ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Kepergok Mama Maya


__ADS_3

"Yash.... "


"Hmm?"


"Mulai besok aku mau datang ke kafe, ya?"


Prita menyandarkan kepalanya di bahu Ayash. Tangannya dilingkarkan memutari pinggang Ayash. Malam itu mereka sedang menonton film action di tv.


"Kamu yakin? Apa perasaanmu sudah lebih baik?"


"Iya. Aku rasa, aku sudah siap kembali bekerja."


Ayash mencium kening Prita, "Baiklah, besok aku antar sekalian berangkat kerja."


"Oke."


"Kalau ada yang bertanya tentang keberadaanmu selama ini, bilang saja kamu ada urusan bisnis di Singapura."


"Singapura?"


"Ya, Singapura. Raya dan mama yang paling sering menanyakanmu. Aku bilang kamu ke Singapura untuk waktu yang cukup lama."


Prita mengembangkan senyum, ia sibuk memandangi Ayash sampai film di depannya sudah tidak ia ikuti lagi. Rasanya bahagia sekali bisa kembali memandangi wajah itu. Wajah yang membuatnya merasa nyaman dan jatuh cinta.


"Yash.... "


"Hmm?" Ayash masih terpaku dengan film yang ia tonton. Adegannya sedang seru.


"Aku tidur dulu, ya. Supaya tidak kesiangan mempersiapkan sarapan."


Ayash melirik ke arah Prita, "Kamu mau tidur?"


Prita mengangguk.


"Ayo!"


Klik.


Ayash mematikan tv dan menarik tangan Prita menuju kamar.


"Eh eh... tunggu!" seru Prita saat mendekati pintu kamar Ayash.


"Kenapa?"


"Aku mau tidur di kamarku sendiri."


Ayash menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa? Biasanya juga kita tidur bareng."


"Sepertinya aku sudah berani tidur sendiri." Prita meringis. "Good night."


Sebelum Prita melangkah menuju kamar, Ayash sudah lebih dulu menariknya ke dalam pelukan.


"Aku tidak akan bisa tidur kalau kamu tidak ada. Kamu yang membuatku terbiasa jadi bertanggung jawablah." bisiknya.


Prita tertawa kegelian karena nafas Ayash mengenai telingannya. Melihat reaksi itu, Ayash malah sengaja menciumi telinganya dan sesekali menggigitnya kecil.

__ADS_1


"Ah... geli, udah! Iya iya... aku tidur di kamarmu."


Prita menyerah. Membiarkan Ayash menggendongnya masuk kamar yang biasa mereka tiduri bersama.


"Kenapa terus memandangiku begitu?" protes Prita.


Posisi mereka saling berhadapan hanya terpisahkan oleh sebuah guling.


"Menyenangkan ada teman tidur."


"Hmmm, kalau kita terus ngobrol, kita akan terlambat bangun.


"Kalau begitu tidurlah. Biarkan aku sampai puas memandangimu."


"Baiklah, aku sudah mengantuk dan akan tidur lebih dulu."


Prita langsung memejamkan matanya. Ayash masih sibuk memandangi wanita itu. Setelah melakukan konseling beberapa hari lalu, kondisi Prita semakin membaik. Emosinya lebih stabil. Dia kelihatan kembali ceria seperti dulu. Sebenarnya Ayash ingin tahu, namun Prita sama sekali tidak membahas tentang sesi konselingnya.


*****


Bruk!


Mama Maya menjatuhkan kotak bingkisan yang dibawanya ketika membuka pintu kamar Ayash. Pemandangan pertama yang ia lihat, anak lelakinya sedang tidur memeluk seorang wanita. Itu Prita! Mereka tidur bersama di depan matanya.


Anak baik yang dulu setiap malam ia temani tidur, sekarang sudah besar dan tidur dengan wanita. Rasanya waktu terlalu cepat berlalu, anaknya sudah tumbuh dewasa.


Suara berisik seperti benda jatuh mengusik tidur nyenyak Ayash. Ia membuka mata perlahan. Prita masih tertidur di sampingnya. Guling yang menjadi pembatas di antara keduanya sudah hilang entah kemana. Jarak mereka hanya sekepalan tangan. Bibir mungil warna merah yang ada di hadapannya itu membuatnya lapar. Spontan ia mendaratkan *******-******* kecil di bibir itu meskipun pemiliknya masih terlelap.


"Ayash.... "


"Mama!"


