ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Bertemu Irgi


__ADS_3

Drrrt... Drrrt...


Ponsel Prita berbunyi. Segera ia mengeluarkan dari dalam clutch. Telepon dari Ayash.


"Halo... " ucapnya.


"Kamu dimana?"


Prita mengedarkan pandangan sambil mencari-cari sosok Ayash, "Aku di bagian stand makanan"


"Tunggu di sana."


Prita kembali memasukkan ponselnya setelah sambungan telepon terputus.


"Siapa?" tanya Raya.


"Ayash."


Beberapa saat kemudian, mereka melihat Ayash berjalan mendekat.


"Ayo ikut aku, ada orang yang ingin bertemu denganmu." Ajak Ayash, "Kamu juga sekalian ikut, Ray!"


Prita dan Raya saling bertatapan, mencoba berkomunikasi dengan tatapan mata. Tapi keduanya tidak ada yang paham. Ayash menarik tangan Prita. Raya mengikuti.


Tiba di kumpulan beberapa lelaki berdasi, mereka berhenti. Saat seseorang menengok ke arahnya, Prita sangat terkejut dan tidak percaya.


"Irgi!" serunya.


Lelaki itu tersenyum, "Prita.... "


Keduanya langsung berpelukan. Ada kebahagiaan yang dirasakan kedua sahabat yang sudah lama tidak bertemu itu.


"Sudah, pelukannya jangan lama-lama." gerutu Ayash seraya menarik paksa tangan Prita dan memeluk pinggangnya posesif.


Irgi memicingkan mata, "Kenapa, Yash? Prita kan juga sahabatku. Kangen banget aku sama dia."


"Aku juga kangen kamu, Irgi." Prita masih merasa antusias bisa bertemu sahabat lamanya.


"Prita pacarku sekarang, jangan macam-macam!" Ayash ternyata merasa cemburu.


"Hahaha... oke, oke... Aku nggak bakal rebut Prita, kok. Tapi serius deh, aku kangen banget dengan Prita. Denganmu juga, Yash."


"Irgi apa kabar?" tanya Prita yang masih dalam keposesifan Ayash.


"Baik, Ta. Kamu bagaimana?"


"Aku juga baik. Sekolahmu sudah selesai?"


"Belum... aku mau sekalian melanjutkan S3 di sana. Jadi, mungkin masih beberapa tahun lagi aku di sana. Aku pulang karena sedang liburan dan kebetulan disuruh ayahku menggantikannya datang kesini."


"Ah, iya. Ini Raya, teman SMA kita juga walaupun beda kelas."


Raya tersenyum, ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


Irgi membalas jabat tangan itu, "Kamu... Raya yang dulu sekelas dengan Raeka, ya?"


"Iya."


"Lho, kamu sudah kenal Raya, Ir?" tanya Prita heran. Dirinya saja kenal Raya saat di TK, sebelumnya tidak tahu kalau mereka satu sekolah.


"Hahaha... dulu kan aku sering cari Raeka di kelasnya. Hafal lah semua teman-temannya."


"Irgi... " lirih seseorang.


Semua menengok ke arah Raeka yang ternyata sudah berdiri di sana. Air mata tampak menetes di pipinya. Ia langsung berlari memeluk Irgi dengan terisak-isak. Banyak orang yang terlihat penasaran dengan situasi itu. Irgi juga tampak terkejut karena tiba-tiba Raeka menangis dan memeluknya.


"Hiks... Hiks... Irgi.... "

__ADS_1


Irgi mengusap punggung Raeka, mencoba menenangkannya, "Iya, Raeka." Pandangannya mengedar ke sekitar. Mereka menjadi pusat perhatian. Ia merasa tidak nyaman. Ia berusaha melepas pelukan Raeka, namun wanita itu tetap bergeming.


"Maaf semua, sepertinya kami perlu bicara berdua." kata Irgi.


"Iya, pergilah." pinta Ayash.


