ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Rencana Pertemuan Keluarga


__ADS_3

"Ibu tidak habis pikir kamu bisa jadi seperti ini, Mario... Berhentilah bermain-main! Kamu sudah dewasa, tata hidupmu dengan lebih baik. Pokoknya, ini terakhir kalinya ibu mengurusmu. Aku sudah sangat pusing dengan kelakuanmu!"


Bu Retno tampak marah-marah setelah membawa pulang Mario dari Kantor BNN terkait kasus penyalahgunaan narkoba. Setelah melakukan berbagai macam cara termasuk menggandeng beberapa pengacara dan ahli hukum terkenal, akhirnya Mario bisa pulang tanpa harus menjalani rehabilitasi maupun masa tahanan.


Bukan hanya uang saja yang sudah Bu Retno korbankan demi anak semata wayangnya itu, tetapi juga waktu, pikiran, dan tenaga. Sebagai orang tua tunggal, mau tak mau ia sendiri yang harus mondar-mandir mengusahakan kebebasan anaknya.


Bu Retno menyadari, anaknya memang banyak membuat masalah. Dalam beberapa kasus, anaknya memang bersalah. Tapi, sebagai seorang ibu, tetap saja jiwanya tergerak untuk membela anaknya. Termasuk dulu, saat Mario ingin memperkosa Prita. Secara sadar Bu Retno tahu, kalau memang Mario yang salah. Tapi rasa cintanya mengalahkan logika. Tetap Prita yang ia persalahkan.


"Katakan pada Ibu, apa alasanmu sampai mengkonsumsi barang haram itu?"


"Aku hanya mencoba-coba saja, Bu."


"Mencoba? Mencoba itu paling satu kali! Kamu bilang sendiri kalau sudah mulai mengkonsumsinya selama dua atau tiga bulan."


"Ya... nanti tidak akan aku ulangi. Kemarin-kemarin memang aku sedang banyak pikiran."


"Pikiran apa?"


"Prita, Bu. Aku tidak bisa melupakan dia."


"Hah! Prita lagi. Memangnya tidak ada wanita lain selain Prita? Prita tidak mencintaimu, kamu harus sadar!"


"Tapi cuma Prita yang aku inginkan."


"Terus, kalau Prita tahu kamu sekacau ini, memangnya Prita akan menyukaimu? Yang ada dia akan semakin membencimu atau bahkan menertawakanmu."


"Seharusnya kamu lebih giat bekerja, kembangkan usaha ayahmu sampai jadi perusahaan terbesar di kota ini. Bagaimanapun juga, wanita menyukai lelaki yang sukses, bukan lelaki bermasalah."


"Sudahlah, Bu. Aku janji akan menjadi lebih baik lagi."


"Ibu tidak mau mendengar janjimu. Ibu hanya ingin melihat pembuktiannya. Sudah cukup banyak uang yang ibu keluarkan untuk menutupi perbuatanmu. Tolong, berhenti membuat masalah kalau tidak mau keluarga kita jadi miskin."


Bu Retno langsung pergi meninggalkan Mario dengan perasaan kesal. Mario menghela nafas. Ia merebahkan tubuhnya di kasur empuk yang sudah beberapa lama tidak ia tempati. Rasanya sangat nyaman jika dibandingkan dengan tinggal di penjara sementara BNN.


Mario kembali memikirkan Prita. Entah mengapa wanita sederhana itu masih menjadi wanita idamannya. Ah, bukan hanya dirinya, tapi juga Ayash dan Bayu. Seorang mafia seperti Bayu bahkan bisa tertarik kepada Prita. Ia merasa seleranya cukup tinggi. Hanya saja, rival yang harus ia hadapi juga bukan orang-orang sembarangan. Hasrat ingin memiliki Prita masih ada di hatinya. Sekalipun harus bersaing dengan Bayu, ia akan tetap maju. Mencari celah kelemahan Bayu, kemudian mengambil kembali Prita.

__ADS_1


*****


"Halo, Pa?"


"Kamu sekarang ada dimana?"


Arga beranjak dari tempatnya duduk menuju ke ruang yang agak jauh dari keramaian. Ia memberi tanda kepada teman-temannya untuk mengangkat telepon.


"Em, aku masih di kantor. Kenapa?"


"Selarut ini masih di kantor?" terdengar nada tak percaya dari seberang telepon.


Arga sedang menerima telepon dari ayahnya, Reonal Hartadi.


"Ya, masih ada berkas yang harus aku periksa."


Tentu saja Arga berbohong. Malam ini, ia tengah berkumpul bersama beberapa temannya di sebuah klub.


