
Raeka menangis tersedu-sedu di dalam lift. Ia masih tidak percaya kalau Irgi sampai tega menamparnya demi membela Prita.
Beberapa hari ini dia sudah merenung, mencoba memahami dan memaafkan Irgi. Ia ingin mempercayai kalau Irgi mencintainya dan kasih sayang kepada Prita hanya sebatas teman.
Ia sengaja bangun pagi, memasak makanan kesukaan Irgi bersama pelayan di apartemennya. Ia menertawakan kebodohannya. Ia kira, Irgi akan menyambutnya dengan bahagia. Ternyata, yang harus ia lihat, ada wanita di kamar Irgi. Dan wanita itu adalah Prita. Mungkin jika dia bukan Prita, rasa sakitnya tak akan sebesar yang ia rasakan. Irgi berkali-kali mengatakan kalau Prita hanya temannya, teman mana yang sampai menghabiskan malam dengan tidur bersama?
Ting!
Pintu lift terbuka. Raeka mengusap air matanya agar tak ada orang yang melihatnya.
Bruk!
Raeka tersungkur ke lantai setelah menabrak seseorang.
"Ah, maaf." Seseorang mengulurkan tangan berniat membantunya.
Raeka mengangkat kepalanya. Melihat orang yang ada di hadapannya membuat perasaannya semakin kesal.
"Loh, Nenek Lampir. Ngapain pagi-pagi di sini?"
Dia Ayash, orang yang juga tak ia suka. Ditepisnya tangan Ayash dan dia bangkit berdiri sendiri.
"Kamu... habis nangis?" tanya Ayash yang melihat mata Raeka terlihat agak sembab.
"Tidak perlu peduli padaku. Urusi saja pacarmu yang seperti jalang itu."
"Maksud kamu apa?" Ayash kesal dengan ucapan Raeka.
"Pacarmu semalam tidur sekamar dengan Irgi kamu sampai tidak tahu? Lihat saja sendiri dan kembalikan ini pada Irgi!"
Raeka melemparkan kartu akses kamar Irgi dan langsung berlari pergi. Ayash memungut kartu yang Raeka lemparkan.
Ayash memijit keningnya. Semalaman ia tak bisa tidur sama sekali setelah meninggalkan Prita sendirian. Mungkin saja Prita tidur di apartemen Irgi karena ketakutan. Ia segera memasuki lift menuju apartemen Irgi.
Ting!
Pintu lift terbuka. Ayash menapaki ruang tamu yang sepi. Samar-samar terdengan suara percakapan dari arah kamar. Ayash berjalan mendekat. Di depan pintu ada tumpahan makanan yang belum dibereskan. Ia melihat Prita dan Irgi di dalam kamar itu.
"Ta... "
Irgi dan Prita menengok ke arahnya. Ia bisa menangkap ekspresi nanar Prita melihatnya. Sementara, Irgi mengeraskan rahang melihat kedatangannya.
"Ngapain kamu kemari!?" bentak Irgi.
Ayash terdiam.
Irgi memberikan sapu tangan berisi es batu kepada Prita. Ia bangkit menghampiri Ayash dengan kemarahan yang memuncak.
Bugh!
Satu pukulan Irgi layangkan ke wajah Ayash. Ia mencengkeram kerah, "Kamu pikir ini salah Prita!? Kamu pikir ini kemauan Prita!? Dasar pengecut!"
Bugh! Bugh! Bugh!
__ADS_1
"Irgi, sudah!" Prita berseru agar Irgi berhenti memukul. Namun, terus melayangkan pukulan.
Bergegas Prita turun dari ranjang dan menghentikan Irgi. "Sudah, jangan diteruskan."
"Masih berani dia kesini setelah apa yang dilakukan padamu. Kamu nggak butuh orang seperti dia, Ta."
"Sudah, sudah. Biarkan aku menyelesaikannya sendiri."
"Ta.... "
"Keluar dulu, Ir. Please.... "
"Oke. Aku akan membuatkanmu sarapan. Kalau ada apa-apa, langsung panggil aku."
"Iya."
Irgi keluar kamar dan menutup pintu, membiarkan mereka bicara berdua.
Prita duduk di lantai, mensejajarkan diri dengan Ayash. Dipegangnya beberapa bagian yang luka karena Irgi. Ayash masih tak sanggup menatap Prita.
"Ayo kita duduk di sofa."
Prita mengambil saputangan berisi es batu untuk ditempelkan pada luka Ayash. Prita tak berkata apapun. Ia hanya fokus mengompres bekas pukulan Irgi.
"Lehermu kenapa?" Ayash melihat luka lecet di leher Prita.
"Ah, ini hanya salah paham saja. Aku terkena kuku Raeka."
"Tadi dia datang ke sini?"
"Iya."
