ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Kunjungan Psikolog 2


__ADS_3

"Kamu kenal Bu Ria dimana?"


"Di Singapura. Dia pernah jadi dosen tamu di kampusku."


Mereka berdua sedang berada di balkon apartemen Irgi. Sengaja mereka berpindah tempat karena apartemen ayash sedang dipakai untuk tempat konseling Prita.


"Aku sampai lupa kalau kamu masih anak kuliahan. Kok bisa Ibu Ria mau kamu undang?"


"Nggak tahu, mungkin karena aku ganteng."


"Cih!"


"Lah, memang aku ganteng, kan? Memangnya siapa yang paling populer waktu SMA kalau bukan aku? Udah ganteng, kapten basket, smart lagi. Gimana nggak bikin cewek klepek-klepek."


"Hahaha... tapi sekarang pengangguran, kan." Ayash mengolok-olok.


"Sialan! Aku kan baru mau membuka bisnis di sini. Dasar tukang menjatuhkan mental orang. Takut bersaing ya?"


"Wo ho, aku kan hanya mengatakan kenyataan."


"Bantu modal, dong! Biar bisnisku cepat berjalan. Atau kenalkan dengan salah satu relasi bisnis kamu, gitu."


"Ya, Tuhan. Salah kali minta bantuan sama bayi yang baru belajar usaha. Ayahmu kan kaya, masa minta modal sama aku. Lagian, keluarga Raeka kurang apa coba. Kamu minta salah satu perusahaannya saja paling dikasih."


"Heh! Kamu pikir aku tipe manusia benalu? Gengsi dong hari gini masih minta orang tua atau calon mertua."


"Wah, ternyata kamu masih punya rasa malu juga."


"Harga diri tetap nomor satu."


Ayash melirik ke arah jam tangannya, mengecek sudah berapa lama ia di tempat Irgi. "Ngomong-ngomong, lama juga ya konselingnya. Aku khawatir dengan Prita."


Irgi mengambil dua kaleng minuman dari dalam kulkas kecil, "Nih!" ia melemparkan salah satunya kepada Ayash.


"Apa menurutmu ini akan berhasil?" Ayash menenggak minuman kaleng yang Irgi berikan.


"Aku juga tidak tahu. Semua kembali lagi kepada Prita." Irgi tiduran di ayunan kemudian memainkan game di ponselnya.


"Ngomong-ngomong, dimana Raeka? Kenapa dia tidak pernah muncul? Biasanya kan nempel kamu terus."


Irgi masih asyik memainkan jarinya di atas layar, "Ye... nempel memangnya materai. Ngapain tanya-tanya Raeka? Kamu juga tidak suka dia kan?"


"Ya aneh saja. Biasanya kan nenek lampir pasti marah-marah kalau kamu bareng Prita. Ini sudah berhari-hari kamu jagain jodohku dia nggak protes?"


"Mungkin dia masih marah." Irgi menjawabnya dengan santai.

__ADS_1


"Marah kenapa?"


"Aku pernah mengajaknya mandi telanjang bareng dan sepertinya dia marah."


Ayash terheran-heran mendengar Irgi yang berkata vulgar dengan santainya tanpa disaring.


"Wah, sudah gila kamu. Kalau sampai dia ngadu ke ayahnya, bisa diusir kamu dari kota ini."


"Ya tinggal pindah kota susah amat." Irgi memainkan game dengan penuh emosi.


"Enteng banget jawabannya. Kayaknya sudah siap putus lagi, ya?"


"Sumpah, Yash! Aku sedang tidak mood membahas Raeka. Kalau kamu teruskan, aku lempar kamu ke bawah."


"Hem, baiklah."


Ayash kembali meneguk minuman kalengnya. Ia mengarahkan pandangan pada gedung-gedung sekitar apartemen. Jajaran gedung tinggi di sana tak sepadat kota J.


"Yash, kalau kamu ketemu Bayu, apa yang mau kamu lakukan?"


Ayash berbalik menghadap Irgi. Kali ini Irgi sudah meletakkan ponselnya. Ia sedang makan camilan keripik kentang.


"Entahlah. Mungkin aku akan membunuhnya."


"Hahaha... orang seperti dirimu tidak pantas jadi pembunuh. Tampangmu itu terlalu polos untuk peran antagonis. Lagian kamu mana bisa memegang pistol."


"Masalahnya, orang seperti Bayu pasti pegangannya senjata. Belum sempat kamu nendang, sudah ditembak duluan kamu."


