
Bu Retno duduk di kursi dekat ranjang pasien. Sudah hampir satu jam dia diam di sana. Di hadapannya, Mario sedang tidur. Selang infus masih terpasang. Kaki dan tangan terbalut perban putih. Lebam-lebam di wajah masih tampak meskipun sudah tidak separah beberapa hari sebelumnya.
"Hmm... Ibu sudah datang?" ucapnya lirih ketika terbangun dari tidur.
"Bagaimana kondisimu, Nak?"
"Ya, seperti yang Ibu lihat. Masih sakit semua badanku." Mario melirik ke sekeliling ruangan, tak ada siapapun di sana. "Bu, mana Prita?"
Bu Retno menghela nafas mendengar pertanyaan anaknya. Sejak kemarin memang ia memintanya untuk mengajak Prita kesana.
"Bu.... "
"Prita tidak ada." jawab Bu Retno.
"Ah! Aku kan meminta Ibu mengajaknya."
"Mana dia mau... " keluh Bu Retno.
"Kalau ibu yang memintanya, dia pasti mau."
"Sudah, sudah... lupakan Prita! Masih banyak wanita lain yang lebih cantik dari dia."
"Tapi aku cuma mau sama Prita. Bagaimanapun caranya, ibu harus membuat Prita mau denganku!"
Bu Retno menangkupkan kedua tangan ke wajahnya. Sejak dulu, Mario memang tipikal anak yang manja. Apa yang dia minta harus dituruti, jika tidak, maka ia akan mengamuk. Tapi, meskipun umurnya sudah bertambah, tingkah lakunya masih kekanak-kanakan.
"Ibu sudah tidak mau berhubungan dengan dia. Ibu juga sudah memecatnya dari sekolah. Lebih baik kamu fokus dengan kesehatanmu."
"Nggak! Aku tetap mau Prita. Kalau Ibu menghalangi, aku juga akan membenci Ibu!"
"Kalau kamu sebegitu suka dengan Prita, kenapa kamu mau memperkosanya, Nak! Sebenarnya ibu malu dengan kelakuanmu! Prita juga pasti sangat membencimu." geram Bu Retno.
"Aku melakukannya karena Prita menolakku, Bu. Dia sudah punya pacar. Jadi aku berniat membuatnya tidur denganku dan hamil anakku. Itu satu-satunya cara agar dia mau putus dengan pacarnya."
"Sudah, hentikan! Ibu tidak mau mendengarnya. Pokoknya, Ibu sudah tidak mau mengurusimu lagi."
"Terserah! Walaupun Ibu tidak mau membantuku, aku akan tetap berusaha sendiri untuk mendapatkan Prita!"
"Anak keras kepala!" Bu Retno bangkit dari kursinya dan berjalan cepat meninggalkan ruang perawatan Mario.
Mario meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ia mencari-cari kontak orang yang ingin di hubunginya.
"Halo.... "
".... "
"Aku ada tugas untukmu."
".... "
"Cari Prita dan bawa dia ke apartemenku."
".... "
"Tapi ingat, kalian tidak boleh melukainya sedikitpun! Tugas kalian hanya menyekap dia di apartemenku sampai aku keluar dari rumah sakit."
".... "
"Ya, kondisiku sudah semakin membaik. Aku hanya berpura-pura masih parah agar ibuku tidak tega padaku."
__ADS_1
".... "
"Oke. Kalau sudah berhasil, segera hubungi aku."
Klik.
Mario mematikan ponsel dan menaruhnya kembali di atas meja.
*****
Prita sedang melihat-lihat kondisi kafe setelah di tata ulang oleh Icha, desainer interior. Hasilnya sangat memuaskan. Sesuai dengan impian Prita. Ruko kumuh yang baru ia sewa, dalam waktu dua minggu sudah menjadi ruko ala-ala korea yang aestetik.
Setelah melalui pemikiran yang panjang, Prita menamai kafenya 'Saranghae Cafe'. Menurutnya, nama itu sangat cocok dengan konsep kafe miliknya. Ya, lebih baik dari pada dinamai 'Kafe Hantu' seperti usul Ayash.
Kafe Prita didominasi warna babu pink dengan paduan warna putih dan hitam yang selaras. Ada beberapa spot yang bisa digunakan pengunjung untuk berfoto secara gratis. Mereka juga bisa menyewa pakaian tradisional korea (hanbok) di sana.
Lantai atas di desain lebih santai dengan banyak penambahan beanbag yang sangat cocok bagi mahasiswa yang ingin bersantai sambil mengerjakan tugas. Jendela kaca sengaja dibuat sangat lebar untuk memaksimalkan pencahayaan alami saat siang hari.
Meskipun bangunan fisik kafe sudah selesai, namun kafe belum bisa dijalankan. Mungkin perlu waktu dua minggu lagi, menunggu para karyawan selesai menjalankan masa trainingnya.
Prita melirik jam tangannya. Sudah pukul delapan malam. Ia memutuskan untuk pulang. Ayash sedang lembur di kantor, sehingga tidak bisa menemaninya mengecek kafe.
Prita mengendarai motor Scoopy merah miliknya. Malam itu, suasana jalanan cukup lengang. Tiba-tiba ia agak merasa merinding, takut ada yang membonceng di belakangnya.
Ciittt..... !
Prita mengerem motornya mendadak karena ada mobil yang tiba-tiba berbenti di depannya. Beberapa orang pria berpakaian serba hitam keluar dari mobil dan mengerumuninya. Salah seorang di antaranya mematikan mesin motor.
