ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Aku hamil


__ADS_3

"Yash.... "


"Jangan sekarang, Ta."


Prita memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. Tetapi, Ayash langsung memotong perkataannya. Ia tak ingin mendengarkan penjelasan apapun dari Prita.


Jelas sekali wajahnya menyiratkan rasa marah dan kecewa. Ia sama sekali tak mau melihat ke arah Prita. Pandangannya terpaku ke arah depan.


Prita merasa lebih baik jika Ayash mampu meluapkan emosi dan kemarahan padanya daripada sikap diamnya. Ayash seperti orang lain yang tak ia kenal.


Sampai di lobi apartemen, Ayash tetap diam. Lelaki itu berjalan tanpa menghiraukan keberadaan Prita.


Sesampainya di dalam apartemen, Prita mengira akan bisa berbicara berdua dengan baik. Kenyataannya, Ayash masuk ke kamar hanya mengganti pakaian kerjanya dengan baju santai dan bersiap untuk kembali pergi.


"Ayash!" Prita menahan tangannya. "Please.... "


Ayash menarik tubuh Prita kedalam pelukannya, "Maafkan aku. Aku belum bisa membicarakannya sekarang. Beri aku waktu."


Ayash mendaratkan sebuah kecupan di dahi, "Beristirahatlah. Jangan menungguku. Malam ini aku tidak pulang. Jaga dirimu."


Prita menangis tersedu-sedu di dalam kamar.


"Bodoh.... " umpatnya.


Bagaimana mungkin ia berharap Ayash bisa menerima kondisinya yang sedang mengandung benih lelaki lain. Ia ingin menertawakan dirinya sendiri. Pesta pernikahan itu hanya mimpi yang akan pernah terjadi. Sekarang, ia hanya seorang wanita hina yang sudah tidak suci lagi bahkan sampai hamil di luar nikah. Meskipun bukan kemauannya, orang tetap akan melabelinya dengan sebutan wanita murahan. Kelak, jika anaknya telah lahir, orang akan menyebutnya anak haram.


Prita mulai mempertimbangkan, apakah ia akan tetap mempertahankan janin itu atau akan menggugurkannya. Janin di dalam perutnya memang tak memiliki salah apapun. Tapi, jika ia tetap terlahir, orang akan menghinanya.


Apakah ia harus kembali kepada Bayu, selaku ayah dari janinnya? Apakah ia harus menikah dengam lelaki yang telah merenggut kesuciannya hanya demi anaknya? Ia bahkan tak mencintainya. Yang ia inginkan hidup bersama Ayash. Tapi, Ayash justru meninggalkannya di saat ia benar-benar membutuhkan sandaran.


*****


Irgi masih menikmati hisapan rokok di balkon kamar. Rasa kantuk tak juga menghampiri meskipun hari sudah sangat larut.


Ia menghela nafas. Memandangi apartemen di depan, apartemen tempat Raeka tinggal.


Sudah hampir dua minggu ia tak bertemu Raeka. Tepatnya sejak ia melakukan hal gila. Ia sangat menyesali perbuatannya dan rasanya sudah tidak punya muka untuk kembali bertemu dengan Raeka. Ia berhasil membuat Raeka takut padanya dan dia sendiri merasa tersiksa.

__ADS_1


Raeka, satu-satunya wanita yang tidak bisa ia lupakan. Meskipun ia pernah memutuskannya saat SMA, tapi sebenarnya ia selalu mencintai wanita itu. Sampai saat ia harus pergi ke luar negeri untuk kuliah, ia masih menyimpan rasa cinta untuknya. Dia tidak pernah menjalin hubungan pacaran dengan siapapun kecuali Raeka.


Seandainya mau, dengan wajah tampannya ia bisa mendapatkan wanita manapun untuk jadi pacarnya. Namun, ia tak pernah melakukannya. Ia hanya mencintai Raeka. Raeka yang cantik, manja, dan terkadang kekanakan. Wanita tercantik menurut penglihatan matanya.


Raeka selalu cemburu kepada Prita, wanita yang sudah ia anggap seperti keluarganya, seperti adiknya sendiri. Raeka selalu mengira ia memiliki rasa cinta kepada Prita. Itu tidak benar. Perasaannya hanya sebatas rasa sayang kepada keluarga. Adakah orang yang tega meninggalkan keluarganya saat ia tak memiliki siapa-siapa untuk bergantung?


