ANTARA CEO DAN MAFIA

ANTARA CEO DAN MAFIA
Di Tempat Terpencil


__ADS_3

Bayu hampir sampai ke tempat tujuannya di Kota P. Tempat yang ia tuju ada di daerah pelosok yang lumayan jauh dari pusat kota. Infrastruktur jalan di sana bisa dikatakan masih buruk. Bukan jalanan beraspal melainkan jalan tanah yang saat turun hujan pasti akan sangat susah dilewati.


Sepanjang perjalanan hanya bisa menikmati pemandangan kebun sawit yang terhampar luas dari ujung ke ujung. Jarang ada rumah penduduk yang bisa ditemukan.


Mobil terus melaju dengan goncangan-goncangan yang membuat penumpangnya tidak bisa duduk tenang. Bayu rasanya ingin mengumpat. Sinyal saja tidak ada di sana. Ayahnya benar-benar suka menyiksa orang.


Satu jam kemudian mobil memasuki sebuah rumah yang terletak di tengah-tengah perkebunan. Area rumah itu cukup luas, terdiri dari rumah utama dan bangunan-bangunan seperti gudang yang terletak di samping kanan dan kiri rumah. Bagian belakang tampak seperti jajaran rumah kontrakan mungkin untuk tempat tinggal pekerja.


Sesampainya Bayu di sana, sudah berjajar orang-orang menyambutnya. Mereka orang yang ditugaskan ayahnya untuk mengawalnya di Kota P.


"Selamat datang, Pak." salah seorang dari mereka menyambutnya.


"Tunjukkan aku tempatnya." perintah Bayu.


Orang itu langsung tahu apa yang Bayu maksud. Ia memandu Bayu ke arah bangunan di sisi kanan rumah.


Krek


Dua orang membukakan pintu gudang. Bayu melangkahkan kaki memasuki gudang tersebut. Dilihatnya ada drum-drum minyak yang kosong, gundukan tanah, dan terpal biru yang menutupi sesuatu. Disibakkannya terpal biru itu hingga terlihat isinya.


Itu tumpukan ganja yang sudah tersusun rapi dalam bentuk blok kotak sebesar batu bata. Barang itulah yang harus Bayu kirimkan dari Kota P ke Kota A. Jumlahnya sekitar 1,2 ton. Tentu sangat beresiko untuk membawa barang sebanyak itu mengingat mereka harus menempuh perjalanan yang jauh antar pulau. Banyak pos-pos pemeriksaan yang harus diwaspadai agar tidak tertangkap. Selain pos-pos pemeriksaan di jalur darat, pemeriksaan di pelabuhan juga tak kalah ketat.


Bayu berpikir sejenak. Ia harus menemukan cara teraman agar barang itu sampai ditujuan dan tepat waktu. Dia masih ingat terakhir kali barangnya hampir diketahui polisi dan ayahnya marah besar.


"Bagaimana rencana kalian untuk membawa barang ini?"


"Kami akan memasukkan ganja-ganja ini ke dalam drum minyak, kemudian bagian atasnya kami tutup tanah. Setelah itu, kami tutup bagian atasnya dengan las. Surat jalan palsu pendistribusian minyak juga sudah kami buat." jawab orang yang menemaninya itu.


"Bagaimana dengan pemeriksaan di pelabuhan? Biasanya ada anjing pelacak di sana."


"Kami sudah memberikan uang kepada petugas pelabuhan untuk melancarkan hal ini."


Bayu menyunggingkan senyum, " Bagaimana menurutmu, Ben?"


Ya, tentu saja Bayu mengajak Ben. Dia akan kesusahan tanpa bantuan Ben, orang yang paling ia percaya.

__ADS_1


"Petugas pelabuhan biasanya tidak bisa dipercaya, Bos. Mereka memang senang menerima uang, tapi untuk urusan selanjutnya mereka tidak peduli."


"Kamu benar, Ben. Sudah beberapa kali juga kita ditipu petugas pelabuhan. Tidak ada gunanya mempercayai mereka."


"Lagipula, drum berisi benda cair dan benda padat pasti sangat perbeda. Kalau caranya seperti itu, mungkin belum sampai pelabuhan sudah ketahuan. Tanah juga tidak bisa mengecoh penciuman anjing pelacak. Aku tidak setuju... itu sangat beresiko."


Analisa yang dikemukakan Bayu masuk akal. Mereka saling melirik karena tidak punya ide lain lagi.


"Tapi, biasanya cara ini selalu berhasil, Pak." kilahnya.


"Ya, mungkin kemarin-kemarin kalian masih beruntung tidak tertangkap. Tapi, orang kepolisian pasti terus meng-upgrade sistem pelacakannya. Anjing-anjing mereka juga pasti semakin terlatih. Jika kita terus menggunakan cara yang sama, pasti suatu saat akan ketahuan. Bagaimana, Ben?"


