
Seperti biasa, malam ini Bayu menghabiskan waktunya di club bersama teman-temannya. Setelah beberapa lama berada di Kota S, kini ia bisa kembali menikmati kehidupan dunia malamnya seperti dulu.
Kali ini, Bayu bersama tiga orang temannya, Angga, Tio, dan Jaya. Mereka semua pengusaha yang suka berfoya-foya seperti dirinya.
Jajaran botol alkohol tersusun rapi di atas meja. Lima orang pelayan wanita setia mendampingi mereka. Salah satunya bertugas menuangkan air dari dalam botol ke gelas-gelas kaca.
Mereka berada dalam sebuah ruangan khusus tamu VIP di salah satu club terkenal Kota J. Suasana hingar bingar di luar sana tentunya tak akan terdengar karena ruangan itu kedap suara. Mereka bebas membicarakan segala hal secara private, bahkan berteriak-teriak sekalipun tak akan ada yang mendengar.
"Welcome back Bay... Senang bisa lihat kamu kumpul bareng kita lagi seperti ini." ucap Tio sambil mengangkat gelas berisi alkohol kemudian meneguknya.
"Kamu senang dengan kedatanganku atau senang karena akan ada yang mentraktir seperti biasa?"
"Hahaha... kamu memang selalu bisa menebak pikiranku. Bos Bayu pasti tidak keberatan untuk mentraktir kami setiap malam, kan? Uangmu masih banyak, kan? Kalau sudah kesulitan keuangan, sini cerita pada Tio." ujar Tio menyombongkan diri.
Mereka semua hanya tertawa mendengar bualan Tio. Dia adalah orang yang paling pelit di antara mereka berempat. Hanya omongannya saja yang tinggi, tapi kenyataannya melompong.
"Bay, apa urusanmu di Kota S sudah selesai? Aku kira kamu akan lebih lama lagi di sana." tanya Jaya.
Bayu meneguk minumannya, "Entahlah. Aku ditarik kembali oleh ayahku kesini."
"Ha... Kamu pasti sudah membuat kekacauan di sana. Kerjamu kan selalu tak becus." celetuk Angga.
"Bangsat kamu, Angga! Tapi kenyataannya memang seperti itu. Hahaha.... " Bayu mengakui kekurangannya. Ia memang disuruh kembali setelah membuat kekacauan. Ya, keahlian utamanya mungkin membuat kekacauan.
"Kita lihat lagi kedepannya, kemana Om Samuel akan membuangmu selanjutnya. Dia hobi sekali melemparkanmu kesana kemari." ucap Angga.
"Biarkan saja Si Tua Bangka itu melakukan apa yang dia mau. Aku sudah tidak terlalu peduli." Bayu kembali meneguk gelasnya.
"Ngomong-ngomong, kamu sudah kembali sejak beberapa hari lalu. Kenapa baru malam ini bisa gabung lagi dengan kita? Apa kamu mulai betah bekerja di kantor? Biasanya bahkan setiap malam kamu hampir tidak pernah pulang ke apartemen. Apa karena ayahmu?" telisik Jaka.
"Hais, apa hubungannya dengan tua bangka itu!"
__ADS_1
"Aku kira dia mengancammu untuk berhenti mabuk-mabukan dan main perempuan. Mungkin kamu takut dengan ancamannya."
"Hahaha... Jaka, yang benar saja? Aku akan tetap melakukan apa yang aku suka. Aku tidak pernah takut pada tua bangka itu. Aku hanya masih menghormatinya sebagai orang tuaku. Karena itu, aku masih diam dengan semua kelakuannya."
"Lantas, kenapa sepertinya sekarang kamu jadi malas berkumpul dengan kami. Apa kamu berencana untuk taubat?"
"Hahaha... mungkin juga seperti itu. Sekarang memang aku selalu ingin cepat-cepat pulang ke apartemen. Ada wanita cantik di kamarku yang siap menyambut kepulanganku setiap malam." pamer Bayu.
"Waow." ketiga lelaki itu berdecak kagum mendengar penuturan Bayu.
"Siapa, Bay, siapa?" Tio antusias ingin tahu. Dia sangat penasaran.
"Kalian tidak kenal... Aku membawanya dari Kota S." Bayu merebahkan punggungnya pada sandaran sofa. Bibirnya mengulas senyum. Pikirannya melayang membayangkan kecantikan wanita yang belakangan ini selalu membuatnya merasa senang.
"Apa dia pacarmu? Atau hanya jalangmu?"
