ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Kapan Nikah?


__ADS_3

Selesai mandi kilat, Prita langsung terjun ke dapur membantu Mama Maya mempersiapkan sarapan. Ayash belum tampak keluar dari kamarnya.


"Kamu kapan pulang dari Singapura, Ta?


Singapura? Mendengar nama negara itu disebut membuat Prita menjadi canggung. Ia sama sekali tak pernah ke luar negeri. Untung Ayash pernah mengingatkannya kalau nanti pasti akan banyak orang yang bertanya tentang dirinya.


Ya, satu bulan menghilang dan putus kontak dengan orang-orang secara tiba-tiba tentu menimbulkan pertanyaan. Tidak mungkin dia mengatakan yang sejujurnya.


"Satu minggu yang lalu, Tante."


"Lho, sudah lama juga pulangnya. Kok tidak mengabari tante?"


"Mmm... itu tante, ponsel Ayash yang pegang. Saya belum sempat mengeceknya karena setelah pulang sibuk mengurusi kafe lagi." kilah Prita.


"Hah! Anak itu memang benar-benar, ya.... Tante telepon saja kadang dia tak mau angkat."


"Mungkin Ayash sibuk."


"Sesibuk apapun, masa tidak bisa menyempatkan diri menghubungi mamanya?"


Prita sedikit merasa bersalah. Ayash selama ini selain sibuk bekerja juga sibuk mencari dirinya.


"Eum, Tante... ini dendengnya beneran dari daging rusa?"


"Beneran, dong... Ini oleh-oleh khas Kota A. Ayash biasanya suka sekali. Bahannya dari daging rusa yang dikeringkan. Prosesnya saja bisa berbulan-bulan. Kamu juga harus coba."


"Kalau sambal ganja? Namanya aneh.... "


"Hahaha... ini sambal ganja cuma namanya saja karena bikin orang ketagihan kalau memakannya. Bahannya sih nggak ada ganja-ganjanya, Ta. Paling cabai, bawang, belimbing wuluh, daun jeruk, sama irisan udang kecil."


"Om Reonal kok nggak ikut?"


"Ah, bapak tua itu masih tidur. Jangan ditanyakan deh. Susah banguninnya. Tante nggak sabar kalau harus menunggunya bangun. Sudah kangen Ayash."


"Kasihan om ditinggal sendiri.... "


"Nanti tante pulang, paling juga belum bangun, Prita."


"Cie... calon mantu dan calon mertua akur.... "


Ayash keluar dari dalam kamar dengan dandanan yang sudah rapi. Ia mencium pipi mamanya, kemudian mencium pipi Prita.


"Ck, berani-beraninya kamu cium Prita di depan mama." Maya tidak habis pikir dengan kelakuan anaknya.


"Biar adil, Ma.... " dengan santainya Ayash langsung duduk di kursi.


Prita menata lauk yang sudah ia buat di atas meja. Maya menaruh dendeng daging rusa yang sudah dihangatkan tepat di depan Ayash.


"Wah, favorit nih!" Seru Ayash ketika melihat makanan kesukaannya terhidang.


Pagi itu, mereka sarapan bersama. Sebuah suasana hangat yang rasanya sudah lama sekali tidak mereka lakukan. Masing-masing dari mereka sibuk bekerja dan jarang bisa bertemu. Apalagi Mama Maya, yang sering pergi ke luar kota mendampingi suami. Bisa bertemu anak beberapa kali dalam setahun saja sudah sangat bersyukur.


"Kalian mau nikah kapan?"


Pertanyaan Mama Maya membuat Ayash dan Prita tersentak. Mereka saling melemparkan pandangan satu sama lain.


"Tidur sudah kelonan begitu masih mikir mau nikah kapan?" Maya kembali menyindir. Membuat keduanya kembali malu.


Prita menggigit bibir bawahnya. Jika ditanya seperti itu, hatinya juga bimbang. Bukan karena ia tak mau menikah dengan Ayash, tapi, apa Ayash benar-benar mau menikah dengannya? Apa Ayash mau menerima kondisi dirinya yang sudah ternodai oleh lelaki brengsek bernama Bayu? Prita belum berani mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Mumpung ada mama papa di sini, Yash."


"Memangnya nggak apa-apa, melangkahi Kak Arga?"


"Aduh, kakakmu itu nggak tau deh, sebenarnya suka wanita apa nggak. Ayahmu sudah berkali-kali menanyakan, tapi katanya belum berminat untuk menikah. Karena kamu sudah punya pacar, apalagi sudah main kelon-kelonan, kamu saja yang menikah duluan."


"Ma... bisa nggak sih, jangan diungkit-ungkit terus. Kita kan malu." protes Ayash.


"Prita mau kan menikah dengan Ayash?"


Prita tersenyum kaku, "Em, itu terserah Ayash saja."


"Nah, kan... Kata Prita terserah kamu. Kamu mau menikah kapan, Ayash?"


"Kapan, Ta?" Ayash membalikkan pertanyaan kepada Prita.


Prita mengangkat kedua bahunya.


"Satu bulan lagi bagaimana? Kayaknya cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya."


Prita hanya membalas dengan senyuman.


"Satu bulan itu waktu yang sangat cukup. Mama dan papa juga akan membantu, tenang saja."


"Tante beneran, nggak keberatan saya menikah dengan Ayash?" Prita bertanya ragu-ragu.


