ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Kejujuran


__ADS_3

Ayash masih duduk di dalam mobilnya yang terparkir di pertigaan jalan tak jauh dari rumah Prita. Sebenarnya saat itu ia memang ingin langsung ke rumah Prita. Namun, ia menghentikan laju mobilnya ketika melihat mobil Ferrari hitam berhenti di depan rumah pacarnya. Ia melihat Prita keluar dari mobil itu. Seketika rasa kesal muncul di hatinya. Ingin rasanya ia keluar dan menghajar pemilik mobil itu. Niatnya terhenti ketika ada telepon dari Egi, asistennya.


"Halo, Egi. Ada apa?"


"Saya mau melaporkan informasi yang Anda minta, Pak."


"Ya, katakan!"


"Anak kecil yang bersama Nona Prita itu salah satu muridnya di TK Tunas Bangsa, Pak. Namanya Leonel Marshall, Putra dari Tuan Jimmy Marshall, Pemilik Hotel Cassanova."


Mata Ayash terbelalak, "Apa!? Bukannya orang itu sudah punya istri? Istrinya Renata Ariana kan, pemilik agensi modeling?"


"Benar, Pak."


"Sialan! Berani-beraninya lelaki beristri mendekati pacarku!" bentak Ayash.


"Tapi, yang tadi siang bersama Nona Prita bukan Tuan Jimmy, Pak."


"Hah? Terus siapa?"


"Teman baik Tuan Jimmy, namanya Bayu Bagaskara, Pak. Putra dari Tuan Samuel Bagaskara, pemilik perusahaan pertambangan batubara."


"Bayu Bagaskara? Kenapa aku tidak pernah mendengar namanya."


"Dia belum lama pindah ke kota ini, Pak. Sebelumnya dia di Kota J."


"Ada urusan apa dia di kota ini?"


"Saya belum tahu. Nanti saya cari tahu."


"Apa dia masih lajang?"


"Masih, Pak. Usianya baru 32 tahun."


'Itu sih masuk usia perjaka tua. hadah, sainganku om-om. Awas saja kalau beneran dia Sugar Daddy Prita!' batin Ayash.


"Ya sudah. Kalau ada informasi lain, segera hubungi saya."


"Baik, Pak."


Ayash kemudian menutup sambungan teleponnya. Dilihatnya lagi ternyata mobil Ferrari hitam itu sudah tidak ada di depan rumah Prita. Segera ia mengambil kembali ponselnya dan menghubungi Prita.


"Halo... " Suara lembut itu membuatnya meleleh.


"Sayang, aku ada di restoran. Kamu nggak masuk kerja, ya?" Ayash berbohong.


"Ah, iya Sayang... maaf aku lupa memberitahu tadi. Tadi aku libur kerja. Sekarang, aku sudah di rumah."

__ADS_1


'Sibuk apa saja sampai lupa memberi kabar? Sibuk pacaran dengan om-om?' batinnya Ayash.


"Kalau begitu, aku ke rumah, ya.... " tanyanya.


"Iya... "


"Kamu sudah makan malam?"


"Belum... "


"Mau aku belikan apa?"


"Pizza... "


"Oke, tunggu ya."


Ternyata pacarnya belum makan malam dan meminta dibelikan pizza. Langsung ia menghubungi nomor Egi.


"Halo... "


"Cepat belikan pizza mozarella jumbo dan bawakan ke daerah rumah Prita. Aku tunggu di pertigaan."


"Baik, Pak."


Ayash menghela nafas panjang. Ia harus kembali bersabar menunggu pesanannya datang. Otaknya sudah mengumpulkan banyak pertanyaan yang akan ia utarakan kepada Prita. Ia harap pacarnya itu akan jujur. Jika sampai berbohong, ia pun tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Mungkin dia akan menculik dan mengurung Prita agar tidak bertemu dengan orang lain.


"Ini, pak." Egi menyerahkan kotak pizza kepada bos nya.


"Cepat juga kamu, Egi. Terima kasih, kamu boleh pulang."


"Baik, Pak." balas Egi seraya memasuki mobilnya dan langsung memacu mobilnya pergi.


Sementar, Ayash melajukan kembali mobilnya dan menghentikannya di depan rumah Prita. Dibawanya kota pizza memasuki area halaman rumah.


Ting tong...


Ayash menekan bel. Sejurus kemudia, Prita datang membukakan pintu dengan senyum manisnya.


"Pizza pesananmu." ucap Ayash seraya menyerahkan kotak pizza kepada Prita.


