ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Aku Akan Membuatmu Kembali Padaku


__ADS_3

Ayash keluar dari ruangan walk in closet sudah rapi memakai setelan kerjanya. Tak lupa ia merapikan kancing kemeja di pergelangan tangan. Diliriknya ke arah ranjang, ada pemandangan yang berbeda pagi ini. Prita masih tertidur di atas ranjangnya.


Tengah malam, Prita dengan raut wajah pucat pasi mengetuk kamarnya. Ia mengatakan tidak bisa tidur dan ingin tidur bersamanya.


Tentu saja Ayash senang ada wanita yang menemani tidurnya. Prita bisa terlelap tidur di sampingnya. Sementara, ia yang tidak bisa tidur karena ada Prita. Wajar, dia masih normal seperti lelaki pada umumnya yang bisa panas dingin jika ada wanita di tempat tidurnya.


Prita bisa begitu nyaman tidur di sisinya. Mungkin dia masih merasa takut. Tapi, Ayashpun tak tahu apa sebenarnya ketakutan terbesar Prita. Apartemennya memiliki sistem keamanan yang baik. Dan, Kota S bukanlah surga Tiger King. Seharusnya Prita merasa aman. Sepanjang malam ia hanya memandangi wajah Prita yang sedang tertidur.


Sampai saat subuh tiba, ia bergegas mandi dan bersiap ke kantor. Ia berencana akan datang pagi-pagi sekali mempelajari semua materi meeting yang akan dilakukan dengan Tuan Mathias. Sudah seminggu lebih ia meninggalkan kantornya. Ia harus bekerja keras mengecek pekerjaan-pekerjaan yang sempat ditinggalkannya.


Sebelum berangkat ke kantor, ia menyempatkan diri memandangi wajah Prita yang masih tertidur. Ia mendaratkan kecupan di pipi Prita.


"Jangan pergi."


Prita tiba-tiba meraih tangan Ayash yang hendak pergi ke kantor. Prita mengerjapkan matanya agar terbuka. Dilihatnya Ayash yang sudah berpakaian rapi.


"Jangan pergi." pintanya lagi dengan raut wajah memelas seperti anak kucing.


Ayash tersenyum. Ia lantas duduk di tepian kasur dan mengacak-acak rabut Prita.


"Aku hanya pergi ke kantor. Pagi ini ada meeting penting. Nanti siang aku akan pulang."


Prita terdiam. Wajahnya kembali murah.


"Kamu masih takut?"


Prita mengangguk. Ayash menggaruk-garuk lehernya yang tidak gatal. Ia tidak tega meninggalkan Prita, tapi ia juga punya pertemuan penting yang harus dihadiri.


"Kalau begitu, mandilah dan ikut aku ke kantor."


Prita menggeleng, "Apa tidak bisa kita di rumah saja?"


"Mauku juga seperti itu. Tapi, meeting pagi ini tidak bisa aku tinggal. Kamu ikut saja, ya, ke kantor?"


Prita menggeleng.


"Baiklah, apa perlu aku panggilkan Raya untuk menemanimu?"


"Raya kan mengajar."


"Ah, iya. Aku sampai lupa." Ayash kembali berpikir, siapa yang kira-kira bisa menemani Prita. Prita tak terlalu banyak memiliki teman.


"Ah, shit!" umpatnya ketika sosok Irgi yang terlintas di otaknya. Antara rela atau tidak rela meminta bantuan Irgi untuk menemani Prita.

__ADS_1


Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Irgi.


"Ah! Heh, sialan! Aku masih ngantuk! Ada apa?" umpat Irgi.


"Temani Prita di apartemen. Aku ada rapat di kantor."


"Oh, hoh. Oke."


"Turun ke lobby sekarang. Nanti aku berikan kartu aksesnya."


"Oke."


"Aku sudah menghubungi Irgi. Sebentar lagi dia kesini untuk menemanimu. Aku berangkat dulu."


Lagi-lagi Prita meraih tangan Ayash, "Mungkin ini terdengar aneh. Tapi, aku khawatir nanti yang datang bukan Irgi."


Entah apa yang Prita pikirkan. Sepertinya dia tak bisa sedetikpun sendirian.


Ayash tersenyum, "Oke, kita sama-sama turun menemui Irgi."


Prita bangkit dari ranjangnya, menyambar hoody Ayash yang tergeletak di meja. Ia pakai untuk menutupi baju tidurnya dan rambutnya yang kusut karena baru bangun tidur. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju private lift yang ada di ruang tamu.


