulit untuk mempercayainya. Tapi aku harap, kedepannya kamu harus hati-hati dengan kakakmu, Kak Arga. Karena Kak Arga yang menyuruh mereka untuk mencelakaimu. Aku tak mau kamu kenapa-kenapa. Tolong, hiduplah dengan baik jangan sampai berurusan lagi dengan orang-orang seperti mereka. Maaf, karena aku tidak bisa menjagamu. Maaf, karena aku harus meninggalkanmu. Maaf, karena hanya sebatas ini yang bisa aku lakukan untukmu.'


Ayash menggenggam erat ponsel ditangannya. Air matanya mengalir begitu saja. Ada rasa sedih, marah, dan geram bergemuruh di hatinya.


Egi sebelumnya pernah memperingatkan kalau orang yang berniat mencelakainya mungkin kakaknya sendiri. Mario juga pernah mengatakan hal yang sama. Sekarang, Prita pun berkata demikian.


Rasanya sakit mengetahui keluarga yang disayang ternyata ingin menyakiti. Apalagi akibat perbuatannya, Ayash harus kehilangan Prita.

__ADS_1


"Kak Arga bangsat!" teriaknya.


Tangisan Ayash langsung pecah mengingat rekaman terakhir yang Prita buat. Sudah hampir 3 minggu prita menghilang dan itu semua karenanya, karena konflik dalam keluarganya. Rasa penyesalah muncul. Ia merasa tak becus menjaga orang yang disayanginya.


__ADS_2