ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Bayu


__ADS_3

Mobil yang dinaiki Ayash dan Prita terus melaju menembus keheningan malam. Iring-iringan kendaraan membuat mereka seperti pejabat penting dengan perlindungan super ketat. Tak akan ada yang menyangka jika di dalamnya ada orang yang diculik.


"Sebenarnya siapa yang menyuruh kalian melakukan semua ini?" tanya Ayash.


"Nanti juga kamu akan tahu." orang yang menodongkan pistol ke arah Prita angkat bicara.


"Kalau sasaran kalian adalah aku, tolong lepaskan dia." pinta Ayash.


"Hahaha... tenang saja, setelah urusan denganmu selesai, kami akan melepaskannya. Kamu itu terlalu sulit dilumpuhkan. Makanya kami butuh sandera."


Tanpa mereka sadari, Ayash sejak tadi terus berusaha melonggarkan ikatan tali di tangannya.


Keluar dari jalan Raya, mobil melewati jalanan yang semakin sepi. Sepanjang jalan berjejer rapi pepohonan lebat yang menimbulkan kesan mencekam. Sepertinya mereka tengah melewati area hutan. Gelap. Hanya lampu mobil yang jadi penerangan.


Setibanya di suatu pertigaan, mobil berbelok ke jalanan yang lebih sempit dan semakin lebat pepohonannya. Mobil terus berjalan hingga terlihat sebuah mansion besar di depan mereka.


Mansion itu seperti sumber cahaya di tengah kegelapan hutan. Bangunannya luas dan besar. Mobil berhenti sejenak di depab pintu gerbang. Seorang penjaga menghampiri, mengecek kendaraan yang hendak masuk ke sana. Setelah pengecekan, pintu gerbang setinggi dua meter itu terbuka. Iring-iringan mobil kembali berjalan memasuki halaman mansion.


Ceklek!


Pintu mobil di buka dibuka oleh lelaki yang masih menodongkan pistol. Prita ditarik keluar mobil. Di sisi pintu yang lain, seseorang juga menyeret Ayash keluar. Keduanya digelandang masuk ke dalam mansion. Mereka kini seperti buronan yang siap dieksekusi oleh sekelompok penjahat.


Ayash terus mengamati situasi. Pengamanan di mansion itu sangat ketat. Benar-benar berbeda dengan pengamanan di mansion keluarganya. Di setiap titik tempat terdapat penjaga. Akan sulit untuk kabur dari sana.


Seandainya ia hanya sendiri, Ayash sudah pasti memilih melawan puluhan orang itu. Mengingat keselamatan Prita, ia tak mampu berbuat apa-apa selain pasrah.


"Cepat panggilkan bos!" perintah lelaki yang sedari tadi menodongkan pistol ke arah Prita.


Orang yang diperintah itu langsung berlari ke lantai atas untuk memanggil bosnya.


Prita dan Ayash berdiri di ruang tamu mansion yang sangat luas. Ada sekitar dua puluh orang berpakaian hitam mengelilingi mereka. Seakan memberi tahu mereka bahwa tak ada lagi jalan keluar.


"Bisa kamu turunkan pistolmu? Kamu membuatnya ketakutan. Aku juga tidak mungkin kabur." pinta Ayash.


Lelaki itu tersenyum sinis, "Hobiku memang menakuti orang." ucapnya seraya semakin menempelkan ujung pistolnya di kepala Prita.


Prita memejamkan mata. Tubuhnya gemetar.


"Hentikan!" Ayash langsung melayangkan tendangan kuat ke arah lelaki itu hingga jatuh tersungkur dan pistolnya jatuh.


Ayash melepaskan lilitan tali yang sejak tadi sebenarnya sudah longgar. Ia langsung memeluk erat Prita yang sedang ketakutan. Melihat hal itu, orang-orang yang ada di ruangan itu langsung mengeluarkan pistol dan mengarahkan kepada mereka berdua.

__ADS_1


"Tenanglah." ucap Ayash.


Prita sesenggukan. Air mata yang ia tahan akhirnya jatuh. Ia ketakutan. Situasi sekarang lebih menakutkan dibandingkan kora-kora yang tadi siang ia naiki.


"Jangan menangis, kita pasti akan baik-baik saja." Ayash tetap menenangkan meskipun ia sendiri tak tahu bagaimana cara keluar dari situasi itu.


Samar-samar terdengar derap langkah kaki dari arah lantai atas. Ayash melihat beberapa orang lelaki mulai menuruni tangga. Orang berkacamata hitam yang paling depan rasanya ia pernah bertemu, tapi entah dimana. Ia terus mendekap erat tubuh Prita.


"Kalian sudah kembali?" kata lelaki berkacamata itu yang sepertinya menjadi pemimpin mereka.


"Bos... " ucap mereka serentak seraya menurunkan pistol dan berdiri tegak.


Mereka membuka kerumunan agar bosnya bisa melihat orang yang mereka bawa.


Lelaki itu adalah Bayu. Dia pemimpin Tiger King yang sangat dihormati.


Bayu melepas kacamata hitamnya. Pandangannya beradu dengan Ayash yang tengah menatap tajam penuh kemarahan kepadanya. Bayu hanya tersenyum sinis.


Sebelah alisnya naik ketika melihat sosok wanita yang sedang dipeluk Ayash. "Kenapa kalian membawa dua orang kemari? Siapa wanita itu?" tanya Bayu penasaran.


