ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Makan Siang Egi dan Raya


__ADS_3

"Egi, kamu sudah kenal kan, Ini Raya Hapsari, temanku."


"Halo, Pak Egi."


Raya senyum malu-malu ketika Prita mengajaknya ke kantor Ayash dan bertemu Egi. Prita menepati ucapannya untuk lebih mendekatkan Raya kepada Egi. Meskipun ia masih heran, apa benar Raya menyukai orang yang usianya terpaut cukup jauh darinya?


"Halo, Raya. Kita bertemu lagi."



Senyuman Egi membuat Raya meleleh. Dia memang tipe wanita yang mudah jatuh cinta dan tentunya mudah juga putus cinta (lebih tepatnya dicampakan).


Meskipun hanya seorang asisten GM, tapi kharisma yang dipancarkan oleh Sergio Raiz bisa mempesona Raya. Dimata Raya, penampilan Egi sangat keren. Ia tampak gagah dalam balutan kemeja kerjanya, tak kalah dengan penampilan para pengusaha.


"Ah, iya. Saya pernah bilang, kapan-kapan ingin mengajakmu makan siang bersama sebagai permintaan maaf. Akhir-akhir ini saya sibuk jadi belum sempat menanyakan ini."


"Heh, kalian sebelumnya sudah sering ketemu, ya?" selidik Prita.


"Tidak, Nona Prita. Kebetulan beberapa minggu yang lalu saya tidak sengaja menabrak Raya di jalan saat sedang buru-buru ke kantor."


"Oh, begitu."


"Kira-kira kapan Raya ada waktu?"


Wajah Raya memerah. Ia malu-malu. Diajak makan siang serasa diajak kencan. Ia salah tingkah sendiri.


"Sekarang saja, Gi." celetuk Prita.


Raya mencubit lengan Prita.


"Tapi, saya harus menunggu pak GM selesai meeting. Ini juga belum waktunya makan siang." Egi berkata sambil memperhatikan jam tangannya.


Pak GM adalah panggilannya untuk Ayash di kantor.


"Tidak apa-apa, Gi. Nanti aku yang sampaikan kepada Ayash kalau kamu ijin makan siang lebih dulu."


"Kalau Raya sendiri bagaimana? Apa siang ini bisa?"


"Bisa, bisa... tentu saja bisa." jawab Raya dengan semangat.


"Baik kalau begitu, kita makan siang sekarang saja. Apa... Nona Prita juga ingin ikut?"


"Ah, nanti saja aku menunggu Ayash. Kalau dia mau, kami bisa menyusulmu." jawab Prita asal.


Prita tak mungkin menyusul mereka. Ia bahkan akan menahan Ayash jika mau menghubungi Egi. Ia akan berusaha menepati ucapannya untuk mendekatkan Raya dengan Egi. Entah nanti keduanya akan cocok atau tidak, yang penting Prita sudah berusaha.


"Kalau begitu, kami keluar dulu. Tolong jangan lupa sampaikan ijin kepada Pak GM."

__ADS_1


"Oke. Have fun."


Raya sempat mengedipkan mata ke arah Prita sebelum keluar pintu.


Prita menyandarkan punggungnya pada sofa di ruangan kerja Ayash. Ia meraba perutnya yang masih rata. Rasanya seperti mimpi kalau sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu.


Kehamilan adalah sesuatu yang biasanya dinanti-nantikan oleh seorang wanita. Kehamilan menjadi suatu kabar gembira bagi pasangan yang telah menikah. Berbeda dengan Prita. Kehamilan yang dialaminya melalui proses yang berbeda. Bukan lewat cinta dan pernikahan, tetapi lewat penculikan dan ruda paksa.


Ada rasa sedih dalam kehamilan Prita. Kehamilan yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Suka tidak suka, siap tidak siap, ia tetap akan menjadi seorang ibu. Ia tak berhak membenci kehamilannya. Bayi dalam perutnya tak bisa memilih bagaimana dan dari benih siapa dia akan tumbuh. Semua ini adalah takdir yang sudah menjadi garis hidupnya.


*****


"Raya masih mengajar di TK Tunas Bangsa?"


"Masih, Pak."


Rasa canggung masih ada ketika berbicara dengan Egi. Padahal, Raya sendiri yang menginginkan pertemuan itu. Walau bagaimanapun juga, ia tetap bersyukur bisa makan siang berdua dengan Egi.


"Kamu memang asli lulusan pendidikan atau lulusan fakultas non kependidikan?"


"Ah, saya memang asli lulusan S-1 PAUD, sesuai dengan bidang pekerjaan saya."


"Oh, sepertinya kamu memang suka anak-anak ya."