Bayu bangkit kembali mendengar pertanyaan Jaka. Ia sendiri bingung, apa posisi Prita di hatinya. Yang jelas, saat ini ia sangat menyukainya dan tidak ingin dia pergi darinya. Ia tidak tahu akan menyukai wanita itu selamanya atau hanya akan bertahan beberapa saat sampai ia menemukan wanitanya yang baru.
Prita wanita pertama yang harus ia dapatkan dengan usaha. Banyak kejadian yang harus ia alami hanya untuk mempertahankan dia di sisinya. Bahkan, ia harus membohongi ayahnya. Ya, ayahnya akan sangat marah jika dia menyimpan wanita di rumahnya. Baginya, wanita hanyalah kelemahan. Seorang mafia tak boleh memiliki kelemahan agar tidak dimanfaatkan lawan bisnis.
Reflek Bayu langsung mencengkeram erat kerah kemeja Tio. Matanya menatap nyalang penuh kemarahan pada Tio. Kedua temannya dan para pelayan hanya terdiam di tempat. Mereka terkejut melihat perubahan sikap Bayu yang tadinya bersahabat menjadi seperti seekor singa yang hendak menghabisi mangsanya.
"Kenapa jadi sensitif begini, sih? Aku kan hanya bercanda." Tio berusaha melepaskan cengkeraman Bayu.
"Jangan asal bicara, bangsat!" kata Bayu dengan nada penuh kemarahan.
Jaka dan dan Angga menarik tubuh Bayu menjauh dari Tio.
"Sudah, sudah. Tio memang suka asal bicara." Jaka berusaha menenangkan.
Akhirnya Bayu mau melepaskan cengkeramannya. Ia kembali merebahkan punggungnya pada sofa. Ia memijit pelipisnya. Kepalanya terasa sedikit pusing karena pengaruh alkohol yang diminumnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Bay." Tio tampaknya menyesal dengan ucapannya yang keluar dengan ringan dari mulutnya.
"Ya, ya... lupakanlah! Tapi jangan pernah coba-coba mengganggu wanitaku. Kalau kamu berani mengganggunya, aku tidak akan segan membunuhmu." ancam Bayu.
"Iya. Aku tidak mungkin berani mengusik milikmu."
"Bagaimana kalau kamu mengajak wanitamu itu ke pestaku minggu besok? Kami juga ingin berkenalan." Angga berusaha mengalihkan topik.
"Hem, pesta? Pesta dalam rangka apa?"
"Biasalah, pool party... banyak pengusaha muda yang bakalan datang. Mungkin kamu bisa menjalin relasi bisnis dengan mereka."
Bayu terkekeh, "Huh, untuk apa aku yang mendekati mereka? Biasanya juga mereka yang membutuhkanku. Siapa pengusaha di kota ini yang tidak membutuhkan jasa Tiger King."
Bayu merasa di atas angin. Hampir semua perusahaan di kota itu memang menggunakan jasa keamanan dari Tiger King. Bisa dikatakan, Kota J adalah milik Tiger King.
Bayu kembali menghabiskan isi gelasnya dalam satu tegukan, "Aku pulang dulu, ya." pamitnya seraya meninggalkan selembar cek di atas meja.
"Hey, mau kemana? Ini masih sore, kenapa buru-buru pulang?" cegah Angga. "Kita habiskan dulu minumannya. Dan tentunya bermain sebentar dengan wanita-wanita cantik ini." Angga merangkul salah seorang wanita seksi di sampingnya.
Bayu tersenyum miring, "Untuk kalian saja. Aku mau pulang. Aku sudah tidak tertarik lagi dengan wanita seperti mereka." ucapnya.
Bayu melenggang pergi keluar ruangan sambil memegangi kepalanya yang sedikit pening.
Tio, Angga, dan Jaka saling berpandangan. Bayu bertingkah tidak seperti biasanya.
"Aku jadi penasaran, secantik apa wanita yang membuat Bayu tergila-gila itu." guman Tio.
"Hei, jangan berani mengusiknya. Kamu bisa mati muda kalau berurusan dengannya." nasihat Angga.
"Tidak, aku hanya penasaran saja."
__ADS_1
"Sudah, sudah. Mending kita nikmati yang ada di sini. Biarkan Bayu dengan kesenangannya. Yang penting, dia sudah membayar semua malam ini."
Ketiganya kembali melanjutkan kegiatan mabuk mereka sembari menggoda wanita-wanita seksi yang mendampingi mereka.