"Loh, memangnya kenapa, Prita? Kamu cinta Ayash, kan?"


"Iya, Tante."


"Ayash juga cinta sama kamu. Jadi, bagus kan kalau kalian menikah?"


"Ta.... " Ayash menyela. Dia tidak suka Prita membahas masalah seperti itu.


"Ya, tante sudah tahu. Dan itu tidak masalah bagi tante. Yang penting Ayash mencintai kamu, itu sudah jadi alasan kuat untuk merestui kalian. Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, Prita. Ayah Ayash juga bukan orang yang kaku dan otoriter."


"Terima kasih, ya, Tante. Sudah mau menerima saya."


*****


"Prita... kangen.... "


Raya berjingkrak-jingkrak sambil memeluk Prita dengan antusiasnya. Selesai mengajar di TK, ia buru-buru pergi ke kafe Saranghae setelah Prita mengabarinya telah pulang ke Kota S. Ia bahagia sekali bisa bertemu kembali dengan teman mantan rekan kerjanya.


"Lama nggak ketemu tambah cantik aja, Ta." puji Raya.


"Halah! Anak-anak apa kabar?"


"Baik, Ta. Mereka sering nanyain kamu, lho. Sekali-kali mampirlah ke sekolah."


Prita menghela nafas, "Nggak enak sama Bu Retno, Ray."


"Bu Retno jarang datang kok... Beliau sibuk ngurus Mario."


Prita mengajak Raya duduk. "Memangnya Mario kenapa?"


Lama juga Prita tak mendengar kabar Mario. Terakhir kali melihatnya di ruang bawah tanah mansion Bayu. Orang seperti dia memang tak patut diingat, hanya membuatnya kembali mengingat hal-hal buruk saja.


"Ah, iya benar juga. Kamu sudah terlalu lama pergi jadi ketinggalan berita. Pokoknya, Mario sering banget bermasalah deh. Pernah lama menghilang, waktu pulang badannya penuh luka gitu seperti orang habis disiksa. Yang terakhir ini, dia kedapatan mengkonsumsi narkoba."

__ADS_1


"Hah, narkoba?"


"Sepertinya sedang diproses hukum. Entah nanti Mario akan dipenjara, direhab, atau mungkin juga bisa bebas. Bu Retno bolak-balik terus ke kantor polisi."


"Bisa begitu ya, dia."


"Iya. Stress kali dia gara-gara kamu tolak."


"Lah, kok aku dibawa-bawa."


"Ya, kan semenjak kejadian itu tingkah lakunya nggak ada yang beres, Ta. Mungkin dia cinta mati sama kamu."


"Kalau cinta kok malah nyakitin." Prita jadi teringat tentang Bayu.


"Nggak taulah, hobi lelaki sepertinya memang menyakiti wanita." ucapan Raya sesuai dengan pengalaman hidupnya yang sering dicampakan oleh pria.


"Ngomong-ngomong, kamu sudah punya pacar baru belum?"


"Hah! Aku jomblo lagi, Ta. Belum lama ini aku baru putus."


"Loh, kamu putus sama Handi?"


Raya menepuk dahi, "Handi itu cerita lama. Aku yang ditinggalin malah sama dia waktu awal-awal kamu pergi ke Singapura. Kemarin sempat pacaran juga sama Joni nggak sampai sebulan sih, aku yang putusin."


"Eh, tumben kamu putusin cowok."


"Banyak ngatur, aku nggak suka. Masa aku suka drakor aja katanya salah. Hah! Mungkin memang lebih baik jomblo aja. Nasib tragis terus kalau berhubungan sama cowok. Gimana sih, Ta... cara dapetin cowok setia yang kayak Ayash? Kok kalian bisa langgeng banget dari dulu."


"Aduh, aku juga tidak tahu. Mungkin karena kita sama-sama nggak laku. Hahaha.... "


"Yang suka kamu juga banyak kali, Ta. Mario saja sampai begitu gara-gara kamu."


"Ta.... "


"Hem?"


"Kamu kenal Pak Egi, kan?"


"Pak Egi?" Prita memicingkan alisnya.


"Asistennya Ayash itu, lho... "


"Oh... Egi. Kenapa memangnya?"


"Kapan-kapan ajak dia jalan bareng kita dong.... "


"Hah, kenapa? Kamu duka Egi?"


Raya mengerlingkan sebelah matanya, "Hehehe...."


"Raya... Egi itu umurnya sudah 30-an, lho.... " Prita melongo mendengar temannya mengakui kalau suka dengan Egi.


"Ya, aku tahu. Tapi, dia tidak kelihatan setua itu. Aku suka juga dengan lelaki yang kelihatan dewasa. Yabg penting, dia jomblo, kan?"


"Iya, sih. Dia jomblo. Tapi, orangnya kaku. Yakin, kamu suka?"


"Yang penting bisa memberikan kehidupan yang layak aku nggak masalah, Ta. Aku bosan pacaran. Kalau Pak Egi mau menikah, aku siap dilamar. Tolong bilang ke dia, ya. Bantu aku pokoknya supaya bisa menikah dengan Pak Egi."


Prita hanya bisa tersenyum kaku. Entah Raya sedang waras atau tidak, sepertinya dia terlalu stress karena sering putus.

__ADS_1


__ADS_2