ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Berita Baik


__ADS_3

Ting tong...


Suara bel ditekan. Prita yang sedang berada di dapur segera beranjak ke pintu depan. Sebelum membuka pintu, ia mengintip lewat kaca jendela. Tampak sebuah mobil Mercedes Benz SL warna putih terparkir di depan rumahnya. Perasaannya lega karena yang datang adalah Ayash, bukan Bayu.


Ceklek!


Suara pintu dibuka. Prita mengeryitkan dahinya ketika melihat sosok kekasihnya itu. Ada plester luka yang melekat di dahi dan telapak tangan kirinya dibalut perban.


"Kamu kenapa, Yang?" tanyanya khawatir.


Ayash langsung memeluk tubuh Prita, "Aku kangen banget sama kamu."


"Ayo kita masuk dulu. Kamu hutang penjelasan padaku."


Prita menarik Ayash menuju ruang makan. Diambilkannya nasi dengan sayur sop, ayam goreng dan tempe untuk Ayash. Ia kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.


"Maaf, ya. Semalam aku tidak bisa jemput kamu."


"Nggak apa-apa, Yang."


"Ah, iya. Kenapa semalam kamu telepon berkali-kali, apa ada masalah?"


Prita langsung mematung. Ia kembali teringat ciuman agresif Bayu semalam. Ia ragu harus menceritakan atau tidak. Ia takut Ayash akan menganggapnya wanita gampangan yang mau dicium orang.


"Ah... Mmm... nggak ada apa-apa, kok. Aku cuma khawatir sama kamu karena pesanku tidak dibalas. Jadi aku telepon. Ternyata tidak diangkat juga."


"Semalam ada sedikit masalah. Sepulang dari kantor, saat mau menjemputmu, ada segerombolan orang yang mau menyerangku di parkiran. Aku sempat melawan. Tapi mereka bawa senjata. Ini tanganku nangkis pisau yang mau ditusuk ke arahku. Dan luka di kepala ini, karena ada yang memukulku pakai kayu. Aku pingsan setelah dipukul."


"Ya Tuhan... kok bisa sampai begitu... Terus, bagaimana dengan orang-orang jahat itu sekarang."


"Katanya sih mereka kabur setelah keamanan datang. Untunglah keamanan cepat datang dan langsung membawaku ke rumah sakit. Aku baru tadi pagi sadar dan setelah melihat riwayat panggilan dari kamu, aku buru-buru kemari. Untunglah kamu baik-baik saja." kata Ayash sambil tersenyum.


Prita menghela nafas. Sebenarnya semalam memang terjadi sesuatu, tapi ia tak berani bercerita. Ciuman paksa itu masih terngiang-ngiang di pikiran. Membuatnya semakin merasa bersalah.


"Kamu kenapa sih, Yang. Kok sepertinya pagi ini nggak bersemangat?"


"Aku nggak apa-apa. Aku cuma berpikir, kira-kira siapa ya orang-orang jahat itu? Apa kamu punya musuh?" kilah Prita.


Ayash tersenyum, "Dunia bisnis kan memang seperti ini, Yang. Penuh musuh dan persaingan. Ini bukan pertama kalinya kok."


"Hah!? Jadi, kamu sering diincar penjahat?"


"Ya... beberapa kali pernah. Waktu kecil aku juga pernah dua kali diculik, lho."

__ADS_1


"Kok kamu nggak pernah cerita sih, Yang."


"Ya kalau aku cerita, nanti kamu khawatir. Ah, iya. Kamu juga harus lebih hati-hati mulai sekarang. Kalau lawan bisnisku tahu kamu pacarku, mereka bisa mengincarmu juga. Punya pacar yang kaya raya juga resikonya besar, Sayang. Hidupmu nggak akan tenang, pasti banyak cobaannya. Tapi kamu gak bakalan mundur, kan?" canda Ayash.


Prita hanya tersenyum.


Drrr.... Drrr....


Ayash mengambil ponselnya, "Mama video call." katanya pada Prita.


"Angkat saja."


"Hai, Ma..." Sapa Ayash ke layar ponsel yang menampilkan wajah ibunya.


"Kamu dimana, Sayang? Katanya di rumah sakit?" wanita paruh baya itu tampak khawatir dengan kondisi anaknya. Setelah kabar dari asisten suaminya tentang kejadian yang menimpa putranya, wanita itu langsung menghubungi anaknya yang ternyata dalam kondisi baik, tak seburuk bayangannya.


