
"Maaf ya, Prita. Makan malamnya jadi kacau begini."
Maya menyeka air matanya dengan sapu tangan. Di sampingnya ada Prita yang menemani.
"Seharusnya kami memberikan kesan yang baik kepadamu."
Prita menggenggam tangan Maya, "Tante tidak perlu merasa terbebani. Menurutku, hubungan keluarga memang terkadang ada masalah. Tapi, keluarga tetaplah keluarga. Pada akhirnya mereka tetap akan saling menyayangi."
"Kamu benar, Prita. Tante juga berharap suatu saat keluarga ini bisa harmonis dan saling meyayangi. Terlepas apa yang sudah terjadi di masa lalu."
"Itulah sebabnya tante sangat mendukung pernikahan kalian. Tante harap, pernikahan yang dilandasi rasa saling cinta bisa lebih kokoh daripada pernikahan yang pernah tante rasakan."
"Prita salut dengan Tante, bisa menjalaninya dengan tegar dan kuat."
Maya tersenyum, "Tante tidak setegar itu, Prita. Banyak hari-hari yang harus Tante lalui dengan air mata dan kesepian."
"Ma.... "
Reonal sudah berdiri di depan pintu.
"Tante, aku keluar dulu, ya."
Prita berjalan meninggalkan Maya. Sebelum keluar pintu, Reonal sempat mengusap puncak kepalanya layaknya seorang ayah kepada anaknya. Membuat Prita merindukan momen-momen bersama kedua orangtuanya.
Ruang makan terlihat sudah sepi. Tersisa makanan yang ditinggalkan oleh orang-orangnya. Piring yang dibanting Reonal masih berserakan di lantai. Para pelayan belum berani masuk kembali sebelum diperintahkan.
Prita melayangkan pandangan ke sekeliling, tapi tak menemukan Ayash maupun Arga. Ia berjalan menuju ruang tengah dan ruang tamu. Di sana tak ada siapapun. Prita berjalan ke area belakang yang terhubung dengan taman. Samar-samar ia mendengar suara percakapan. Arga dan Ayash bercakap-cakap di ruang kerja Reonal.
"Huh! Keluarga ini ternyata lebih kacau dari dugaanku. Bukankah mamaku tampak seperti jalang di sini?"
Arga menunjukkan foto Rianti dan Amar yang tampak berpose mesra.
"Hm, cantik. Ini pertama kalinya aku melihat foto ayah kandungku. Aku bahkan baru mendengar namanya, Amar Prayoga."
"Aku pernah bertemu dengan ayahmu. Beberapa kali Mama mengajakku jalan-jalan bersamanya."
"Kenapa tidak sejak dulu Kak Arga mengatakan semuanya?"
"Entahlah! Mungkin karena sekarang kamu menyebalkan."
__ADS_1
"Kak Arga masih mau mengambil PT Prayoga Jaya?"
"Hah! Kamu sedang menyindirku? Sebenarnya sekarang aku bahkan sangat malu. Apa yang aku yakini ternyata hanya imajinasiku saja. Membaca isi diary mamaku aku semakin ingin menertawakan diriku sendiri. Wanita yang sangat aku hormati perilakunya tak lebih dari seorang jalang."
"Jangan begitu, bagaimana juga, dia tetap ibumu. Mungkin dia tak sempurna menjadi seorang istri. Tapi aku yakin, semua ibu akan berusaha menjadi yang terbaik untuk anaknya. Buktinya, Kak Arga selama ini mengenang dia sebagai seorang ibu yang baik, kan?"
"Sejak kecil aku lebih dekat dengan Papa daripada Mama. Mereka sama-sama bekerja di perusahaan yang sana. Tapi, Mama lebih sibuk dan jarang di rumah karena pekerjaannya. Mungkin alasan sebenarnya dia terlalu sibuk bermain dengan ayahmu. Hahaha.... Orangtua kita yang sekarang seperti korban-korban pengkhianatan yang disatukan."
"Maafkan aku atas sikapku selama ini. Aku tidak bisa merepresentasikan seorang kakak yang baik untuk adiknya."
Ayash menggeleng, "Kak Arga masih menjadi Kakak terbaik untukku. Semua ini terjadi karena kesalahpahaman saja. Mungkin aku bisa memaafkanmu."
Arga tersenyum, "Kamu memang selalu jadi anak baik."
Ia menepuk pundak Ayash dan pergi meninggalkan ruang kerja ayahnya.
"Loh, Prita?" Arga kaget melihat Prita ada di samping pintu.
