ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Saranghae Cafe


__ADS_3

Siang itu matahari bersinar cerah, secerah suasana hati Prita. Ya, hari ini adalah hari pertama kafenya dibuka. Baru pertama dibuka, kafenya langsung dibanjiri oleh pengunjung yang penasaran dengan kafe unik bertema korea yang baru pertama kali ada di kota itu.


Seluruh meja sudah dipenuhi oleh pengunjung. Karyawannya tampak kewalahan untuk melayani pesanan. Oleh karena itu, tanpa sungkan, ia mengganti pakaiannya dengan seragam karyawan berupa baju hanbok modern warna biru. Rambutnya dicepol sederhana dan diberi ornamen seperti yang dipakai karyawannya.



Meskipun dengan riasan sederhana, penampilannya tetap cantik dan elegan. Konsep kafenya memang bertema Korea, sehingga seragam dan penampilan karyawannya juga disesuaikan dengan ciri khas Korea.


Menu andalan Kafe Saranghae yaitu ramyeon, tteokbokki, jjajangmyeon, dan mandu. Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau oleh kantong mahasiswa, mengingat kafenya memang berada dekat dengan kampus. Rasa masakan sudah disesuaikan dengan lidah masyarakat setempat. Prita optimis kafenya dapat diterima dengan baik.


Sepertinya minat pengunjung datang bukan hanya penasaran dengan menu dan dekorasi kafe. Penampilan Prita banyak menyita perhatian pengunjung, terutama pengunjung pria. Beberapa kali ada yang memintanya foto bersama di spot foto yang sengaja disediakan untuk pengunjung. Banyak diantara mereka yang terang-terangan memuji kecantikannya dan meminta nomor teleponnya. Namun, ia tetap melayani dengan ramah.


Tanpa Prita sadari, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya dari luar kafe. Hatinya terasa panas melihat pacarnya dikerumuni banyak lelaki. Apalagi Prita terus memasang senyum dan berbincang-bincang akrab dengan mereka. Rasanya, ia ingin menarik Prita dan membawanya pulang ke apartemen agar tidak ada orang yang melihatnya.


Dengan perasaan kesal, ia paksakan masuk mendekatinya. Sepertinya Prita belum juga menyadari kehadirannya. Dia terus menerima permintaan foto bersama dari pelanggannya.


"Terima kasih ya, Prita. Ramyeonnya enak banget! Bakal sering datang nih aku." kata seorang pelanggan lelaki yang baru saja berfoto bersama Prita.


"Iya. Terima kasih juga kunjungannya. Jangan lupa bantu posting di sosmed dan ajak teman-temannya, ya."


"Siap... "


"Prita... minta nomor teleponnya, dong... " kata seorang pemuda yang lain.


"Heh! Nggak sopan!" bentak temannya yang lain.


"Kenapa sih, namanya juga usaha... "


Prita tersenyum, "Kalau mau menghubungiku, ada nomornya kok. Tuh, di papan." ucap Prita seraya menunjuk ke poster kafenya yang tertempel di dinding.


"Yah, itu sih nomor untuk pesan antar."


"Kalau nggak sempat datang, boleh kok delivery."


"Nggak usah diurusi teman kita ini, Ta. Agak-agak anaknya. Kita pergi dulu, ya. Ada kuliah lagi soalnya."


"Oke. Yang rajin kuliah ya." ucap Prita dengan senyuman.


"Ah... jadi semangat kuliah nih, ada yang kasih semangat."


"Hahaha... "


"Sampai ketemu, Prita."

__ADS_1


Ketiga mahasiswa itu kemudian pergi. Prita senyum-senyum dengan kelucuan mereka bertiga.


"Hem... Ada yang kelihatannya sibuk." sindir Ayash yang sedari tadi ada di sana bagaikan makhluk tak kasat mata.


Prita langsung menoleh ke Arah Ayash, "Eh, hai... kamu sudah datang?"


"Aku sejak tadi ada di sini. Kamu nggak lihat? Memangnya aku hantu?" jawab Ayash ketus.


Prita meraih tangan kanan Ayash, "Maaf, ya. Aku tidak sadar kamu sudah datang. Ayo ke ruanganku." ajaknya.


"Yaya.... "


Seorang pelayan wanita mendatangi Prita, "Ada apa, Bu?"


"Tolong antarkan dua ramyeon dan odeng ke ruangan saya, ya. Minumannya air mineral saja."


"Baik, Bu."


"Ayo." Prita menggandeng tangan Ayash, mengajaknya menaiki tangga menuju lantai atas.


Suasana di lantai atas juga ramai. Seluruh meja sudah dipenuhi pengunjung. Rata-rata mereka adalah mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas bersama teman-temannya.


