
Jangan lupa like, ya 💕💕💕
---------------------------------------------------‐------------------------------
Prita masih memilah-milah baju yang ingin dipakai. Ia akhirnya memilih model dress santai warna cream tanpa lengan yang menurutnya paling sopan. Panjang baju itu hanya bisa menutupi separuh pahanya. Pakaian itu dipadukan dengan blazer hitam untuk menutupi lengannya.
Segera ia mengenakan pakaiannya sebelum Bayu keluar dari kamar mandi. Selesai berpakaian, ia menuju ke meja rias yang terletak di sebelah ranjang. Peralatan make up dan skincare sangat lengkap, semuanya berasal dari merk-merk ternama. Berbeda dengan yang selama ini ia pakai. Biasanya ia hanya memakai produk lokal seperlunya saja.
Tiba-tiba ia teringat tentang senda guraunya dengan Ayash tentang sugar daddy. Nasibnya kini seperti sugar baby yang tinggal dengan daddy-nya. Ya, Bayu memang seorang lelaki dewasa yang sudah berusia 32 tahun. Sedangkan ia, bisa dikatakan baru beralih dari usia remaja ke usia dewasa. Usianya baru 22 Tahun. Masih banyak hal yang ingin ia lakukan.
Air matanya kembali menetes. Setiap mengingat Ayash dadanya menjadi sesak dan sakit. Sebesar apapun ia mencoba untuk tegar, pada akhirnya ia kembali menangis. Ia ingin kembali bersama Ayash. Ia ingin segera keluar dari rumah itu.
Namun, ia tahu, sangat sulit untuk keluar dari tempat dengan penjagaan super ketat itu. Bayu tidak akan melepaskan mata darinya.
Prita menghapus air matanya. Tidak ada gunanya ia menangis. Bayu tidak akan melepaskannya. Yang harus ia lakukan adalah bersabar dan berpikir cara keluar dari sana tanpa sepengetahuan para penjaga.
Prita mulai merapikan rambutnya, kemudian memakai skincare ke wajahnya. Ia memoleskan make up tipis hanya untuk membuat wajahnya terlihat lebih segar. Semalam, ia kurang tidur dan banyak menangis. Matanya masih terlihat sembab.
Dari cermin, Prita melihat Bayu keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arahnya.
Bayu mengecup pipi kanan Prita dan memegangi kedua pundaknya, "Kamu cantik sekali." pujinya. "Apa pakaiannya pas untukmu?"
Prita hanya mengangguk.
"Bagaimana dengan perlengkapan riasnya, ada yang kurang?"
Prita menggeleng, "Tidak ada."
"Kalau ada yang kamu inginkan, katakan padaku. Aku akan memberikannya. Kecuali permintaan untuk melepaskanmu."
Prita sudah menduga kalimat pengecualian itu. Padahal itu adalah hal yang paling ia inginkan.
"Aku ingin membeli pakaian lain. Aku tidak nyaman dengan pakaian seperti ini."
Bayu mengerutkan keningnya, "kamu cantik kok, memakai pakaian seperti ini. Sangat cocok untukmu. Kamu kelihatan lebih dewasa."
"Aku tidak terbiasa memakai pakaian seperti ini. Rasanya sangat tidak nyaman."
Bayu mendekatkan wajahnya, "Mulai sekarang, kamu harus terbiasa dengan pakaian seperti ini. Kamu juga harus mulai terbiasa hidup bersamaku. Percayalah, jika kamu menjadi penurut, hidupmu akan menyenangkan. Lupakan kehidupanmu sebelumnya. Aku bisa memberikan segalanya untukmu." bisiknya.
Prita mematung. Tangannya kembali mengepal. Dalam hatinya, ia benar-benar marah.
"Ayo kita sarapan." ajak Bayu seraya menggandeng tangan Prita.
Prita hanya mengikuti kemauan Bayu. Mereka keluar kamar menuju dapur yang ada di lantai bawah.
"Selamat pagi, Tuan." sapa seorang pelayan yang tampaknya sudah berusia di atas 50 tahunan.
"Selamat pagi, Bi Ratna." balas Bayu.
__ADS_1
Bayu menarik satu kursi dan meminta Prita untuk duduk di sana. Sementara Bayu duduk di sebelah Prita. Para pelayan mengambilkan makanan untuk Bayu dan Prita.
Prita tercengang. Biasanya ia selalu mengambil makanannya sendiri jika makan. Sekarang, ia hanya perlu duduk dan membiarkan para pelayan mengambilkan makanan untuknya.
Di mansion Ayash yang banyak pelayan, tak pernah ia melihat pelayan mengambilkan makanan untuk majikannya. Pelayan hanya menyiapkan makanan dan majikannya akan mengambil makanan sesuka mereka sendiri.
"Perkenalkan, Ini Prita, pacarku. Mulai sekarang, dia akan tinggal di sini. Kalian harus melayaninya dengan baik." ucap Bayu.
"Baik, Tuan." jawab kelima pelayan yang ada di dapur.
Setelah mereka selesai menyajikan makanan, mereka langsung pergi meninggalkan dapur.
"Makanlah!" pinta Bayu.
Menu sarapan pagi itu soto bening daging ayam. Prita mulai menyendok makanannya. Rasanya enak karena pasti juru masaknya sudah berpengalaman.
