
Siang itu, Prita dan Raya tampak sedang sibuk dengan administrasi kelas di ruang guru. Anak-anak baru saja tidur siang, sehingga mereka memiliki waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya.
TK Tunas Bangsa melaksanakan pembelajaran dari pukul 7 pagi hingga pukul 13 siang. Waktu pembelajaran tujuh jam setiap hari dari hari senin sampai jum'at itu memang terkesan lama untuk anak usia TK. Namun, TK tersebut memiliki kurikulum sendiri yang menempatkan siswa sedang bermain daripada belajar. Sehingga, siswa tetap betah menjalani kegiatan pembelajarannya di sekolah.
Tak jauh berbeda dari TK lainnya, anak-anak juga belajar menyanyi, mewarnai, dan menggambar. Hal yang membedakan adalah adanya pelajaran kewirausahaan, penggunaan bahasa asing, dan pengembangan bakat minat anak. Makan siang dan tidur siang juga merupakan hal wajib di sana.
TK Tunas Bangsa memiliki 4 ruang kelas dengan 20 siswa dan 2 guru pendamping pada setiap kelasnya. Prita dan Raya mengampu kelas yang sama. Dari semua guru, Prita satu-satunya yang hanya lulusan SMA dan tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Tapi, setelah 5 tahun mengajar, kemampuan berbahasa asingnya telah banyak berkembang.
Saat awal mengajar di TK, Raya sebenarnya masih kuliah S1 jurusan PG PAUD. Setahun yang lalu, dia baru wisuda. Raya dan Prita dulu satu SMA tapi beda kelas. Mereka baru kenal dekat setelah mengajar bareng di TK.
"Ta, besok kamu datang nggak ke acaranya Raeka?" Raya meletakkan pulpen yang sedari tadi dipegang dan menutup bukunya.
"Nggak tahu juga, Ray. Aku heran sama Raeka. Waktu SMA, dia nggak pernah bersikap baik lho, kok sekarang mau ngundang aku, ya?"
"Hahaha... memangnya dulu Raeka kenapa? Setahuku dia anak baik, kok." Raya yang pernah satu kelas dengan Raeka sedikit heran dengan ucapan Prita.
"Ya mungkin karena kamu teman sekelasnya. Tapi dulu, dia sering banget ngelabrak aku, nyuruh jauh-jauh dari Irgi. lha kan Irgi sahabatku, kita satu kelas, wajar kan setiap hari bareng." Prita ikut menutup buku dan meletakkan pulpennya.
"Oh, Irgi ya. Dulu mereka sempat pacaran, kan?" selidik Raya.
"Iya. Tapi akhirnya putus... dan dia selalu marah-marah katanya aku penyebabnya."
"Dulu kamu suka Irgi?"
"Nggak, nggak pernah... dari kelas satu aku cuma suka sama Ayash. Aku dan Irgi hanya sahabatan."
"Ya mungkin Irgi yang suka sama kamu."
"Hahaha... mana mungkin? Kita kan cuma sahabatan."
"Apanya yang nggak mungkin? Kamu aja dulu sahabatan sama Ayash tapi kamu suka sama dia, kan?"
"Hehehe... iya juga, ya."
"Dulu Raeka sering banget nangis-nangis di kelas semenjak putus sama Irgi. Kayaknya dia cinta banget sama Irgi.
__ADS_1
"Cinta dan posesif tepatnya. Setiap Irgi mau pergi bareng teman-temannya, dilarang sama dia. Dan aku yang dilabrak dong, padahal kita biasa jalan berlima. Ya, aku kasihan juga sih sama Raeka, karena Irgi lebih membela aku daripada dia."
"Ya sudah, Ta. Itu kan masa lalu. Mungkin sekarang Raeka sudah berubah."
"Ya, semoga saja."
"Jadi, besok kamu datang, kan? Temani aku... Pestanya kan untuk merayakan kelulusan Raeka sekaligus pembukaan hotel baru. Pasti banyak pengusaha yang diundang. Siapa tahu aku bisa dapat pasangan di sana. Hehehe... "
"Ah, ternyata tujuanmu cari jodoh." cibir Prita.
"Kamu kan sudah dapat jodoh pengusaha, Ta. Jadi, doakan aku juga." Raya mengerlingkan sebelah matanya.
"Oke, oke... besok kita berangkat bareng."
"Sip! Kamu berangkat sama aku, fix. Kamu jangan berangkat bareng Ayash ya!"
"Iya... nanti aku bilang ke Ayash." Prita melirik ke arah jam dinding, sudah hampir jam satu siang. "Ayo kita bangunkan anak-anak. Sebentar lagi waktunya pulang!" ajak Prita.
"Oke."