Prita membuka pintu ruangannya yang juga terletak di lantai dua. Ruangan bernuansa baby pink itu sangat minimalis. Hanya terdapat meja kerja dan sofa untuk menerima tamu. Ia mengajak Ayash untuk duduk di sofa.


Bukannya menjawab, Ayash meraih kepala Prita dan meletakkan di dadannya. Tangannya dilingkarkan ke lengan Prita.


"Jangan tanyakan tentang pekerjaanku. Tanyakanlah tentang perasaanku."


"Baiklah, bagaimana perasaanmu hari ini?"


"Aku sedang marah dan kesal!"


Prita melepaskan pelukannya, menatap intens wajah Ayash sembari mengerutkan keningnya. "Hmmm... kenapa marah?"


"Coba lihat penampilanmu... penampilanmu sangat mencolok." Ayash menunjuk-nunjuk baju yang dikenakan Prita.


Prita melihat penampilannya sendiri. Menurutnya, penampilannya biasa saja, "Ini kan seragam karyawan, sama dengan yang lainnya. Kafe ini kan konsepnya memang Korea. Makanya semua karyawan memakai hanbok."


"Tapi semua cowok jadi memperhatikanmu terus. Dan kamu juga senyum-senyum terus meladeni mereka. Mau diajak foto lagi."


"Ya... aku kan memang harus bersikap ramah. Kalau aku memasang wajah sinis, yang ada mereka nggak mau datang."


"Kamu kan nggak harus ikut melayani mereka. Suruh saja karyawanmu yang lain."

__ADS_1


"Semuanya sedang kewalahan, Yang... makanya aku turun tanga."


"Kamu kan bisa di bagian dapur saya, cuci piring supaya tidak terlihat pengunjung!"


mendengar kata-kata Ayash, tiba-tiba Prita tertawa.


"Kenapa tertawa?" tanya Ayash heran.


"Nggak... nggak... Aku jadi teringat sesuatu."


"Teringat apa?"


"Aku jadi ingat saat kerja di restoran. Selama lima tahun, aku hanya disuruh mencuci piring di belakang. Pernah beberapa kali aku di bagian pengantar makanan. Dan setiap aku mengantarkan pesanan, pasti ada tamu yang menggodaku. Karena itu, Ibu Ayu menempatkanku di tempat pencucian piring."


Prita menyandarkan kembali kepalanya di dada Ayash dan memeluknya, "Maafkan aku. Aku janji, ini pertama dan terakhir kalinya aku melayani pengunjung secara langsung. Aku akan membatasi interaksiku dengan lawan jenis jika itu membuatmu tak suka."


Cup!


Ayash mencium puncak kepala Prita. "Seandainya boleh, sebenarnya aku ingin mengurungmu di apartemenku selamanya agar tidak ada lelaki lain yang melihatmu. Aku sangat kesal setiap ada yang mendekatimu. Tapi, aku juga ikut senang ketika melihatmu tersenyum karena menikmati pekerjaanmu."


"Oh, ayolah... cowok-cowok tadi itu masih kecil, masih berondong yang mungkin baru kemarin lulus SMA. Masa kamu cemburu?"


"Mau berondong, om-om, bapak-bapak, kakek-kakek sekalipun... kalau mereka menggodamu, aku akan marah dan cemburu. Apalagi kalau kamu tergoda."


Prita lalu melingkarkan tangannya di leher Ayash, tersenyum sambil memandangi matanya, "Orang yang aku cintai hanya kamu." ucapnya seraya mendaratkan ciuman lembut di bibir Ayash.


Tanpa ragu, Ayash turut membalasnya dengan ciuman yang lebih intens.


"Permisi, Bu."


Suara dari luar pintu seketika menghentikan ciuman mereka. Prita segera membukakan pintu dan membiarkan Yaya meletakkan makanan pesanannya di meja.


"Terima kasih, Yaya."


"Sama-sama, Bu. Saya permisi dulu."


"Iya."


Yaya keluar dari ruangan. Prita kembali menutup pintu ruangannya.


"Ini ramyeon dan odeng yang bakal jadi favorit pelanggan di sini. Enak banget rasanya. Kamu pasti suka." Prita memberikan sumpit agar Ayash mencoba makanan kafenya.


Ayash langsung mencicipi ramyeon yang ada dihadapannya dengan sumpit yang diberikan Prita. Rasanya enak, sesuai cita rasa lidahnya. Tanpa basa basi ia melanjutkan makannya. Prita tersenyum senang ketika melihat Ayash terlihat sangat menikmati menu rekomendasinya.

__ADS_1


__ADS_2