
Prita dan Bayu telah berpindah ke area lounge bar di lantai 78. Mereka duduk di sana untuk bersantai setelah menikmati fine dining di lantai 80. Bayu memesan sebotol alkohol sedangkan Prita hanya memesan segelas mojito mocktail yang tidak beralkohol.
Musik romantis terus mengalun terdengar merdu di sepanjang lounge. Suasana hangat di sana cocok sekali untuk berkumpul bersama teman, kolega atau pasangan. Semakin malam semakin ramai.
Apalagi di area bar yang terkesan lebih bebas. Dentuman musik yang dimainkan DJ masih bisa didengarkan samar-samar dari lounge.
Bayu merapatkan duduknya dengan Prita. Entah mengapa malam ini Bayu seperti lebih menempel padanya. Tanpa sungkan ia memberikan pelukan dan ciuman kepada Prita di tempat umum seperti itu.
Prita sebenarnya merasa risih dengan kelakuan Bayu. Tapi, tidak ada yang bisa ia lakukan selain membiarkannya begitu saja. Aroma alkohol menyeruak. Mungkin, Bayu sudah mabuk sehingga bertingkah seperti itu.
Berbeda dengan yang Bayu pikirkan. Saat ini ia sedang takut kehilangan Prita. Entah mengapa pikiran itu bisa muncul dalam otak seorang mafia yang bahkan sebelumnya tak pernah memikirkan perasaan wanita. Nyatanya, kali ini ia memang sedang tidak percaya diri.
Semua karena informasi yang Ben berikan benar-benar pikirannya. Ayash pasti masih terus mencari Prita. Dan ia tidak rela jika sampai Prita pergi dari sisinya. Menemukan Prita adalah suatu kebahagiaan yang selama ini ia cari. Hanya Prita yang membuatnya merasa nyaman dan penuh kehangatan. Hidupnya lebih indah setelah kehadiran Prita. Sebelumnya, ia merasa hidupnya hampa dan tak memiliki tujuan apapun. Kini, ia sudah menemukan tujuan hidupnya, yaitu hidup bahagia bersama Prita. Tak peduli Prita mencintainya atau tidak. Yang jelas, cintanya begitu besar pada wanita itu.
"Apa kamu mabuk?" tanya Prita yang semakin merasa risih ketika Bayu menciumi sekeliling lehernya.
Bayu tersenyum, Ia menghentikan aktivitasnya seraya merebahkan kepalanya di pundak Prita, "Tenang saja. Aku kuat minum. Baru satu botol yang aku habiskan."
"Kalau tidak mabuk, kenapa bertingkah seperti ini? Kamu sadar kan, ini tempat umum?"
Bayu kembali tersenyum dengan kekhawatiran Prita. Sepertinya dia malu diperhatikan banyak orang, "Iya, aku tahu. Ini tempat umum. Lagipula, tidak ada orang yang sempat memperhatikan kita. Mereka sibuk dengan urusannya sendiri."
"Ah!" tanpa sengaja Prita mengeluarkan desahan ketika Bayu dengan isengnya menggigit telinga Prita.
Bayu tertawa kecil melihat respon Prita atas kejahilannya. Sementara, Prita menunduk menahan malu.
"Tuh kan, kamu sendiri yang memancing perhatian orang-orang." goda Bayu.
"Ini kan ulahmu. Kita pulang saja kalau kamu tetap begini."
Bayu menenggak habis botol keduanya, "Sayang... sepertinya aku sedikit mabuk. Kita menginap di sini saja, oke?"
Prita menghela nafas, "Terserah saja."
__ADS_1
Bayu melambaikan tangan memanggil pelayan. Seorang pelayan pria menghampiri tempat duduk mereka.
"Tolong pesankan kamar terbaik di sini." Bayu memberikan kartu identitasnya kepada pelayan itu.
*****
Ceklek
Pelayan membukakan pintu kamar hotel yang dipesan Bayu. Prita mengernyitkan keningnya saat melihat ruangan di dalamnya. Saat pintu terbuka, sudah terlihat ruangan bersantai untuk menonton tv yang bersebelahan dengan ruang meeting. Di ruangan itu juga terdapat mini bar dan dapur lengkap dengan peralatannya.
"Kamu suka kamar ini?" tanya Bayu.
"Ini... kamar atau apartemen? Bukankah kita hanya akan menginap semalam?"
