
"Pak... Mario dan pelayan itu ingin menyampaikan sesuatu." ucap Egi.
Ayash menyeka air mata yang sempat mengalir di pipinya. Ia menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Helikopter yang membawa Prita sudah tak terdengar lagi bunyi bisingnya. Entah kemana mereka pergi.
Ayash bangkit berdiri. Sweater Prita masih ia genggam erat di tangan kirinya. Ia berjalan ke arah Egi yang sedari tadi setiap menungguinya sampai tenang.
"Ayo kita temui mereka." ajak Ayash seraya menepuk pundak Egi.
Mereka berjalan beriringan meninggalkan rooftop. Saat melewati aula utama, seluruh anak buah Bayu berhasil dilumpuhkan oleh pengawal yang Ayash bawa. Mereka terus berjalan menuju taman belakang, dimana ada Mario dan pelayan itu berada.
Melihat kembali wajah Mario membuat Ayash merasa muak. Ia sama sekali tak kasihan melihat kondisinya yang penuh luka. Ia masih dendam dengan perbuatan Mario dulu.
Mario menyeringai melihat kedatangan Ayash, "Kamu pasti masih dendam kepadaku, kan? Tampak jelas di matamu."
"Tapi, tidak ada gunanya juga kamu marah padaku. Karena saat ini, Prita ada di tangan orang yang lebih bangsat dariku dan aku pikir dia tidak akan melepaskannya. Ternyata yang terobsesi pada Prita bukan hanya aku. Psikopat sekelas Bayu juga menginginkannya. Hahaha.... "
Ayash membiarkan Mario berbicara semaunya. Meskipun ia sangat marah, namun hasratnya menghajar orang tak ada. Ia seperti kehilangan semangat.
"Tuan.... " pelayan yang ada di sebelah Mario berbicara. Semua mata mengarah padanya.
"Saya Heni, orang yang melayani Nona Prita selama di sini. Saya juga yang meminjamkan ponsel kepada Nona Prita. Karena itu saya mendapat hukuman dikurung di ruang bawah tanah."
Mereka tampak memperhatikan perkataan Heni.
"Apa... Tuan orang yang dihubungi Nona Prita?" Heni menatap ke arah Ayash.
Ayash mengangguk, "Iya."
"Syukurlah saya bisa bertemu dengan Anda. Tolong selamatkan Nona Prita bagaimanapun caranya. Nona sangat menderita bersama Tuan Bayu. Setiap hari saya melihat Nona menangis. Saya tidak tega, Tuan, selamatkan Nona Prita. Huhuhu.... " Heni tak kuasa menahan tangisnya.
Selama menjadi pelayan, ia sebenarnya sangat kasihan setiap melihat nonanya yang sering melamun, murung, dan menangis. Beberapa kali ia juga mendengar nonanya menjerit-jerit karena perlakuan kasar Tuan Bayu. Tapi, tak ada yang bisa ia lakukan sebagai pelayan.
Heni menyeka air matanya, "Tuan... saya tahu kemana Tuan Bayu membawa Nona Prita."
"Kemana?" tanya Ayash penasaran.
"Saya dengar dari para penjaga, Tuan Bayu akan kembali ke kotanya dan tidak akan kembali lagi kesini. Jadi, pasti Nona Prita dibawa bersamanya."
"Kota asal?" Ayash melirik ke arah Egi seakan melemparkan pertanyaan padanya.
"Mungkin Kota J, Pak. Pusat bisnis ayahnya memang ada di sana."
Ayash meremas jaket Prita yang digenggamannya. "Ayo kita pergi dari sini." Perintahnya.
"Bagaimana dengan mereka dan seluruh penjaga yang sudah kita lumpuhkan?" tanya Egi.
__ADS_1
"Lepaskan saja mereka semua."
"Baik, Pak."
"Tunggu!" saat Ayash hendak melangkah, Mario menghentikan langkahnya.
Ayash kembali berbalik menghadap Mario.
"Terima kasih sudah menolongku. Walaupun tujuanmu bukan untuk membebaskanku dari sini, tapi aku tetap berterima kasih. Jika kamu tidak datang mengacaukan tempat ini, mungkin aku akan mati."
"Sebagai bentuk rasa terima kasihku, aku akan mengatakan satu rahasia padamu."
"Sebenarnya, orang yang hendak mereka sekap adalah kamu, bukan Prita."
Ayash membelalak mendengar penuturan Mario. Apa yang dikatanyannya, sama seperti perkiraan Egi.
"Prita yang mengajukan dirinya untuk menggantikanmu. Karena itu, mereka melepaskanmu dan tetap menahan Prita."
