ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Akhir


__ADS_3

Bayu perlahan membuka matanya. Hal yang pertama kali dilihat atap dan dinding berwarna putih. Tuangan dengan dekorasi fasimiar yanh mudah sekali orang tebak. Rumah sakit. Bayu berada di salah satu ruang perawatan rumah sakit.


Ia memandang sekeliling. Tak seorangpun ada di sana. Badanya terasa kaku dan pegal untuk sekedar digerakkan.


Semalam, ia masih ingat menggendong Prita yang pingsan saat perjalanan ke rumah sakit. Ia sempat menemani Prita masuk ruang UGD sebelum akhirnya diapun ikut hilang kesadaran.


Saat terbangun, ia sudah berada di ruang perawatan. luka di tubuhnya juga sepertinya sudah ditangani. Pakaiannya sudah berganti dengan pakaian pasien.


Brak!


Terdengar suara pintu didorong dengan keras. Ben tampak terengah-engah memandanginya dari ambang pintu. Di belakangnya ada Alex dan anak buahnya yang lain juga tampak kelelahan karena berlari. Aneh, mereka berlarian di rumah sakit?


"Apa yang terjadi, Bos?" Ben bertanya khawatir.


Semalam mereka tak mengikuti Bayu karena sepertinya dia tidak ingin ada yang mengikutinya. Entah apa yang terjadi di acara pernikahan itu, tiba-tiba saja ia mendapat kabar jika bosnya terluka dan masuk rumah sakit.


Sebelumnya memang Bayu masih dalam kondisi yang kurang prima. Namun, katanya ia kembali mendapatkan luka tembak.


"Ben?"


"Iya?"


"Aku butuh bantuanmu."


"Semalam aku membunuh seseorang. Tolong kamu bereskan. Tidak apa-apa jika mayatnya ditemukan asalkan barang bukti dan sidik jari bisa kalian amankan."


"Rumah dekat pantai di area jalur menuju Kota S. Dia Mario, orang yang pernah kita sekap."


Ben menelan ludah. Mario bukanlah orang biasa. Meskipun nanti ia berusaha menghilangkan barang bukti, pasti keluarganya tidak akan menyerah dengan mudah. Kenapa bosnya sampai berbuat sejauh itu padahal ia sudah sering mengingatkan agar berhati-hati di kota orang. Itu Kota S, bukan Kota J.


"Aku tahu saat ini pasti kamu sedang kesal, kan? Tapi aku membunuhnya karena dia yang lebih dulu menembakku. Aku tak punya pilihan lain selain menghabisi nyawanya." dalih Bayu.


Sebenarnya Bayu bisa saja membiarkan Mario tetap hidup. Namun, rasa ingin membunuhnya begitu besar. Mario orang yang pantas ia bunuh karena berani mengganggu wanitanya.


"Baik, Bos." jawab Ben.


Ben membisikkan sesuatu kepada anak buahnya. Setelah mendengar pesan dari Ben, mereka langsung pergi sementara Ben tetap di sana menemani Bayu.


"Darimana kamu tahu aku ada di sini, Ben?"


"Ayah Anda yang memberitahu."


"Apa!?"

__ADS_1


Bayu bahkan belum memberi kabar kalau dia sudah selesai melakukan tugas di Pulau P. Bagaimana bisa ayahnya tahu dia ada di Kota S?


"Sepertinya Tuan Samuel sedang ada urusan bisnis di kota ini. Katanya beliau dihubungi pihak rumah sakit kalau Anda dirawat di sini."


Bayu menghela nafas. Kenapa juga ayahnya harus berada di Kota S. Rasanya dia akan sulit melakukan apa yang dia mau.


"Ben, tolong cari tahu di ruangan mana Prita dirawat. Semalam aku yang membawanya kemari."


"Siapa itu Prita?"


Terdengar suara dari arah pintu. Tuan Samuel tiba-tiba sudah ada di sana dan mendengar pembicaraan antara Bayu dan Ben.


"Siapa Prita?" Tuan Samuel menegaskan pertanyaannya lagi.


Bayu membuang muka. Ayahnya datang di saat yang tidak tepat.


"Ayah tidak perlu tahu karena tidak ada hubungannya sama sekali denganmu."


"Apa dia wanita yang ingin kamu perjuangkan itu? Sampai kamu bersedia aku kirimkan untuk tugas kemarin?"