"Hehehe... sebenarnya saya mengambil jurusan PAUD karena saya pikir menjadi seorang guru TK itu suatu pekerjaan yang mudah. Kegiatan di sekolah paling hanya bermain dan bernyanyi saja. Kebetulan, saya juga suka anak-anak. Tapi, setelah dijalani, ternyata berat juga punya banyak murid kecil yang karakternya berbeda. Kadang ada yang nangis, ada yang berantem, ada yang usil, bahkan kadang ada yang pipis atau pup di celana. Harus sabar-sabar kalau dapat kejadian seperti itu."


"Permisi.... "


Seorang pelayan mendorong troli berisi makanan yang dipesan Raya dan Egi. Ia memindahkan makanan dari troli ke meja.


"Selamat menikmati."


"Terima kasih, Mba." ucap Raya.


Pelayan itu kembali mendorong trolinya menuju meja selanjutnya.


"Kalau Pak Irgi sendiri, kesibukannya apa?"


Raya dan Egi melanjutkan perbincangan sambil menikmati makanan yang mereka pesan.


"Ehm, saya seperti biasa, bekerja membantu Pak GM."


"Kalau akhir pekan biasanya ngapain?"


"Akhir pekan biasanya juga tetap bekerja. Kalau bisa libur, ya tidur seharian di apartemen."


"Hah, weekend masih tetap kerja?" Raya tercengang mendengar pengakuan Egi.

__ADS_1


"Kalau ada banyak pekerjaan, mau tidak mau akhir pekan juga tetap bekerja supaya pekerjaan bisa selesai sesuai deadline."


"Hem, Ayash pasti tipe bos yang otoriter dan perfeksionis, ya? Masa hari libur tega menyuruh anak buah tetap bekerja."


"Hahaha... Pak GM tidak seburuk itu. Kalau kami ada kerja lembur, beliau pasti memberikan bonus yang besarnya bisa membuat orang nyenyak tidur." Egi memajukan badannya mendekati Raya, "Tidak ada karyawan yang menolak jika disuruh lembur. Soalnya bonusnya banyak." bisiknya.


Raya kembali tercengang. Dalam pikirannya, pasti semua karyawan di perusahaan Ayash hidupnya makmur. Dan tentu saja Ayash sebagai orang yang jabatannya lebih tinggi, pasti uangnya lebih banyak.


"Kamu tertarik mendaftar di perusahaan kami?"


"Memangnya ada lowongan untuk lulusan S1 PAUD?" Raya mencebikkan bibirnya. Ia tahu Egi sedang menggodanya.


"Hahaha... nanti saya tanyakan kepada Pak GM, siapa tahu beliau berminat membuat playgroup untuk anak-anak karyawan di kantor. Jadi, orang tuanya bisa bekerja sambil membawa anaknya ke kantor."


"Nah, ide yang bagus itu. Saya dukung!"


"Mmmm... boleh saya tanya sesuatu yang agak privat, Pak?"


"Tanpa apa?"


"Bapak sudah punya pacar apa belum?"


"Uhuk!" Egi tersedak minumannya ketika mendengar pertanyaan dari Raya.


"Ah, pacar, ya... saya sampai belum memikirkannya karena selalu sibuk bekerja."


Biasanya Ayash dan Irgi akan meledeknya sebagai pria tua yang tak laku. Padahal, menurutnya, umur 32 tahun itu masih terhitung muda.


"Kalau belum punya pacar, mau nggak kenalan lebih dekat dengan saya? Siapa tahu nanti kita cocok dan bisa pacaran." walaupun agak malu, Raya begitu lancar mengungkapkan keinginannya.


Egi sampai tercengang dengan ucapan blak-blakan itu.


"Hahaha... kamu benar, tertarik dengan saya? Usia kita terpaut cukup jauh, loh."


"Usia itu hanya angka, Pak. Kita masih kelihatan seumuran kok kalau bersama."


Egi tersenyum mendengar jawaban Raya, "Kalau Nona Prita mendengar ini, pasti dia akan menertawakanmu."


"Dia tidak seperti itu, kok. Hari ini saya bisa bertemu Pak Egi juga karena Prita yang mengajak saya. Saya sudah bilang kepada Prita kalau saya tertarik dengan Pak Egi dan dia mau membantu saya bertemu dengan Bapak."


Egi menelan ludah. Ternyata Raya sampai meminta bantuan Prita untuk bertemu dengannya.


"Kalau akhir pekan Pak Egi ada waktu luang, tolong hubungi saya, ya. Ayo kita jalan-jalan bareng supaya bisa saling kenal. Kalau nanti Pak Egi masih tetap tidak tertarik dengan saya, saya akan mundur, kok."


Egi memegang kepalanya. Anak muda jaman sekarang lebih ekspresif daripada anak jaman dulu.


"Bagaimana, Pak?" Raya meminta kejelasan.

__ADS_1


"Ah, iya. Nanti aku pikirkan. Sekarang lebih baik kita lanjutkan makan, ya."


__ADS_2