ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Mario


__ADS_3

Pukul sembilan pagi, anak-anak di TK Tunas Bangsa sedang menikmati waktu istirahat mereka. Ada yang bermain ayunan, perosotan, jungkat-jungkit, dan kejar-kejaran. Beberapa anak memilih untuk mengerumuni Miss Raya yang sedang mengajari cara membuat bentuk hewan dari lilin mainan.


"Miss Raya, ajari buat Iron Man." celetuk Leo yang tidak sabar menunggu gurunya menyelesaikan bentuk kura-kura milik Dani.


"Jangan, Miss... Buat bunga saja." sahut Fara tak mau kalah.


"Apasih, bunga jelek! Bagus Iron Man." balas Leo.


"Nggak! Bunga bagus!"


"Sudah... sudah... tidak boleh bertengkar. Kalau bertengkar, Miss Raya tidak mau mengajari lagi."


"Yah... jangan, Miss..." bujuk Fara.


"Kalau begitu, kalian harus akur. Nanti bu guru bantu kalian membuat bunga atau Iron Man."


"Yea...." sorak anak-anak.


"Miss, kalau membuat mobil-mobilan bisa?" Tara ikut merajuk.


"Bisa, sayang...."


Raya membantu satu persatu muridnya membuat bentuk yang mereka inginkan dengan sabar. Anak-anak itu terlihat sangat memperhatikan apa yang dilakukan gurunya.


"Hai, Raya.... " sapa seseorang.


Raya menoleh ke arah suara, "Oh, hai, Mario. Bu Retno sedang keluar."


"Ah, aku tidak mencari ibuku. Aku ingin bertemu Prita."


"Oh... Prita ada di halaman belakang."


"Oke. Makasih ya, Raya."


Mario langsung pergi ke tempat yang disebutkan Raya. Sementara Raya melanjutkan kegiatannya bersama anak-anak.


Di halaman belakang tampak Prita sedang memunguti bola yang sebelumnya digunakan untuk permainan anak-anak. Mario berjalan mendekat.


"Sibuk, Ta?"


Prita Menoleh, "Eh, Mario. Iya, biasa. Ada apa? Mau bertemu ibumu?" tebak Prita.


Mario memang anak Ibu Retno, pemilik yayasan TK tersebut. Mario cukup sering datang ke sana untuk bertemu ibunya. Sehingga, orang-orang di TK sudah cukup mrngenalnya. Apalagi Prita, yang sudah kenal sejak mereka kecil karena ibu mereka dulu memang bersahabat.


"Nggak, Ta. Aku kesini mau ketemu kamu."


Prita agak bingung, "Oh, begitu. Ya sudah, duduk dulu. Aku simpan dulu ini di gudang." katanya seraya membawa keranjang berisi bola ke arah gudang.


Mario duduk di bangku halaman belakang. Bola matanya terus mengikuti gerakan Prita. Tak berapa lama, Prita datang dan duduk di sebelah Mario.

__ADS_1


"Ada apa, Yo?"


"Pulang dari sekolah kita jalan, yuk!"


Prita tercengang dengan ajakan Mario, "Mm... aku nggak bisa. Aku kan harus kerja di restoran."


"Kalau gitu, nanti malam ya. Habis kamu kerja aku jemput."


"Nggak bisa, Yo."


"Kenapa?"


Prita bingung memberi alasan apa untuj menolaknya secara halus. Bagaimanapun juga, Mario anak dari sahabat ibunya yang selama ini sudah banyak membantunya. Selama ini memang mereka terkadang menghabiskan waktu bertiga dengan Raya. Tapi, sekarang ada Ayash. Tidak mungkin lagi ia bisa punya waktu jalan dengan temannya. Apalagi teman lelaki.


"Kenapa, Ta?"


"Ya... aku sedang tidak ingin main. Kamu pergi sama Raya aja."


"Aku maunya kamu ikut."


"Aku nggak bisa."


"Akhir-akhir ini kayaknya kamu sering menolak ya, kalau aku ajak jalan."


Prita terdiam sejenak, "Aku mau jujur. Aku sudah punya pacar, Yo."


"Bukannya ibuku sudah pernah bilang ya, kalau kamu mau dijadikan mantu?"


"Aku kira Bu Retno hanya bergurau. Kamu kan juga dulu menolak."


"Tapi sekarang aku suka sama kamu."


