
Jangan lupa like, ya.... 💕💕💕
----------------------------------------------------------------------------------
Malam itu Arga sedang menikmati acara minum-minum di sebuah diskotik. Seperti biasa, ia ditemani oleh dua orang wanita penghibur yang cantik dan seksi.
Saat merasa stres dengan pekerjaannya, Arga memang kerap menghabiskan waktu di tempat hiburan. Ia bekerja menghasilkan banyak uang hingga stres dan menghamburkan uangnya untuk menghilangkan stres. Begitulah siklus hidupnya selama menjadi pengusaha.
Dimata orang, ia adalah seorang pria mapan dan sukses. Dalam hatinya, ia begitu rapuh. Ia menyimpan dendam yang besar kepada ayah dan ibu tirinya.
Hatinya selalu sakit setiap mengingat ayahnya yang membawa selingkuhannya ke rumah dan tak lama setelah itu ibunya meninggal karena kecelakaan. Beberapa hari setelah kematian ibunya, tanpa rasa bersalah ayahnya menikahi selingkuhannya, yang kini menjadi ibu tirinya.
Untuk menghibur hatinya yang luka, ia kerap mabuk-mabukan dan menghabiskan waktu dengan para wanita penghibur.
"Tuan... " suara seseorang mengusik kesenangan Arga.
Orang yang datang adalah Glen, asisten pribadinya. Glen berjalan mendekat ke arah bosnya. Arga mengistaratkan kepada dua wanita penghibur itu untuk keluar ruangan, sehingga hanya ada Arga dan Glen di sana.
"Ada apa, Glen?" Arga kembali meneguk segelas alkohol.
"Tiger King menolak request kita, Tuan."
Arga menaikkan sebelah alisnya, "Apa?"
"Mereka membatalkan misi yang telah disepakati."
"Bukankah kita sudah memberikan uang muka satu miliyar?"
"Benar, Tuan. Tapi tadi mereka mengembalikan dua miliyar dan mengatakan tidak bisa melakukan apa yang kita minta."
"Apa alasannya?"
"Mereka tidak memberitahu."
"Kamu bilang mereka bisa diandalkan. Segala urusan bisa beres dengan rapi jika meminta bantuan mereka. Permintaanku kan sangat sederhana, hanya untuk menyembunyikan satu orang saja tidak bis. Payah!" Arga kembali menenggak minumannya.
"Hentikan, Tuan. Anda sudah sangat banyak minum."
"Tuntut mereka! Buat reputasi Tiger King jatuh. Kalau bisa, bongkar bisnis busuk mereka supaya semuanya dijebloskan penjara!"
"Tidak bisa, Tuan."
"Kenapa tidak bisa!"
Prang
Arga melemparkan botol sembarang hingga pecah berkeping-keping.
"Mereka mengancam akan membeberkan rencana kita kepada Tuan Reonal jika kita melawan."
"Hahaha... licik sekali mereka membawa-bawa ayahku. Memangnya aku peduli kalau ayahku tahu?"
"Tiger King lebih berbahaya dari yang kita duga, Tuan. Sebaiknya kita berhati-hati. Kalau bisa, Anda lupakan saja masalah dengan Tuan Ayash."
__ADS_1
Brak!
Ayash menggebrak meja dengan sangat kuat, "Mudah sekali kamu bilang begitu! Mana mungkin aku menyerahkan perusahaan pertama demi anak dari si jalang itu!"
"Maafkan saya, Tuan." Glen mengalah. Ia lebih memilih diam daripada berseteru dengan bosnya.
"Ah, sudahlah! Kita pikirkan nanti saja. Sekarang, antar aku pulang. Aku pusing sekali."
Glen langsung bergerak memapah bosnya yang mabuk berat. Ia membantunya berjalan keluar dari tempat hiburan malam itu.
Glen membaringkan tubuh bosnya dalam mobil. Ia menjalankan mobilnya. Selama bekerja, ia selalu menghindari minuman beralkohol agar tetap bisa mengemudi ketika harus pulang larut malam mengantar bosnya.
*****
Prita termenung di dalam kamar. Seharian tadi ia sudah berkeliling ke setiap sudut mansion untuk mengusir kebosanan sekaligus mencari jalan yang bisa ia gunakan untuk melarikan diri. Dimana-mana ada CCTV dan penjaga bertubuh tegap.
Pagar mansion tingginya sekitar tiga meter. Tidak mungkin baginya untuk memanjat. Jalan keluar satu-satunya adalah melalui gerbang depan. Tentunya, ia harus melewati pos penjagaan.
Mansion itu sangat luas. Untuk mengelilingi keseluruhan bangunan, diperlukan waktu seharian. Sebenarnya tempatnya sangat indah dan nyaman. Namun karena Prita menempatinya karena terpaksa, maka yang ia rasakan justru seperti berada di sangkar emas.
