ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Bermain Golf bersama Keluarga Wijaya


__ADS_3

Klek


Ayash membuka pintu ruang kerjanya kemudian menutupnya kembali. Ia menghela nafas lega akhirnya bisa keluar dari ruang rapat yang membuatnya kelelahan. Dilepaskan jas hitam yang sejak pagi ia kenakan seraya melonggarkan dasinya.


Langkahnya terhenti, ia mengerutkan kening melihat Prita tertidur di sofa ruang kerjanya. Seingatnya tadi ada Egi dan Raya yang menemani, kenapa wanita kesayangannya sendirian menunggu.


Pelan-pelan ia melangkah, mendekati wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya. Dipandanginya wajah itu, masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Prita selalu cantik di matanya bahkan saat tertidur sekalipun.


Gemas melihat bibir merah mungil di hadapannya, ia tak kuasa menahan untuk tidak menciumnya. Dikecupnya satu kali dan ia tidak puas. Ia ulangi beberapa kali saking gemasnya. Kecupan-kecupan kecil itu akhirnya berubah menjadi ******* lembut yang kian intens.


"Eumh.... " Terdengar suara lengkuhan. Ayash menghentikan perbuatannya.


Prita mengerjap-ngerjapkan kata melihat Ayash sudah ada tepat di hadapannya sedang tersenyum padanya.


"Kamu sudah selesai meetingnya?"


Perlahan Prita mengangkat tubuhnya, menyandarkan punggung pada sofa. Baru sekejap ia duduk, Ayash kembali membaringkannya, menindih tubuhnya, lalu menciumi bibirnya.


Prita melotot, "Hei, hentikan ini di kantor!"


"Memangnya kenapa kalau di kantor? Ini kan ruanganku"


Ayash melanjutkan ciumannya. Prita tak bisa menolak lagi.


"Maaf Pak, ini berkas yang harus Anda.... " Linda, staf bagian pemasaran tak melanjutkan kata-katanya setelah melihat adegan panas di ruangan bosnya.


Reflek Prita mendorong Ayash menjauh. Keduanya jadi salah tingkah karena malu.


"Mmaaf, Pak... Ssaya permisi dulu."


"Linda, tunggu!" Ayash berjalan ke arah Linda.


Linda menunduk malu karena sudah melihat hal yang tidak patut ia lihat, "I... ini Pak."


Ayash menerima berkas yang Linda berikan, "Lain kali ketuk pintu dulu sebelum masuk."


"Biasanya Bapak tidak pernah begitu, kan?" kilah Linda.


"Ah, sudahlah! Pokoknya lain kali ketuk pintu dulu. Cepat sana kembali ke ruanganmu."


Ayash segera menutup pintu dan menguncinya.


"Aku bilang kan jangan di kantor. Malu kan ketahuan karyawanmu."


Ayash menyandarkan kepalanya di bahu Prita, tangannya dilingkarkan ke pinggang, "Rasa lelahku seketika hilang kalau memelukmu seperti ini."

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita makan siang dulu? Kata Egi jam dua nanti ada meeting lagi, kan?"


"Ah, iya. Dimana Egi? Aku harus memarahinya karena membuat jadwal yang padat hari ini." keluh Ayash.


Sebenarnya itu bukan salah Egi, salah Ayash sendiri yang meninggalkan perusahaan dalam waktu lama. Mau tidak mau Egi harus menjadwalkan ulang dan memadatkan agenda agar pekerjaan tidak semakin menumpuk.


"Egi ijin makan siang lebih dulu dengan Raya."


"Ah, asisten yang tidak tahu diri dia. Makan siang lebih dulu daripada bosnya. Kita susul mereka kalau begitu."


"Eh, jangan! Mereka sedang kencan, jangan diganggu."


"Hah, kencan? Memangnya mereka pacaran?"


"Belum... tapi Raya bilang tertarik dengan Egi. Dia meminta bantuanku untuk bisa bertemu Egi."


"Oh, pantas saja hari ini dia ikut bersamamu. Aku kira kalian mau jalan berdua. Aku tidak bisa membayangkan kalau mereka jadi pasangan akan seperti apa. Raya yang ceplas ceplos itu apa kuat menghadapi Egi yang kaku."


*****


Sore ini Irgi menemani Tuan Rudy Wijaya, ayah Raeka, bermain golf di lapangan golf yang ada di area Greenland Paradise apartement. Ya, itu masih satu komplek dengan hotel dan apartemen milik Tuan Rudy sendiri.


Mereka tidak hanya berdua. Raeka dan ketiga kakak laki-lakinya ikut serta. Acara golf itu seperti acara keluarga, dimana hanya Irgi yang menjadi orang luar. Namun, bukan Irgi namanya kalau tidak memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk bisa menghadapi ayah dan ketiga kakak Raeka.


Meskipun dari segi kekayaan keluarga Irgi masih kalah jauh jika dibandingkan dengan keluarga Raeka, Irgi tetap yakin jika dia pantas untuk Raeka. Ketika ayah Raeka mengundangnya untuk bermain golf bersama, ia langsung setuju.