"Kamu suka menunya?"
Prita mengangguk.
"Kalau kamu menginginkan menu lain, kamu bisa meminta kepada Bi Ratna. Dia bisa memasak dengan baik."
"Iya."
"Bos... " Beni tiba-tiba saja muncul dan sudah berdiri di ruang makan mereka.
"Ben, sini sarapan dulu." ajak Bayu.
"Terima kasih, Bos. Saya sudah sarapan." mata Beni terus memperhatikan wanita di sebelah bosnya.
"Ada urusan apa pagi-pagi begini sudah datang?"
"Saya ingin membicarakan kejadian semalam."
Ucapan Beni membuat Bayu menghentikan aktivitas makannya. "Kita bicarakan di ruang tamu." ucapnya.
"Sayang, kamu lanjutkan sarapannya. Aku mau berdiskusi dulu dengan Beni." Bayu mengecup pipi Prita kemudian berjalan meninggalkan ruang makan menuju ruang tamu. Beni mengikutinya.
"Kenapa, Ben?"
"Apa yang sudah Anda lakukan semalam, Bos?"
Bayu menyeringai, "Memangnya apa yang sudah aku lakukan, Ben? Kenapa sepertinya kamu kesal sekali."
"Ini bukan saatnya bercanda, Bos. Ayah Anda pasti akan marah kalau tahu."
"Kalau begitu jangan beri tahu!" tegas Bayu.
"Tapi... kesepakatan dengan Tuan Arga.... "
"Batalkan!"
__ADS_1
"Tidak semudah itu. Mereka sudah membayar uang mukanya dan Anda malah menghajar adiknya habis-habisan. Dia tidak akan terima dengan mudah."
"Kembalikan uangnya dan tambahi jadi 2 miliyar. Katakan padanya kita tidak mau melakukan request-nya. Kalau dia tetap tidak terima, ancam dia kalau kita akan memberitahukan kelakuannya kepada keluarganya."
"Itu bisa menurunkan reputasi kita, Bos."
Bayu menghela nafas, "Lakukan apa yang aku katakan. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Aku sudah cukup kesal dengan semua ini. Jangan tambah membuatku marah!"
"Saya melakukan ini juga untuk kebaikan Anda, Bos."
"Iya, aku tahu. Selama ini hanya kamu yang selalu setia dan membelaku. Hanya kamu orang yang bisa aku percaya dan andalkan. Aku harap kali inipun kamu masih dipihakku."
"Selamanya saya akan setia padamu, Bos."
"Tolong kamu selesaikan masalah ini. Tidak perlu lagi kita mengurusi masalah keluarga Hartadi. Dan kembalikan uang Arga dua kali lipat."
"Tapi mungkin Anda akan mengalami kesulitan, Bos. Ayash pasti tidak akan tinggal diam setelah semua yang Anda lakukan. Apalagi Anda membawa pacarnya. Saya yakin dia akan kembali dan mencati Anda."
"Kalau begitu, bunuh dia!"
Prang!
Mereka berdua kaget mendengar suara benda terjatuh. Ternyata Prita baru saja menjatuhkan gelas yang dipegangnya.
"Prita.... " Bayu terkejut karena Prita sudah berdiri di sana dan mendengar pembicaraan mereka.
"Kamu pergi saja, aku akan menyelesaikan masalah ini dulu. Nanti kita bertemu di kantor."
Bayu langsung bangkit dan menghampiri Prita yang masih mematung di tempatnya. Ia langsung menggendong tubuh Prita di pundaknya.
"Lepas! Lepas! Lepas... !" Prita terus meronta-ronta sambil memukuli punggung Bayu.
Namun apapun usahanya, seperti tidak berarti bagi Bayu. Ia dibawa kembali ke kamar lantai atas.
Bruk!
Bayu melemparkan Prita ke ranjang. "Kenapa kamu menguping?"
"Kamu sudah berjanji tidak akan menyentuh Ayash kalau aku menurut padamu! Kenapa sekarang kamu berencana untuk membunuhnya!" Prita berkata dengan nada penuh emosi. Air matanya kembali menetes.
"Kamu salah dengar."
"Aku mendengarnya dengan jelas kamu mau membunuhnya!"
"Kalau dia sampai mati, aku juga akan ikut mati. Huuuu... huuu... huuu.... " ancam Prita sambil terisak-isak.
Bayu memeluknya, "Aku tidak akan melakukannya. Jadilah penurut, aku tidak akan mengusiknya. Aku berjanji padamu. Kamu bisa mempercayaiku."
Setelah tangisan Prita mereda, Bayu melepas pelukannya. "Aku harus pergi ke kantor. Kamu tetaplah menjadi wanita manis di sini dan tunggu aku pulang. Jangan melakukan apapun yang aku larang. Kamu mengerti?"
Prita mengangguk, "Kamu juga harus memegang janjimu. Kamu tidak boleh mengusik dia sedikitpun. Kalau kamu ingkar janji, aku lebih baik mati."
__ADS_1
"Ya, aku tidak akan mengusiknya. Aku pergi dulu."
Bayu mengecup singkat bibir Prita sebelum akhirnya ia pergi ke kantornya.