"Apa ada hal yang ingin papa bicarakan?"


Sejak Arga memulai bisnis, memang ia jadi sangat jarang bertemu ayahnya. Mungkin hanya sekali dua kali dalam setahun. Ayahnya juga pengusaha yang tak kalah sibuk dengan dirinya. Ekspansi bisnisnya sampai ke luar kota, berbeda dengan Arga yang fokus mengembangkan tiga perusahaannya di satu kota, yaitu Kota J. Tiga perusahaan itu juga awalnya rintisan ayahnya, yang diserahkan kepadanya secara bertahap sejak ia mulai kuliah. Ditangan Arga, ketiga perusahaan itu menjadi perusahaan yang cukup diperhitungkan di Kota J.


"Em, sebenarnya dalam minggu ini aku sedikit sibuk, Pa. Ada beberapa proyek baru yang harus aku pelajari lebih rinci. Tapi, mungkin aku bisa kosongkan jadwalku di akhir pekan."


"Kalau begitu, akhir pekan ini pulanglah ke rumah."


Seketika Arga merasa malas ketika ayahnya menyebutkan kata 'rumah'. Ya, pulang ke rumah artinya ia juga harus bertemu dengan ibu tiri yang sangat ia benci, Oryza Maya.


"Mari kita berkumpul sebagai satu keluarga. Sekalian kita akan membahas rencana pernikahan adikmu, Ayash."


"Hah, menikah? Ayash mau menikah?"


Arga tampak terkejut mendengar berita itu. Mendadak sekali tiba-tiba Ayash mau menikah? Sepertinya dua minggu lalu mereka baru bertemu di Kota J dalam kondisi yang juga masih membuatnya bertanya-tanya: kenapa Prita ada di hotel yang disewa Bayu? Apa hubungan Bayu dan Prita?


Rasa penasaran tentang hal itu saja belum terjawab, kini ada berita lain yang membuatnya semakin bertanya-tanya: Ayash dan Prita mau menikah?

__ADS_1


"Memangnya Ayash belum memberi tahumu?"


Arga bungkam. Mana mungkin Ayash memberi tahunya. Hubungan mereka memang sedang tidak baik. Sudah lama mereka tidak saling memberi kabar, tepatnya setelah ia menyuruh Tiger King untuk menculik Ayash. Adiknya itu sebenarnya sangat terbuka padanya. Apapun permasalahan yang dihadapi, biasanya selalu dikatakan padanya. Meskipun Ayash tahu Arga membenci ibunya, ia tetap menghormati Arga sebagai seorang kakak.


"Belum. Mungkin Ayash lupa." kilah Arga.


"Ah, ya. Biar nanti dia katakan sendiri padamu saat pertemuan keluarga. Intinya kamu harus benar-benar pulang. Tak ada alasan."


"Akan aku usahakan."


"Papa juga rencananya akan memberikan perusahaan di Kota S kepada Ayash. Tentunya setelah melihat hasil pekerjaannya nanti. Kalau memang dia sudah layak akan aku jadikan dia CEO perusahaan."


Arga mengepalkan tangannya. Keputusan ayahnya itu merupakan sesuatu yang tidak ia harapkan. Ayash yang masih berkedudukan sebagai GM akan jadi CEO? Rasanya ia ingin meluapkan emosinya. Tapi, dia masih memiliki rasa hormat kepada ayahnya.


"Bagaimana menurutmu?"


"Kita bahas nanti saja, Pa."


"Baiklah kalau begitu. Sampai ketemu akhir pekan ini. Jangan terlalu memforsir untuk bekerja, kamu masih muda."


Arga tersenyum. Ayahnya tidak tahu saja kalau hampir setiap malam ia menghabiskan waktunya di klub.


"Iya, Pa."


Klik.


Arga memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. Ia kembali ke ruangan dimana teman-temannya berkumpul. Mereka terlihat sangat bahagia menikmati minuman beralkohol ditemani dengan wanita-wanita cantik dan seksi.


"Telepon dari siapa, Ga? Lama banget?" tanya Hansen, salah seorang temannya.


"Ayahku."


"Hahaha... Apa dia menyuruhmu untuk tidak pulang terlalu larut? Hahaha.... " Hansen mengejeknya.


Arga ikut bergabung bersama teman-temannya yang mulai mabuk. Tentunya Glen juga ada di sana, menemaninya meskipun tidak ikut minum. Glen adalah sopirnya, dia harus tetap menjaga kesadaran untuk bisa membawa pulang Arga dengan selamat.

__ADS_1


__ADS_2