Prita tersipu malu, "Maaf Kak, aku tidak bermaksud menguping."
"Masuk saja, aku akan ke kamar."
*****
"Memangnya kalau aku menikah aku sudah tidak jadi adikmu, ya?" Raeka tetap fokus menonton film sambil memegang erat toples camilan di pangkuannya.
Kali ini Raeka ada di rumah besar berkumpul dengan orang tua dan kakak-kakaknya. Malam ini akan ada acara makan-makan keluarga, mau tak mau mereka harus pulang ke rumah.
Rumah selalu ramai saat mereka berkumpul. Tapi, Raeka tidak terlalu suka berkumpul dengan kakak-kakaknya. Mereka terlalu jahil dan sangat mengganggu, terutama Rafa.
Rafa hendak ikut mengambil camilan di toples namun tangannya ditepis, "Ambil sendiri di dapur!" seru Raeka.
"Males!" Rafa memaksa dan akhirnya berhasil mengambil camilannya.
"Kamu yakin, Irgi bisa mencukupi kebutuhanmu nanti?"
"Yakin. Di depan kalian kan dia sudah bilang mau bekerja keras demi aku." Raeka menjawab dengan mantap.
"Itu kan hanya ucapan manis lelaki, nggak tahu realisasinya nanti."
__ADS_1
"Ayah juga tidak keberatan kan, dengan pilihanku."
"Mungkin ayah hanya tidak tega membuatmu menangis saja seperti bayi yang minta mainan dan harus dituruti."
"Kak, sebenarnya apa sih yang mau kamu bilang? Sukanya menggangguku terus."
"Loh, aku kan hanya mengkhawatirkan adik kesayanganku. Aku takut nanti kamu menyesal memilihnya. Bisa saja kan usaha Irgi bangkrut atau semacamnya."
"Sepertinya ayah tidak akan keberatan jika menambah satu anak lagi. Jika Irgi miskin sekalipun, ayah tetap kuat kan, menghidupi kami. Apalagi ada kalian, kakak-kakakku yang sangat baik hati."
Rafa merebut toples yang sedari tadi dipegang Raeka. Ia senang melihat ekspresi kemarahan dari adik perempuannya.
"Kak... cepat cari pacar dan segera menikah. Jangan ganggu kesenanganku terus."
"Hahaha... kekesalanmu adalah hiburan untukku. Aku akan berlama-lama menjomblo agar bisa lebih lama mengganggumu. Aku juga tidak akan buru-buru menikah, supaya kamu juga tidak segera menikah."
Raeka bertambah geram, ia berusaha kembali merebut camilannya. Cubitan bertubi-tubi ia berikan kepada Rafa yang terus tertawa riang karena berhasil mengganggu adiknya.
Hap!
Regi yang baru keluar kamar langsung bergabung membantu Raeka merebut kembali toples camilan. Ia duduk di antara keduanya.
"Kalian masih saja bertingkah seperti anak kecil." Regi mengganti acara TV ke saluran berita.
"Jarang-jarang ada kesempatan mengganggu adik kesayangan kita, Kak. Dia jadi jarang pulang ke rumah sekarang sejak pacaran."
"Oh, iya. Irgi malam ini datang?"
"Katanya dia tidak bisa, ada janji dengan orang lain." Raeka meneruskan makan camilan.
"Pasti ketemu selingkuhannya, itu."
Raeka melemparkan tatapan tajam ke arah Rafa. Kakaknya yang satu ini memang tidak akan berhenti sebelum berhasil membuatnya menangis.
"Janji dengan siapa sampai melewatkan acara keluarga kita?" tanya Regi.
"Mungkin bertemu calon investor. Akhir-akhir ini kan dia sibuk membangun relasi bisnis."
"Sepertinya dia tidak belajar dari kata-kata ayah. Untuk apa susah-susah mencari relasi bisnis kalau di depan mata sudah ada? Kalau dia pintar, dia akan datang malam ini. Karena semua keluarga kita adalah pebisnis."
__ADS_1
"Betul itu. Irgi terlalu sombong dan percaya diri. Dia tidak tahu kerasnya dunia bisnis seperti apa." Rafa menguatkan ucapan Regi.
"Kakak-kakakku tersayang, cepatlah mencari pacar dan menikah. Berhenti mengurusi adikmu ini, oke? Irgi sedang berusaha untuk bisa pantas disandingkan dengan keluarga Wijaya. Tolong hargai usahanya. Aku mau ke kamar saja, di sini banyak gangguan. Bye!"