ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Pesta Tembakan


__ADS_3

Setelah melewati perkebunan sawit yang memakan waktu hampir satu jam, iring-iringan mobil jeep yang Bayu naiki akhirnya melewati perkampungan penduduk.


Bayu tersenyum senang melihat ponselnya yang mulai dipenuhi sinyal. Segera ia mengakses rekaman cctv kamar hotelnya melalui ponselnya. Di bagian depan pintu masuk ada 4 bodyguard pria yang berjaga. Di ruang tengah ada 4 bodyguard wanita yang berjaga. Di area pintu belakang ada 4 bodyguard pria yang berjaga. Di dalam kamar utama, tampak Prita yang sedang terbaring tidur sendirian.


Bayu memperbesar citraan di layar ponselnya. Napas Prita tampak teratur. Tidurnya sangat tenang dan damai, sampai tak menyadari jika selimutnya tak lagi menutupi tubuhnya yang hanya berbalut baju tidur satin warna merah.


Bayu bisa melihat gerakan dada Prita yang naik turun dengan teratur. Bibirnya yang kecil tampak seksi saat dilihat dari samping. Dan... paha mulus nan putih itu terekspos begitu saja.


Bayu hanya bisa menelan ludah. Tubuh itu yang setiap malam menjadi penghangat ranjangnya. Ah, Bayu jadi merindukan wanita itu. Padahal, baru sehari ia pergi tapi rasanya sudah sangat lama mereka berpisah.


"Ah! Shit!" umpatnya saat sinyal kembali hilang.


Mobil telah memasuki area hutan rimbun yang didominasi oleh pohon meranti. Suasananya gelap dan sunyi.


"Pak, sepertinya di depan ada yang menghadang jalan." ucap sang sopir.


Samar-samar terlihat siluet dua kendaraan yang menghadang mereka di tengah jalan. Di sekitarnya berdiri orang-orang yang turut menjadi blokade.


Dor!


Dari arah depan, ada yang melesatkan tembakan ke arah mereka. Jeep yang mereka naiki terpaksa berhenti. Truk dan jeep di belakang ikut terhenti. Jarak mereka dengan musuh masih sekitar 100 meter.


"Tampaknya ada yang membocorkan rencana kita, Bos. Mereka sepertinya dari Black Shadow saingan kita." kata Ben.


Bayu menyunggingkan senyum, "Berani-beraninya mereka menghadang jalan kita. Siapkan senjata kalian." perintah Bayu.


Sekelompok orang tampak maju sambil menembaki mobil jeep mereka.


Dor... dor... dor... dor...


Suara tembakan memecah kesunyian hutan.


"Saatnya beraksi, Baby!" ucap Bayu sembari menarik M-16 yang sejak tadi tergantung di punggungnya. Sudah lama ia tidak bermain dengan senjata api jenis itu. Semangatnya tiba-tiba membara.


Ben dan yang lainnya mengikuti. Mereka mengambil senjata yang sebelumnya sudah mereka persiapkan.

__ADS_1


"Mari kita bantai mereka malam ini sampai bersih dan tuntas."


Mereka keluar dari jeep membawa senjata masing-masing. Lampu mobil sengaja tetap dihidupkan untuk penerangan.


Dor... dor... dor... dor...


Lawan masih menembaki arah mereka. Bayu mulai mengangkat M-16 miliknya. Diletakkan pangkal senapan pada pundak kanan. Matanya memfokuskan pada teropong yang terpasang pada badan senapan. Setelah mengunci sasaran, ia bersiap menarik pelatuknya.


Dor dor dor dor dor dor dor....


"Ah...!"


Tembakannya mengenai satu orang di sisi lawan. Bayu tertawa kecil.


Lawan semakin agresif melesatkan tembakan setelah salah seorang di antara mereka terkena peluru. Mereka beringsut mendekat sembari menghindari tembakan-tembakan yang diberikan dari pihak Bayu.


Bayu dan anak buahnya juga semakin memanas. Mereka tak kalah heboh melontarkan peluru-peluru dari moncong senapan. Malam itu menjadi sangat meriah dengan suara tembakan yang saling bersahutan.


Tak ada yang kelihatan ingin menyerah dari kedua pihak. Keduanya sama-sama merasa kuat dan bisa melumpuhkan pihak lainnya. Meskipun beberapa nyawa sudah melayang, aksi tembak-tembakan itu masih berlanjut. Bayu menembakkan M-16 dengan brutal. Sesekali tubuhnya tampak terguncang akibat dorongan pelontar peluru yang ditembakkannya.


Dor!


"Berhenti menembak!" perintah seseorang yang kini tengah mengacungkan ujung pistolnya tepat di kepala Bayu. Lima orang lainnya berada di belakang orang itu ikut menodongkan senjata ke arah Bayu dan anak buahnya.