"Hah!? Aku kira kamu sukanya sama Raya. Kamu kan selalu maksa kita jalan bertiga."


"Yang benar saja.... "


Mario langsung pergi. Sepertinya dia sangat kesal pada Prita.


"Kenapa, Ta?" tanya Raya yang baru muncul dari balik tembok. "Muka Mario kayaknya kesel banget."


"Ah, iya Ray. Mario marah karena aku bilang aku sudah punya pacar. Katanya dia suka sama aku."


"Nah, kan... apa aku bilang. Mario suka sama kamu. Makanya dia sering ajak kita jalan."


"Lha, aku kira yang dia suka kamu. Soalnya dia suka tanya-tanya tentang kamu."


"Alibi.... "


"Terus aku harus gimana? Aku juga nggak enak sama Bu Retno."

__ADS_1


"Ya sudah, kamu sama Mario saja. Biar Mas Ayash sama aku." gurau Raya.


"Ih... Nggak boleh!" seru Prita sambil mencubit lengan Raya.


"Iya, iya... aku kan cuma bercanda. Eh, waktunya anak-anak masuk kelas lho."


"Oh, iya. Ayo urusin anak-anak!"


*****


Semantara di kantornya, Ayash tampak sedang sibuk membaca-baca berkas laporan sambil sesekali ia membubuhkan tanda tangannya. Di sampingnya ada seorang lelaki bernama Egi yang merupakan asisten sekaligus sekretaris Ayash.


"Apa jadwal hari ini?" tanya Ayash sembari memutar kursinya menghadap sekertarisnya yanh sedari tari berdiri disampingnya.


"Nanti siang akan ada jadwal rapat dengan para kepala bagian, Pak. Setelah itu, Anda harus menghadiri acara perjamuan makan yang diadakan Tuan Mathias di Hotel Cassanova."


"Baiklah. Apa masih ada berkas yang harus diperiksa?"


"Tidak, Pak."


"Kalau begitu, apa sudah ada informasi tentang orang yang beberapa kali mau mencelakai saya?"


"Maaf, Pak. Belum. Tapi penyelidikan polisi masih terus berjalan."


Ayah mengurut pangkal hidungnya. "Kamu jangan hanya mengandalkan polisi. Sewa juga detektif atau mata-mata untuk menyelidiki orang-orang itu."


"Baik, Tuan."


"Selama di sini, sudah tiga kali mereka berusaha menyerang saya. Masa tidak ada bukti sama sekali? Bukanya ada rekaman di CCTV parkiran kemarin?"


"Kebetulan saat itu CCTV sedang mati, Tuan. Dan mereka langsung kabur saat tim keamanan datang. Jadi, tidak ada bukti apapun."


"Aneh, ya. Kebetulan sekali CCTV bisa mati saat kejadian." guman Ayash. "Tolong kamu juga selidiki kemungkinan adanya orang dalam."


"Baik, Pak."


"Apa kamu mecurigai seseorang? Siapa ya, yang kira-kira dendam dengan saya?" guman Ayash.


"Bisa jadi salah satu saingan bisnis Anda, Pak."


"Iya, dugaan saya juga kesana. Tapi siapa... inikah masih tergolong perusahaan kecil."


"Atau mungkin kakak Anda sendiri, Pak? Anda tidak mencurigainya?"


Ayash memicingkan sebelah matanya. Ia heran dengan asumsi sekertarisnya. "Hah!? Kakakku? Arga? Mana mungkin? Dia sudah menjalankan 3 perusahaan milik ayahku. Aku baru satu kali ini mencoba mengelola perusahaan. Ini perusahaan kecil, makanya ayah memberikannya kepada saya. Seharusnya kalau ada dendam, saya yang lebih dendam pada kakakku karena perusahaan yang ia pegang lebih banyak dari saya."


"Saya hanya berpendapat, Pak. Bukan maksud menjelek-jelekkan Tuan Arga. Maafkan saya."


Ayash langsung merenung. Hubungannya dengan Arga memang tidak bisa disebut baik, tapi juga tidak bisa disebut tidak baik. Arga pernah tinggal serumah dengannya sampai lulus kuliah. Meskipun Arga sangat acuh pada ibunya, tapi kakaknya itu masih mau bermain dengannya. Ia tahu kakaknya belum bisa menerima kehadiran ibunya. Tapi sebagai kakak, dia tidak pernah jahat kepada adiknya.

__ADS_1


__ADS_2