Irgi menggandeng tangan Raeka dan mengajaknya ke luar ruangan. Ayash akhirnya melepaskan pelukan di pinggang Prita. Suasana kembali canggung.


"Ah, sepertinya aku harus menemui beberapa rekan bisnisku di sini. Apa kamu mau ikut?" tanya Ayash.


"Tidak. Aku bersama Raya saja."


"Baiklah, aku pergi dulu. Raya, jangan biarkan Prita sendirian ya." pinta Ayash.


"Siap, bos." Raya mengacungkan jarinya.


Ayash pergi menemui rekan bisnisnya. Kini, Raya dan Prita kembali hanya berdua.


"Hah! Tujuanku kesini mau mencari jodoh, Ta. Tapi sepertinya nggak ada yang mau kenalan. Kita berdua kayak figuran di antara para pengusaha."


"Jangan pesimis, Ray! Malam masih panjang."


"Hahaha... iya, iya. Aku mau ke toilet sebentar, Ta. Kamu mau ikut?"


"Ah, aku tunggu di sini saja."


"Oke deh, kamu tunggu di bangku sebelah sana dulu, ya. Aku segera kembali."


"Sip!"


Prita melangkahkan kakinya mendekati sebuah bangku kosong yang tadi ditunjuk Raya. Ia duduk di sana sambil memperhatikan kesibukan orang-orang di sana. Ia jadi semakin termotivasi untuk menjadi seorang pengusaha juga, seperti ayahnya.


"Hai, Ta." sapa seseorang yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.


Prita menelan ludah ketika tahu lelaki itu adalah Mario. Rasanya ia belum siap bertemu dengannya setelah peristiwa di sekolah waktu itu. Tapi kenapa sepertinya Mario bersikap biasa saja?


"Eh, Mario. Kamu datang juga?"


"Raya."


"Oh, Raya. Dimana dia?"


"Ke toilet sebentar."


Mario memandangi wajahnya dengan lekat. Membuatnya merasa semakin tak nyaman.


"Kamu nggak usah canggung begitu sama aku. Anggap saja kejadian yang lalu tidak ada. Kita kan sudah berteman lama."


Mario ternyata menyadari alasan sikap canggungnya.


"Ah, iya. Maafkan aku. Aku kira kamu masih marah padaku."


"Hahaha... kalau aku marah, ngapain aku menyapamu. Sudahlah, kalau kamu tidak menyukaiku, aku sudah tidak memperdulikannya."


"Terima kasih, ya. Kamu sudah mau mengerti." Prita akhirnya bisa tersenyum lagi kepada Mario. Hatinya merasa lega.


Mario tersenyum, "Mau ke balkon sebelah sana? Kita bisa melihat view taman kota, lho." Mario menunjuk arah balkon yang dimaksud.


"Baiklah." jawab Prita.


Mereka berdua berjalan ke arah balkon. Pemandangan malam dari sana sungguh sangat indah. Langit malam itu cukup cerah bertaburan bintang. Bianglala raksasa di taman kota tampak menarik dengan pijaran lampu yang menghiasi. Keramaian lalu lintas saat malam juga terlihat bagus.


"Ini untukmu." Mario menyodorkan segelas minuman berwarna hijau dengan es batu, daun mint dan irisan jeruk nipis di dalamnya.


"Ini.... "


"Ini cuma mojito mocktail kok. Nggak ada alkoholnya." Mario memberi penjelasan seolah tahu keraguan Prita.

__ADS_1


Prita menerima minuman itu dan meminumnya.


"Katanya kamu sudah berhenti bekerja di restoran?"


"Iya. Kok kamu tahu?"


"Dea yang memberitahu. Kenapa berhenti?"


"Aku mau membuka bisnis sendiri. Tapi belum tahu mau usaha apa. Kamu ada ide?"


"Hmmm... bisnis yang perputaran uangnya cepat itu ya bisnis makanan atau kuliner. Kamu mungkin bisa membuat cafe ato restoran. Bisa juga warung kaki lima. Sesuaikan dengan budget aja."