Entah harus bagaimana lagi ia menjelaskan. Sejak SMA juga salah paham seperti itu sudah terjadi. Hampir semua orang menganggapnya pacaran dengan Prita, termasuk Ayash.


Tok tok tok....


Terdengar suara ketukan pintu. Irgi merasa heran. Ini sudah larut malam, ada orang masuk apartemennya dan sekarang mengetuk pintu kamarnya? Siapa? Apa Si Songong Ayash? Kartu akses apartemennya ada 4, satu ia berikan kepada Raeka, satu ia berikan kepada Ayash, dan 2 kartu masih ia pegang sendiri. Kemungkinan yang datang Ayash, mana mungkin Raeka.


Ia mematikan rokoknya pada asbak dan segera berjalan menghampiri arah pintu.


Klek


"Prita.... "


Irgi terperangah melihat kehadiran Prita di apartemennya. Penampilannya kacau, rambutnya acak-acakan, matanya sembab, dan bibirnya pucat.


Irgi masih mematung di tempatnya. Ini pertama kalinya setelah sekian tahun melihat Prita menangis di depannya. Dulu, waktu SMA juga pernah seperti ini. Beberapa kali Prita menangis karena diganggu anak-anak cowok di sekolah. Dan ini adalah yang terparah.


Punggung Prita terlihat bergetar. Ia masih menangis dalam pelukan Irgi.


"Duduk dulu, Ta."


Irgi mengajak Prita duduk di sofa kamarnya. Ia mengambil tisu dan mengusap air mata yang menetes di pipi Prita.


Irgi kira setelah bertemu dengan Psikolog, kondisi Prita sudah membaik dan bisa menjalani aktivitas seperti biasa. Kemarin juga sepertinya tidak ada masalah apa-apa. Bahkan, Ayash dan Prita sedang mempersiapkan rencana pernikahan.


Kenapa Prita datang ke apartemennya sendirian sambil menangis? Dimana Ayash? Apa mereka bertengkar? Hal apa yang membuat mereka bertengkar padahal kemarin masih baik-baik saja?


Melihat kondisi Prita, Irgi tak tega untuk banyak tanya. Mungkin Prita butuh meennangkan diri.


"Ta, kamu sudah makan malam?"


Prita menggeleng. Dia memang belum sempat makan malam setelah pulang ke apartemen. Ia sudah tidak ingat apa-apa selain menangis di dalam kamar. Ketika malam semakin larut, ia merasa semakin depresi dan ketakutan. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke apartemen Irgi dengan kartu akses yang pernah Irgi berikan padanya.

__ADS_1


"Kalau begitu ikut aku. Kamu itu harus jaga kesehatan, Ta."


Irgi menarik Prita ke arah dapur. Ia mendudukkan Prita dan segera mengambilkan sisa makan malamnya yang ada di lemari.


"Maaf ya, Ta. Hanya ada ini di rumahku."


Irgi menyajikan udang saus barbeque, capcay, dan tempe goreng di hadapan Prita.


"Suka nggak suka harus dimakan ya, Ta. Kalau kamu nggak mau makan, biar aku suapin."


"Nggak usah, aku bisa makan sendiri."


Walaupun sedang sedih, Prita tidak menampik kalau saat ini ia merasa kelaparan. Ia langsung menyantap makanan yang Irgi berikan.


Prita makan dengan tenang. Irgi sama sekali tak mengusiknya dengan pertanyaan. Irgi bisa membaca situasi, kalau saat ini ia belum bisa ditanya-tanya.


"Kamu mau makan buah apa, Ta? Aku ada jeruk, kamu mau?"


Prita mengangguk. Irgi mengambilkan jeruk berwarna orang terang dari dalam kulkas. Mengupas jeruk itu dan ia berikan kepada Prita.


Makan buah setelah makan adalah sesuatu yang menyegarkan. Perasaan Prita menjadi sedikit lebih baik.


"Ir... boleh aku menginap di sini?" Prita mulai mau berbicara.


"Kenapa, Ta? Apa kamu bertengkar dengan Ayash?"


Prita terdiam sejenak.


"Ir.... aku hamil."


Air mata Prita kembali mengalir. Irgi masih terkejut mendengar pengakuan Prita.


"Ta... siapa yang sudah menghamilimu?"


"Bayu.... huhuhu.... "


Tangisan Prita semakin kencang. Irgi bangkit dan kembali memeluk Prita. Ia membiarkan Prita menangis tersedu-sedu dalam dekapannya.

__ADS_1


__ADS_2