Sesampainya di lobby bawah, Irgi sudah menunggu dengan penampilan acak-acakan khas bangun tidur. Di antara mereka bertiga, hanya Ayash yang tampak rapi.


"Nih kartu aksesnya! Jangan macam-macam dengan jodoh orang!"


"Hahaha... kamu khawatir, kan?"


"Ta, aku berangkat dulu, ya. Hati-hati dengan Irgi." Ayash memeluk Prita dan mengecup kepalanya.


Meskipun Irgi sangat menyebalkan dan sering membuat Ayash cemburu, namun Irgi adalah sahabatnya yang paling bisa diandalkan.


*****


Bayu tak melepas pandangannya pada layar televisi yang menutar rekaman CCTV hotel. Menit demi menit terus ia pantau siapa saja orang yang kemungkinan masuk dalam kamarnya.


Beberapa menit kemudian, ia menekan tombol pause saat melihat dua orang lelaki keluar dari lift lantai 70. Ia memperjelas gambar itu.


"Ben... apa ini.... Arga?" tanyanya pada Ben yang sedang menemaninya.


"Sepertinya iya. Orang yang disebelahnya adalah Glen." Ben lebih mengenali Glen daripada Arga.


"Hmmm... kenapa dia ada di sana?"

__ADS_1


"Malam itu ada catatan reservasi meeting room dari perusahaannya. Mungkin sekalian dia booking kamar di sana."


Menit demi menit kembali berlalu, tak ada orang yang tampak keluar dari lift. Bayu mempercepat rekamannya hingga mendapatkan orang lain yang menggunakan lift lantai 70.


"Ayash....?" pekiknya geram ketika melihat sosok Ayash yang muncul di CCTV itu.


Ia kembali mempercepat rekamannya. Tampak Ayash kembali menaiki lift dengan menggandeng seorang wanita yang masih memakai baju tidurnya. Itu Prita!


Brak!


Bayu membanting keras remotnya, "Bangsat! Kenapa dia bisa tahu Prita ada di sana!"


"Ben... kita harus kembali Kota S!"


"Anda harus mendapat ijin dari Tuan Samuel."


Bayu memejamkan matanya. Ditariknya nafas sebanyak-banyaknya. Kehilangan Prita membuatnya begitu tersiksa hingga rasanya sulit untuk bernafas.


"Saya bisa carikan wanita lain, kalau perlu yang mesih perawan. Di luar sana masih banyak yang lebih cantik dari Nona Prita.


Mendengar perkataan Ben, bukannya senang Bayu malah semakin emosi.


Bugh!


Ia melayangkan pukulan keras hingga sudut bibir Ben terluka. Ben tak bergeming. Ia tetap dia meskipun Bayu memukulnya.


Bayu mencengkeram erat kerah leher Ben, melemparkan tatapan nyalang penuh emosi, "Aku hanya menginginkan Prita bukan wanita lain! Kamu pikir aku menganggap Prita sama dengan jalang yang biasa kamu bawa? Bangsat!"


Bugh!


Bayu kembali melayangkan beberapa pukulan. Ben tetap diam. Ia rela dijadikan pelampiasan oleh bosnya.


"Keluar sekarang, Ben! Aku bisa membunuhmu jika tetap di sini!" usirnya.


Ben yang terkapar penuh luka pukulan bangkit dan pergi keluar dari kamar Bayu.


Setelah Ben keluar, Bayu kembali mengamuk. Ia banting semua benda yang ada di kamarnya. Guci mahal ratusan juta yang ia pesan dari Eropa tak luput dari kemarahannya. Kini benda itu sudah pecah berkeping-keping hanya dengan satu tendangan.


Bayu merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang biasa ia pakai tidur bersama Prita. Pikirannya mengelana, mengingat ucapan Prita yang mengatakan bahwa ia tak akan pergi darinya. Semua itu omong kosong.


Ia menertawakan dirinya sendiri. Akhir-akhir ini, ia sudah bersikap sangat lembut, mencurahkan segenap cinta tulusnya kepada wanita itu. Ia merasa, Prita sudah mulai bisa menerima dan mencintainya lewat segala hal yang ia lakukan demi dirinya. Nyatanya, Prita tetap pergi dan memilih bersama laki-laki itu.


"Prita... suatu saat kamu akan menyerahkan dirimu padaku secara sukarela. Aku akan membuatmu kembali padaku." Bayu tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2