Ayash mengeratkan kepalan tangannya, 'Dasar bodoh! Kenapa kamu malah menggantikanku....' umpatnya dalam hati.
"Apa kamu ingin tahu, siapa orang yang ada di balik masalah ini?"
"Kamu pasti paham, kan... cara kerja Tiger King? Tiger King tidak akan bertindak jika tidak ada request dari seseorang."
"Orang itu adalah Arga Hartadi."
Ayash langsung mencekik leher Mario, Matanya menatap nyalang padanya, "Berani-beraninya kamu menjelek-jelekkan kakakku!" bentaknya.
"Hahaha... Kalau tidak percaya, tanyakan sendiri pada Bayu. Atau tanyakan pada Prita. Pasti jawabannya sama denganku."
Bug!
Ayash mendaratkan satu pukulan di pipi kanan Mario.
"Terserah padamu mau percaya atau tidak. Kakakmu memang tak sebaik yang kamu kira."
"Ayo pergi!"
Ayash tak menggubris kata-kata Mario. Tidak mungkin kakaknya seperti itu. Untuk apa kakaknya melakukan itu? Merebut perusahaan kecil darinya? Hal itu hanya buang-buang waktu. Usaha kakaknya sudah sangat besar, tak mungkin ada waktu kakaknya untuk mengurusi hidupnya.
Ayash tahu, walaupun kakaknya belum bisa menerima kehadiran ibunya, namun Arga sangat menyayanginya. Jika ingin mencelakainya, seharusnya sejak dulu kakaknya sudah melakukannya saat ia masih kecil. Tapi, hanya kebaikan dan persahabatan yang diberikan seorang Arga pada adiknya. Arga tak pernah menyebutnya adik tiri. Dia selalu mengenalkannya pada orang-orang bahwa Ayash adalah adiknya, adik kesayangannya.
*****
Pagi menjelang. Prita menggeliatkan tubuhnya di bawah selimut. Seluruh tubuhnya terasa sangat pegal seperti sudah bekerja keras.
__ADS_1
"Ah!" Prita langsung terduduk di atas ranjang mengingat kejadian semalam.
Ia ingat semalam Bayu memaksanya melayani sampai ia kelelahan dan tertidur. Sekarang yang ia khawatirkan adalah Heni. Semalam Heni dimasukkan ke ruang bawah tanah. Heni dalam bahaya karena meminjamkan ponsel padanya.
Prita mengarahkan pandangan ke sekelilingnya. Ia mengerutkan dahi karena suasana kamar yang saat ini ia tempati berbeda dengan kamar Bayu.
"Oh, kamu sudah bangun?" sapa Bayu yang baru keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk di pinggang. Dadanya dibiarkan terekspos tanpa rasa malu.
Cup!
Bayu mendaratkan satu kecupan di pipi Prita, "Apa kamu mau mandi sekarang? Aku akan membantumu ke kamar mandi." Bayu seakan paham jika Prita akan kesulitan berjalan sendiri ke kamar mandi.
Prita menggeleng.
"Baiklah, akan aku suruh pelayan mengantarkan makanan ke kamar."
Sebelum sempat beranjak, Prita menahan tangannya. "Kita ada di mana?"
Bayu tersenyum mendengar pertanyaan Prita, "Ini apartemenku."
"Semalam... bukankah kita ada di mansion?" Prita seperti orang linglung.
"Aku membawamu ke sini saat kamu masih tidur."
Bayu sebenarnya berbohong. Ia memberikan bius agar Prita tetap tertidur dan tidak membuat keributan saat ia membawanya.
"Bagaimana dengan Heni?" Prita masih mencemaskan Heni.
"Aku tidak membunuhnya sesuai janjiku."
Prita menunduk. Ada sedikit kelegaan mendengar Bayu tak membunuh Heni. Ia merasa bersalah telah melibatkan Heni dalam masalahnya.
Bayu mendongakkan wajahnya, "Apa kamu masih ingin berusaha kabur dariku?"
Prita menggeleng.
"Lain kali jika kamu berusaha kabur, aku akan langsung menembak orang-orang yang berusaha menolongmu tanpa berpikir dua kali. Dan aku tidak akan mendengarkanmu meskipun kamu memohon-mohon sekalipun. Kamu mengerti?"
Prita mengangguk.
"Aku akan memberitahumu. Saat ini kita sudah di Kota J."
Prita membelalak, Kota J cukup jauh dari tempat mereka sebelumnya di Kota S.
"Di sini adalah pusat orang-orangku. Kamu akan sedikit leluasa bepergian, tapi kamu tak akan bisa lepas dariku. Bahkan di sini tembok memiliki mata. Aku harap kamu tidak akan membuatku marah."
__ADS_1