
Prita berjalan menuju altar pernikahan didampingi Pak Bakri. Tamu yang hadir cukup banyak meskipun tak sampai ratusan orang. Ia melayangkan pandangan ke arah wajah-wajah yang ia kenali. Ada Dea dan Raya yang melambaikan tangan ke arahnya. Bu Ayu juga tampak hadir dan tersenyum padanya.
Prita terharu, begitu banyak orang spesial yang hadir. Ia merasa sangat bahagia. Apalagi melihat mereka yang tersenyum ke arahnya seakan menambah rasa bahagia dalam dirinya.
Suasana terasa sangat khidmat diiringi alunan lagu Westlife, Beautiful in White. Ayash berdiri di depan altar memandangi pengantinya yang sangat cantik. Kilasan pertemuan-pertemuanya dengan Prita sejak awal hingga saat ini terputar kembali dalam memorinya. Matanya berkaca-kaca. Setelah banyak hal terjadi, akhirnya mereka bisa bersatu dalam ikatan pernikahan.
🎵🎵🎵
Not sure if you know this
But when we first met
I got so nervous I couldn't speak
In that very moment
I found the one and
My life had found its missing piece
So as long as I live I love you
Will have and hold you
You look so beautiful in white
And from now 'til my very last breath
This day I'll cherish
You look so beautiful in white
Tonight
"Ayash, hari ini aku serahkan putriku Prita kepadamu. Jaga dia, cintai dia, selamanya. Buatlah Prita bahagia. Jika kelak kamu sudah tidak mencintainya lagi, tolong jangan katakan itu padanya. Sebagai gantinya, katakan padaku. Aku akan datang dan membawanya pulang."
Prita menitihkan air mata dan langsung memeluk Om Bakri. Betapa beruntungnya dia memiliki banyak orang yang menyayanginya layaknya keluarga.
Di bangku tamu, Irgi terlihat menitihkan air mata mendengar ucapan ayahnya untuk Ayash. Rasanya ia seperti seorang kakak yang akan kehilangan adiknya di hari pernikahan. Raeka memeluk lengannya. Ia bisa merasakan betapa Irgi sangat menyayangi Prita.
Prita dan Ayash mengucapkan janji pernikahan di depan altar disaksikan seluruh tamu undangan. Banyak dari mereka yang terharu. Apalagi orang-orang terdekat yang mengetahui kisah perjalanan Prita, dari sejak menjadi anak keluarga kaya yang tetap baik hati, hingga setelah menjadi yatim piatu dan sifatnya tetap baik hati. Prita merupakan pribadi yang mandiri dan kuat, mau bekerja keras dan tak selalu mengandalkan orang lain.
Memperoleh pasangan yang baik adalah sesuatu yang wajar bagi Prita. Prita pantas bahagia.
Setelah serangkaian prosesi acara, tibalah waktunya pelemparan bunga. Teman-teman Ayash dan Prita yang masih single berkumpul di dekat panggung untuk memperebutkan buket bunga yang Prita bawa.
"Ngapain kalian ikut di sini? Memangnya sudah siap nyusul mereka?" ujar Irgi kepada Vino dan Andin.
"Iseng, Ir. Kalau dapat buketnya kan setidaknya bisa menggagalkan kesenanganmu untuk mendapatkan buket itu. Hahaha.... " jawab Vino.
"Raeka, hati-hati nanti kakinya kena injak, sakit lho.... " ledek Andin.
__ADS_1
"Sayang, teman kamu dari dulu jahat terus sama aku." protes Raeka.
"Mereka bukan temanku, mereka teman Ayash." ucap Irgi enteng.
"Aduh, Vin. Kita nggak diakuin jadi teman cowok terganteng dari SMA Bhakti Bangsa."
"Biasalah, Ndin. Kalau cowok cewek paling populer di sekolah pacaran, suka jadi songong gitu. Lebih baik kita bekerja keras agar buketnya nggak mereka dapat, ya. Kayaknya mereka sudah ngebet nikah. Kita harus menggagalkannya."
"Hahaha.... " Vino dan Andin tertawa bersama.
Tingkah laku mereka masih kekanakan seperti waktu SMA. Padahal, mereka semua sudah menjadi orang dewasa.
"Siap ya semua... pengantin akan melemparkan buket bunga dalam hitungan ke tiga."
Suara MC menghentikan perdebatan keempat orang yang sejak tadi ribut itu. Mereka berkonsentrasi pada buket bunga yang Prita pegang.
"Satu... dua... tiga!"
Buket bunga dilemparkan prita. Para muda mudi yang berkumpul saling berebut mengikuti arah jatuhnya buket itu.
Hap!
Tanpa disangka yang mendapatkan buket bunga itu adalah Arga, kakak Ayash. Padahal Arga tidak terlalu berminat mengikuti acara itu. Yang sangat berharap mendapatkannya menjadi kecewa. Tampak kedua pengantin tertawa, karena Arga yang mendapatkannya. Mereka tahu kalau Arga tidak tertarik dengan yang namanya pernikahan.
Arga iseng memberikan buket bunga itu kepada Andin kemudian berjalan pergi. Mereka yang melihatnya bersorak riuh.
"Cie... Andin.... " ledek Vino.