"Nembak juga belum tentu kena. Kalau aku tendang di bagian vital juga bisa langsung mati."


"Yash.... "


"Hem?"


"Ngak jadi."


Plak!


Ayash melemparkan kaleng kosong ke arah Irgi. Ia sudah serius mau mendengarkan, malah Irgi mengajaknya bercanda.


*****


"Kamu lebih takut bertemu kembali dengan lelaki itu atau ditinggalkan oleh Ayash?"


"Keduanya sama-sama menakutkan, Bu. Saya tidak mau kedua hal itu terjadi."

__ADS_1


"Tapi, lelaki itu masih ada di luar sana. Suatu saat bisa saja kamu bertemu dengannya."


Prita terdiam sejenak, "Karena itu saya tidak mau keluar rumah, Bu. Agar saya tidak perlu bertemu dengannya."


"Kenapa kamu sangat tidak ingin bertemu lagi dengan orang itu? Apa kamu sangat membencinya? Kamu menyimpan dendam padanya?"


Prita menggeleng, "Saya tidak bisa membenci atau dendam kepadanya."


"Kenapa?"


"Dia memperlakukan saya dengan sangat baik selama dengannya. Bahkan, dia bisa mengembalikan harta peninggalan orang tua saya yang sebelumnya direbut oleh om saya."


"Kamu memaklumi perbuatannya padamu?"


"Sepertinya begitu. Meskipun saya sedih karena dia telah mengambil hal berharga bagi saya, tapi dia melakukannya karena mencintai saya. Semua yang dia lakukan karena tidak ingin saya pergi darinya. Bagaimana saya menyalahkan perbuatan orang yang sedang jatuh cinta? Sementara saya juga bisa melakukan hal-hal di luar logika demi orang yang saya cinta."


"Kalau kamu tidak membencinya, kenapa tidak mau bertemu lagi dengannya? Kamu takut jatuh cinta kepada orang itu?"


Prita menggeleng, "Saya takut dia kembali memisahkan saya dari Ayash."


"Prita, dengar. Ayash akan tetap bersamamu atau pergi meninggalkanmu, tidak ada kaitannya dengan orang lain. Yang membuatnya akan tetap bertahan adalah rasa cintanya padamu. Apapun yang terjadi, jika dia masih mencintaimu, dia akan tetap memilih bersamamu. Tapi, jika dia tak lagi memiliki rasa cinta, tidak ada masalah inipun dia akan tetap meninggalkanmu."


"Kamu tidak bisa selamanya bersembunyi. Bersembunyi bukan suatu penyelesaian dari masalah. Kamu harus berani keluar, menghadapi semua masalahmu. Hadapi semuanya, sekalipun itu penolakan dari orang yang paling kamu cinta, kamu harus menghadapinya. Baru, setelah itu kamu bisa menata hidupmu kembali."


Prita merenungkan perkataan Ibu Ria. Semua yang diucapkan memang benar. Hanya saja, ia masih perlu mengumpulkan keberanian untuk menerima kebenaran itu.


"Kamu jangan memaklumi perbuatan yang salah, Prita. Bagaimanapun juga, memaksakan hubungan kepada orang lain itu tetap suatu kesalahan, sekalipun dengan alasan cinta. Yang namanya cinta, ada hubungan timbal balik antara dua arah, bukan hanya hubungan searah."


"Saya yakin, kamu pasti bisa mengambil langkah yang paling tepat."


"Iya."


"Sepertinya, sesi konseling kita akhiri sampai di sini dulu. Kamu bisa mengajukan jadwal konseling lagi jika kamu merasa perlu. Saya akan berusaha tetap mensupport kamu. Semangat, ya."


Prita memberikan seulas senyum, "Terima kasih atas waktunya, Bu."


"Baik, kalau begitu saya pamit dulu."


"Ah, saya panggilkan Irgi supaya mengantar Ibu."


"Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri."


Prita mengantarkan Ibu Ria ke depan lift.


"Prita, semangat!" begitu ucapan terakhir Ibu Ria sebelum pintu lift menutup.

__ADS_1


Setelah melakukan konsultasi, perasaan Prita menjadi lebih tenang. Pikirannya terbuka, rasa takutnya menghilang. Tiba-tiba dia merasa memiliki kekuatan untuk menghadapi semua hal yang akan terjadi.


Prita mengambil ponselnya, mengetikkan pesan kepada Ayash jika sesi konselingnya telah selesai.


__ADS_2