"Aku bilang Ayah tidak perlu tahu."


"Ben, pergi dan lakukan apa yang tadi aku katakan!"


"Kamu mengejar istri orang?"


Bayu membulatkan matanya. Bagaimana ayahnya bisa tahu jika Prita sudah menikah? Apa ayahnya menyelidiki wanita yang ia incar?


"Ayah sudah berjanji untuk tidak mencampuri urusanku, kan?"


"Aku tidak sedang mencampuri urusanmu. Semalam aku menghadiri pesta pernikahan anak dari rekan bisnisku, Reonal Hartadi. Aku sepertinya familiar dengan si pengantin wanita. Sepertinya dia wanita yang sama dengan yang pernah aku temui di apartemenmu. Masakannya enak membuatku sulit untuk melupakan wajahnya. Aku tidak yakin kalau dia benar-benar pembantumu. Bukankah ucapanku ini benar?"


"Kalau iya memangnya kenapa?"


"Kalau iya, aku menyuruhmu untuk berhenti sampai di sini. Jangan mengusik milik orang lain."


"Ayah sudah berjanji akan membantuku mendapatkannya."


"Aku masih pegang janjiku. Siapapun wanita yang kamu inginkan, akan aku bantu mendapatkannya. Tapi tidak untuk merebut istri orang."


Bayu mengepalkan kedua tangannya. Ia sangat kesal dengan ucapan sang ayah. Mati-matian ia melakukan keinginan ayahnya, tapi dia sama sekali tidak mau mendukung apa yang menjadi keinginannya.


"Bos."

__ADS_1


Ben telah kembali. Tampaknya ia canggung untuk berbicara karena Tuan Samuel masih ada di sana.


"Sepertinya kamu segan bicara karena aku, Ben. Apa kamu sudah lupa siapa bosmu yang sebenarnya?"


Ben hanya menunduk, tak berani membantah Tuan Samuel.


"Baiklah, aku akan pergi. Beristirahatlah di rumah sakit ini sampai kondisimu pulih. Setelah itu baru kita bisa bicara lagi."


Tuan Samuel sempat menepuk pundak Ben sebelum meninggalkan ruangan itu.


"Apa yang ingin kamu katakan, Ben?"


"Nona Prita.... Nona Prita sudah tidak ada di sini."


"Perawat bilang tadi pagi keluarganya sudah membawanya pulang."


"Apa mereka mengatakan tentang sakitnya?"


Ben menggeleng.


Bayu hanya ingin tahu, sebenarnya kenapa waktu itu Prita mengeluarkan darah dari kewanitaannya. Apa dia terluka atau dia keguguran? Bayu sempat mendengar Prita menyebut tentang anak. Kalau Prita hamil, apa itu anaknya atau anak Ayash? Sebenarnya ia ingin bertanya langsung kepada Prita.


"Ben, pergilah dan cari tahu kemana mereka membawa Prita pergi."


"Baik, Bos."


Bayu kembali merebahkan tubuhnya setelah Ben pergi. Baru saja ia bisa bertemu Prita dan sekarang ia kembali harus berpisah dengannya. Apa ia harus menjadi perebut istri orang?


Srek


Tangan Bayu menyentuh sesuatu. Ada kertas tergeletak di sampingnya. Selembar surat.


Untuk Bayu


Terima kasih sudah menolongku tadi malam. Terlepas dari semua yang pernah terjadi di antara kita berdua, aku tetap mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu. Kedepannya, semoga kita tidak bertemu lagi meskipun itu sebuah kebetulan. Aku harap ini adalah akhir dari segala yang berhubungan denganmu. Walaupun berkali-kali kamu mengatakan mencintaiku, aku juga akan berkali-kali mengatakan hal yang sama: aku tidak pernah mencintaimu. Tolong, lepaskan aku. Akhiri ambisimu untuk memilikiku. Aku sudah menikah dengan lelaki yang aku cintai. Semoga kamu juga menemukan wanita yang juga mencintaimu.


Prita


Bayu meremas dan melemparkan surat itu ke lantai. Ini bukan akhir cerita yang ia inginkan. Kenapa Prita begitu tega padanya. Padahal, dia benar-benar mencintainya.


Bayu menyeringai, "Akan tiba waktunya kamu sendiri yang akan datang memohon-mohon padaku, Prita."


---- Tamat ----

__ADS_1


__ADS_2