"Kalian siapa dan mau apa?" tanya Prita yang mulai ketakutan. Ternyata orang-orang itu lebih menyeramkan daripada hantu yang selalu ia bayangkan.
"Ikut kami dulu... nanti akan kami beritahu." pria itu memegang gangan Prita dan menariknya turun dari motor.
Prita memberi perlawanan, tidak mau diajak masuk mobil hitam itu. "Lepaskan! Aku tidak mau ikut kalian!" teriaknya sambil berusaha melepaskan tangan yang menggenggam tangannya.
"Jangan takut, kami tidak akan melakukan apa-apa. Ikut saja dulu."
Ckiitt... !
Seorang pengendara honda CBR hitam menghentikan motornya tepat di belakang Prita. Semua pandangan tertuju pada sosok orang yang sudah masuk dalam urusan mereka. Orang itu turun dari motornya dan membuka helmnya.
Prita membulatkan matanya, "Bayu!?" serunya.
"Hai, Prita. Ada acara apa kok ramai sekali." Bayu berjalan mendekat ke arah Prita hendak meraih tangannya, namun lelaki yang sedari tadi menggenggam pergelangan tangan Prita menepisnya.
"Lebih baik kamu pergi. Jangan ikut campur urusan kami!"
"Hahaha... siapa juga yang berniat mencampuri urusan kalian? Aku hanya ingin berbincang dengan Prita karena sudah lama tidak bertemu. Kalian siapa?"
"Banyak ba*ot!" seru salah seorang dari mereka yang langsung melayangkan tinju ke arah Bayu.
Bayu dengan sigap menghindari pukulan yang mengarah padanya. Akhirnya, perkelahianpun pecah. Delapan orang berpakaian serba hitam itu mengeroyok Bayu. Namun, gerakan Bayu sangat lincah, seperti ahli bela diri. Bukanya dibuat babak belur, dia malah menghajar habis-habisan semua orang itu.
Prita masih terpojok di samping mobil karena sejak tadi dia menghindari perkelahian. Jantungnya berpacu kencang melihat adegan live action tepat di depan matanya. Memang, orang jahat lebih menakutkan daripada hantu.
"Prita! Cepat kesini!" seru Bayu.
__ADS_1
Prita berlari ke arah Bayu yang sudah duduk di atas motornya. "Aku mau pakai motorku sendiri."
"Bodoh! Cepat naik! Kamu mau ditangkap mereka lagi?"
Karena ketakutan, Prita langsung naik di motor Bayu. Bayu melajukan motornya dengan sangat kencang meninggalkan para preman itu. Tanpa sadar Prita memeluk erat tubuhnya. Membuatnya tersenyum senang.
Setelah merasa cukup aman, Bayu menghentikan motornya di area perbukitan pinggir kota.
"Kok berhenti di sini?" protes Prita.
"Aku istirahat sebentar. Capek!" Bayu duduk di rerumputan pinggir jalan.
Prita mengedarkan pandangan ke sekitar. Matanya terpaku melihat keindahan kota yang ada di bawahnya. Kerlap kerlip lampu terlihat seperti bintang. Prita ikut duduk di sebelah Bayu.
"Ternyata pemandangan malam dari sini sangat indah." gumannya.
"Baru pertama kali lihat?"
"Iya. Aku kan selama ini sibuk bekerja. Hampir tidak ada waktu jalan-jalan."
"Bukannya kamu sudah berhenti bekerja di restoran dan sekolah?"
Prita mengerutkan dahinya, "Kok kamu tahu?"
Bayu tiba-tiba menarik tubuhnya dan memeluknya erat. "Aku kangen banget sama kamu." lirihnya.
Sekuat tenaga Prita mendorong tubuh Bayu hingga pelukannya terlepas. Bayu hanya terkekeh dengan perbuatan Prita.
"Ayo cepat kita pulang!" perintah Prita
"Pulang ke mana? Ke rumahku?" goda Bayu.
"Pulang ke rumahku!"
"Rumahmu? Bukannya sudah lama kamu tidak menempatinya? Kata tetanggamu, kamu tidak pernah pulang."
"Ah, ya... kamu ini sebenarnya mau apa? Kenapa tahu semua tentang aku." Prita menepuk dahinya.
Bayu tersenyum smirk, "Aku calon masa depanmu."
"Hah... kita itu cocoknya jadi om dan keponakan. Kamu cari saja yang seumuran. Aku tidak tertarik dengan pria yang jauh lebih tua dariku."
"Wah, berani banget kamu bilang aku tua! Aku tinggal baru tahu rasa kamu ditangkap lagi sama mereka!" Bayu langsung bangkit dari duduknya dan langsung menaiki motornya.
"Eh, jangan! Maaf, maaf... " rengek Prita sambil memegangi lengan Bayu.
"Sudah menghina sekarang memohon-mohon."
"Maaf... "
Bayu kembali tersenyum licik, "Kalau memang benar-benar menyesal, cium orang yang kamu anggap om-om ini!"
Mata Prita membelalak mendengar ucapan Bayu, "Nggak, nggak... lebih baik aku ditinggal saja!" Prita langsung membalikkan tubuhnya. Ia lebih memilih ketakutan daripada harus menghianati Ayash lagi.
"Merepotkan!" guman Bayu. Ia kembali turun dari motornya. Secepat kilat ia membalikkan tubuh Prita ke arahnya dan langsung ******* bibir mungil itu dengan lembut. Sudah sebulan lamanya akhirnya ia bisa mencium bibir manis itu.
"Ayo cepat naik, aku antar pulang!" perintah Bayu setelah melepaskan ciumannya.
Prita menurutinya seperti mayat hidup.
__ADS_1