
Ayash termenung di unit apartemennya. Besok, anggota timnya akan kembali ke Kota S karena kegiatan survey lokasi proyek sudah selesai. Ia masih menimbang-nimbang untuk tetap bertahan di Kota J ato pulang bersama timnya. Satu sisi ia ingin bertanggung jawab terhadap pekerjaannya, di sisi lain, ia tak bisa tenang sebelum berhasil menemukan Prita.
Ayash merasa jarak antara dirinya dan Prita semakin dekat. Namun, keberadaan Tiger King menyulitkannya untuk segera menemukan Prita. Pengamanan di apartemen yang ia tempati sangat ketat. Terutama unit yang katanya tempat tinggal Prita. Tidak boleh sembarang orang bisa memasuki. Bahkan, cleaning service dan pelayan saja khusus dari anggota Tiger King.
Dalam minggu ini orang tuannya akan kembali. Tidak mungkin ia berlama-lama berada di Kota J tanpa alasan yang jelas. Tidak mungkin juga ia mengatakan bahwa Prita diculik dan penyebabnya adalah kakaknya sendiri, Arga. Hubungan keluarganya pasti akan semakin rumit.
Drrt... Drrt... Drrt....
Ponselnya berbunyi. Ia malas sekali mengangkat telepon dari orang yang namanya tertera di layar ponselnya.
"Halo.... " dengan malas Ayash tetap mengangkatnya.
"Bagaimana dengan Prita? Apa kamu sudah menemukannya?" suara dari seberang telepon adalah Irgi.
Ya, dia malas sekali menjawab telepon Irgi. Yang ditanyakan tentu saja Prita tanpa ada basa basi.
"Belum."
"Sebenarnya kamu sungguh-sungguh mencarinya atau tidak? Kenapa belum ada hasil juga."
Kadang ia ragu, apa benar Irgi tak pernah ada perasaan cinta pada Prita? Kenapa dia bisa begitu peduli kepada Prita padahal keduanya tak ada ikatan kekeluargaan?
Ayash mencoba bersabar dengan sikap temannya yang satu itu, "Aku juga masih terus berusaha untuk membawa pulang Prita."
"Haduh... apa aku juga harus datang ke sana. Rasanya kesal sekali setiap kali meneleponmu tidak ada kabar apapun."
Ayash memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam, "Mendengar ocehanmu setiap hari sungguh membuatku ingin marah. Kalau kamu menelepon hanya untuk marah-marah, akan aku blokir nomormu!"
"Wah! Kenapa jadi mengancam begitu? Aku kan hanya khawatir pada Prita."
"Ya, aku tahu. Aku juga khawatir dengan keadaannya. Tapi, mendengar ocehanmu setiap hari membuatku ingin segera pulang dan menghajarmu."
"Hahaha... segeralah pulang bersama Prita. Kalau kamu bisa membawa Prita pulang, aku dengan senang hati untuk kamu hajar."
"Oke. Pegang ucapanmu, ya!" tegas Ayash.
__ADS_1
"Oke. Aku tunggu kepulanganmu."
Ayash langsung menutup teleponnya. Ia bersumpah, jika nanti ia kembali bersama Prita, ia tidak akan segan-segan menghajar Irgi sampai masuk rumah sakit.
Bisa-bisanya ia punya teman songong seperti Irgi. Kata Prita, waktu SMP Irgi culun dan pendiam. Mana ada? Sejak ia kenal Irgi di SMA, Irgi yang dia kenal memang orang songong yang selalu mengolok-oloknya. Tampang Irgi tidak ada tanda-tanda korban bully, tapi tampang tukang bully.
...
Vs...
Ayash mengenal Irgi karena keduannya saat kelas satu SMA mengikuti ekskul yang sama yaitu basket. Mereka masuk menjadi tim inti. Rasa songong Irgi sudah mulai muncul sejak dipilih menjadi ketua klub basket karena kemampuan bermain basketnya memang bagus.
Yang membuat orang suka kesal padanya adalah tutur katanya. Bicaranya ceplas-ceplos tak peduli mau membuat marah orang atau tidak. Meskipun yang dikatakan benar, tapi cara penyampaiannya bisa membuat orang tersinggung. Ayash dulu sering dikata-katai jika dia tidak becus mencetak nilai. Dia sampai rela latihan tambahan untuk mengasah skill agar teman songongnya itu tidak mencelanya lagi.
Sisi positifnya, berkat latihannya, skill permainannya bertambah. Dia dan Irgi menjadi pasangan maut pencetak nilai di setiap pertandingan. Permainan mereka bisa seimbang dan akhirnya mereka berteman.
Irgi itu sangat populer di sekolah. Sebenarnya, Ayash juga populer. Tapi, mereka memang beda level. Ayash lebih terkesan pendiam, cuek, dan to the point. Sedangkan Irgi, lebih ramah, murah senyum, dan suka basa basi atau kadang bercanda walaupun garing.
Awalnya, Ayash mengira Irgi itu playboy. Dia ramah pada banyak cewek. Setelah berhasil berpacaran dengan cewek terpopuler di sekolah, Raeka, Irgi masih bisa mendekati cewek tipe pendiam yang tampak sulit bersosialisasi bernama Prita.
