ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Makan Malam Panas


__ADS_3

"Benar, kamu mau menikah?"


Arga menyesap rokoknya sambil bersandar pada pintu balkon lantai atas. Malam ini ia kembali ke mansion untuk memenuhi undangan makan bersama dari ayahnya. Meskipun bukan hal yang diinginkan, ia tetap datang. Ayash masih sibuk mengecek data-data perusahaan lewat layar tabletnya. Ia tak terlalu pemperdulikan keberadaan kakaknya di sana.


Prita masih sibuk membantu Maya dan para pelayan mempersiapkan makanan di dapur. Reonal belum keluar dari ruang kerjanya memeriksa beberapa pekerjaan penting. Ayash dan Arga menunggu waktu makan malam di lantai atas.


"Aku masih penasaran kenapa Prita bisa ada di kamar hotel yang Bayu sewa dan dijaga begitu ketat oleh bodyguard."


Ayash menarik nafas panjang. Sebenarnya ia sudah tak mau lagi membahas hal itu. "Kenapa menanyakan ini padaku? Bukankah seharusnya Kakak lebih tau? Bukankah Kakak sendiri yang merencanakan semua itu?"


Arga menyeringai. Adiknya semakin bersikap songong setelah ia mengatakan kebenarannya. Kalau saja bukan karena masalah perusahaan, Arga tak akan mengusik Ayash.


"Ah, sepertinya kamu makin tidak sopan dengan kakakmu, ya?


"Kakak sendiri yang bilang kalau kita bukan saudara. Untuk apa aku menghormatimu? Lagipula, Kakak memang senang kan melihat aku dan Prita dalam kesulitan?" ucapan Ayash bernada sinis. Ia tetap berkutat pada tabletnya daripada bertatap muka dengan Arga.


"Aku memang pernah menyuruh Tiger King untuk menculikmu. Sebatas untuk menculik saja tanpa melibatkan kekerasan fisik. Walaupun begini, aku masih menyayangimu seperti seorang adik. Aku minta pada mereka untuk tidak melukaimu sedikitpun walaupun hanya goresan. Aku tidak tahu kalau akhirnya mereka malah menghajarmu sampai masuk rumah sakit. Itu di luar kesepakatan yang kami buat. Apalagi untuk menculik Prita? Aku bahkan tak pernah menyebut-nyebut namanya di depan Bayu. Untuk apa juga aku melibatkan Prita, urusanku hanya denganmu. Aku ingin Papa membatalkan keinginannya menyerahkan perusahaan padamu."


"Cih! Menggelikan." cibir Ayash. "Apa sesusah itu menyingkirkan aku dengan tanganmu sendiri sampai harus meminjam tangan orang lain?"


"Satu hal lagi yang harus kamu tahu, Tiger King membatalkan request-ku. Mereka mengembalikan uangku dua kali lipat dari yang sudah kuberikan."


"Aku tak tahu mengapa Tiger King membatalkan kesepakatannya. Mungkin kamu sendiri yang sudah membuat masalah dengan mereka. Apa yang pernah menimpamu benar-benar bukan keinginanku."


"Tuan muda, makan malam sudah siap. Silakan turun ke ruang makan."


Kedatangan seorang pelayan membuat keduanya langsung terdiam dan berhenti berdebat.


"Iya, Bi. Terima kasih." sahut Ayash.


"Apa kita masih harus berpura-pura akur di depan mereka?"


Ayash mengangkat sebelah sudut bibirnya, "Terserah padamu."


Ayash segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuruni tangga. Arga mematikan rokoknya menyusul Ayash ke bawah.


Di ruang makan sudah ada Maya, Reonal, dan Prita.


"Hai, Pa. Hai, Ta." sapa Arga.


Seperti biasa, Arga melewatkan untuk menyapa Maya, ibu tirinya. Selama ini dia tak pernah menganggap wanita itu ada dalam kehidupannya.

__ADS_1


Arga duduk di samping ayahnya, berhadapan dengan ibu tirinya. Sementara, Ayash memilih duduk di sebelah Prita daripada duduk dengan kakaknya.


Pelayan mulai membantu mengambilkan makanan yang diinginkan oleh mereka.


"Jam berapa kamu sampai, Ga?"


"Sekitar satu jam lalu."


"Kenapa tidak menemui papa dulu?"


"Tadi sepertinya Papa masih sibuk di ruang kerja. Jadi, aku menunggu di atas bersama Ayash."


"Ayash, katanya kamu belum menceritakan rencana pernikahanmu pada kakakmu?"


