ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Tragedi


__ADS_3

Bayu bergegas turun dari atas private jet. Langkahnya sangat cepat hingga Ben ikut terburu-buru mengikutinya.


"Bos, lebih baik Anda berhenti dan beristirahat. Anda terlihat sangat pucat karena luka itu. Ini sudah larut malam dan mereka pasti telah selesai melangsungkan pernikahan." Ben mencoba menasehati namun Bayu tak mendengarkannya.


"Bos.... "


Bayu menghentikan langkah. Ia meraih kerah baju Ben hampir-hampir mencekiknya.


"Tenagaku masih kuat kalau hanya untuk menghajarmu sampai mati, Ben. Lebih baik kamu pergi dan jangan campuri urusanku!" tegas Bayu.


Ia kembali berjalan ke arah pintu keluar bandara. Di luar sudah ada anak buahnya yang menunggu.


"Maaf , Bos. Sepertinya tidak akan cukup waktu untuk menggagalkan pernikahan itu." kata Alex dengan sikap sedikit ketakutan.


"Berikan kuncinya!"


Alex mengeluarkan kunci mobil yang langsung disambar oleh Bayu.


Bayu segera memasuki mobil ferrari hitam kesayangannya dan buru-buru tancap gas. Tak ada pesan yang ia sampaikan kepada anak buahnya. Ia meninggalkan mereka semua di bandara.


Fokusnya hanya menemui Prita. Entah nanti apa yang akan terjadi, ia akan menyeret Prita pergi dari gedung pernikahan. Masa bodoh dengan kondisi tubuhnya yang masih sakit dan lemah. Tak ada sakit yang ia rasa selain sakit hati mendengar kabar pernikahan Prita.


Bayu menyetir dengan membabi buta, menyalip kendaraan-kendaraan yang ada di depannya.


*****


Ayash dan Prita berpamitan kepada satu per satu keluarga dan teman dekatnya. Mereka akan meninggalkan tempat resepsi pernikahan menuju hotel yang telah dipersiapkan untuk bulan madu keduanya.


Irgi menjadi orang yang paling berat melepaskan Prita. Sejak tadi dia terus menggandeng Prita dan memeluknya seakan tak mau melepaskan. Ayash jadi kesal melihat kelakuannya.


"Irgi, lepasin pelukannya." protes Ayash.


"Sudah, Ir. Ada Raeka lho." Prita mencoba melepaskan pelukan Irgi.


"Ta... harusnya kamu nggak cepat-cepat menikah sama si songong itu."


"Kelakuanmu seperti tidak akan bertemu denganku lagi selamanya. Aku kan hanya menikah dengan Ayash, kita masih bisa bertemu setiap hari."


"Janji ya, kamu harus bahagia."


Prita tersenyum, "Pasti."


Irgi mengusap air mata yang menetes saat melihat Prita memasuki mobil pengantin bersama Ayash. Melepaskan Prita menjadi istri lelaki lain rasanya berat meskipun bukan berarti ia ingin memiliki Prita untuk dirinya sendiri. Tapi, ia ingin Prita tetap menjadi Prita sama seperti tahun-tahun yang pernah mereka lewati berdua.


Mobil pengantin mulai melaju berbaur dengan kepadatan lalu lintas kota malam.


"Kamu lelah?"

__ADS_1


Ayash menyandarkan kepala Prita di bahunya.


"Tidak, aku tidak merasa lelah sedikitpun. Hari ini aku bahagia sekali bisa bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi."


"Apa dia juga tidak rewel hari ini?" Ayash mengelus perut Prita.


"Iya. Dia sangat pintar. Sepanjang hari ini tidak membuatku kesusahan."


"Apa nanti juga dia bisa tenang ya, kalau malam ini aku akan mengganggu ibunya?"


Prita tertawa mendengar ucapan Ayash. "Sepertinya nanti dia akan menendangmu."


Mobil terus melaju dan kini melewati jalanan yang cukup sepi. Masih terdengar senda gurau pengantin di bangku belakang mobil. Sang sopir tetap fokus pada kemudinya.


Dor!


Mobil tiba-tiba oleng karena salah satu ban meletus. Sang sopir berusaha tetap menyeimbangkan laju kendaraannya. Segera ia menepikan mobil agar tidak menabrak pepohonan.


Jantung Prita berdegup kencang hingga terasa mau copot. Ayash dan sang sopir juga nerasakan hal yang sama. Mereka bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi.


"Kenapa itu tadi, Rud?" tanya Ayash kepada sopirnya.


