
Malam ini Ayash masih berkutat dengan pekerjaannya di kantor. Hampir dua minggu ia tidak bisa datang ke kantor karena harus menjalani perawatan untuk pemulihan cideranya. Kini kondisinya sudah sangat baik. Luka-luka di tubuhnya sudah sembuh, kecuali luka batinnya.
Meskipun tetap mengerjakan pekerjaan kantor sewaktu masih di rumah sakit, namun pekerjaannya masih saja menumpuk. Banyak pekerjaan-pekerjaan yang ditunda karena kondisinya. Kini, ia harus menyelesaikan semuanya.
Tok tok tok....
"Masuk." perintah Ayash.
Egi melongok dari arah pintu.
"Ada apa, Gi?"
"Anda belum pulang, Pak?"
"Pekerjaan masih banyak mana bisa aku pulang." Ayash menunjukkan tumpukan berkas yang harus ia pelajari.
"Bapak kan baru pulang dari rumah sakit. Kalau tidak cukup istirahat, Anda bisa balik lagi ke sana."
"Aku sudah sembuh. Bagaimana dengan anak buahmu, apa sudah berhasil menemukan Prita."
"Belum, Bos."
Ayash mengusap kasar wajahnya. Ia merebahkan diri di kursinya sambil menghela nafas. Entah harus kemana lagi ia harus mencari. Kantor Bayu sudah tidak bisa didatangi setelah Egi dan Irgi ke sana.
Drrt... Drrt... Drrt....
Ponselnya bergetar. Telepon dari Raeka.
"Halo... apa kamu sudah menemukan Prita?" tanya Ayash tanpa basa-basi.
"Oh, Ya Tuhan... baru aku meneleponmu sudah menanyakan Prita."
"Urusanku denganmu memang hanya mengenai Prita. Apa aku perlu bertanya kamu sudah makan malam atau belum?"
"Iyuh... nggak perlu!"
"Terus, ada berita apa?"
"Ah, iya. Aku ada berita yang bakal membuat terkejut. Menurut mata-mataku, Bayu itu pengedar narkoba! Gila, kan? Oh, aku tidak menyangka sama sekali kalau dia pengedar narkoba." kata Raeka dengan antusias.
Sementara Ayash hanya bisa memijit keningnya, karena berita itu sama sekali tidak membuatnya terkejut. Dia sudah tahu siapa Bayu sebenarnya. Jangankan untuk berbisnis barang ilegal, membunuh orang pun pasti sudah biasa baginya.
"Kamu menaruh mata-mata di sana untuk menyelidiki bisnis haram Bayu atau mencari keberadaan Prita?"
"Apaan, sih... Kamu tidak tertarik dengan berita ini? Padahal aku saja tidak menyangka ada berita seperti itu."
"Tidak, aku tidak tertarik. Aku hanya tertarik jika kamu memberitahu tentang Prita."
"Ya, ya... maafkan aku. Tadinya aku memang menyuruhnya untuk mencari tahu keberadaan Prita. Tapi yang aku dapat, malah kabar Bayu akan menyelundupkan 1 ton ganja ke Kota J. Aku kan jadi terkejut. Masa kamu nggak?"
"Nggak. Kamu fokus saja mencari tempat persembunyian Bayu yang mungkin digunakan untuk tempat menyembunyikan Prita."
"Katanya orang itu jarang masuk kantor dan suka berpindah-pindah tempat tinggal."
__ADS_1
"Kamu suruh saja orangmu untuk memasak alat pelacak di mobil yang sering digunakan Bayu. Dia pasti mengunjungi salah satu tempat menahan Prita."
"Ah, iya, ya! Kenapa aku tidak kepikiran seperti itu."
"Ya karena kamu bodoh!"
"Apa kamu bilang? Berani-beraninya menghina orang yang sedang berusaha membantumu. Dasar orang songong! Kalau bukan karena Irgi, aku benar-benar tidak mau membantumu!"
Tut... Tut... Tut...
Sambungan telepon diputus sepihak oleh Raeka.
"Dasar nenek lampir."
Drrt... Drrt... Drrt....
Ponselnya kembali bergetar. Ada nomor mamanya yang tampil di layar. Ayash menghela nafas.
"Halo.... "
"Halo, sayang.... kamu sudah makan malam?"
"Sudah, Ma." Ayash berbohong. Karena terlalu sibuk mengurus pekerjaan, ia belum sempat makan malam.
"Kamu nggak bohong, kan?"
"Mama nggak percaya?"
