ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Dari Masa Lalu


__ADS_3

Siang itu Ayash tengah sibuk mempersiapkan meeting penting di sebuah hotel Kota J. Dia datang bersama rombongan timnya yang laki-laki. Rombongan wanita sudah terlebih dahulu datang di tempat untuk mempersiapkan segala bahan presentasi yang dibutuhkan.


Pembahasannya masih seputar proyek di Pulau S. Pertemuan kali ini untuk mempresentasikan rencana pembangunan kepada pihak pengembang dan kontraktor.


Awalnya perjalanan terasa biasa saja. Dia masih berbincang-bincang dengan anggota timnya dengan sesekali disisipi candaan.


"Hidup ini aneh ya, Pak." celetuk Agus.


"Kenapa aneh, Gus?" tanya Ayash.


"Ya aneh... orang-orang kerja cari uang susah sampai stress. Eh, setelah dapat uang, dipakai liburan untuk menghilangkan stress. Kan aneh.... "


"Hahaha... " semua tertawa mendengar pernyataan Agus.


"Masuk akal ya, Gus." sahut Edo.


"Iya juga, ya. Ngapain kerja sampai stress terus uangnya dipakai lagi buat menghilangkan stress? Itu namanya kerja apa dikerjain?" Roni ikut bersuara.


"Ye... bumi tempat kita tinggal kan juga berputar, tidak diam. Makanya untuk tetap hidup yang uang memang harus terus berputar biar ekonomi jalan." Budi mencoba menjelaskan.


"Nah, itu jawaban masuk akal." ujar Ayash.


Ting!


Pintu lift terbuka. Obrolan mereka terhenti. Satu persatu mereka memasuki lift. Budi menekan angka 25, lantai tempat meeting mereka akan dilaksanakan.


Ayash berdiri tepat di depan pintu lift. Sebelum pintu tertutup, tampak seorang wanita berlari ke arah lift. Sesaat sebelum pintu lift tertutup rapat, pandangan matanya bertemu dengan mata Prita.


Deg!


Jantungnya serasa berhenti berdetak. Wanita itu adalah Prita. Prita ada di sana. Dengan tergesa-gesa Ayash menekan tombol lift agar pintu segera terbuka.


Melihat hal tersebut, anggota timnya saling berpandangan keheranan dan bingung.


Ting!


Pintu lift terbuka di lantai 5.


"Kalian duluan ke tempat meeting. Saya ada urusan." buru-buru Ayash keluar dari dalam lift.


Ayash beralih ke lift lain untuk turun kembali ke lantai dasar.


Sesampainya di area lobby, ia berlarian ke sana ke mari sambil mengedarkan pandangan mencari Prita. Nafasnya sampai tersengal-sengal karena kelelahan. Namun, ia tak dapat menemukan Prita.

__ADS_1


Dengan kasar ia mengusap wajahnya. Jelas-jelas tadi Prita ada di hadapannya dan sekarang sudah hilang lagi.


Ayash merogoh ponsel dari dalam saju jasnya, "Cari Prita di sekitar Apartemen Galapagos. Awasi kawasan ini untuk beberapa hari ke depan."


Setelah itu, ia kembali menyimpan ponselnya dan berjalan gontai ke arah lift. Mau tidak mau ia harus hadir dalam rapat.


*****


Selama perjalanan di dalam mobil, Prita terus diam. Bayu menggenggam erat tangan wanita itu. Sesekali ia mengelus mesra rambutnya yang tergerai.


"Kenapa kamu jadi murung begini? Apa yang membuatmu sampai menangis tadi?"


Prita hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Bayu. Tidak mungkin baginya berkata jujur. Bayu pasti akan marah jika tadi dia melihat Ayash. Bisa-bisa Bayu kembali menyuruh anak buahnya untuk menangkap Ayash seperti sebelumnya.


Suasana kembali hening. Bayu juga menyerah untuk mengintograsi. Perjalanan berlanjut hingga mobil memasuki satu halaman rumah bergaya arsitektur masa kolonial belanda.


Dari halaman rumahnya tampak terawat, pepohonan tertata rapi memagari sekeliling halaman. Rumah bernuansa kuno itu dalam kondisi bersih meskipun ada kesan seram.


"Ini tempat apa?" bulu kuduk Prita langsung berdiri sesaat memasuki ruang tamu. Hawanya langsung berbeda.


Bayu tersenyum. Ia menggandeng mesra tangan Prita seraya mengajaknya berjalan menuju ke sebuah ruangan yang terdapat banyak buku. Sepertinya itu semacam ruang kerja.


Bayu memeluk tubuh Prita dari arah belakang. Dihirupnya aroma leher yang selalu membuatnya nyaman. Sementara, Prita merasa semakin merinding.


Prita bingung, janji apa yang Bayu maksud? Sepertinya dia tak pernah menjanjikan apapun. "Janji apa?"


"Janji untuk mengembalikan semua yang seharunya menjadi milikmu."