"Iya, Pa. Aku belum sempat memberitahu Kak Arga. Maafkan aku, Kak."


"Em, santai saja. Aku tahu kamu sangat sibuk. Jadi kapan rencananya?"


"Sekitar dua minggu lagi."


"Wah, sudah sangat dekat, ya. Kenapa seperti tidak ada persiapan apapun di sini?"


"Kami menyerahkan semuanya kepada pihak WO dan rencananya acara juga berlangsung tertutup untuk keluarga dan relasi dekat saja. Ayash dan Prita yang meminta seperti itu."


"Ah, kalian ini kenapa? Sejak dulu selalu seperti ini. Prita pasti bingung melihat keluarga kita kalau suasananya canggung seperti ini."


"Yash, bagaimana dengan perkembangan proyek di Pulau S Kota J?"


"Lancar, Pa. Tuan Mathias sudah menandatangani rencana proyeknya. Bulan depan proyek akan segera direalisasikan."


"Bagus kalau begitu. Kamu sudah bisa mengurus perusahaan dengan sangat baik meskipun baru hitungan bulan. Papa sangat bangga padamu."


"Terima kasih, Pa."


"Teruslah bekerja keras supaya kelak bisa sesukses Arga dalam mengelola perusahaan. Aku akui, kakakmu ini memang sangat berbakat dalam bisnis. Dia bisa mengangkat perusahaan kecil yang papa bangun di kota megapolitan seperti Kota J menjadi perusahaan yang patut diperhitungkan saat ini. Satu saja kelemahan kakakmu ini, Arga kalah darimu dalam urusan cinta. Hahaha.... "


"Aku masih ingin fokus usaha, Pa."


"Oke, itu terserah padamu saja."


"Ayash, sebagai hadiah pernikahanmu dan Prita, mama dan papa akan memberikan seluruh saham kami untukmu."

__ADS_1


Ayash terkejut mendengar perkataan ayahnya. Memberikan seluruh saham yang dimiliki itu sama saja menyerahkan perusahaan. Karena, saham gabungan milik mama dan papanya itu sekitar 55 %. Belum lagi termasuk saham titipan yang dipegang oleh orang-orang kepercayaan ayahnya.


Ayash melirik ke arah kakaknya. Sangat jelas Arga merasa kesal. Ayash belum genap satu tahun mengurusi perusahaan, tapi sudah diberikan perusahaan. Sementara, Arga bekerja keras bertahin-tahun memajukan tiga perusahaan, namun saham yang ia miliki hanya 30% saja.


"Sebelumnya aku berterima kasih dengan niat baik Papa. Tapi, ada satu hal yang ingin aku tanyakan untuk memastikan sesuatu."


"Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Apa benar aku bukan anak kandung papa?"


Deg!


Pertanyaan Ayash membuat suasana semakin menegang. Reonal mengisyaratkan kepada para pelayan untuk pergi meninggalkan ruang makan. Mereka saling melemparkan pandangan satu sama lain.


"Siapa yang berkata seperti itu?"


"Kak Arga." jawab Ayash enteng.


Arga tetap bersikap santai meskipun ayahnya melotot ke arahnya.


"Arga.... "


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Arga tetap melanjutkan makan.


Maya menunduk. Selera makannya benar-benar hilang. Sementara, Prita hanya bisa menjadi penonton yang pura-pura tak mendengar apapun.


"Kak Arga mengatakan kalau aku tidak pantas mendapatkan perusahaan karena aku hanya anak tiri. Kak Arga bahkan pernah menyuruh orang menculikku karena Papa terus bersikeras ingin memberikan perusahaan padaku."


"Ya Tuhan, Arga!"


Reonal tampak begitu emosi. Ia tak menyangka Arga bisa berbuat seperti itu. Padahal, ia merasa sudah mencoba berlaku seadil mungkin bagi kedua anak lelakinya. Acara makan menjadi tak berselera.


"Apa masih kurang dengan yang sudah papa berikan untukmu, Arga? Kenapa kamu mengusik adikmu?"


"Dia bukan adikku."


Prang!


Reonal membanting piringnya ke lantai pertanda kesabarannya telah habis. Maya mencoba menenangkan suaminya.


"Kenapa Papa yang marah? Seharusnya aku yang marah. Papa lebih mengutamakan anak orang daripada anak sendiri. Katakan yang sebenarnya kepada Ayash. Dia bukan anak kecil lagi. Dia berhak tahu kalau Papa membawa wanita itu ke rumah sudah dalam keadaan hamil."

__ADS_1


"Saat itu bahkan Mama masih hidup."


__ADS_2