"Ya, mama tidak percaya. Mama lebih percaya dengan Prita. Tapi, kenapa nomor Prita masih tidak bisa dihubungi?"
"Dia belum pulang?"
"Belum, Ma."
"Kok lama sekali... memangnya ada urusan apa dia sampai ke luar negeri lama?"
"Bisnis, Ma."
"Kenapa juga kamu tidak menemaninya? Kamu tidak khawatir dia kenapa-napa di sana? Dia kan belum pernah ke luar negeri."
Ayash memijit keningnya. Kali ini mamanya yang membuat pusing. Pertanyaannya banyak dan harus dijawab.
"Dia berangkat dengan timnya, Mama nggak perlu khawatir."
"Kamu tidak sedang berbohong, kan? Apa jangan-jangan kalian sedang ada masalah? Apa kalian bertengkar? Kalian putus?"
"Nggak, Ma. Hubungan kami baik-baik saja."
"Apa dia tidak mau menikah denganmu jadi dia kabur ke luar negeri?"
"Mama... nggak usah kebanyakan nonton sinetron! Khayalannya aneh-aneh."
"Sebentar lagi kan mama pulang, kita akan membahas pernikahanmu jika Prita masih mau menikah denganmu tentunya. Mudah-mudahan saat mama pulang, Prita juga sudah pulang. Mama ingin segera melihat kalian menikah dan mempunyai anak."
__ADS_1
"Iya, Ma. Iya."
"Ya sudah, mama tutup dulu teleponnya. Kamu jangan lupa makan!"
"Iya, Ma."
Tut.
"Hah! Pusing aku, Gi. Semua orang bertanya tentang Prita, sedangkan aku juga tidak tahu dia ada di mana."
"Sabar, Pak. Saya juga akan terus berusaha untuk mencari."
"Kamu jangan pernah menceritakan masalah ini kepada orang tuaku!"
"Baik, Pak. Anda bisa mempercayai saya."
"Kamu kadang-kadang juga berhianat. Kamu kadang pernah memberi tahu mama tentang aku, kan?"
"Kalau untuk hal-hal sepele, saya memang memberitahu Nyonya. Tapi, jika Bapak sudah melarang saya, saya akan diam."
"Terima kasih, Egi."
*****
Plak!
Tuan Samuel melayangkan satu tamparan ke pipi anak semata wayangnya, Bayu Bagaskara. Sudut bibirnya langsung mengeluarkan darah karena kerasnya tamparan itu.
"Dasar bodoh! Apa saja yang kamu lakukan sampai ceroboh begini? Lagi-lagi kamu sibuk mabuk-mabukan dan main perempuan, hah?"
"Maaf, Tuan. Ini semua kesalahan saya."
"Diam kamu Ben! Saya tidak berbicara denganmu."
Bug! Bug! Bug!
Tuan Samuel kembali memukuli Bayu dengan penuh emosi. Bayu hanya diam tanpa melakukan perlawanan. Dia sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti itu dari ayahnya. Sejak kecil, dia memang dididik dengan sangat keras oleh ayahnya sendiri karena ibunya sudah meninggal saat ia berumur 3 tahun.
"Gara-gara kamu ayah harus mengganti rugi keterlambatan pengiriman barang client. Untung mereka masih mau kerjasama dengan kita."
"Kamu kembali saja di sini. Sepertinya kamu tidak becus mengurusi pekerjaanmu di Kota S. Ayah akan mengirimkan orang untuk menggantikanmu di sana."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Tuan Samuel langsung pergi diikuti oleh beberapa bodyguard-nya. Sementara Bayu masih duduk tersungkur di lantai setelah dihajar habis-habisan oleh ayahnya.
Beni mendekati bosnya, "Maafkan saya, Bos. Tuan Besar marah karena saya. Seharusnya saya yang kena hukuman."
Bayu mengelap sudut bibirnya yang terluka, "Sudahlah, aku sudah biasa seperti ini."
"Lantas, apa yang harus kita lakukan, Bos?"
"Kita akan kembali ke Kota S, mengurusi masalah yang harus diselesaikan sebelum kembali ke sini. Aku juga akan mengajak Prita. Kamu harus merahasiakannya dari ayahku, mengerti?"
"Saya mengerti, Bos."
__ADS_1
"Aku masih heran, bagaimana bisa ada patroli polisi bertepatan dengan hari pengiriman kita? Padahal sudah dipastikan keadaan jalan aman. Apa ada yang membocorkan informasi?"