Prita menerimanya dengan raut kegirangan, "Oh, terima kasih... Maaf menjadikanmu seperti kurir, sayang. Ayo masuk, kita makan ini bersama."


Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu. Prita yang tak sabar langsung membuka kotak dan mengambil sepotong pizza. Sebenarnya Ayash ingin segera membombardir Prita dengan sejuta pertanyaan di kepalanya. Namun ketika melihat wajah imut dan polos itu, membuatnya tak tega.


"Hmmm... ini enak banget!" seru Prita. "Ayo dimakan, sayang." Prita mengambilkan sepotong pizza dan diberikan kepada Ayash.


"Kenapa bolos kerja?" cecar Ayash.

__ADS_1


"Sepulang sekolah, salah satu muridku merengek minta aku antar pulang. Jadi aku antar pulang."


"Memang rumahnya sangat jauh? Kok sampai kamu harus bolos kerja?"


Prita berhenti mengunyah makanan. Ia merasa pertanyaan Ayash sedang mengintimidasinya. "Nggak jauh... tapi dia merajuk minta ditemani makan siang dan jalan-jalan sebentar membeli mainan. Jadi, petang aku baru pulang."


"Yang merajuk minta ditemani sebenarnya muridmu atau om-om yang bersama kalian?" Ayash bertanya dengan nada sedikit ketus.


"Hah!? Om-om?" Prita merasa tidak paham dengan pertanyaan Ayash.


"Ya, tadi siang aku melihatmu sedang makan bersama seorang anak kecil dan om-om di restoran Hotel Cassanova. Bisa kamu jelaskan, siapa lelaki itu?" tanyanya lagi dengan menatap mata Prita dalam-dalam.


Prita paham kalau saat ini pacarnya itu sedang cemburu, "Dia bukan siapa-siapa, Yang. Dia hanya menjemput muridku saja karena orangtuanya sibuk."


"Yakin, dia bukan Sugar Daddy mu?"


Prita terkekeh, "Oh, Ya Tuhan... ngapain aku punya Sugar Daddy? Pacarku saja bisa mencukupi apa yang aku mau." jawabnya seraya menyandarkan tubuhnya di dada Ayash.


"Aku kira seleramu lelaki yang cukup berumur."


Prita mengelus dada kekasihnya, "Sejak SMA, aku hanya suka kamu. Bahkan saat kamu masih menganggapku sahabat, aku sudah mencintaimu. Sampai sekarang pun masih sama."


Mendengar penuturan Prita, Ayash langsung membalas pelukannya. "Aku takut perasaanmu sudah berubah. Karena lelaki itu juga seorang pria mapan dan matang secara usia. Maaf, aku sudah curiga dan cemburu padamu."


"Tidak... jangan minta maaf. Aku berterima kasih telah cemburu padaku, karena artinya, kamu memang mencintaiku. Tapi, meskipun kamu cemburu, percayalah, aku hanya cinta kamu."


"Iya, Sayang." Ayash mengecup puncak kepala Prita.


"Ah iya, kalau kamu melihatku di Hotel Cassanova, kenapa tidak menghampiriku?"


"Waktu itu aku ada meeting, Sayang. Aku hanya bisa melihatmu dari jauh dan itu membuatku sangat cemburu. Kamu bahkan tidak pernah bolos kerja demi menghabiskan waktu bersamaku. Tapi kamu rela melakukannya demi orang lain?"


"Iya, maaf."


"Aku sempat berpikir, kamu tidak mau pindah ke apartemenku karena mungkin kamu tidak akan leluasa menemui lelaki lain."


Prita melepaskan pelukannya, ia menangkupkan kedua tangannya di wajah, "Ya Tuhan... fantasimu terlalu tinggi, Yang. Aku juga masih menimbang mau pindah ke apartemenmu atau tidak. Aku masih belum bisa meninggalkan rumah ini."


"Kalau begitu, aku saja yang pindah kesini."


Prita mengernyitkan dahinya, "Ini daerah perumahan, Sayang... jangan ngawur!"


"Ya sudah, kamu saja yang ikut ke apartemenku. Lagipula, kamu sudah bilang mama mau menemaniku, lho... Kamu lupa? Nanti mama kecewa calon menantunya berbohong.... "


"Iya, iya... nanti aku pindah! Tapi, aku mau resign dulu dari restoran. Sepertinya aku mau memulai bisnis sendiri. Aku ingin buka restoran sendiri dengan uang tabunganku. Tolong kamu bimbing aku belajar berbisnis, ya."


"Tentu, Sayang."

__ADS_1


__ADS_2