
Setelah Prita berlari sekuat tenaga, akhirnya ia berhasil keluar dari ruang bawah tanah. Nafasnya tersengal-sengal. Ia berusaha mengatur nafasnya dan menenangkan dirinya.
Prita berjongkok. Kakinya lemas seperti tak bertenaga. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bayu benar-benar psikopat. Ia hampir membunuh orang tepat di depan matanya.
"Sayang.... "
Prita menutup kedua telinganya ketika Bayu menyentuh pundaknya, "Jangan mendekat."
Tanpa basa-basi Bayu langsung menggendong Prita. Prita reflek mengalungkan tangannya ke leher Bayu. Ia tak berani menatap mata Bayu.
"Kenapa kamu jadi orang terlalu baik? Kalau kamu tidak mau menyingkirkan musuhmu satu per satu, mereka akan bertambah."
"Aku tidak memiliki musuh."
"Hais... sudahlah! Kamu memang benar-benar orang yang baik hati."
"Aku jadi ingat pertama kita bertemu. Kamu menolongku malam itu, menyuruhku masuk rumahmu, dan mengobati lukaku. Itu hari pertama aku bertemu dengan orang yang benar-benar tulus. Dan aku sangat bersyukur dipertemukan denganmu malam itu."
Bayu bahagia mengingat pertemua pertama mereka. Sementara Prita merasa menyesal malam itu sudah menolongnya. Seharusnya malam itu ia menginap di rumah Ayash dan tak pulang ke rumah agar tidak bertemu dengan Bayu.
Bayu mendudukkan Prita di tepi ranjang, "Aku pergi dulu. Ada urusan yang harus aku selesaikan."
Bayu hendak pergi, namun Prita mencekal tangannya, "Apa yang mau kamu lakukan dengan Mario?"
Sampai terakhir, Prita masih memiliki rasa peduli pada Mario.
Bayu mengernyitkan dahinya, "Aku pergi bukan untuk mengurus Mario, kamu tenang saja. Aku pergi untuk urusan pekerjaan."
"Tolong lepaskan Mario. Masalahnya hanya denganku, bukan denganmu. Aku sudah memaafkannya. Jadi, lepaskan dia."
"Urusanmu berarti urusanku juga. Aku tidak mau ada yang menginginkanmu selain aku."
"Kamu sudah berjanji tidak akan menyentuh orang-orang terdekatku. Dia temanku sejak kecil, ibunya adalah sahabat ibuku. Meskipun terakhir kali kelakuannya keterlaluan, tapi kebaikan keluarganya sangat banyak untukku. Aku tidak bisa mengabaikannya. Aku sudah menjadi milikmu. Jadi, lepaskan dia."
Drrt... Drrt... Drrt....
Bayu mengambil ponsel dari saku celananya, nomor Beni tertera di layar.
"Halo?"
"Bos, ada sedikit kendala di jalan."
"Kendala apa?"
__ADS_1
"Ada banyak patroli polisi di jalan penghubung dengan Kota S."
"Posisi kalian dimana?"
"Di tepi hutan sebelum masuk Kota S."
"Aku kan sebelumnya sudah bilang, pakai rute memutar."
"Menurut salah satu informan, jalan ini aman bos, tapi nyatanya hari ini ramai patroli."
"Sudah, sudah! Kamu kirimkan lokasi dan tunggu aku di sana!"
Klik.
"Kenapa?" tanya Prita yang melihat Bayu gusar setelah menerima telepon.
Bayu tersenyum, duduk di sebelah Prita dan memeluknya, "Aku tidak apa-apa. Memelukmu membuat perasaanku tenang. Mungkin nanti malam aku tidak pulang. Jangan menungguku."
Cup
"Aku pergi dulu."
Bayu langsung bergegas pergi setelah mencium kening Prita. Masalah Mario terlupakan begitu saja. Tapi, perasaan Prita sedikit lega mendengar Bayu mengatakan malam ini tidak akan pulang. Itu artinya, ia bisa memiliki banyak waktu untuk memikirkan cara kabur.
*****
"Bos.... "
Plak!
Bayu memukul keras kepala Beni, "Aku kan sudah bilang, jangan mengambil keputusan sendiri, dasar bodoh! Niatmu memperpendek waktu malah jadi membuat masalah baru."
"Maaf, bos." Beni henya bisa menunduk.
"Hei, kamu bawa mobilku ke kantor." suruh Bayu kepada salah seorang pengawal seraya memberikan kunci mobilnya.
"Baik, bos."
"Dimana kendaraannnya?" Tanya Bayu.