Ayash langsung terduduk melihat sosok mamanya sudah berdiri di ambang pintu sambil memperhatikannya. Tak bisa terbayangkan betapa malunya ia saat ini. Mamanya memergokinya sedang menciumi Prita yang tidur di kamarnya.


"Eummmm.... "


Suara Ayash membuat Prita ikut terbangun.


"Kenapa, Yash?" Prita keheranan melihat Ayash sudah terduduk di ranjangnya. Ia belum tahu apa yang sedang terjadi.


Ayash memberi kode padanya dengan gerakan kepala agar melihat ke arah depan. Prita mengikuti arah yang dituju Ayash.


"Ah!"


Prita ikut bangkit setelah melihat kehadiran Mama Maya di sana. Rasanya malu sekali. Mereka seperti sudah tertangkap basah melakukan hal yang tidak-tidak.


"Kalian, cepat keluar ikut mama ke ruang tengah." ucap Mama Maya seraya mengambil kembali kotak yang tadi ia jatuhkan, kemudian berbalik meninggalkan kamar Ayash.


Ayash dan Prita saling berpandangan. Wajah mereka terlihat sangat malu. Mereka segera turun dari ranjang mengikuti Mama Maya.


"Mama memang sejak awal tidak percaya kalau kalian tidak ngapa-ngapain selama tinggal bersama." Maya geleng-geleng kepala menghadapi dua anak muda yang masih menunduk malu di hadapannya.


"Prita, kan tante sudah mengingatkan. Anak tante ini nakal. Kamu nggak bisa percaya sama dia."


"Aku nggak ngapa-ngapain, Ma." Ayash membela diri dengan nada bicara seperti anak kecil.

__ADS_1


"Nggak ngapa-ngapain gimana? Mama lihat sendiri kamu cium-cium Prita."


Ayash mengusap tengkuknya. Ternyata benar, mamanya melihat yang ia lakukan tadi. Sementara, Prita tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Tante, Ayash benar. Kita cuma tidur saja berdua, tidak macam-macam. Ayash baik, kok."


"Aduh, Prita.... jangan polos begitu. Semua lelaki itu pada dasarnya sama saja, mereka semua tipe-tipe pemangsa. Mau sealim apapun tampilannya, kalau sudah dekat dengan wanita pasti naluri memangsanya muncul. Tuh, lihat saja ada yang bangun di celana."


Maya menunjuk ke arah tonjolan di celana Ayash. Reflek Ayash menutup dengan kedua tangannya. Prita menahan tawa.


"Sumpah, ma! Kenapa bahas begini di depan Prita? Ini kan hal normal yang dialami lelaki kalau pagi memang begini."


Ayash malu setengah mati gara-gara mamanya. Rasanya ia sudah tidak punya nyali untuk menatap Prita.


Ayash menyesal telah memberikan kartu akses apartemen kepada mamanya. Ia tidak menyangka kalau mamanya akan datang pagi-pagi buta saat ia masih tertidur bersama Prita.


"Mama ngapain pagi-pagi datang ke sini? Ini masih jam setengah 6 pagi, lho!" Protes Ayash.


"Eh, mama jauh-jauh pulang dari luar kota bukannya disambut malah diprotes. Berbulan-bulan tidak bertemu, kamu nggak kangen mama?"


"Ya kangen, Ma. Tapi nggak sepagi ini juga datangnya."


"Kalau mama datangnya siang, mama nggak bakalan tahu kalau kalian suka tidur kelonan."


Wajah Prita dan Ayash kembali memerah.


"Kita jadi belum nyiapain apa-apa buat Mama."


"Justru mama kesini bawain makanan buat sarapan kalian. Makanya mama datang pagi-pagi sekali."


Maya meletakkan kotak yang dibawanya di atas meja. Itu adalah oleh-oleh dari Kota A.


"Apa ini, Ma?"


Ayash antusias melihat kotak berukuran cukup besar itu.


"Dendeng rusa dan sambal ganja."


"Wah, asik.... "


"Kalian mandi dulu saja, biar mama yang menyiapkan sarapan pagi."


Maya membawa kotak oleh-oleh itu ke dapur. Prita membuntutinya di belakang.


"Tante, saya mau bantu." pinta Prita.


"Mandi dulu, Prita. Baru setelah itu bantu tante. Oke."


"Iya, tante."


"Ma... aku mandi bareng Prita, ya!" seru Ayash.


"Kamu mau mama cekik, ya?"


"Hahaha... Nggak, Ma! Aku cuma bercanda."

__ADS_1


Sebesar apapun Ayash, tetap bertingkah seperti layaknya anak-anak ketika ada ibunya.


__ADS_2