ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Mimpi Buruk


__ADS_3

Senja telah tiba. Semburat warna jingga memberikan lukisan langit yang begitu menakjubkan. Prita berbalut dress motif bunga-bunga dan topi pantai tertawa begitu riang menapakkan kaki telanjangnya di atas butiran pasir putih.


Ia berlari-lari menghindari kejaran Ayash di belakangnya. Deburan ombak seakan-akan ikut berlomba mengejarnya. Langkah kecilnya kalah cepat dengan langkah Ayash yang langsung bisa menangkapnya dari belakang.


"Lepaskan.... " teriak Prita ketika ia tertangkap.


Ayash mengangkat tubuh ringan Prita dan memutarnya.


"Turunkan aku.... "


Permintaan Prita tak Ayash dengarkan. Ia terus membawanya berputar hingga keduanya jatuh di atas pasir. Posisi Prita tepat di atas tubuh Ayash. Keduanya saling bertatapan.


"Kamu mau menciumku?" goda Ayash.


Raut muka Prita memerah, "No.... " jawabnya.


"Baiklah, kalau begitu aku saja yang menciummu."


Ayash tiba-tiba membalikkan posisi mereka. Kini, Prita ada di bawahnya. Tanpa basa-basi, ia langsung mendaratkan bibirnya di atas bibir Prita. Diberikannya kecupan-kecupan kecil yang kian berubah menjadi ******* yang intens. Prita mencoba mengimbangi setiap ******* yang diterima. Keduanya terhanyut dalam romantisme senja. Dunia bagaikan hanya ada mereka berdua.


Ayash menghentikan ciumannya. Ia meraih tangan Prita agar bangkit dari posisi mereka. Mereka duduk berdampingan. Menikmati pemandangan matahari yang hampir tenggelam ditelan lautan. Prita menyandarkan kepalanya di bahu Ayash. Ia membayangkan bisa berada di tempat ternyaman itu selamanya, selamanya berasa di sisi Ayash.


"Prita!"


Suasana romantisme mereka rusak mendengar suara teriakan. Prita terkejut. Bayu ada di sana. Dari raut mukanya sudah jelas tergambar jika saat ini dia sedang sangat murka.


Prita tahu, Bayu tak akan mau melepaskannya. Bayu sudah mengklaim dirinya adalah miliknya. Suka atau tidak suka, Bayu akan tetap memaksa.


Prita menggenggam erat tangan Ayash. Ia ketakutan. Bayu akan marah padanya yang telah berani pergi darinya. Ia akan kembali memisahkannya dengan orang yang ia cintai "


"Jangan takut." bisik Ayash.


"Prita, ikut aku!" peritah Bayu.


Prita semakin mengeratkan genggamannya. Ia menggelengkan kepala, tak mau menuruti perkataan Bayu. Ia hanya ingin bersama Ayash. Ia tak mau bersama Bayu.


"Tolong jangan ganggu kami dan silakan pergi." Ayash berbicara masih dengan nada yang sangat sopan meskipun ia kesal melihat Bayu tiba-tiba ada di sana.


Bayu melangkah maju, "Aku akan pergi jika Prita ikut denganku." Bayu berusaha menarik tangan Prita, namun ditepis oleh Ayash.

__ADS_1


Ayash menyembunyikan Prita di balik badannya, "Prita tidak akan mau pergi denganmu."


Bayu menyunggingkan senyum, "Mau tak mau, Prita harus ikut pulang bersamaku."


"Kamu sudah gila."


"Prita memang hanya milikku. Dia harus bersamaku. Jangan coba-coba melarang apalagi menghalangiku. Karena, aku sangat benci orang seperti itu."


Bayu mengeluarkan pistol dari saku jasnya dan ditodongkan tepat ke arah kepala Ayash. Sorot matanya penuh kebencian.


Dor!


Sebutir peluru keluar dari dalam pistol dan melesat lurus tepat pengenai dahi Ayash. Seketika Tubuh Ayash langsung limpung terjatuh ke tanah.


"Tidak.... !"


Prita berteriak histeris melihat tubuh Ayash yang terkapar tepat di hadapannya. Ayash mati tertembak. Dengan gemetar ia memeluk tubuh kaku itu sambil menangis sejadi-jadinya.


"Ayash... Ayash... kumohon bangunlah!" Prita menggoyang-goyangkan tubuh Ayash. Hatinya terasa teriris melihat kekasihnya mati di depannya.


