
"Menurut informasi, Bayu mengambil penerbangan ke luar daerah, Kota P di Pulau K kemarin pagi."
Siang ini Ayash berada di sebuah restoran menikmati makan siang sambil mendengarkan laporan dari orang kepercayaannya.
"Prita ikut?" tanyanya.
"Berdasarkan data manifes pesawat yang dinaikinya, tidak tercantum nama Prita. Bayu pergi bersama tangan kanannya yang bernama Ben."
"Bisa saja mereka menggunakan kartu identitas orang lain."
"Dari beberapa rekaman CCTV bandara, mereka hanya berdua. Tidak tampak ada wanita bersama mereka. Saya yakin, Nona Prita tidak diajak."
"Jadi, menurutmu Prita ditinggal di sini?"
"Kemungkinan besar seperti itu, Pak."
"Tapi katamu Prita tidak ada di apartemen itu."
"Iya. Meskipun tetap ada penjagaan, tapi Nona Prita tidak ada di sana. Orang kami ada yang sudah menyusup ke sana dan kosong. Sepertinya Bayu menyembunyikannya di suatu tempat, karena mungkin dia tahu Anda dan Nona Prita sempat bertemu."
Drrt... Drrt... Drrt...
Ponsel yang Ayash letakkan di meja bergetar. Terpampang nama Egi di sana.
"Sebentar ya. Saya angkat dulu teleponnya." Ayash meminta ijin.
Lelaki bermasker dan memakai topi itu hanya mengangguk.
"Halo, Egi. Ada apa?"
"Anda tidak ikut pulang dengan rombongan, Pak?"
Ayash menghela nafas sebentar. Memang, akhirnya ia memutuskan untuk tetap tinggal di Kota J meskipun pekerjaannya telah selesai di sana. "Ya, aku masih belum menemukan Prita, Gi. Maafkan aku."
Ayash merasa bersalah karena telah membebankan banyak tanggung jawab kepada Egi. Asistennya itu sudah berbaik hati menggantikannya selama ia meninjau lokasi bakal proyek. Ia malah menambah masa tinggal di Kota J tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
"Iya, Pak. Anda tidak perlu minta maaf. Saya memahami situasi Anda. Tapi, dalam waktu dekat ada jadwal meeting dengan Tuan Mathias. Tidak mungkin kan, saya mewakili Anda. Apa perlu saya cancel atau coba undur?"
Ayash memijit keningnya. Mathias adalah rekan bisnisnya yang berperan besar dalam goal proyeknya di Pulau S Kota J. Dia orang penting. Tidak mungkin ia sembarangan merubah jadwal rapat karena Beliau juga orang sibuk.
"Jangan, Egi. Aku usahakan besok pulang ke Kota S. Tolong kamu persiapkan semuanya."
"Baik, Pak."
"Egi, maafkan aku banyak merepotkanmu."
"Tidak apa-apa, Pak. Ini sudah tugas saya sebagai asisten."
"Hahaha... iya. Aku pasti akan memberikanmu bonus lebih banyak bulan ini."
"Itu yang saya tunggu-tunggu, Pak."
Ayash tersenyum. Egi sangat blak-blakan jika membahas tentang bonus.
__ADS_1
"Pak... sepertinya Tuan Reonal dan Nyonya Maya akan pulang dalam waktu dekat."
Lagi-lagi Ayash menghela nafas, "Kamu tidak mengatakan apapun kan, pada mereka?"
"Belum, Pak."
"Kamu jangan bilang 'belum'. Kamu harus bilang 'tidak akan'. Aku jadi takut padamu, Egi. Jangan katakan apapun pada mereka. Termasuk juga masalah kakakku, jangan dulu beritahu mereka."
"Baik, Pak."
"Ya sudah, aku matikan dulu teleponnya. Jangan lupa persiapkan semua keperluan untuk meeting dengan Tuan Mathias."
Klik
Ayash kembali meletakkan ponselnya di atas meja, "Maaf, percakapannya agak lama."
"Tidak apa-apa, Pak. Anda bisa bersikap santai dengan saya."
"Ah, oke. Seperti yang kamu dengar, aku harus kembali ke Kota S besok. Tapi aku harap kalian tetap meneruskan pencarian Prita. Aku usahakan akan kembali lagi ke sini."
"Baik, Pak. Akan kami lakukan sesuai perintah Anda."
"Kamu mau pesan apa?"
"Tidak perlu, Pak. Saya harus segera pergi untuk melanjutkan tugas saya."
"Oke. Terima kasih."
Orang itu pergi. Ayash melanjutkan kembali makan siangnya. Beberapa kali ia terlihat menghela nafas. Ada banyak masalah yang harus ia selesaikan.
*****
Raya berjalan lunglai menapaki tepian jalan sepanjang taman kota. Langkahnya terasa berat dan kepalanya terus tertunduk seperti zombi yang kepanasan di tengah hari yang terik.
Sesekali ia menghela nafas untuk melepaskan beban kehidupan yang ada di pundaknya.
Raya memang pribadi yang periang. Tapi, ada kalanya ia juga merasakan lelah terhadap kehidupannya. Sama seperti yang terjadi hari ini.