"Apa-apaan sih kalian! Itu juga Kak Arga kenapa? Bikin kaget orang saja."
"Diam-diam Kak Arga suka kali sama kamu." tebak Vino.
"Halah! Kak Arga paling cuma mau bikin aku jadi pusat perhatian. Nyebelin banget!"
"Kalau nggak mau, sini buat aku aja!" Irgi berusaha merebut buket di tangan Andin.
"Ye... nggak boleh!" Andin mempertahankan apa yang menjadi miliknya. "Kalau kamu yang dapat buketnya nanti cepat nikah dong sama Raeka. Aku kan maunya kalian nggak cepat-cepat nikah."
"Sadis banget kamu, Andin. Tapi aku dukung! Hahaha.... "
Andin dan Vino sama gilanya dalam hal meledek hubungan Irgi dan Raeka. Sejak SMA juga sebenarnya mereka tidak suka jika kedua orang populer di sekolah itu pacaran.
Di sisi lain keseruan mereka, ada Raya yang tampak cemberut ditemani oleh Egi.
"Itukan hanya bunga, kalau mau bisa saya belikan di toko." Egi berusaha menghibur Raya yang tampaknya sangat kecewa tidak mendapatkan buket bunga.
"Tapi beda, ini buket orang menikah, bukan buket beli di toko. Maknanya juga beda. Pak Egi tidak akan paham."
"Ya jadi bagaimana? Apa kita suruh mereka melemparkan banyak buket bunga supaya semua senang? Aku lihat banyak yang kecewa juga sepertimu."
Raya menepuk dahinya, "Ah, sudahlah! Pak Egi tidak akan paham pokoknya."
__ADS_1
"Pa, itu tadi yang Arga beri bunga teman Ayash juga kan, yang namanya Andin?" tanya Mama Maya yang ikut memperhatikan keseruan anak muda di acara itu.
"Iya, Ma. Itu Andin anak Pak Suryo yang sekarang tinggal di Perancis menjadi desainer."
"Dulu itu dia tampilannya kayak anak cowok, sekarang jadi cantik sekali. Apa Arga suka ya, sama Andin?"
"Hm, papa juga tidak tahu. Arga tidak pernah terlihat dekat dengan siapapun. Dia sejak dulu fokus belajar makanya sekarang bisa menjadi pengusaha muda sukses."
"Ya, fokus kerja itu bagus. Tapi, kalau sudah dewasa, harus mulai memikirkan untuk membina rumah tangga juga."
"Kalau papa sih gerserah Arga saja. Yang akan menjalani juga dia. Orang tua hanya bisa mendukung dan mengarahkan. Segala keputusan ada di tangan anak."
"Kalau Arga benar suka sama Andin bagaimana? Apa Papa setuju?"
"Ya setuju-setuju saja kalau sudah pilihan Arga."
"Tuan Reonal." seseorang menyapa Reonal.
"Oh, Tuan Samuel."
Reonal menjabat tangan Tuan Samuel, salah satu mitra bisnis penting yang ia undang ke acara tertutup pernikahan Ayash.
"Selamat atas pernikahan putra Anda. Terima kasih sudah mengundang saya."
"Saya juga berterima kasih karena Tuan Samuel bersedia datang jauh-jauh dari Kota J ke Kota S hanya untuk menghadiri acara pernikahan anak saya."
"Anda tidak perlu sungkan. Bisnis kita berjalan lancar dan kita sudah seperti keluarga. Bahkan ternyata anak Anda yang mengurusi proyek Pulau S di Kota J, ya?"
"Benar sekali. Anak saya memang sedang mulai belajar bisnis."
"Saya yakin dia juga akan sesukses kakaknya. Anda memang sangat pandai mendidik anak."
"Hahaha... Anda terlalu berlebihan. Padahal anak Anda yang lebih handal dalam berbisnis."
"Oh, itu sama sekali tidak benar. Anak saya itu tipe pengacau, lebih sering membuat saya bangkrut daripada memberikan keuntungan."
"Kebangkrutan apa yang bisa dialami oleh Bagaskara Corp yang bisnisnya sudah ada dimana-mana?"
"Perusahaan keluarga Hartadi juga sudah berkembang dimana-mana. Anda selalu menjadi saingan saya. Tapi sekarang, kita menjadi mitra bisnis."
"Semoga kerjasama kita bisa tetap bertahan baik."
"Tentu saja."
"Ah, ngomong-ngomong, pengantin perempuan itu apa benar dari keluarga Bakri? Setahu saya, Bakri hanya memiliki satu anak lelaki."
"Menantu kami sebenarnya yatim piatu dan tidak memiliki satupun keluarga. Tapi, keluarga Bakri sudah menganggapnya seperti putri sendiri. Karen itu, mereka menjadi perwakilan dari mempelai wanita."
Tuan Samuel memangguk-manggukkan kepala. Dia sekedar bertanya karena merasa pernah melihat wanita yang sedang berada di atas pelaminan itu.
Tuan Samuel masih ingat jelas, wanita itu pernah ia lihat di apartemen Bayu. Rasa sambal terasi buatannya sangat enak dan susah dilupakan. Itu sebabnya ia masih mengingat wajah wanita yang dulu mengaku sebagai pembantu.
__ADS_1