Beni memimpin Bayu berjalan menyusuri hutan tempat mereka bersembunyi. Jalanan hutan itu masih berbatu-batu tapi cukup luas untuk dilewati kendaraan roda empat.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di hutan yang sepi. Ada dua truk besar dan dua mobil Jeep Rubicon warna hitam. Pengawal yang ada di sana berjumlah 15 orang. Mereka menyambut kedatangan Bayu.
__ADS_1
"Bagaimana barangnya?" tanya Bayu.
"Masih aman, Bos." jawab salah seorang pengawal.
Bayu naik ke atas bak truk untuk mengecek sendiri barang yang akan dikirimnya kepada seseorang. Sebenarnya kedua truk itu berisi 1 ton ganja yang akan dikirim ke Kota J. Ganja-ganja tersebut ditaruh dalam bak truk dalam kendi-kendi kecil tanah liat dengan menambahkan jerami untuk mengelabuhi polisi.
"Apa tadi sempat ada polisi yang mengejar kalian?"
"Ada polisi yang sempat curiga, Bos. Tapi sebelum mereka mengejar, kami sudah mengalihkan perhatian mereka dan bersembunyi di sini."
"Kalian benar-benar payah! Baru aku lepas sekali sudah membuat masalah!"
Bayu sangat kesal dengan kebodohan anak buahnya. Memang, hari ini rencananya pengantaran barang itu tanpa pendampingan dirinya. Karena di kantor ia ada pertemuan penting dengan rekan bisnisnya. Jadi, urusan diserahkan kepada Beni. Dia sudah memberikan rute teraman untuk perjalanan mereka. Namun, Beni satu pihak merubah rencana yang telah disusun oleh bosnya.
Ini adalah bisnis asli yang dijalankan Bayu. Karena bisnis inilah ia jarang masuk kantor. Niatnya hari ini ia hanya setengah hari kerja untuk menghabiskan waktu panjang bersama wanita kesayangannya. Semuanya kacau gara-gara Beni. Kalau saja Beni bukan orang yang paling setia kepadanya, mungkin saat ini ia sudah menembaknya.
"Sekarang, keluarkan semua barang-barang itu dari dalam kendi."
"Maksudnya, bos?" Beni tidak paham.
"Polisi sudah sempat mencurigai kalian. Jadi, identitas truk ini pasti sudah diincar. Kalian harus tetap membawa truk ini jalan tapi turunkan dulu semua barang-barang kita dan biarkan kendi dan jeraminya."
"Nanti akan ada truk lain yang datang dan mengangkut barang-barang kita. Mereka akan membawa barang-barang ini sesuai rute awal yang aku tunjukkan."
"Lakukan sekarang!" Perintah Bayu.
"Baik, Bos."
Para pengawal langsung bergegas mengeluarkan satu persatu barang haram itu dari atas truk.
Bayu menangkupkan kedua telapak tangan ke kepalanya. Sepertinya ia frustasi.
"Maaf, Bos." ucap Beni yang masih merasa tak enak hati.
"Sudahlah, Ben. Sudah terjadi mau bagaimana lagi. Yang penting lain kali jangan diulangi."
"Siap, Bos."
Bayu dan Beni memperhatikan anak buah mereka yang sibuk mengeluarkan satu per satu ganja dari dalam kendi. Hal ini sangat memakan waktu, tapi sangat penting untuk keselamatan mereka.
Hari sudah menjelang malam. Mereka sudah selesai mengeluarkan ganja dari dalam truk. Truk-truk pengganti juga sudah datang. Bayu mengintruksikan truk-truk pengangkut kendi untuk jalan melewati jalur sebelumnya menuju Kota S. Sementara ia memerintahkan anak buahnya yang lain untuk memasukkan ganja-ganja itu ke dalam truk yang bagian bawahnya memiliki tempat khusus untuk menyembunyikan barang itu.
Bayu dan Beni naik mobil Jeep yang sama. Mereka mengikuti truk pengangkut kendi, sementara truk pengangkut ganja melewati jalan yang berbeda.
__ADS_1
Malam semakin larut. Seperti dugaan, di dekat pintu masuk Kota S, mereka dicegat polisi yang sedang melakukan patroli. Para polisi itu mengecek isi muatan truk dan surat izin yang dibawa oleh sopirnya. Mobil Bayu juga tak luput dari pemeriksaan.
Setelah pemeriksaan yang cukup lama, polisi tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Akhirnya, kedua truk dan mobil Jeep itu mereka lepaskan. Bayi tersenyum menyeringai ketika berhasil melewati polisi.