ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Wedding Dress


__ADS_3

"Prita, yang ini sepertinya cocok."


Sore ini, Prita dan Mama Maya ada di Queenza Bridal, salah satu butik ternama di Kota S. Maya menjemput paksa Prita yang sedang bekerja di kafe untuk memilih pakaian pengantinnya.


Sejak tadi, Prita hanya diam di depan kaca. Maya sibuk mondar-mandir memilih gaun yang sekiranya cocok untuk calon menantunya itu. Beberapa potong pakaian ia ambil, kemudian ia coba tempelkan di badan Prita.


"Ini modelnya mewah dan elegan. Kamu coba pakai, ya."


Maya memberikan gaun pilihannya dan mendorong Prita agar masuk ke ruang ganti.


Prita menggantungkan gaun berwarna putih itu pada cantelan yang terpasang di sisi dinding. Dilepaskannya kemeja dan rok yang membalut tubuhnya. Tersisa pakaian dalam yang masih melekat di tubuh. Ia berdiri tegak, memandang lurus pada cermin besar yang ada di hadapannya. Ia pandangi pantulan dirinya sendiri.


'Prita, lihatlah dirimu. Tubuhmu ini sudah sering dijamah lelaki brengsek itu. Apa menurutmu Ayash masih mau menyentuhmu? Kamu benar-benar wanita tidak tahu diri, masih berharap bisa diterima keluarganya dengan baik?'


Bulir-bulir air mata mulai keluar dari matanya. Nafasnya tiba-tiba terasa sesak. Tubuhnya terkulai ke lantai seakan ia tak memiliki kekuatan lagi untuk berdiri. Di dalam kamar berukuran 2x2 meter itu ia menangis menahan isakan. Ada perang batin dalam dirinya yang membuat nafasnya tercekat.


Pantaskah ia memakai gaun seindah itu dan bersanding dengan lelaki yang sangat ia cintai di pelaminan? Sementara, Ayash belum tahu bahwa wanita yang sangat dicintainya sudah berkali-kali menjadi pemuas nafsu laki-laki lain. Prita belum sanggup untuk mengatakan semuanya. Apakah Ayash masih mau menerima ketika ia berkata jujur?


Bukan maunya menjadi seperti itu. Bayu yang telah merampas mahkotanya sebagai seorang wanita. Itu bukan salahnya. Tapi, apakah orang lain juga tak akan menyalahkannya?


Menikah dengan Ayash adalah mimpi yang selama ini diingkan. Ia ingin hidup bersama dengan Ayash selamanya. Ia ingin menikmati pengalaman pertama bercinta dengan orang yang ia cinta. Namun semua itu sudah tidak mungkin lagi. Semuanya tak lagi seindah dulu. Bahkan, pernikahan rasanya seperti hantu yang membuatnya takut.


Tok tok tok....


"Prita, kamu kenapa? Kok lama sekali?"


Prita segera menghapus air matanya, "Iya, Tante. Sebentar lagi Prita keluar."


Tak ingin membuat Mama Maya khawatir, Prita segera bangkit. Diambilnya dress pilihan calon mertuanya itu dan memakainya. Ia melihat bayangan dirinya dalam balutan gaun putih. Gaun itu sangat cantik dan pas menempel di badannya.


Prita mengambil bedak dari dalam tas. Ia menyapukan tipis-tipis bedak itu untuk menutupi bekas air matanya. Ia kembali memasang senyum dan bertingkah seolah semuanya baik-baik saja.


"Wah... kamu cantik sekali, Sayang." puji Maya ketika Prita baru keluar dari ruang ganti.


"Ukuran bajunya juga pas. Kamu tampak seperti ratu mengenakan ini. Sepertinya aku memang punya bakat jadi fashion stylist. Hahaha.... "


Prita hanya tersenyum melihat Mama Maya yang tampak sangat bahagia.


"Kita ambil yang ini saja, bagaimana?"


"Terserah tante saja. Kalau tante suka, aku mau memakainya."


"Ah, kamu memang anak yang manis dan penurut. Itulah kenapa tante selalu ingin memiliki seorang anak perempuan. Dan, sebentar lagi, kamu akan jadi anak tante."

__ADS_1


Prita tersenyum getir mendengar ketulusan Mama Maya. Akankah beliau masih mau menerimanya jika tahu kondisi yang sebenarnya? Mama Maya orang yang sangat baik. Ia takut akan membuat kecewa.


