ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Nenek Lampir Vs Pria Songong


__ADS_3

Ayash sedang berbaring di ranjang perawatan dengan punggung bersandar pada kepala ranjang. Tangan kirinya masih terbalut perban yang dilingkarkan ke lehernya. Kaki kirinya juga masih dibalut perban. Sementara selang infus yang sejak kemarin terpasang pagi tadi sudah dilepas karena dia merasa tidak nyaman.


Memar-memar di wajahnya semakin membaik. Kondisinya sekarang lebih bugar daripada saat pertama kali datang.


Ayash mengambil ponselnya dari atas meja. Ia membuka-buka ponselnya dengan satu tangan. Dibukanya galeri yang menampilkan deretan foto yang sempat ia ambil saat di taman hiburan.


Ekspresi Prita di sana penuh kebahagiaan. Wanita itu terlihat senang menikmati berbagai wahana yang mereka coba.


Air mata Ayash tiba-tiba meleleh. Ia merasa gagal melindungi wanita yang sangat ia cintai. Bahkan, justru wanita itu yang sudah melindunginya. Rasanya ia benar-benar gagal sebagai lelaki. Ingin bertindakpun ia tidak bisa karena kondisi kakinya belum sembuh total. Ia bisa jalan tapi masih terpincang-pincang.


Ceklek!


Terdengar suara pintu terbuka. Ayash buru-buru menghapus air matanya. Sesosok kepala melongok melalui celah pintu yang terbuka. Ayash kaget.


"Nenek lampir!" pekiknya karena kaget.


Raeka yang mendengar suara Ayash langsung masuk dengan kesalnya, "Dasar orang songong! Dalam keadaan seperti ini saja masih suka menghinaku!"


"Untuk apa kamu kesini?"


Raeka meletakkan parsel buah yang dibawanya di meja, "Aku ini teman yang baik, tentu saja ingin menjengukmu."


"Darimana kamu tahu aku di sini?"


"Dari siapa lagi kalau bukan dari Irgi pacarku tersayang."


"Oh, kalian masih pacaran."


Pluk!


"Auw!" Ayash menjerit kesakitan karena Raeka memukul kakinya.


"Rasakan!" Raeka tertawa penuh kemenangan.


"Sakit, nenek lampir!"


"Sekali lagi kamu meledekku, aku pukuli lukamu supaya tambah parah!" Raeka bersiap dengan kepalan tangannya.


"Eh, jangan!"


"Ya makanya, bicara yang bagus. Aku sudah berbaik hati datang kesini kamu malah meledek. Tahu diri, sekarang kamu itu seperti mumi."


"Iya, iya, maaf. Kamu sama siapa datang ke sini?"


"Ya sendiri, lah."


"Memang dimana Irgi?"


"Aku tidak tahu. Katanya mau bertemu dengan Jimmy Marshall."


Ayash terdiam. Dia memang yang meminta Irgi untuk datang menemui Jimmy sekaligus mencari tahu keberadaan Prita dan Bayu.


"Irgi bilang Prita hilang?"

__ADS_1


Pertanyaan Raeka membuatnya malas. Itu adalah pertanyaan yang sebenarnya tidak ingin ia bahas. Karena rasanya membuat dada sesak.


"Ya, begitulah."


"Maksudnya bagaimana bisa seperti itu? Kenapa kamu atau Irgi tidak memberi penjelasan yang bisa dimengerti?"


"Memangnya kamu perlu tahu? Kamu kan benci Prita?"


Raeka menghela nafas, "Itu kan dulu, orang songong!"


"Oh, jadi sekarang kamu bisa berteman dengan dia?"


"Ya... asalkan dia jangan merebut Irgi dariku, aku bisa berteman baik dengannya."


"Hahaha... mana mungkin Prita suka Irgi. Orang jelek begitu."


Raeka memutar kedua bola matanya, "Terserahlah!"


"Apa kesibukanmu sekarang?"


"Yah... seorang putri sepertiku tidak perlu melakukan apapun juga kebutuhan sudah tercukupi. Jadi, kesibukanku hanya bermesraan dengan pacarku mumpung dia ada di tanah air."


"Kamu nggak curiga, kalau di Singapura Irgi juga punya pacar yang lain? Sebentar lagi dia balik, kan?"


Raeka terdiam sejenak, "Hih! Bicara denganmu itu hanya sia-sia, ya. Kamu ngeselin."


"Kalau aku nggak ngeselin, mungkin kamu bakal suka sama aku. Iya kan? Hahaha.... "


"Kamu ini ya, masih sempat-sempatnya bercanda di situasi seperti ini. Cepat katakan, sebenarnya Prita dimana dan siapa yang menculiknya?"


Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Raeka dan Ayash.


"Masuk!" perintah Ayash.


Egi dan Irgi memasuki ruang perawatan. Ayash dan Raeka kaget dengan kondisi mereka yang babak belur.