"Sepertinya bannya meletus, Pak."


Mobil mereka terhenti di area hutan kota. Meskipun terletak di tengah kota, namun saat malam daerah itu sepi. Terutama malam itu, tak ada kendaraan yang lewat.


Rudi keluar dari mobil mengecek kondisi ban depan kiri yang kempes karena terkena peluru. Untung saja mereka masih bisa selamat.


"Bagaimana ini?" Prita menggenggam erat tangan Ayash karena ketakutan.


"Jangan takut, semua akan baik-baik saja. Rudi akan segera mengganti bannya dan kita akan melanjutkan perjalanan."


Ayash membawa Prita ke dalam pelukannya. Sebenarnya dia sendiri juga merasakan firasat buruk, namun tak berani menunjukannya pada Prita.


Dor!


"Ah....!"


Ayash dan Prita terhenyak mendengar suara tembakan dan teriakan Rudi dari arah belakang. Mereka semakin merasa ada yang tidak beres.


Tiba-tiba muncul seseorang yang membuka pintu samping Prita. Tampak Mario berdiri di sana dengan tangan yang memegang pistol. Tatapan matanya tajam penuh kemarahan menatap nyalang pada Prita dan Ayash.


"Apa maumu?" tanya Ayash.


Tanpa basa-basi, Mario menodongkan senjata tepat di kepala Prita.


"Prita, keluar kalau tidak mau aku menembak orang lagi!" ucapannya begitu tegas.

__ADS_1


Ayash memegangi tangan Prita, memberi isyarat agar dia tak perlu mendengarkan kata-katanya.


Dor!


Mario menembak kaca samping Ayash hingga pecah berkeping-keping. Ia menyeret paksa Prita keluar dari mobil sambil terus menodongkan pistolnya.


"Kamu tetap diam di sana atau aku akan menembak Prita!"


Prita terseok-seok mengikuti langkah kaki Mario. Sepatu hak tinggi yang ia kenakan menyulitkan langkah ditambah dengan gaun pengantin yang cukup berat. Ia melihat tubuh Rudi terkapar di belakang mobil dengan luka tembakan di kepala. Sepertinya Mario sudah gila. Dia berani membunuh orang.


"Prita!" teriak Ayash.


"Sudah aku bilang jangan mengikuti kami!"


Dor!


Mario melepaskan sebuah tembakan hingga mengenai lengan kiri Ayash. Darah segar langsung mengucur di lengannya.


"Ayash!" Prita berteriak histeris. Ia mencoba memberontak melepaskan cekalan tangan Mario.


Namun Mario lebih dulu membawanya masuk ke dalam mobil dan membawanya entah ke mana.


Prita memandangi Ayash yang berdiri menatapnya pergi. Jas putihnya berubah warna memjadi kemerahan.


Sepanjang jalan Prita hanya bisa menangis. Hari bahagianya tiba-tiba berubah menjadi kelam.


"Kenapa kamu melakukan semua ini? Kenapa kamu selalu mengganggu hidupku?"


"Siapa yang mengganggu siapa? Kamu pikir selama ini hidupku tidak menderita gara-gara kamu? Hidupku hancur, Ta!"


"Rasanya aku tidak bisa hidup lagi kalau harus melihatmu menjadi milik lelaki lain. Lebih baik kita mati sama-sama."


"Kamu sudah gila!"


"Ya, aku memang sudah gila karena kamu! Seandainya waktu itu kamu tidak menolak perasaanku, aku tidak akan jadi segila ini."


"Aku bahkan sampai mencoba mengkonsumsi narkotika hanya untuk melupakanmu. Tapi aku tidak bisa, Ta! Rasa cintaku padamu masih tetap sama. Kalau aku tidak bisa memilikimu, orang lain juga tidak boleh. Jika Tuhan tak menjodohkan kita, aku akan menuliskan takdirku sendiri bersamamu."


Mario terus melajukan mobilnya semakin menjauhi kota. Suasana malam itu sepi. Hanya sesekali berpapasan dengan kendaraan di jalan.


Setibanya di daerah tepi pantai, Mario memberhentikan mobilnya. Ia kembali memaksa Prita berjalan mengikutinya masuk ke sebuah rumah tepi pantai.


Mario menghempaskan tubuh Prita di atas ranjang.


"Mau apa kamu!"


"Tentu saja bersenang-senang denganmu. Ini kan malam pengantinmu. Anggap saja aku suamimu."

__ADS_1


"Kamu gila!"


__ADS_2