ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Ada Kehidupan di Dalam Perutku


__ADS_3

"Keluhannya apa?"


Seorang dokter wanita bernama dr. Damayanti menerima Prita dan Ayash di ruangannya. Orangnya kelihatan ramah dan santun dilihat dari cara bicaranya.


Mereka berada di Rumah Sakit Orin Internasional, rumah sakit terdekat dari butik yang sebelumya mereka datangi. Ayash sangat khawatir dengan kondisi Prita, sehingga ia segera membawanya untuk diperiksa di rumah sakit.


"Badan saya terasa lemas, dok. Kepala saya juga pusing. Tadi saya sempat muntah." Prita berusaha menerangkan segala keluhan yang ia rasakan.


Dokter itu tampak membuat catatan pada selembar kertas sesuai dengan keterangan yang diberikan Prita.


"Baik, silakan naik ke ranjang dulu, ya. Saya akan coba periksa."


Prita bangkit dari duduk dan naik ke ranjang yang disediakan. Dokter memasang stetoskopnya dan mulai menempelkannya di sekitar area dada Prita. Ia tampak serius mendengarkan sesuatu dari stetoskopnya. Wajahnya seperti menunjukkan keraguan. Entah apa penyakit yang ia temukan, sepertinya hal yang cukul serius.


"Oke, sudah. Silakan duduk kembali."


Dokter Damayanti kembali duduk berhadapan dengan Prita dan Ayash. Sorot matanya menyiratkan suatu hal serius yang ingin dibahas.


"Mohon maaf sebelumnya, boleh saya bertanya, hubungan kalian berdua apa?"


Prita dan Ayash saling berpandangan. Pertanyaan seperti itu cukup aneh ditanyakan kepada seorang pasien.


"Saya pacarnya, Dok. Dalam waktu dekat ini juga kami akan mengadakan pesta resepsi pernikahan." jawab Ayash.


Dokter Damayanti tersenyum, "Oh, selamat ya, atas pernikahannya. Semoga lancar. Mba Prita ini tidak sakit, hanya kelelahan saja. Mungkin terlalu capek ya, mengurusi acaranya."


"Iya. Tadi tiba-tiba sempat mau pingsan setelah memilih gaun pengantin di butik."


"Oh, begitu. Untuk pemeriksaan lebih detail, saya sarankan setelah ini, Mba Prita mampir ke klinik obgyn, ya?"


Deg!


Prita dan Ayash kembali saling berpandangan. Klinik obgyn? Kenapa harus ke tempat itu?


Air muka Prita kembali memucat. Detak jantungnya berdebar lebih kencang. Firasatnya mengatakan ada hal buruk yang akan terjadi.


"Ssaya... Hamil?" Prita bertanya dengan suara bergetar.


"Saya belum bisa memastikan. Karena itu saya menyarankan Mba Prita untuk ke ruangan obgyn untuk mendapatkan diagnosa yang lebih pasti."

__ADS_1


"Silakan bawa catatan ini dan berikan kepada dokternya. Ruangan obgyn ada di lorong kiri paling ujung."


Prita menerima lembar catatan itu, "Terima kasih, Dok."


Prita melirik ke arah Ayash yang diam sambil memegangi kepalanya.


"Kami permisi, Dok."


"Iya, silakan."


Prita keluar dari ruangan Dokter Damayanti. Tatapan matanya kosong, perasaannya sangat kacau. Ia bahkan belum berani jujur kalau dirinya sudah pernah ditiduri Bayu. Sekarang, ada lagi berita yang membuatnya semakin kacau. Kemungkinan ada kehidupan baru di dalam perutnya.


Rasanya ia tak akan sanggup mengetahui kebenaran kondisinya. Ia merasa, memang sepertinya ia hamil. Kemungkinan hamil sangat besar. Bayu menjamahnya bukan hanya sekali dua kali, tapi berkali-kali dan tanpa pengaman. Tidak mungkin jika dia tidak hamil.


"Ta!"


Ayash mencekal tangan Prita yang hendak pergi keluar dari area rumah sakit. Prita tak berani menatap Ayash. Air matanya hampir keluar, tapi masih kuat ia tahan. Mengingat saat ini ia ada di tempat umum.


"Aku ingin pulang." Prita ingin menghindari semuanya.


"Kita akan pulang setelah dokter memeriksamu." nada Ayash sedikit tegas dan memaksa.


