
Sore itu Ayash sedang berbaring santai di depan televisi dengan kaos polos dan celana boxer yang biasa ia pakai di rumah. Tangannya sedari tadi terus memencet remot karena tidak dapat menemukan acara yang disukainya.
Ceklek!
Prita keluar dari kamarnya. Penampilannya sudah rapi dengan riasan sangat sederhana. Ia memakai blouse lengan panjang warna putih dipadu rok pink selutut berhiaskan ruffle . Rambutnya dicepol sehingga memperlihatkan leher jenjangnya. Sepatu yang ia kenakan high hills cream setinggi 10 cm.
Ayash menelan ludah melihat penampilan Prita dari atas sampai bawah yang tampak anggun. Ingin rasanya ia melarangnya pergi. Pacarnya terlihat sangat cantik.
"Masih sore kok sudah mau berangkat? Acaranya mulai jam 8 malam, lho." tanya Ayash yang kini sudah tidak mempedulikan acara televisi di depannya.
"Iya, tahu. Aku mau main dulu di rumah Raya. Kamu kok belum mandi?"
"Nanti saja lah. Masih malas." Ayash kembali menelisik penampilan prita dari atas sampai bawah. Ia merasa ada yang kurang.
"Ya sudah, aku pergi dulu." pamit Prita.
"Eh, tunggu dulu. Jangan pergi dulu, sebentar!" Ayash langsung melompat turun dari sofa dan berlari menuju kamarnya.
Prita masih keheranan dengan apa yang akan dilakukan Ayash. Ia tetap berdiri di tempatnya semula. Ayash keluar dari kamarnya membawa sebuah kotak perhiasan dan memberikannya pada Prita. Prita membuka kotak tersebut, tampak sebuah kalung berwarna silver berhiaskan taburan berlian dan sepasang anting dengan warna senada.
"Aku bantu pakai, ya." Ayash mengambil kalung dan membantu memakaikannya di leher Prita.
"Nggak usah, Yang. Nanti kelihatannya berlebihan."
"Katanya mau jadi pengusaha? Kamu harus mulai terbiasa dengan hal-hal kecil seperti ini. Penampilan itu penting walaupun bukan segalanya. Yang utama itu menjaga atitude."
Ayash telah selesai memasangkan kalung di leher Prita. Ia beralih mengambil anting untuk menghias telinga Prita yang tampak kosong. Sementara Prita hanya bisa diam setelah mendengar ceramah dari Ayash.
"Oke, selesai." Ayash tersenyum dengan hasil kerjanya. Penampilan Prita tampak lebih elegan.
"Aku malah merasa tidak tenang membawa barang berharga seperti ini."
"Hahaha... memangnya kamu mau ke pasar? Takut dijambret segala."
"Ya ini kan harganya mahal... aku takut kalau lepas atau hilang."
Ayash tersenyum, Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Prita, "Kalau kamu nanti sudah jadi pengusaha seperti ayahmu, barang ini tidak akan mahal lagi. Percayalah. Bagiku, ini bukan apa-apa. Yang berharga untukku itu cuma kamu. Jadi, kalau semisal ada penjahat, biarkan mereka mengambil perhiasanmu, yang penting bukan kamu."
Prita tertawa kecil, "Apaan sih... ya sudah, aku pergi sekarang." ia menyerahkan kotak perhiasan kosong itu kepada Ayash dan segera berlari pergi.
*****
Pukul setengah 9 malam Prita dan Raya tiba di Hotel Greenland Paradise, hotel baru milik ayah Raeka. Mereka berjalan beriringan menuju tempat berlangsungnya acara. Sesampainya di ruangan, tampak sudah cukup banyak tamu yang datang.
__ADS_1
Selama lima tahun, bisa dikatakan ini pertama kalinya ia kembali menghadiri pesta kalangan atas. Rasanya seperti sedang bernostalgia. Alunan biola syahdu terdengar menjangkau seluruh ruangan, memberikan kesan suasana hangat dan romantis. Lelaki berjas dan wanita yang memakai gaun indah dengan dandanan elegan ada tampak berkelompok membahas hal-hal yang tidak jauh dari urusan bisnis. Aneka makanan dan minuman berjajar rapi di meja, siap disantap para tamu sesuka hati.
Prita dan Raya berjalan sambil tengak-tengok, berharap menemukan orang yang mereka kenal.
"Pengusaha semua yang datang, Ta. Kayaknya cuma kita yang guru TK di sini." celetuk Raya.
"Yah, namanya juga peresmian hotel. Pasti yang datang pengusaha. Kamu kira ini acara pembagian rapot, yang datang wali murid gitu?"
Keduanya kemudian tertawa kecil.
"Miss Prita, Miss Raya.... "
Raya dan prita menoleh bersama ke arah suara. Ternyata itu Leo, murid mereka.