"Hah?" Prita masih tak paham.


Bayu menyuruh Prita untuk duduk di kursi samping meja. Dia mengambil selembar foto dan memberikan kepada Prita.


Prita terkejut. Ternyata itu foto masa kecilnya bersama kedua orangtuanya. "Ini.... "


"Foto kecilmu, kan?" jawab Bayu. Dia mengambil duduk tepat di depan Prita. Dia tahu, Prita pasti keheranan bagaimana dia bisa mendapatkan foto lama itu."


"Darimana kamu mendapatkan ini?" Prita masih memandangi potret masa kecilnya. Serasa bernostalgia mengenang masa lalu ketika hidupnya begitu indah bersama kedua orangtuanya.


"Aku dapat dari rumah lamamu?"


"Rumah lama? Tapi, kan.... "


"Semuanya sudah dijual oleh pamanmu, kan?"

__ADS_1


Prita membelalakan mata. Ditatapnya dalam-dalam lelaki yang ada di hadapannya. Bagaimana dia tahu tentang kehidupannya?


"Aku tahu semua tentangmu. Namamu Prita Asmara, putri tunggal Rudi Hartanto dan Sukma Anjani. Kamu sudah tidak punya sanak keluarga selain pamanmu yang bajingan itu, Robi Hartanto. Kedua orangtuamu meninggal katanya karena kecelakaan mobil dan setelah itu pamanmu mengambil dan menjual semua aset peninggalan kedua orangtuamu. Lalu kabur. Kamu hanya disisakan rumah di Jalan Kenanga Nomor 25 itu, kan?"


Prita mengangguk. Semua yang dikatakan Bayu benar adanya.


Bayu mengambil sebuah map kuning dan disodorkan kepada Prita, "Bukalah!" pintanya.


Prita menerima map kuning itu. Ia langsung syok setelah mengetahui isinya. Dengan gemetar ia buka satu persatu dokumen di dalamnya. Air matanya menetes, tangisnya tak tertahan lagi. Ternyata itu adalah dokumen kepemilikan tanah dan bangunan yang pernah dimiliki keluarganya.


Prita masih tidak percaya, harta yang dulu sempat diambil pamanya kini telah kembali. Bahkan, namanya sudah tercatat pada setiap dokumen itu sebagai pemiliknya.


"Sttt... kamu tidak boleh menangis. Aku melakukan ini untuk membuatmu bahagia." Bayu kini tengah memeluk Prita untuk menenangkannya.


"Terima kasih... " ucapnya dengan nada bergetar.


"Simpan dulu ucapan terima kasihnya. Masih ada hakmu yang belum bisa aku dapatkan. Pamanmu yang bajingan itu sudah menjual perusahaan ayahmu kepada orang asing. Aku masih kesulitan mendapatkannya kembali. Tapi aku berjanji, suatu saat perusahaan itu akan kembali padamu."


Keduanya saling bertatapan. Bayu mengusap air mata yang jatuh di pipi wanitanya. "Aku akan mengembalikanmu menjadi seorang putri lagi."


"Bagaimana... kamu tahu semuanya?"


Bayu tersenyum, "Semua berawal dari malam itu. Malam dimana aku melihat seorang malaikat yang dengan baik hatinya menolong seorang pria yang dianggapnya sedang sekarat. Kamu mungkin tidak tahu, sejak malam itu aku selalu memikirkanmu, mencari tahu semua tentangmu karena sangat mencintaimu."


Prita tertunduk. Ia tak tahu harus memberikan respon apa.


"Ah, iya. Sebenarnya orangtuamu tidak meninggal karena kecelakaan. Tapi ada orang yang memang sengaja merencanakan kecelakaan itu."


"Apa!?" Prita terkejut dengan fakta batu yang Bayu sampaikan.


Bayu memberikan beberapa foto terkait kecelakaan itu. Prita memperhatikan lembar demi lembar foto yang memperlihatkan tempat kejadian dimana kedua orangtuanya ditemukan. Ada satu lembar foto seorang lelaki memakai jaket dan topi. Namun, Prita tak bisa mengenali siapa orang di foto itu.


"Aku memiliki bukti rekaman CCTV dan rekaman percakapan via telepon pelaku terjadinya peristiwa itu. Kamu bisa dengan mudah memenjarakannya seumur hidup. Tapi, kalau kamu ingin pelakunya mati, aku bisa membunuhnya untukmu."


"Siapa?" Prita sangat ingin tahu orang jahat yang telah mencelakai orang tuanya.


"Kamu ingin bertemu dengannya?"


"Maksudnya?"


"Orang itu ada di sini. Ikuti aku."


Banyak pertanyaan yang berkecambuk di hatinya. Dengan langkah ragu, ia mengikuti langkah Bayu. Dia membawanya berjalan memasuki ruang tengah bangunan rumah. Di bawah tangga, Bayu membuka pintu menuju ruang bawah tanah.

__ADS_1


"Om Robi!" Prita memekik.


__ADS_2