Di luaran area mansion, terdapat hutan yang lebat. Entah hutan itu aman atau masih ada binatang buas. Walaupun berhasil melewati pagar belum tentu juga bisa samat melewati hutan.
Saat malam, mansion sangat bersinar diterangi lampu-lampu. Mansion itu memang seperti istana yang hilang di tengah hutan. Akses menuju ke sana sulit dihapalkan terutama oleh orang baru. Bahkan Prita sendiri tidak tahu, mansion itu masih berada di Kota S atau berada di luar kota.
Prita menoleh ke arah dinding. Jam menunjukkan pukul tujuh malam namun belum ada tanda-tanda Bayu sudah pulang. Prita di sana hanya sendirian. Berjalan-jalan juga dilakukan sendiri. Para penjaga dan pelayan tidak berani untuk terlalu mengakrabinya.
Krukk... Krukk...
Prita melangkahkan kaki keluar kamar. Satu persatu anak tangga ia tapaki sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Suasananya sepi.
Setibanya di ruang makan, ada Bi Ratna yang tadi pagi sempat Bayu kenalkan.
"Selamat malam, Nona." sapanya sopan.
"Selamat malam."
"Nona ingin makan apa? Saya akan menyiapkan."
"Apa saja yang ada. Aku tidak pilih-pilih makanan." ucap Prita mengingat perutnya sudah sangat melilit.
"Baik, Nona."
Bi Ratna segera mengambilkan makanan yang sudah ia masak bersama anak buahnya. Ia menghidangkan di hadapan Prita. Dalam kondisi kelaparan, makanan di meja makan tampak menggugah selera.
Ketika salah seorang pelayan hendak mengambilkannya makanan, ia buru-buru mencegahnya.
"Biar aku mengambil makananku sendiri." ucapnya.
"Baik, Nona." pelayan yang tampak masih muda itu mundur.
Prita mengambil secentong nasi dengan lauk ayam goreng, cap cay, dan perkedel.
__ADS_1
"Kalian ikutlah makan bersamaku. Duduk di sini." Prita mempersilahkan ketiga pelayan yang sedari tadi hanya berdiri di dekat meja makan untuk bergabung dengannya.
"Tidak perlu, Nona. Kami sudah makan di paviliun belakang." Bi Ratna menolak halus.
Prita melanjutkan makan. Lambungnya menerima makanan itu dengan baik.
"Apa rumah ini selalu sepi seperti ini?" Prita kembali bertanya disela-sela aktivitas makannya.
"Iya, Nona. Tuan sibuk bekerja dan jarang pulang ke rumah ini."
"Biasanya jam berapa Bayu pulang?"
"Saya tidak bisa menjawab dengan pasti, Nona. Kadang tuan pulang tengah malam, dini hari atau bahkan tidak pulang selama beberapa hari."
'Mudah-mudahan dia tidak usah pulang kesini.' batin Prita.
Prita melanjutkan makannya dengan berselera. Pikirannya jika Bayu tidak pulang berhari-hari, ia bisa fokus berpikir cara keluar dari sana.
"Mansion ini apa masih berada di Kita S?"
"Iya, Nona."
Prita lega, ternyata tempatnya masih di tempat lahirnya.
"Apa kalian asli penduduk sini?"
"Tidak, Nona." jawab Bi Ratna.
"Saya asli penduduk sini, Nona!" salah satu pelayan muda itu turut bicara.
Prita jadi bersemangat untuk mencari informasi lebih dari mereka, "Oh, kamu asli sini, ya? Siapa namamu?"
"Nama saya Heni."
"Ah, kalau namamu siapa?" Prita menunjuk pelayan muda lainnya. Karena dari ketiga orang itu, hanya Bi Ratna yang ia tahu.
"Nama saya Vita."
"Kalau Vita asal mana?"
"Saya dari Kota M."
"Kalau Bi Ratna sendiri?"
"Saya dari Kota J, Nona."
"Oh, jadi Bi Ratna berasal dari kota yang sama dengan Bayu, ya?"
"Iya."
"Maaf, ya. Aku banyak bertanya. Rasanya sepi saja tidak ada orang orang diajak bicara. Mudah-mudahan kalian bisa menjadi temanku selama aku di sini."
"Ah, aku sudah selesai makan. Terima kasih atas masakannya. Aku mau naik ke kamar dulu."
__ADS_1
"Iya, Nona."
Prita kemudian pergi dari ruang makan. Ia berjalan kembali ke kamar. Idenya kini akan mendekati para pelayan di sana dan mencari info sebanyak-banyaknya. Semoga saja dari mereka semua ada yang bisa membantunya keluar dari sana.