
Hari minggu ini, Prita mengajak Ayash melihat ruko yang ia sewa untuk mendirikan kafe impiannya. Letaknya cukup strategis karena berada dekat dengan kampus US. Tampilan ruko berlantai dua itu cukup kumuh, membuat Ayash sedikit malas untuk masuk ke dalam.
"Berapa harga sewanya?" tanya Ayash sambil melihat-lihat kondisi sekitar ruko.
"Murah, kok. Hanya 16 juta." Prita menjawab dengan antusias.
"Ya murah lah, tempatnya kumuh begini."
"Kan bisa dibersihkan dan dicat ulang."
Ayash menarik Prita dan menghadapkannya ke jalanan di depannya, "Lihat ini, Posisi ruko tepat di pertigaan jalan. Kalau orang bilang, namanya tusuk sate. Nggak bagus buat usaha."
"Itu kan hanya takhayul... belum tentu benar. Lagipula, aku sudah terlanjur membayarnya. Percuma saja kamu bilang sekarang. Aku akan tetap menjalankan kafeku."
Ayash menggeleng, "Kenapa tidak diskusi dulu sih... "
"Aku punya firasat bagus saat pertama menemukan ruko ini. Jadi, walaupun Raya sudah mengingatkan kalau Ruko ini berhantu, aku tidak peduli. Nanti aku akan mengecat ruko ini dengan bagus supaya kesan horornya hilang."
"Kalau kamu sangat menyukai ruko ini, aku bisa membelikannya untukmu."
"Nggak usah, kalau aku sudah sukses, aku akan membelinya sendiri."
Ayash hanya menggeleng-geleng. Sepertinya Prita sedang semangat-semangatnya membangun usaha.
"Ayo ikut aku!" Prita menarik tangan Ayash membawanya memasuki ruko.
Ayash benar-benar tidak berniat masuk, tapi Prita malah memaksanya ikut. Ruangan bawah tampak berantakan, berdebu dan lembab. Pertanda bangunan itu sudah lama tidak dipergunakan. Prita terus menuntunnya menaiki tangga hingga sampai di lantai dua. ruangan lantai atas terlihat lebih bersih dari yang bawah. Jendela kaca di arah balkon sangat lebar sehingga cahaya bisa masuk dengan maksimal.
"Lantai dua bisa digunakan untuk tempat tinggal."
Ayash mengerutkan dahinya, "Untuk apa tinggal di sini, kamu kan sudah tinggal di apartemenku."
"Hah... siapa yang bilang aku mau tinggal di sini? Aku kan cuma bilang, ini bisa dijadikan tempat tinggal."
"Menurutku lebih baik lantai dua juga digunakan untuk tempat pelanggan. View nya cukup bagus. Apa konsep kafenya?"
"Aku ingin membuat kafe ala-ala korea. Target marketnya kan anak muda, pasti mereka suka lah makanan khas korea."
"Kamu bisa masak makanan korea?"
Prita tersenyum malu, "Hehehe... nggak bisa... "
"Terus, nanti yang masak siapa?"
__ADS_1
"Aku akan belajar. Kalau kurang memuaskan, aku akan kursus masak."
Ayash menepuk dahinya, "Kenapa buru-buru sewa tempat kalau konsep usahanya belum matang. Kalau kamu baru mau belajar, kapan usahanya jalan?"
Seketika semangat usaha Prita hilang, "Ya, aku memang bodoh. Nggak tahu apa-apa tentang bisnis!"
Ayash tersenyum, ternyata ucapannya membuat Prita marah. Ia berjalan mendekat dan memeluknya.
"Sudah, sudah... maafkan aku. Besok, akan aku bantu mencarikan orang-orang yang tepat untuk membangun bisnis impianmu. Termasuk koki terbaik untuk menciptakan menu-menu spesial di kafe ini."
"Iya, terima kasih. Aku memang selalu gegabah mengambil keputusan. Aku sudah terbiasa bekerja dan rasanya aneh ketika menjadi pengangguran."
Bruk!!!
Terdengar suara benda jatuh. Mereka berdua kaget dan langsung melepaskan pelukan.
"Apa hantunya merasa terganggu?" tanya Ayash.
"Stt... Jangan dibahas. Nanti keluar betulan!" Prita merapatkan badan karena takut.
"Kamu yang sewa ruko ini, kenapa jadi takut sendiri?"
"Jangan dibahas lagi! Ayo cepat kita pergi!" Prita bergegas lari menuruni anak tangga.
*****
Sesuai janji Ayash sebelumnya, ia memperkenalkan beberapa orang yang akan membantu Prita mewujudkan kafe impiannya.