Baru saja ia putus dengan pacarnya yang bernama Joni. Mereka baru pacaran satu bulan. Dia yang meminta putus, tapi dia juga yang merasa menderita.
Ini bukan pertama kalinya ia punya pacar. Ini juga bukan pertama kalinya dia patah hati. Jika dihitung pakai jari, mungkin sudah tujuh kali ia pacaran dan semuanya berakhir dengan kata putus.
Biasanya, dia yang diputuskan cowok pas lagi sayang-sayangnya. Kali ini, dia sendiri yang minta putus.
"Kalau makan jangan kebanyakan. Nanti tambah gendut. Cewek itu jelek kalau gendut."
"Haduh... suka banget minum boba. Pipi kamu nanti tambah besar, lho."
"Aku rasa kamu lebih bagus kalau pakai dress. Kelihatannya lebih feminim gitu."
"Hmmm... tontonan kok Drama Korea. Kayak anak remaja saja."
"Sepertinya kamu harus ikut aku nge-gym deh biar lebih sehat."
__ADS_1
"Ternyata kamu guru TK, ya? Pekerjaan yang kekanak-kanakan sekali. Apa kamu nggak berminat kerja di kantoran? Masa jadi guru TK sih."
Kata-kata berbau body shamming dan meremehkan itu hampir setiap hari ia dengar selama berpacaran dengan Joni. Padahal, mereka baru saja berpacaran. Tapi, setiap kali ketemu, ada saja hal yang dikomplain darinya. Raya meraya dirinya selalu salah di mata Joni. Dari mulai bentuk badannya yang memang agak berisi meskipun tidak bisa dibilang gendut. Selera berpakaiannya dianggap jelek. Hobinya nonton Drama Korea, bahkan pekerjaannya sebagai guru TK direndahkannya. Lama-lama Raya tak tahan dan akhirnya minta putus.
"Hah! Ya Tuhan... beri aku calon suami... aku capek putus terus... kalau bisa yang pengusaha. Susah banget dapat pacar pengusaha." gumamnya, merapalkan doa sambil berjalan.
"Beri aku suami pengusaha Ya Tuhan... beri satu untukku... di kota ini kan ada banyak pengusaha. Jodohkan aku dengan dia Ya Tuhan... Jodohkan aku hanya dengan pengusaha. Aku janji akan langsung menikah asalkan calonnya pengusaha."
Beruntung tak banyak orang yang berlalu lalang siang itu. Bisa-bisa mereka mengganggap Raya gila. Berdoa seperti itu sambil jalan tertunduk menyusuri jalan.
Bruk!
Raya menabrak sesuatu hingga terpental jatuh ke tanah. "Ah, Sialan. Dasar mata tak berguna." gerutunya.
"Maaf, kamu baik-baik saja?"
Seseorang mengulurkan tangannya berniat membantu Raya. Raya menyambut uluran tangan itu dan melihat sosok di hadapannya... yang langsung membuatnya terpesona pada pandangan pertama.
Seorang pria berbadan tegap memakai setelan formal dan sangat rapi. Usianya berkisar 30 tahunan dan terlihat mapan. Ah, tapi usia tak terlalu penting untuknya. Yang penting pengusaha mapan dan bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Ini seperti jawaban atas doa yang sejak tadi ia lantunkan. Seorang pengusaha muncul di depan matanya.
"Halo, kamu kenapa?" lelaki itu melambaikan tangan di depan Raya yang sejak tadi melihatnya tanpa berkedip.
"Ah, iya. Terima kasih." ucap Raya malu-malu.
"Kamu... Raya, ya?" tebak lelaki itu.
"Hah, kok tahu?" Raya heran.
"Kita sudah pernah beberapa kali bertemu."
Raya masih belum bisa mengingat siapa lelaki itu. Sepertinya dia tidak kenal. "Siapa, ya?"
"Saya Egi, Asisten Pak Ayash."
Raya langsung membelalakkan mata, "Ah... iya aku ingat! Pak Egi, ya!? Ya Tuhan, aku pangling!"
Memang benar mereka sudah pernah beberapa kali bertemu. Karena dimana ada Ayash, disitu biasanya ada Egi. Tapi, entah mengapa lelaki yang terlihat biasa itu hari ini berubah menjadi sosok yang mempesona di mata Raya. Penampilan Egi lebih modis daripada biasanya. Dia terlihat seperti eksekutif muda.
"Pak Egi mau kemana?" tanya Raya.
"Saya mau kembali ke kantor. Jam istirahat hampir selesai. Maaf ya, tadi saya jalan sambil menelepon orang sampai nabrak kamu hingga jatuh."
Raya tersenyum. Ternyata, keduanya sama-sama meleng sampai bisa tabrakan.
"Iya, tidak apa-apa."
"Kalau begitu, saya pergi dulu, ya. Kapan-kapan kita makan siang bersama sebagai permintaan maaf saya."
"Ah, iya."
Egi melemparkan senyum sebelum kembali berjalan terburu-buru meninggalkan Raya.
"Apa Pak Egi adalah jodohku, ya?" Mata Raya berbinar-binar membayangkannya.
__ADS_1