"Aku juga ingin buka restoran sendiri. Lagipula, aku juga punya pengalaman 5 tahun kerja di restoran." Prita tampak bersemangat. "Tapi... pengalamanku hanya cuci piring."


"Hahaha... " Mario terkekeh mendengar perkataan Prita.


"Aduh... " Prita memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.


"Kenapa, Ta?" Mario reflek meletakkan gelasnya dan memegangi kedua bahu Prita yang hampir jatuh.


"Nggak tahu, Yo. Kepalaku rasanya pusing sekali." Prita mrnyandarkan kepalanya di bahu Mario.


"Oh, Ya Tuhan. Mungkin kamu kelelahan. Ayo aku antar ke ruang istirahat." Mario membantu meletakkan gelas Prita di meja, kemudian membantu memapah Prita yang sudah tak kuat menahan berat tubuhnya sendiri.


*****


Raya baru saja keluar dari toilet. Ia celingak-celinguk ketika kembali ke tempat Prita menunggunya, ternyata temannya itu sudah tidak ada. Ia memang agak lama di dalam toilet karena perutnya mulas.


Tut... Tut... Tut...


Prita mencoba menghubungi nomor Prita. Teleponnya menyambung, tetapi tidak diangkat. Ia lalu menghubungi Ayash, namun katanya Prita tak bersamanya. Prita berkeliling ruangan, keluar masuk toilet, namun Prita tak ada. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari di taman, siapa tahu Prita butuh menghirup udara segar.


Bukannya menemukan Prita, Raya malah melihat Raeka dan Irgi yang sedang duduk berdua di taman hotel. Rasa ingin tahu membuatnya bergerak mendekat, bersembunyi di balik pohon demi menguping. Sejenak ia lupa tujuannya.


"Sudah, nangisnya?" tanya Irgi.


"Sudah! Kamu jahat banget pulang nggak kasih kabar." jawab Raeka dengan nada ketus setelah sebelumnya ia menangis sesenggukan begitu lama dan sama sekali tak bisa berbicara.


"Ya aku datang ke sini kan juga mau kasih kamu kabar."


"Kamu pulang juga pasti hanya mau menemui Prita. Di pestaku saja kamu malah bareng dia, bukanya mengucapkan selamat padaku."


"Hah... Prita lagi yang kamu bahas."


"Memang dari dulu hubungan kita tidak baik kan gara-gara dia! Sekarang juga masih sama!"


"Hm, salah dia apa, sih?"


"Salah dia kita putus!"


"Nah, kan... Kamu masih saja salahin dia."


"Dan kamu tetap lebih membela dia daripada pacarmu sendiri!"


"Hm, kalau kamu masih seperti ini, aku nggak mau baikan sama kamu."


Air mata Raeka kembali menetes, "Tuh, kan... lagi-lagi kamu membelanya. Kamu sebenarnya mau apa? Katanya kamu suka sama aku. Tapi kamu juga masih peduli sama dia. Kamu mau poligami?"


"Hahaha... Oh, Ya Tuhan... Aku peduli dengan Prita karena dia sahabatku dan sudah aku anggap saudaraku sendiri. Sama dengan perlakuanku terhadap Ayash, Vino, dan Andin."


"Mana ada hubungan pria dan wanita hanya sekedar sahabatan kalau tidak ada rasa cinta."


"Ada. Buktinya aku dan Prita. Kami hanya bersahabat. Lagipula... Prita itu pacarnya Ayash. Kamu nggak usah cemburu terus."


Mata Raeka membelalak, "Prita pacarnya Ayash?"


"Iya."

__ADS_1


"Aku lega sekarang." Raeka menyandarkan kepalanya di dada Irgi seraya memeluknya, "Kalau begitu, aku hanya perlu fokus memperbaiki hubungan kita. Maafkan aku."


Irgi mengecup puncak kepala Raeka dan mengelus rambutnya, "Kamu manis banget kalau lagi manja begini."


__ADS_2