"Hai, Leo.... " Sapa Raya.
"Miss Prita dan Miss Raya diundang juga ya, ke pesta?"
"Iya, sayang. Kamu datang bersama siapa?" tanya Raya.
"Leo... papa kira kamu hilang!" Ayah Leo yang tadi kebingungan mencari anaknya itu akhirnya bisa bernapas lega melihat anaknya sedang menyapa gurunya.
"Halo, Pak Jimmy." sapa Prita.
"Ah, kamu Bu Guru Prita, ya? Saya agak pangling karena penampilannya berbeda."
"Oh, halo Bu Guru Raya. Terima kasih selama ini sudah mendidik Leo."
"Itu memang sudah tugas kami, Pak." ucap Prita.
"Mmm... saya mau ajak Leo ke sana dulu, ya. Mamanya juga tadi mencari-cari." Jimmy menggandeng tangan Leo.
"Oh, silakan, Pak."
"Ayo, Leo."
"Leo pergi dulu ya, Miss... "
"Iya, sayang... Jangan pergi sendiri!" kata Raya.
Bapak dan anak itu pergi menjauh dari Prita dan Raya.
"Ta, ambil makan, yuk!" Ajak Raya.
"Oke."
__ADS_1
Mereka berjalan menuju stand makanan. Ada banyak makanan yang menggugah selera. Mereka mengambil beberapa jenis makanan yang menarik untuk dicoba. Keduanya menikmati sambil bercerita dan sesekali tertawa.
"Eh, di sini ada Prita." celetuk seseorang.
Prita dan Raya menghentikan percakapannya, menoleh ke arah suara. Dia Raeka. Wanita itu tampak sangat anggun, cantik dan seksi dengan balutan dress offshoulder warna merah sebatas lutut. Tangan kanannya memegang segelas anggur.
"Hai, Prita, Raya. Terima kasih, ya, sudah datang." ucapnya namun dengan tatapan merendahkan.
"Terima kasih juga sudah mengundang." balas Prita dengan tetap tersenyum.
"Selamat ya, Raeka, atas wisudanya." kata Raya.
"Terima kasih, Raya. Selamat juga atas wisudamu. Maaf aku telat mengucapkannya."
Raya membalas dengan senyuman. Situasi agak canggunh, karena sejak dulu hubungan Prita dan Raeka tidak baik.
"Sekarang kamu kerja di mana, Ta?" Raeka meneguk anggur dari gelasnya.
"Aku mengajar di sekolah yang sama dengan Raya, TK Tunas Bangsa."
Raeka tersenyum sinis, "Jadi guru di sana? Wali murid nggak ada yang protes ya, anaknya diajar lulusan SMA."
Prita masih tersenyum. Situasi seperti ini sudah ia prediksi akan terjadi ketika ia memutuskan untuk datang. Raya yang memaksa Prita datang bersamanya merasa tidak enak.
Raeka memandangi penampilan Prita dari bawah hingga atas, "Pasti gaji guru di TK sangat besar, ya... Barang-barangmu kelihatan mahal semua. Atau... kamu ada kerjaan sampingan menggoda ayah dari murid-muridmu?"
Raya hampir maju melabrak Raeka, namun Prita memegangi tangannya.
"Ini semua pemberian Ayash. Mana mungkin aku mampu membelinya sendiri." katanya sambil tetap tersenyum.
"Ahahaha... keahlianmu sejak dulu memang memanfaatkan orang dengan kedok persahabatan, ya. Dulu Irgi, sekarang Ayash... Oh, God... Raya, kamu harus banyak belajar dari dia."
"Raeka, cukup!" pinta Raya.
"Ah, Bagaimana ini cukup untuk temanmu yang jahat! Kamu tahu sendiri, kan? Dulu, aku putus dengan Irgi gara-gara dia!"
"Raeka... "
Prita menghentikan kata-kata Raya.
"Aku mau datang kesini memang untuk mendengar umpatanmu. Jika memaki-makiku bisa membuatmu puas dan merasa lebih baik, silakan lakukan. Tapi yang jelas, Irgi hanya sahabat bagiku dan aku tidak pernah memiliki perasaan lebih padanya. Kalau kamu masih tidak percaya, silakan maki aku sepuasmu."
Raeka hanya bisa geram mendengar perkataan Prita. Selama lima tahun, ia belum bisa move on dari Irgi. Dan selama itu pula, ia membenci Prita. Akhirnya, dengan penuh kekesalah, pergi meninggalkan Prita.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa, Ta? Aku jadi merasa bersalah sudah memaksamu untuk datang."
Prita tersenyum, "Nggak apa-apa, Ray. Aku udah siap mental kok dengan situasi ini."