Bayu dengan kasar menarik tangannya, menyeretnya pergi meninggalkan Ayash.


"Ayash.... !"


Nafas Prita terengah-engah. Ia terbangun dari tidurnya. Ternyata yang ia alami tadi hanyalah mimpi.


"Sayang.... "


Dari arah kamar mandi Ayash keluar hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggangnya. Ia baru saja selesai mandi dan buru-buru keluar karena mendengar teriakan kencang Prita.


Ia menghampiri Prita yang masih tampak ketakutan. Dipeluknya wanita itu agar tenang.


"Kamu baik-baik saja?" Ayash mulai mencoba mengajaknya bicara.


Prita mengguk, "Aku hanya mimpi buruk."


"Oh, sudahlah. Tak apa. Itu hanya mimpi. Aku sudah ada di sampingmu dan kamu tidak perlu takut lagi. Mulai sekarang, kita akan selalu bersama."


Prita tersenyum mendengar kata-kata Ayash. Ia kembali memeluk tubuh Ayash yang membuatnya meras nyaman dan bahagia.

__ADS_1


"Hem, apa kita akan terus berpelukan seperti ini? Kita bisa ketinggalan pesawat nanti."


"Aku masih ingin begini sebentar." Prita masih tak mau melepaskan pelukannya.


"Baiklah, akan aku biarkan kamu memelukku sepuasmu."


"Yash.... "


"Hem?"


"Aku mencintaimu."


Terasa aneh ketika mendengar Prita tiba-tiba mengatakan 'aku mencintaimu'. Ayash merasa Prita ingin mengatakan sesuatu, tapi tak bisa mengatakannya. Sesuatu yang mungkin cukup serius hingga ia sulit mengatakannya. Dan, dia terkesan ingin menegaskan jika dia benar-benar mencintainya.


"Iya, aku juga sangat mencintaimu." balasnya.


"Kamu mau mandi atau sarapan dulu? Jam setengah delapan kita harus sudah ada di bandara."


Prita terhenyak, "Sekarang jam berapa?"


Ayash terkekeh melihat respon Prita, "Masih jam 6 pagi, kok. Bandara juga dekat. Kalau mau mandi dulu, bajumu sudah aku siapkan di wardrobe depan kamar mandi."


Prita kembali memeluk Ayash. Tingkahnya seperti anak monyet yang sedang bermanja pada induknya.


"Hey, kenapa ini? Apa mau aku mandikan?"


"Ah!" Prita memekik karena tubuhnya diangkat.


Ayash membawanya masuk ke dalam kamar mandi dan menurunkannya di sana.


Ayash mengecup bibir Prita, "Mandilah. Setelah itu, mari kita sarapan bersama."


Keduanya saling melempar senyum. Ayash keluar dan menutup kamar mandi. Senyuman yang tadi merekah di bibir Prita berangsur-angsur menghilang. Wajahnya berubah muram. Ia bersimpuh di lantai. Kakinya seakan tak memiliki daya untuk menahan tubuhnya agar tetap berdiri. Air mata kembali mengalir membasahi pipinya.


Ia teringat mimpinya tadi. Mimpi buruk yang membuatnya ketakutan. Bayu tak akan melepaskannya dengan mudah. Bayu akan mencarinya setelah tahu ia menghilang. Bayu juga pasti akan mencari Ayash dan dia tidak akan segan-segan membunuh Ayash seperti yang sering ia katakan.


Prita khawatir mimpinya menjadi kenyataan. Seperti yang ia tahu, Bayu orang yang nekad dan memiliki kekuasaan. Anak buahnya banyak dan tersebar dimana-mana. Menemukan Prita bukan hal sulit baginya. Jika Ayash mati, mungkin ia akan benar-benar menjadi gila.


"Apa yang harus aku lakukan.... " lirihnya. Ia menahan suara isakannya agar tidak terdengar sampai ke luar. Beban pikirannya begitu banyak. Namun, ia tak bisa menceritakannya kepada Ayash. Ia berusaha menyimpannya sendiri.

__ADS_1


Prita menanggalkan seluruh pakaiannya. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan menghidupkan shower. Tetesan air membasahi kulitnya bersamaan dengan tetasan air mata. Ia mencoba menenangkan diri sambil menikmati guyuran air yang menyejukkan pikiran.


__ADS_2