Keduanya langsung menuju kelas untuk membangunkan anak-anak.
Ting!
Pintu lift terbuka. Ayash melangkahkan kaki masuk menuju ruang tamu. Dilepaskannya dasi yang seharian melingkari lehernya dan dilempar ke sembarang tempat. Tas kerja ia letakkan di meja. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Matanya menangkap sosok Prita yang tampak sibuk di dapur. Bibirnya menyunggingkan senyum. Segera ia berjalan mendekati wanitanya.
"Ah!" Pekik Prita terkejut ketika tiba-tiba tangan seseorang memeluk pinggangnya dari belakang. Seketika ia menghentikan aktivitasnya memotong kacang panjang.
Ayash merapatkan tubuhnya ke punggung Prita, "Sedang masak apa, sayang?"
Prita membalikkan tubuhnya dan balas memeluk Ayas, "Kamu membuatku kaget. Bagaimana kalau aku salah mengiris jariku?"
Prita membenamkan wajahnya di dada Ayash. Selisih tinggi mereka 30 cm, sehingga ketika berjejer tinggi Prita hanya sebatas pundak Ayash. Entah mengapa sejak tinggal bersama, Prita menjadi semakin menyukai aktivitas skinship dengan pacarnya itu. Pelukan dan ciuman sudah menjadi hal biasa baginya. Bahkan terkadang ia yang berinisiatif terlebih dahulu.
Ayash tersenyum, "Ah, ya. Mungkin aku harus merenovasi dapur ini untuk dihadapkan ke pintu masuk. Supaya kamu tahu kalau aku pulang."
__ADS_1
"Ah!" Prita kembali memekik saat Ayash mengangkat tubuhnya. Reflek ia Melingkarkan kaki di pinggang Ayash dan tangan dikalungkan di lehernya.
Sekarang, posisi mereka sudah sejajar. Ayash memberikan ciuman lembut di bibir Prita dan Prita membalas ciuman itu. Keduanya saling mencecapi bibir satu sama lain. Sesekali lidah mereka beradu saling membelit hingga menimbulkan suara desahan.
Prita menghentikan ciumannya, "Sayang, sudah cukup." tangan kanannya menutup mulut Ayash yang masih ingin melanjutkan ciumannya. "Kamu sebaiknya mandi sekarang. Aku akan menyelesaikan masakanku dan kita makan malam bersama."
Cup!
Ayash mencium telapak tangan yang menutupi mulutnya, "Oke." ia lalu menurunkan tubuh Prita dan pergi ke kamarnya.
Prita kembali melanjutkan kegiatan masaknya yang tertunda. Hari ini ia akan memasak tumis kacang panjang, ayam goreng, dan orek tempe.
Tiga puluh menit kemudian, Prita telah menyelesaikan masakannya. Satu persatu lauk makanan ia tata di meja makan. Tampak Ayash keluar kamarnya memakai celana boxer abu-abu dan kaos polos warna hitam.
Ayash menarik salah satu kursi dan mendudukinya. Kepalanya menggeleng-geleng memandangi hasil masakan pacarnya.
"Uangku akan susah habis kalau kamu rajin masak begini setiap hari. Aku membawamu kesini untuk membantuku menghabiskan uang, lho... jangan kamu berpikir aku ingin menjadikanmu pembantu. Kalau kamu kerepotan, nggak perlu masak setiap hari. Kita bisa makan di restoran bawah."
Prita tertawa, "Siapa yang repot? Aku punya banyak waktu luang untuk memasak. Kamu lupa, aku sudah tidak bekerja lagi di restoran. Bosan aku di rumah nunggu kamu pulang." Prita mengambilkan nasi dan lauk kemudian memberikannya pada Ayash.
"Ya, aku memang lebih suka kalau kamu di rumah saja. Soalnya pasti banyak cowok-cowok yang bakal naksir kalau kamu keluar." Ayash mulai menyuapkan makanan yang diambilkan Prita.
Prita hanya tersenyum sambil mengunyah makanannya. "Sayang, kamu besok datang ke acaranya Raeka?"
"Iya, ayahnya mengundangku jadi aku akan datang. Kamu juga ikut, kan?"
"Iya, aku juga akan datang. Tapi aku berangkat bareng Raya, ya!"
"Hah? Kenapa harus bareng Raya? Kan ada aku?"
"Kita kan bisa ketemu di sana. Kasihan Raya sendirian."
"Ya kan kita bisa ajak dia bareng."
"Nanti Raya nggak nyaman, kamu disana pasti mau bahas bisnis juga, kan?"
__ADS_1
"Hm, ya sudahlah, terserah. Yang penting, jangan pakai baju terbuka, ya."
"Oke."