"Benar, Bos. Sepertinya kali ini kita harus mencari cara lain yang lebih aman. Aku dengar banyak bandar-bandar kecil yang tertangkap karena pos-pos pemeriksaan semakin banyak dan pemeriksaannya ketat."


"Lalu, bagaimana cara membawa barang sebanyak ini dengan aman?" tanya orang itu.


Bayu berpikir keras. Ia harus menyelesaikan ini secepatnya agar ia juga bisa cepat kembali kepada Prita. Ia yang merasa sikap Prita semakin luluh padanya justru harus meninggalkannya untuk urusan ini. Ia tetap mengkhawatirkan Prita. Walaupun sudah ada anak buahnya yang menjaga, tetap saja ia khawatir Prita akan pergi.


"Ayo ikuti aku!" tiba-tiba Bayu berjalan keluar gudang dengan langkah cepat.


Mereka yang kebingungan ikut-ikutan pergi mengekori Bayu.


"Kayu ini untuk apa?"


Semua terheran-heran karena Bayu malah menanyakan masalah kayu. Padahal, yang sedang mereka bingungkan adalah cara menyelundupkan ganja.


"Ini kayu pesanan orang dari Pulau J, Kota R. Kalau ini legal, Pak."


"Lubangi kayu-kayu ini untuk menaruh ganja." perintah Bayu.


"Tapi, ini sudah pesanan orang dan harus segera dikirim."


Bayu merasa geram karena perintahnya dibantah, ia meremas pundak dan menatap tajam orang yang berani membantahnya. "Ganja itu juga harus segera dikirim."


"Baik, Pak. Maafkan saya." orang itu langsung tertunduk dan tak berani membantah.

__ADS_1


Bayu tersenyum, "Lubangi kayu-kayu ini. Kemudian, masukkan ganja ke dalamnya. Di sisi luar, beri bubuk kopi dan tutup kembali dengan kayu. Usahakan tutupnya harus serapi mungkin agar nampak seperti kayu utuh. Apa kalian bisa melakukannya?"


"Bisa, Pak. Tapi, apa sebaiknya kopi diganti kamper atau parfum saja yang lebih menyengat untuk mengelabuhi penciuman anjing pelacak?"


"Jangan! Kamper atau parfum bisa mempengaruhi kualitas ganja. Lebih baik pakai kopi saja."


"Baik, Pak."


"Lakukan dengan baik. Besok, sudah harus beres. Aku mau istirahat dulu."


Mereka semua melongo. Ide seperti itu sama sekali tak terlintas di kepala mereka. Setiap alasan-alasannya juga masuk akal. Polisi mana bisa menebak ide secerdas itu.


Bayu berjalan menuju rumah utama diikuti oleh Ben. Ia langsung merebahkan dirinya di sofa ketika sampai di ruang tamu. Selama lima jam perjalanan darat ia belum sempat istirahat. Rasannya semua tulangnya patah.



"Duduklah, Ben. Aku tahu kamu juga lelah." pinta Bayu.


Ben yang tadinya masih berdiri ikut merebahkan diri di sofa.


"Anda benar-benar hebat, Bos. Idenya sangat sempurna. Saya yakin kali ini akan berjalan lancar."


"Entahlah... ide itu muncul begitu saja."


Ben selalu kagum dengan bos mudanya itu. Bayu selalu bisa mengatasi permasalahan yang ada. Dalam dunia kejahatan, bisa dibilang dia adalah si jenius. Ide-idenya sangat cemerlang.


"Aku ingin cepat pulang, Ben." keluh Bayu. Ia benar-benar muak di tempat terpencil itu. Ia ingin kembali menikmati kehidupan kota dan bersama Prita.


"Apa... karena Nona Prita?"


"Ya.... " jawabnya jujur tanpa basa basi. "Kamu sudah benar kan, menaruh penjaga di sana?"


"Anda tidak perlu khawatir, Bos. Yang saya tempatkan di sana orang-orang pilihan. Saya juga menempatkan lima orang pelayan di sana untuk mengurusi kebutuhan Nona Prita."


"Baiklah, aku percaya padamu. Aku mau tidur."

__ADS_1


Bayu bangkit dan berjalan gontai menuju kamar yang sudah disiapkan untuknya.


Ben hanya bisa melihat Bosnya pergi ke kamar meninggalkannya. Bayu terkadang bisa berbuat baik kepada orang lain. Lain waktu, saat marah, ia juga tidak segan-segan untuk menghabisi nyawa orang. Sifatnya hampir mirip dengan ayahnya.


__ADS_2