Prita menghela nafas, "Mungkin dia salah paham saat melihat aku tidur di kamar Irgi. Dia kira kami tidur bersama. Padahal, Irgi tidur di ruang tamu dan meminjamkan kamarnya untukku. Hah! Aku selalu saja membuat semuanya lebih buruk."
"Ta, maaf." ucap Ayash.
"Jangan meminta maaf. Ini bukan salahmu. Aku yang seharusnya minta maaf."
Ayash menghentikan tangan Prita, "Ta... ayo pulang bersamaku."
Prita menatap lekat-lekat wajah Ayash. Kedua mata mereka saling bertemu. "Ayash, seperti yang pasti kamu tahu, aku bukan Prita yang sama seperti dulu. Aku... aku hamil."
"Ta, aku tetap mencintaimu."
Prita mencoba memastikan keseriusan Ayash lewat tatapan matanya. Benarkah Ayash masih bisa menerimanya?
"Kemarin, aku sempat merasa sangat tertekan mendengar diagnosa dokter tentang kehamilanmu. Rasanya seperti tiba-tiba tertimpa gunung sampai dadaku sesak. Bukan karena membencimu, aku benci diriku sendiri. Apa yang Irgi bilang benar, ini bukan salahmu dan juga bukan kemauanmu. Aku merasa telah gagal menjagamu. Orang yang paling berat menerima kenyataan ini pastilah dirimu. Dan aku malah tega meninggalkanmu sendirian semalam. Maafkan aku."
"Yang aku takutkan bukan kehamilanmu. Aku justru takut kamu akan pergi dariku. Aku takut kamu akan kembali pada Bayu karena bayi dalam perutmu."
"Ta, please... tetaplah di sisiku. Ayo kita besarkan anak ini berdua. Aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk anakmu. "
Mata Prita berkaca-kaca. Seketika tangisnya pecah. Ia menghambur ke pelukan Ayash. Ia menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Rasanya seperti mimpi, Ayash masih mau menerima dirinya. Kalau ini adalah mimpi, ia ingin tetap dalam mimpinya dan tak mau bangun.
"Aku pikir kamu akan meninggalkanku, huhuhu.... "
"Tidak akan, Ta. Malah aku yang berpikir sebaliknya. Aku takut kamu yang akan pergi dariku."
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu... tidak mungkin aku mau menikah dengan orang yang telah melecehkanku. Aku hanya ingin menikah dengan orang yang aku cintai dan mencintaiku. Dan itu kamu, Yash."
"Jadi, kamu tetap mau kan menikah denganku?"
Prita melepaskan pelukannya. Ia kembali menatap mata Ayash, "Bagaimana cara menjelaskan ini kepada kedua orang tuamu?"
Ayash terdiam.
"Yash.... "
"Kita tidak perlu mengatakannya, Ta."
"Tapi mereka juga harus tahu. Aku tak ingin menjadi menantu yang membohongi mertuanya. Sekalipun mereka tak merestui, aku akan menerimanya dengan lapang dada."
"Tidak perlu, Ta."
"Perutku akan semakin membesar, lambat laun mereka akan bertanya."
"Bilang saja kita memang pernah melakukannya. Mama juga pasti percaya karena kemarin sudah lihat kita tidur bareng."
"Aku tidak mau kamu dianggap jadi anak yang tidak baik."
"Ta... kamu tak harus memikirkan semuanya. Aku yang akan menanganinya. Kamu cukup diam dan aku yang akan menjawab pertanyaan mereka suatu saat nanti."
"Tapi.... "
"Ta, nasibku sama dengan anak yang ada di kandunganmu."
"Maksudmu?"
"Aku bukan anak kandung Papa Reonal."
"Apa?"
"Mamaku sedang mengandungku saat menikah dengan papa."
"Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?"
"Aku juga baru tahu, Ta. Kak Arga yang memberitahuku. Tapi itu juga belum pasti. Nanti aku akan tanyakan lagi pada orangtuaku."
"Mungkin Kak Arga hanya bercanda. Seorang kakak kan biasanya suka menjahili adiknya dengan mengatakan kalau adiknya itu anak pungut."
"Kak Arga bukan tipe orang yang suka bercanda, Ta. Lagipula, pengakuannya yang berusaha menyingkirkanku dari perusahaan karena dia tidak ingin aku mengambil alih perusahaan papa."
"Kak Arga mau mengaku?"
Ayash mengangguk, "Ta... kalau aku memang benar bukan anak kandung Papa Reonal, aku akan melepaskan perusahaan yang saat ini aku jalankan. Mungkin aku tidak akan punya apa-apa lagi. Apa kamu siap jika itu terjadi? Apa kamu tetap mau bersamaku?"
__ADS_1
Prita tersenyum, "Tidak masalah untukku. Kita bisa berusaha lagi dari awal."