Bayu tercekat. Tiba-tiba saja ada musuh yang datang dari sisi hutan, tepat di tempat Bayu berdiri. Anak buah bayu menghentikan tembakannya. Mereka terkejut melihat Bayu terkena luka tembak. Lawan mengambil paksa M-16 yang dipegang Bayu.


Musuh dari arah depan makin mendekat setelah mereka bisa melumpuhkan rombongan Bayu.


"Oh, Shit! Kalau seperti ini tamatlah riwayatku." gumam Bayu sambil memegangi lengannya yang terluka. Ia sudah membayangkan apa yang akan ayahnya lakukan jika kali ini ia gagal.


Tiba-tiba otaknya bekerja. Ia ingat sesuatu. Secepat kilat dikeluarkannya pistol kecil dari dalam sakunya. Dan....


Dor!


Bayu menembak orang yang tadi mengintimidasinya hingga jatuh tersungkur ke tanah. Peluru pistolnya tepat langsung menembus kepala. Segera ia rebut kembali M-16 miliknya. Ia tembakkan kembali senapan favoritnya itu tanpa henti. Anak buahnya mengikuti aksinya. Banyak pihak musuh yang berhasil ditumbangkan.

__ADS_1


Sebagian lainnya lari tunggang langgang karena merasa sudah kalah. Mereka yang masih hidup langsung menaiki mobil dan pergi meninggalkan tempat perang dadakan itu.


Bayu menghembuskan nafas lega. M-16 kembali ia turunkan karena tangan kirinya sudah tidak kuat menahan beban senjata itu.


"Bos!" Ben yang panik langsung merobek kemejanya dengan pisau kemudian mengikatnya di lengan Bayu yang terkena tembakan.


Anak buahnya yang lain ikut berkerumun mengkhawatirkan kondisi bos mudanya itu. Jika terjadi sesuatu pada Bayu, Samuel tidak akan tinggal diam. Sudah pasti mereka semua bisa dibantai.


"Aku tidak apa-apa, Ben. Kita lanjutkan saja perjalanannya." katanya sambil menahan sakit.


"Tidak. Kami akan membawa Anda ke rumah sakit terdekat. Biarlah sisanya mereka yang mengawal."


"Baiklah, terserah kalian saja. Jangan lupa hubungi tim tambahan untuk membereskan kekacauan ini. Aku tidak mau polisi sampai tahu kejadian ini."


"Baik, Pak."


Bayu kembali masuk dalam jeep diikuti Ben dan dua orang anggota lainnya. Mereka menunggu beberapa anggota yang lain sedang menyingkirkan mayat-mayat yang tergeletak di tengah jalan. Anak buah bayu juga ada yang mati dua orang.


Mobil kembali melaju setelah jalan dibersihkan. Ben memandangi lengan bosnya itu dengan tatapan khawatir. Kain kemeja putih yang ia ikatkan sudah berubah warna menjadi gelap. Artinya, darah terus merembes.


"Jangan bertingkah seperti ibuku, Ben. Aku ini baik-baik saja. Hahaha.... " Bayu menertawakan kekhawatiran Ben.


"Saya tidak sedang mengkhawatirkan Anda, Bos. Saya sedang mengkhawatirkan keselamatan nyawa saya sendiri. Kalau Anda celaka, Tuan Samuel bisa membunuh saya." kilah Ben.


"Hahaha... kamu tenang saja. Aku belum akan mati hari ini. Lagipula, ini bukan pertama kalinya aku mendapatkan luka tembak."


Ingatan Bayu mengulaskan kisah masa lalu, dimana ia mendapatkan luka tembaknya yang pertama.


Saat itu, usianya baru delapan tahun dan baru menginjak kelas 2 SD. Seperti biasa, ayahnya hendak menemaninya ke sekolah setelah itu baru ke kantor. Mereka diantar oleh sopir dan anak buah ayahnya. Di tengah perjalanan, ada yang menembaki mobil mereka. Ayahnya langsung menelepon seseorang untuk memberikan bantuan.


Dalam kondisi itu, Ayah dan anak buahnya berusaha membalas tembakan ke arah mobil lawan. Saat itu Bayu disuruh bersembunyi di kolong kursi saat mereka sibuk menembak. Mobil berjalan gontai karena berusaha menghindari tembakan.


Di tengah adu tembakan itu, mobil berhenti. Ayah menggendongnya dengan tujuan pindah ke mobil orang yang tadi ditelepon. Anak buah ayah dan sang sopir membantu mengamankan dia dan ayahnya. Namun, tepat sebelum berhasil naik dalam mobil, sebuah peluru berhasil bersarang di pahanya.


Itulah pertama kalinya ia mendapatkan luka tembak. Jika diperhatikan, ada bekas jahitan di bagian paha kanannya.

__ADS_1


Sejak saat itu, ayahnya tak mengijinkannya pergi ke sekolah. Ia hanya diperbolehkan mengikuti home schooling.


__ADS_2