"Bagaimana dengan kuliahmu, Ir? Aku dengar kamu sedang mengejar gelar magister di Singapura?"


Regi, kakak pertama Raeka mengambil ancang-ancang untuk memukul bola golfnya.


Plak!


Bola golf melambung sangat tinggi dan jatuh di tempat yang jauh.


"Ya, benar. Ini sudah masuk tahun kedua, mudah-mudahan bisa segera selesai."


"Aku dengar kamu mau membuka bisnis di sini?" Rafa, kakak kedua Raeka ikut menyahut.


"Baru tahap Persiapan, Kak. Masih ada banyak hal yang harus dipikirkan."


"Kalau butuh investor, jangan sungkan menghubungi kami." ucap Regi.


"Seharusnya kamu fokus saja dulu menyelesaikan kuliahmu, tidak perlu terburu-buru membangun bisnis. Lagipula, kamu masih sangat muda."


Tuan Rudy siap-siap melakukan tee shoot. Ia mengayunkan stick golf dengan gerakan yang kuat.

__ADS_1


Plak!


"Waouw, ayah kita memang yang terkuat." puji Rafa.


"Ra, kamu mau tee shoot?"


Raeka menggeleng, "Kamu saja yang lakukan. Aku pukulan selanjutnya saja."


"Oke." Irgi mengambil ancang-ancang memukul bola.


Plak!


Bola melambung jauh. Ketiga tim telah melakukan tee shoot. Mereka berjalan santai ke arah bola yang telah dipukul.


"Kenapa kamu susah-susah mau membuka usaha segala? Benar yang dikatakan ayah, lebih baik kamu fokus menyelesaikan kuliahmu dulu. Setelah itu, kamu bisa ikut mengurusi perusahaan kami." ucap Reyhan, kakak ketiga.


"Saya ingin seperti Om Rudy yang berhasil membangun bisnisnya dari bawah dan menjadikan anak-anaknya pengusaha hebat." Irgi menjawab dengan sangat tenang.


Jawaban itu membuat keluarga Wijaya terkesima. Sejak awal, mereka memang sudah sangat cocok dengan Irgi. Sifatnya yang sangat percaya diri dan mampu berbaur adalah suatu nilai tambah selain tentunya paras wajah yang tampan.


"Hahaha... sebenarnya aku tidak benar-benar membangun bisnis dari bawah. Bisnisku yang ada sekarang ini juga hasil kerja keras ayahku. Aku hanya melanjutkan saja. Jadi, jangan sia-siakan jika memiliki kesempatan. Sekecil apapun kesempatan itu, ambil! Karena mungkin, kesempatan yang sama tak akan datang lagi."


"Kamu tahu kenapa orang kaya biasanya akan melahirkan orang kaya baru dan orang miskin akan melahirkan orang miskin baru? Karena, selain menurunkan genetika, orang tua juga mewariskan pola pikir untuk anak-anaknya."


"Ir, kamu sudah tahu belum, kalau Raeka itu nggak bisa apa-apa. Dia nggak bisa masak. Kamu beneran mau sama Raeka?"


"Ih, kakak!" Raeka mencubit lengan Rafa.


"Hayo, lho... cewek nggak bisa masak!" ledek Reihan.


Regi menarik Raeka, menjauhkan dari Rafa dan Reihan. "Adikku ini sejak kecil memang sudah seperti tuan puteri. Ayah selalu memanjakannya, berbeda dengan kami bertiga yang dididik dengan keras."


"Adikmu itu kan perempuan, masa ayah harus menyamakan dengan cara mendidik kalian bertiga? Kalian laki-laki, suatu saat nanti akan jadi seorang kepala keluarga, mempunyai tanggung jawab terhadap anak dan istri. Kalian harus kuat dan bisa bekerja. Berbeda dengan Raeka, dia perempuan, kewajiban laki-lakilah untuk menjaga dan melindunginya. Raeka tidak harus bisa bekerja, cukup menjadi seorang wanita yang baik dan bisa menyayangi keluarganya."


"Saya setuju dengan Om."


"Raeka hobinya belanja, menghabiskan uang ayah, lho. Dia sangat boros." Reihan mencoba mengompori.


"Kalau begitu aku akan bekerja keras Kak, supaya hobi Raeka bisa tetap dilakukan."


"Hahaha... yang satu ini memang benar-benar menantu idaman ayah. Kayaknya kita bakal disingkirin sama dia. Calon kesayangan ayah ini pasti." imbuh Rafa.


"Kalau saya secepatnya ingin menikahi Raeka apa kira-kira boleh?"


"Hah?"

__ADS_1


Keluarga Wijaya kembali tercengang. Apa Irgi sedang melamar? Raeka juga terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa Irgi berbicara lugas seperti itu. Mengingat, ketiga kakaknya saja belum ada yang menikah.


__ADS_2