Prita kembali berbaring di ranjang pemeriksaan. Kali ini Dokter Rania yang memeriksanya. Perutnya dilumuri semacam gel yang memberikan sensasi dingin.


"Kita mulai ya pemeriksaannya." Dokter Rania mulai menggerakkan alat di area perut Prita yang sudah dilumuri gel.


"Oh, ayah bunda coba lihat deh, dede bayinya sudah mulai terlihat." Dokter Rania terlihat antusias mengajak Prita dan Ayash melihat tampilan janin pada layar monitor.


Prita sudah lemas. Ternyata ia benar-benar hamil. Dengan perasaan cemas, ia memberanikan diri melirik ke arah Ayash. Ayash tampak tenang sambil ikut memperhatikan monitor di hadapannya. Air mata Prita menetes. Entah bagaimana caranya nanti ia akan menjelaskan semua ini.


"Ini dede bayinya sudah usia 8 minggu atau sekitar 2 bulan, ya. Besarnya masih sebiji kacang merah, masih sangat kecil. Tapi, hari demi hari dia akan cepat tumbuh. Panjangnya masih sekitar 2,7 centimeter. Wajahnya sudah mulai terbentuk, ini ada telinganya, bibirnya, hidungnya... dan sudah mulai aktif bergerak."


"Loh, kok bundanya menangis?"


Prita mengusap air matanya kemudian tersenyum.


"Dia hanya terharu saja, Dok." ucap Ayash.


"Oh, begitu, ya. Pasti ini kehamilan pertama, kan?"

__ADS_1


"Benar, Dok."


Prita hanya bisa menunduk. Ayash menjawab pertanyaan dokter dengan santainya seakan tidak terjadi apa-apa.


Dokter Rania meletakkan kembali alatnya. Ia membersihkan gel yang sebelumnya dioleskan ke perut Prita.


"Dijaga baik-baik ya, kehamilannya."


"Iya, Dok."


Prita kembali duduk di sebelah Ayash. Ayash menggenggam tangannya, seolah memberitahu bahwa ia ingin menguatkannya.


"Saya tidak akan meresepkan obat apapun, karena kehamilan adalah hal yang normal, sensasi mual muntah itu juga normal akibat perubahan hormon. Bunda hanya perlu menjaga pola makan, asupan gizi, dan jangan beraktivitas berlebihan. Karena, usia kehamilan dua bulan itu biasanya ibu hamil akan merasa cepat lelah. Bila dirasa perlu, bisa ditambah konsumsi asam folat dan zat besi yang baik untuk pertumbuhan janin. Ayah juga harus membantu bundanya, ya, jaga bundanya agar tidak stress."


"Iya, dok."


"Kalau boleh tahu, usia bundanya berapa, ya?"


"22 tahun, Dok."


"Oh, sudah 22 tahun, ya? Saya kira masih belasan, wajahnya masih kelihatan imut banget kayak anak SMA."


Prita memasang senyum. Sepertinya Dokter Rania tipe dokter yang suka bercanda dengan pasiennya.


"Baik, saya rasa konsultasinya cukup. Jika ada permasalahan seputar kehamilan, ayah dan bunda bisa datang kembali ke sini. Ini hasil foto dede bayinya, ya."


Prita menerima lembar foto yang Dokter Rania Berikan. Itu foto calon anak yang ada di dalam perutnya.


"Kami permisi dulu, Dok. Terima kasih."


"Iya, sama-sama."


Ayash mengulurkan tangan menyalami dokter. Prita mengikuti. Setelah itu, keduanya keluar ruangan meninggalkan rumah sakit menuju tempat parkir.


Sepanjang perjalanan pulang, mereka saling dia. Ayash fokus dengan kemudinya. Tatapannya terlihat dingin, tak seperti biasanya. Prita jadi takut untuk memulai pembicaraan. Ini pertama kalinya ia melihat Ayash bersikap seperti itu. Diam dan dingin bagaikan es batu. Tak ada lagi Ayash yang bersikap hangat dan perhatian padanya.


Beberapa kali Prita menghela nafas. Entah mengapa masalah yang ia hadapi tak kunjung selesai. Bahkan, menjadi masalah yang semakin rumit dan pelik untuk diselesaikan.


Prita mengepalkan kedua tangannya. Ia mengumpulkan keberaniannya sendiri. Apapun yang akan terjadi, ia akan menjalaninya dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


__ADS_2