Beberapa orang di dekat Ayash langsung maju memisahkan Ayash dan Prita.


"Ah!" pekik Prita ketika pelukannya terlepas.


Bayu terkejut ketika menyadari sosok wanita itu ternyata Prita. Demikian pula dengan Prita, ia terkejut ketika bersitatap dengan Bayu, lelaki yang sangat ingin ia hindari.


"Bayu... " pekik Prita.


Prita melayangkan tatapan mata tajam penuh kemarahan. Ia mulai menyadari jika kejadian hari ini adalah ulah Bayu. Ingin rasanya ia mencabik- cabik orang yang selalu mengganggunya.


Bayu membuang pandangannya. Ia menghela nafas kasar. Kejadian hari ini benar-benar di luar sepengetahuannya. Ia tidak tahu kalau ternyata wanita yang begitu diinginkannya ternyata pacar dari anak bau kencur seperti Ayash. Rasanya ia ingin langsung membunuh pacar dari wanita incarannya. Wanita yang begitu sulit ia dapatkan, wanita yang tak akan tergoda dengan harta yang ia tawarkan, ternyata sudah memiliki pacar. Dan pacarnya hanya anak bau kencur yang sama sekali bukan levelnya.


Tapi, ia ingat sudah menerima uang muka satu miliyar untuk mengurusi anak bau kencur itu. Dia juga tidak bisa menyakitinya sesuai perjanjian. Baru kali ini ia berat melaksanakan pekerjaannya secara profesional.


"Aku ingat pernah bertemu denganmu meskipun aku sedikit lupa. Dan apa maumu membawaku kesini?" kata Ayash.


Bayu menghentikan tingkah kalutnya. Ia menoleh ke arah Ayash. Lagi-lagi ia mengembangkan senyum. "Kita sudah pernah beberapa kali bertemu di pertemuan bisnis. Dulu kamu masih sangat ingusan datang bersama kakak dan ayahmu. Namaku Bayu Bagaskara kalau kamu penasaran."


Ayash membelalakkan mata, "Putra Samuel Bagaskara, pengusaha tambang." Ayash mengingat jika ia pernah melihatnya makan bersama Prita di hotel.


"Ya, benar." jawab Bayu. Ia melirik sebentar ke arah Prita yang ternyata sedang membuang muka darinya.

__ADS_1


"Untuk apa anak pengusaha tambang menahanku di sini? Sepertinya kita bahkan tak pernah memiliki masalah. Usaha kita juga di bidang yang berbeda, kita bukan saingan. Apa alasannya?"


"Alasan bisa dibuat dan masalah juga bisa diciptakan. Walaupun sepertinya kita tidak punya masalah, tapi mungkin sebenarnya ada masalah di antara kita." Bayu kembali memandang ke arah Prita.


"Entah mengapa malam ini rasanya aku sangat marah dan ingin membunuh orang. Aku kesal sekali. Apa perlu aku bunuh kalian semua di sini?" lanjut Bayu.


Merasa tidak dianggap oleh Prita, Bayu naik pitam. Ia menarik kasar tangan Prita. Ayash berusaha maju, namun tiga orang memeganginya kuat.


"Lepaskan dia!" teriak Ayash.


Langkah kaki Bayu terhenti. Tangannya masih mencekal kuat lengan Prita. Pukulan yang sedari tadi dilayangkan Prita seakan tidak ia rasakan. Matanya menatap nyalang ke arah Ayash. Ia kembali menunjukkan senyum sinis.


"Apa dia pacarmu?"


"Ya." tegas Ayash. "Urusanmu hanya denganku. Jangan bawa-bawa dia!"


"Lepas!" peritah Prita. Namun Bayu tak menggubris perkataan Prita. Ia lebih tertarik dengan jawaban Ayash.


"Awalnya memang begitu. Tapi setelah melihatnya, sepertinya aku berubah pikiran." ucap Bayu.


"Apa maksudmu?"


Bayu merapatkan tubuh Prita ke arahnya, "Apa dia tidak pernah cerita kalau kami sudah saling mengenal dan sudah sering bertemu?"


Ayash terdiam. Ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan Bayu. Tapi ia memang pernah melihatnya makan siang bersama Prita.


"Ah... sekitar seminggu yang lalu, kita juga baru bertemu. Bahkan aku mengantar sampai apartemen karena sudah sangat larut malam." ucap Bayu dengan senyum devil-nya.


Ayash mengingat-ingat kejadian seminggu yang lalu. Prita pernah pulang larut malam dan dia bilang terlambat pulang karena hendak diculik, tapi ada orang yang menolongnya dan mengantarnya pulang. Ayash tidak percaya kalau Prita berbohong.


"Aku tidak tahu kalau dia sudah punya pacar. Tapi... kami berdua sudah sering berciuman. Aku sangat menyukai bibirnya. Aku tidak bisa melupakannya. Jadi, sebaiknya kalian putus saja."


Plak!


Prita menampar keras pipi Bayu. "Kurang ajar!" bentaknya.


"Hahaha... kamu bisa main kasar juga ya, Sayang."


Bayu kembali menyeret tangan Prita. Karena terus mendapat perlawanan, ia menggendong Prita di atas pundaknya.


"Lepas, dasar brengsek!" Prita meronta-ronta berusaha melepaskan diri.

__ADS_1


Sementara Ayash yang mencoba menolong, tetap dicekal oleh para pengawal. Ia hanya bisa melihat Prita semakin menjauh dibawa menaiki tangga.


__ADS_2