Ya, saking luas dan lengkapnya kamar hotel itu, sudah seperti apartemen yang biasa ia tempati. Ada dua kamar tidur di dalamnya. Kamar mandinya sangat luas, dilengkapi dengan shower, toilet, dan jacuzzi untuk berendam. View yang ditampilkan pemandangan kota. Kamar yang mereka pesan merupakan tipe president suite, tipe terbaik di Zero Tower Hotel.
Bayu merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu, "Aku sudah memesan kamar ini untuk satu minggu."
"Maksudnya?"
Prita menurut. Bayu kembali memeluknya ketika ka duduk. Bau alkohol menyeruak. Sepertinya Bayu memang benar-benar mabuk.
"Tinggalah di sini selama aku pergi. Kamu tidak perlu kembali ke apartemen sementara. Nanti, akan aku kirimkan beberapa pelayan untukmu."
Srek!
Prita reflek mendorong Bayu ketika lelaki itu menurunkan resleting gaunnya. Bayu terkejut dengan reaksi Prita.
"Apa artinya kamu tidak mau?"
Prita hanya tertunduk tanpa menjawab pertanyaan Bayu. Ia yakin saat ini Bayu sedang marah. Bayu hanya menginginkan jawaban yang ingin ia dengar.
"Sudah sepekan lebih aku tidak menyentuhmu karena aku tahu kamu merasa kesakitan terakhir kali kita berhubungan. Aku tidak pernah lagi melakukannya dengan wanita manapun setelah bersamamu." Bayu memegang dagu Prita, memaksanya untuk menatap matanya. "Sekarang aku sedang menginginkannya. Apakah aku harus melakukannya dengan kasar seperi dulu?"
__ADS_1
Prita memejamkan matanya. Rasa sakit kala itu masih membekas dipikirannya.
"Buka matamu dan jawab pertanyaanku selagi aku bisa bersabar." perintah Bayu.
Prita tetap bungkam. Emosi Bayu benar-benar meledak. Ia menarik Prita untuk bangkit berdiri. Ditariknya secara paksa dress yang Prita kenakan hingga terlepas dan menyisakan bra dan ****** *****.
Prita tetap berdiri mematung. Ia membiarkan Bayu melakukan apa yang diinginkannya. Bahkan, ketika Bayu melepaskan pakaian dalamnya, ia tetap terdiam.
Bayu memandangi tubuh polos yang ada di hadapannya. Iya menyunggingkan senyum, "Aku rasa kamu tetap memilih untuk diperlakukan sebagai budak daripada diperlakukan sebagai seorang kekasih. Baiklah, akan aku penuhi keinginanmu."
Bayu meloloskan pakaiannya sendiri. Kini, keduanya sama-sama polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi.
Dengan segera Bayu menggendong tubuh Prita dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Ah! Jangan di sini!" pekik Prita setelah melihat dinding kamar mandi yang full kaca menampilkan pemandangan malam Kota J.
"Kamu gila! Kamu mabuk!" Umpat Prita.
"Hahaha... apa kamu khawatir ada yang akan melihat kita dari gedung-gedung lain yang ada di sana? Aku sendiri tidak peduli. Kita tetap akan melakukannya di sini."
Bayu memasukkan Prita ke dalam bathtube yang telah terisi air hangat dan taburan bunga di atasnya. Prita berusaha menutupi tubuhnya. Ia merasa ditelanjangi di depan umum.
"Jika kamu masih punya sedikit kewarasan, silakan lakukan sesukamu tapi jangan di tempat terbuka seperti ini."
Klik
Bayu menekan remot tirai yang dengan otomatis turun menutupi jendela kaca. Ruangan itu berubah kembali menjadi ruang tertutup.
Bayu ikut masuk ke dalam bathtube. Keduanya kini saling berhadapan.
"Malam ini aku ingin melakukannya dengan lembut." ucap Bayu seraya maju mendaratkan ciuman mesra ke Bibir Prita. Tangannya tak bisa diam, meraba-raba setiap lekukan tubuh yang selalu memberikannya kehangatan.
Prita yang awalnya enggan untuk membalas ciuman kini sudah kooperatif. Dia mulai ikut menikmati sentuhan-sentuhan yang diberikan Bayu pada titik sensitifnya. Entah karena keduanya mabuk atau mengikuti hasrat mereka bisa bercumbu mesra di dalam bathtube.
__ADS_1
Malam semakin larut. Namun aktivitas di kamar itu masih terus berlanjut. Tak ada percakapan berarti. Hanya terdengar lengkuhan dan erangan kenikmatan dari kedua insan yang sedang bercumbu.