"Halo, semua. Perkenalkan, ini Prita, pacar saya. Dia membutuhkan bantuan kalian untuk membangun kafe impiannya. Mohon bantuannya, ya."
Ayash memperkenalkan Prita kepada orang-orang berkompeten yang dipilihnya. Sebenarnya mereka adalah para profesional yang secara pribadi Ayash rekrut dan bayar untuk membantu Prita. Tapi, ia mengatakan kepada Prita kalau mereka adalah teman-temannya dan mau membantu Prita dari nol karena ingin mrnambah pengalaman. Jika Prita sampai tahu bayaran mereka cukup mahal, pasti dia akan langsung menolak.
"Prita, ini Icha. Dia seorang designer interior. Dia akan membantumu menciptakan suasana kafe yang ke-Korea-an."
Prita bersalaman dengan Icha.
"Ini Brisia, ahli di bidang manajerial. Dia akan membantu kamu merekrut karyawan dan men-training mereka supaya bisa bekerja dengan baik."
Prita bersalaman dengan Brisia.
"Ini Yoga, ahli akunting, yang akan mengajari kamu membuat catatan dan laporan keuangan."
Prita kemudian bersalaman dengan Yoga.
__ADS_1
"Ini Pak Diki yang akan membantu kamu membuat menu-menu ala korea. Kamu juga bisa sekalian belajar."
Prita bersalaman dengan Pak Diki, "Pak, ajari saya bikin kimchi, ya."
"Siap, Mba Prita." jawab Pak Diki.
"Mmm.... tapi, modal saya hanya sekitar 200 juta. Apa mungkin bisa membuat kafe yang bagus, ya?" Prita agak ragu karena orang-orang yang ia temui sepertinya sangat expert.
Ayash memberi kode kepada mereka untuk menjawab.
"Cukup, kok! Mba Prita percayakan saja kepada saya, pasti beres. Saya jamin, bisnis ini bisa berjalan dengan baik." ucap Yoga.
Sebelumnya mereka memang sudah diberitahu agar menuruti dan menyanggupi semua keinginan Prita. Jika ada kekurangan, Ayash yang akan menambahnya. Bahkan, tanpa sepengetahuan Prita, ia sudah membeli ruko yg Prita sewa. Walaupun sejujurnya tempatnya tidak bisa dikatakan bagus untuk usaha, tapi demi Prita, dia mau membelinya.
"Terima kasih ya, saya jadi semakin semangat untuk usaha ini."
"Saya juga bersemangat, Mba, untuk menambah pengalaman." sahut Icha, "Oh, iya, apa Mba Prita bisa memberi gambaran, bagaimana desain kafe yang diinginkan? Nanti saya bisa langsung buatkan contoh desainnya."
Kemudian Prita menjelaskan seperti apa tampilan kafe yang ada di dalam imajinasinya kepada Icha. Semua orang mendengarkan. Mereka memang harus menyatukan persepsi agar kafe impian bisa terwujud.
Selain desain kafe, mereka juga membahas tentang pegawai kafe. Prita ingin para pegawainya berdandan ala korea menggunakan hanbok, namun ada sentuhan modern. Dia juga meminta disediakan spot foto dan penyewaan baju tradisional korea di kafenya.
Untuk menu di kafe, ia menginginkan makanan-makanan khas korea yang biasa ditampilkan dalam drama korea. Hal itu menurutnya akan banyak mengundang perhatian kaum muda untuk singgah di kafenya nanti.
"Kira-kira nanti nama kafenya apa, Mba Prita?" tanya Pak Diki.
"Saya juga belum tahu, Pak. Mmm... mungkin kamu ada saran, Yash?" tanya Prita kepada Ayash.
"Hmmm... mungkin cocok namanya Agma Kafe atau Yulyeong Kafe." kata Ayash sambil senyum-senyum.
Prita memukul lengan Ayash dan memanyunkan mulutnya, "Kasih nama kok gitu?"
"Aku kan terinspirasi dari kondisi terakhir ruko saat kita melihatnya. Bagus kan, namanya." Ayash semakin tertawa lebar.
"Nggak sesuai dengan konsepnya! Ini kafe yang ceria dan penuh kehangatan. Lihat saja nanti kalau sudah di make over Mba Icha!"
Icha mengacungkan jempolnya.
"Lha kok jadi marah? Kan itu hanya usulku. Kamu sendiri tadi yang tanya." protes Ayash.
"Memangnya Yulyeong Kafe artinya apa, mba?" tanya Icha penasaran.
"Kafe hantu!"
__ADS_1
"Hahaha.... " semua orang tertawa setelah tahu artinya dari Prita.