"Mahkotanya mau pakai yang mana? Yang ini atau ini?" Maya kembali membawa dua mahkota di tangannya. Ia menyuruh Prita untuk memilih.


"Yang ini sepertinya bagus." Prita memilih mahkota yang ada di tangan kanan Mama Maya.


"Iya. Walaupun desainnya sederhana, tapi permatanya kelihatan mewah, tidak berlebihan."


"Prita!"


Dari arah pintu muncul Ayash. Ia masih memakai pakaian kerjanya. Sepertinya, dari kantor ia langsung menyusul mama dan Prita ke butik.


Ayash terpesona melihat kekasihnya dalam balutan gaun pengantin putih. Sangat cantik dan anggun seperti seorang bidadari. Bidadari itu melemparkan senyuman kepadanya.


"Oh, kamu datang juga? Gimana, Prita cantik nggak?"


"Ehm, cantik ma... cantik banget.... "


"Mama lho, yang pilihin baju ini."


"Ya, Ma. Tapi bilang Ayash dulu dong kalau mau ajak Prita pergi. Aku sampai khawatir aku kira Prita hilang."


"Dari kemarin kan mama sudah ajak kamu ke butik. Katanya nggak bisa, karena sibuk banyak kerjaan. Ya sudah, mama ajak saja Prita."


"Ih! Anak ini ya." Maya menjewer telinga Ayash, "Mana ada mama pernah maksa Prita."


"Sudah, Tante. Kasihan Ayash."


"Tante nggak maksa kan tadi?"


"Iya, Tante nggak maksa kok. Prita yang memang mau ikut tadi."


"Tuh, denger!"


"Saya ganti baju dulu, ya."


"Iya, Sayang."


Prita masuk kembali ke ruang ganti. Ia melepas gaunnya dan mengenakan kembali pakaiannya.


Prita kembali menatap dirinya sendiri dalam cermin. Ia sedang memantapkan hati untuk berbicara serius dengan Ayash. Ia akan mengatakan semuanya. Jika Ayash masih mau menerimanya, itu akan menjadi sebuah kebahagiaan yang besar baginya. Tapi, jika Ayash membencinya, ia akan bersiap untuk meninggalkannya. Ia akan pergi sejauh mungkin dari Ayash.


Saat keluar dari ruang ganti, Mama Maya tidak tampak ada di sana. Hanya ada Ayash yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Tante Maya mana?"


"Mama sudah pulang duluan. Tadi Papa telepon. Kamu sudah selesai?"


"Iya."


"Kalau begitu, ayo kita pulang."


"Bajunya bagaimana?"


"Nanti akan diurus. Tadi sudah aku bayar semua."


Ayash menggandeng tangan Prita. Mereka berjalan keluar menuju tempat parkir. Tampak di sana ada Mercedes Benz SL putih milik Ayash.


Sebelum sampai ke mobil, Prita menghentikan langkahnya.


"Sayang, kenapa?" Ayash sedikit khawatir karena Prita berhenti tiba-tiba.


Prita merasa kepalanya pening dan perutnya mual. Ia duduk berjongkok sambil memegangi kepalanya.


"Huek... Huek.... Huek.... "


Prita memuntahkan cairan bening dari dalam mulutnya. Badannya terasa tidak enak dan kepalanya semakin pusing.


Ayash membantu memijit tengkuknya.


"Aku pusing..... " keluh Prita.


Ayash melihat wajah Prita yang memucat. Ia jadi semakin khawatir. Digendongnya Prita masuk ke dalam mobil. Prita masih memegangi kepalanya. Badannya lemas seperti tak bertenaga.


"Kamu pasti kelelahan. Seharusnya tadi jangan mau diajak Mama ke butik." Ayash berusaha fokus di balik kemudinya sambil sesekali memperhatikan Prita yang tampak lemah.


"Aku tidak tega menolak. Tante kelihatan senang dan bersemangat mempersiapkan pernikahan ini. Aku hanya ingin membuat tante senang."


"Terima kasih sudah membuat mamaku senang. Tapi, kesehatanmu juga penting. Lain kali, jangan memaksakan diri, ya. Jangan buat aku khawatir."


"Iya, maaf."


"Sekarang, kita harus ke dokter."


"Hah, untuk apa? Aku hanya sedikit pusing saja. Nanti setelah beristirahat juga pasti sembuh."


"No, kita tetap harus ke dokter. Sebentar lagi kita akan menikah, aku tidak mau kamu sampai sakit. Mama juga pasti akan sering membawamu kesana kemari."

__ADS_1


__ADS_2