"Oh, Ya Tuhan... kamu kenapa, Sayang?" Raeka langsung menyongsong kedatangan Irgi dan memeluknya.


"Aku tidak apa-apa."


Egi duduk di samping ranjang Ayash.


"Apa yang terjadi?" tanya Ayash penasaran.


"Kami sudah menemui Pak Jimmy Marshall. Beliau memberitahukan alamat kantor dan tempat tinggal Bayu."


"Terus?"


"Kami datang ke kantornya tapi Bayu tidak mau mengaku. Akhirnya kami berkelahi di sana."


"Kalian kalah?"


"Tim keamanan mereka tiba-tiba datang, Pak. Mana mungkin kami sanggup melawan puluhan orang."

__ADS_1


"Seharusnya kalian juga membawa orang ke sana. Bawa seluruh pengawalku dan hancurkan kantornya."


"Perusahaannya legal, Pak. Kita tidak bisa bertindak semaunya tanpa strategi. Kejadian hari ini jika tidak dipermasalahkan saja sudah untung bagi kita."


"Maksudmu aku harus menyerah?"


"Bukan itu maksud saya. Tadi kami juga sempat menyelidiki apartemen milik Bayu. Tapi tidak ada tanda-tanda kalau Nona Prita ada di sana. Jadi, menurutku mansion yang pernah Anda ceritakan memang ada. Kita hanya perlu mencari tahu dimana tempatnya."


"Apa yang akan kamu lakukan?"


"Saya akan memasukkan mata-mata di kantor Bayu. Karena setelah kejadian ini dia pasti memperketat keamanan. Kami tidak mungkin lagi bisa ke sana."


Ayash melirik ke arah Irgi yang masih dielus-elus oleh Raeka, "Kamu nggak apa-apa, Ir?"


"Babak belur begini masih ditanya kamu nggak apa-apa!" celetuk Raeka.


"Santai saja, Yash. Aku nggak apa-apa."


"Maaf ya, aku jadi ikut melibatkanmu."


"Tak masalah. Urusan Prita jadi urusanku juga. Aku akan terus berusaha sampai Prita kembali."


"Tolong kalian kalau bicara lebih diperjelas supaya aku paham. Bayu yang menculik Prita itu Bayu siapa? Apa aku kenal?" protes Raeka.


"Bayu Bagaskara, Sayang."


"Oh... Bayu Bagaskara. Direktur Perusahaan Bagaskara Mitra Sarana, ya? Cabang perusahaan tambang Bagaskara Corp?"


"Kamu kenal dia?" tanya Irgi penasaran.


"Ya kenal, lah! Papaku salah satu investor utama di sana. Aku beberapa kali diajak papa ke acara perjamuan makan perusahaan itu."


Irgi memegang kedua bahu Raeka, menatap matanya dalam, "Sayang, kamu bisa membantu kami memasukkan mata-mata ke kantor itu? Cari tahu dimana tempat yang biasa Bayu kunjungi sepulang dari kantor."


"Itu bisa diatur." Raeka mengerlingkan sebelah matanya tanda ia sanggup.


"Kamu memang pacar kesayanganku." Irgi memeluk mesra pacarnya itu.


"Bisa berguna juga kamu nenek lampir." Ayash memuji dengan ejekan.


"Aku kan sudah bilang, aku ini seorang putri. Tanpa aku melakukan apapun, semuanya bisa aku dapatkan. Masalah seperti itu sangat gampang. Makanya kalau kalian ada masalah, jangan lupa gunakan posisi orang tua kalian untuk menyelesaikan masalah." Raeka berbicara dengan bangganya.


Ketiga lelaki di ruangan itu hanya bisa geleng-geleng mendengar tuturan Raeka. Memang, jalan pemikiran lelaki dan perempuan itu berbeda. Kalau lelaki cenderung berusaha menyelesaikan masalah sendiri tanpa meminta bantuan kepada siapapun termasuk orang tua. Sedangkan perempuan, apalagi seperti Raeka, memilih jalan pintas untuk menyelesaikan masalah.


"Lebih baik obati dulu luka kalian dan istirahatlah. Besok kita bisa melanjutkan rencana." perintah Ayash.


"Baik, Pak." ucap Egi.


"Irgi, kamu sebaiknya antarkan Raeka pulang. Jangan sampai dia hilang juga seperti Prita."


"Kalau ada yang menculik pacarku, aku akan kasihan kepada penculiknya." kata Irgi.


"Kenapa?" Ayash penasaran.

__ADS_1


"Gendang telinga mereka bisa pecah karena dia ahli sekali dalam hal berteriak-teriak."


Semua tertawa mendengar lelucon dari Irgi. Kecuali Raeka yang manyun karena dijadikan bahan lelucon oleh Irgi.


__ADS_2