"Aku baru keluar dari rumah sakit, Ma. Ini sedang sarapan di rumah Prita." Ayash sedikit mengarahkan kamera ke arah Prita. Prita melambaikan tangan dan tersenyum.


"Kamu nggak apa-apa kan? Nggak ada luka serius?"


"Nggak ada, Ma. Aku baik-baik saja kok." Ayash memutar kedua bola matanya. Mamanya kekeh menanyakan kondisinya yang baik-baik saja.


"Kasih ponselnya ke Prita. Mama mau bicara."


Ayash langsung memberikan ponselnya kepada Prita. Sebenarnya Prita agak gugup dan belum siap kalau harus bicara dengan ibunya.


"Kamu apa kabar, sayang? Udah lama kita nggak ketemu."


"Kabar saya baik, Tante."


"Terima kasih, ya. Kamu sudah ajak Ayash sarapan. Anak itu sering lupa sarapan. Kurang peduli sama kesehatan. Padahal pekerjaannya banyak."


"Iya, tante."


"Tante selalu khawatir dengan kondisi anak itu. Tapi tante belum bisa pulang karena urusan disini belum selesai. Papanya masih membutuhkan tante untuk mendampingi. Tante mau minta tolong boleh?"


"Minta tolong apa, Tante?"


"Kamu temani Ayash, ya, selama Tante belum pulang. Kamu ikut saja tinggal di mansion. Tante khawatir dengan kondisinya. Katanya semalam kan sempat dikeroyok orang. Kamu mau, kan?"


"Ah, iya, Tante. Mau." balas Prita. Ia sungkan menolak permintaan mama Ayash.


"Terima kasih ya, Sayang. Kamu lanjutkan saja sarapannya."

__ADS_1


"Iya, Tante." balasnya seraya menutup panggilan itu.


Prita melirik ke arah Ayash yang sedaritadi senyum-senyum sendiri. "Kamu yang minta begitu ya, sama tante?" cecar Prita.


"Beneran nggak. Aku juga kaget denger mama ngomong begitu. Tapi aku suka sih." Ayash menyeringai.


Prita manyun.


"Ini kalau tiga bulan lagi mama pulang, kamu pasti bakal dilamar lho, Yang. Mama tuh suka banget sama kamu."


Ada perasaan lega setelah menerima telepon dari mama Ayash. Prita menyadari bahwa orangtua Ayash memang benar-benar bisa menerimanya. Mama Ayash masih sebaik dulu ketika ia masih SMA dan berteman dengan anaknya.


*****


"Dasar tidak berguna! Sudah berapa kali kalian gagal cuma buat nangkap satu orang?" Seseorang tampak sedang marah-marah dan menendangi anak buahnya dengan kasar.


"Maaf, Bos. Tapi Sistem keamanan perusahaannya super ketat. Bodyguard-nya ada dimana-mana. Kami sulit melakukan aksi." Kilah salah seorang di antara mereka.


"Alasan saja. Pergi kalian!"


Mereka langsung berduyun-duyun pergi meninggalkan ruangan.


"Tuan, boleh saya memberi saran?" Asisten lelaki itu angkat bicara setelah ruangan sepi.


"Saran apa, Glen?"


"Sebaiknya Anda meminta bantuan Tiger King. Mereka terkenal dengan hasil kerja yang rapi dan tanpa jejak.


"Tiger King? Apa itu?"


"Organisasi gelap milik Tuan Samuel Bagaskara."


Lelaki itu tampak terkejut mendengar nama Samuel Bagaskara. "Oh, jadi Tuan Samuel, pengusaha batubara itu punya bisnis gelap?"


"Benar, Tuan. Disamping perusahaan fisik Bagaskara Corp, Tuan Samuel juga memiliki perusahaan bayangan yang memperjual belikan senjata ilegal dan narkoba. Juga jasa keamanan dan pembunuhan bila perlu. Tiger King dibentuk untuk menjalankan bisnis tersebut."


"Pembunuhan?"


"Iya, Tuan."


"Tidak... tidak... aku hanya butuh adikku disembunyikan sampai aku mendapatkan perusahaan pertama Ayah. Walaupun Ayash hanya adik tiriku, tapi dia tetap keluargaku."


Ya, lelaki itu adalah kakak tiri Ayash, namanya Arga Hartadi.

__ADS_1


"Kalau begitu, atur pertemuan dengan Tiger King secepatnya."


"Baik, Tuan."


__ADS_2