Dulu, Ayash juga mengira Prita adalah pacar lain Irgi. Orang-orang satu sekolah juga pasti mengira begitu. Raeka pacarnya, tapi yang lebih sering ia ajak nonton pertandingan adalah Prita.
Dari pertandingan basket itulah Ayash mulai mengenal Prita. Walaupun tampaknya dia pendiam, sebenarnya Prita anak yang asyik diajak bicara. Wawasannya luas, tutur katanya manis (tentunya tidak seperti Irgi), dan kadang bisa melucu atau bertingkah konyol. Pokoknya, tidak selugu yang orang-orang kira.
Sementara, kehadiran Vino dan Andin dalam cyrcle pertemanan mereka dimulai saat pergi ke Taman Hiburan. Waktu Irgi mendapat 5 tiket gratis ke Taman Hiburan. Ia ingin mengajak Raeka, tapi Raeka menolak karena tidak suka tempat semacam itu. Akhirnya, ia mengajak Prita dan Ayash turut serta. Karena kurang dua anggota, Ayash merekomendasikan Vino dan Andin. Mereka adalah teman Ayash sejak SMP. Di SMA, Ayash juga satu kelas dengan Vino dan Andin. Tak disangka-sangka, ternyata mereka berlima bisa menjadi teman yang kompak.
Prita itu sebenarnya cantik. Makanya banyak yang suka padanya. Tapi, karena sifatnya yang tidak mudah bergaul, dia merasa risih jika ada cowok yang mendekatinya. Beberapa kali ada tipe cowok yang agresif ingin mendekati Prita. Alhasil, Prita malah jadi ketakutan. Disitulah pasti Irgi datang untuk mengatai cowok-cowok yang suka mengganggu Prita dengan kata-kata setajam pisau cutter.
Saat Raeka mem-bully Prita karena cemburu, Irgi dengan begitu tega langsung memutuskan Raeka. Irgi terkesan sangat melindungi Prita dan Prita juga seperti bergantung pada Irgi. Ayash yang melihat hubungan seperti itu juga tidak akan percaya jika mereka hanya berteman.
"Heh! Kamu sudah tidak mencintai Raeka?" Ayash pernah bertanya seperti itu setelah Irgi memutuskan Raeka.
__ADS_1
"Masih, aku masih mencintainya." jawabnya enteng.
"Terus, kenapa putus?"
"Karena aku tidak suka perbuatannya. Aku tidak suka dia mengganggu Prita." Irgi menjawab apa adanya.
"Kenapa kamu peduli banget dengan Prita?"
"Karena dia temanku. Kamu suka Raeka, ya? Kok tanya-tanya terus?"
"Ih! Amit-amit aku suka nenek lampir."
"Heh! Kamu berani ya, mencela Raeka. Mau ngajak berantem?" Irgi sudah mencengkeram kerah baju Ayash dan siap menghajarnya. Ayash menepisnya kasar.
"Kamu sebenarnya suka siapa? Kayaknya semua cewek ingin kamu lindungi."
"Memang apa salahnya sih, peduli sama teman? Aku juga peduli kok sama kamu."
"Cih! Kapan kamu peduli? Yang ada aku di-bully terus sama kamu. Beda dengan kepedulianmu pada Prita, semua anak di sekolah juga nganggap itu sudah kayak orang pacaran. Ya masa pacaran sama Raeka yang diajak jalan Prita."
"Masa gara-gara pacaran aku cuma boleh pergi sama Raeka. Lagian aku jalan sama Prita kan juga bareng kamu, Vino, dan Andin. Berarti kalian juga pacarku, begitu?"
"Ya itu kan anggapan orang-orang kalau kamu dan Prita ada sesuatu."
"Ya biarin. Itu kan cuma kata orang. Lagian, kita nggak mungkin pacaran. Aku suka Raeka dan dia suka orang lain."
"Prita suka sama siapa?" Ayash kepo.
"Mana aku tahu. Tanya sendiri sana!"
"Hadeh... katanya teman dekat tapi nggak tahu."
"Mau orang bilang apa juga aku nggak peduli, Yash. Prita itu sudah seperti adikku sendiri. Dia teman pertamaku di kota ini. Orang tuanya juga pernah membantu bisnis orang tuaku sampai bisa punya perusahaan sendiri. Aku tidak bisa mengabaikannya jika dia dalam kesulitan. Terserah juga kamu mau ikut menyindir kedekatanku dengan Prita, aku juga tidak akan peduli."
Saat itu Ayash mulai ada rasa ketertarikan pada Prita. Ya, dia yang hidupnya lempeng tidak pernah peduli pada orang lain tiba-tiba bisa tertarik pada seorang cewek. Yang membuatnya ragu dan maju mundur untuk mendekatinya, tentu saja karena eksistensi Irgi. Ibaratnya Prita dan Irgi itu teman tapi mesra. Irgi terlalu memproteksi Prita. Itu yang membuatnya stress setiap kali ingin dekat dengan Prita. Irgi selalu ada di antara mereka.
__ADS_1