
Ayash berada dalam salah satu mobil bersama Egi. Ia membawa sekitar seratus orang lebih pengawal untuk menyelamatkan Prita dari mansion tengah hutan.
Tim dibagi menjadi dua kelompok untuk menyusuri jalan timur dan jalan barat. Karena ada dua jalur menuju tempat itu. Tujuannya, agar tidak ada yang kabur lewat salah satu jalur.
Sejak tadi Ayash tampak gelisah. Ia takut terjadi apa-apa pada Prita. Ia merasa bodoh karena terlambat menerima telepon dari Prita. Jelas-jelas nomor asing itu telah mencoba menghubunginya sejak beberapa hari lalu. Tapi ia terus mengabaikannya. Prita membutuhkan bantuannya dan ia telat menyadarinya.
"Tenang, Pak. Nona Prita pasti akan baik-baik saja." Egi yang sedari tadi melihat gelagat bosnya mencoba menenangkan.
"Apa masih jauh?"
"Menurut peta lokasi yang diberikan Raka, sekitar 30 menit lagi kita akan sampai."
Raka adalah ahli IT sekaligus hacker yang bekerja untuk perusahaan Keluarga Hartadi. Dia sangat diperlukan untuk mengamankan data-data perusahaan dari ancaman hacker lainnya. Untuk situasi tertentu seperti saat ini, keberadaannya juga sangat dibutuhkan.
Kali ini Ayash benar-benar menggunakan kekuasaan papanya untuk kepentingan pribadinya. Ia mengerahkan semua bodyguard keluarga dan perusahaan serta memanfaatkan hacker perusahaan untuk mencari Prita. Entah apa yang akan dilakukan papanya jika tahu semua yang dilakukannya.
Egi sebenarnya adalah orang kepercayaan Tuan Hartadi. Namun, semenjak menjadi mentor Ayash, ia lebih membela Ayash daripada papa dan mamanya. Ia semakin sering berbohong dan menyembunyikan perbuatan bosnya yang akan memicu kemarahan. Seperti saat ini.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba mobil yang mereka naiki berhenti.
"Loh, kenapa berhenti?" tanya Ayash keheranan.
"Maaf, Pak. Mobil depan berhenti jadi saya ikut berhenti." jawab si sopir.
"Egi, cek ke depan." perintah Ayash.
"Baik, Pak." Egi langsung turun dari mobil untuk melihat apa yang terjadi di depan.
Beberapa saat kemudian, Egi kembali dengan wajah kebingungan.
"Kenapa, Gi?"
"Pak, di depan jalan buntu."
Ayash memicingkan sebelah matanya karena keheranan. Ia bergegas turun dari mobil untuk melihat sendiri apa yang dikatakan Egi.
Pengawalnya yang menaiki mobil depan sudah berkerumun melihat jalan depan yang tidak bisa dilewati. Ayash terperangah melihat apa yang menghalang di hadapannya. Jalan yang ia lewati benar-benar berakhir di depan.
"Halo, bos."
Ayash melakukan panggilan video call dengan Raka. Untunglah meskipun di daerah hutan, tapi masih ada jaringan internet.
"Raka... sebenarnya kamu becus bekerja apa tidak? Kenapa memberi kami rute jalan buntu?" gerutu Ayash.
"Hah, apa? Tentu saja rutenya sudah benar. Memang banyak jalur pengecoh, tapi sudah aku berikan dua jalur asli menuju ke sana. Aku sudah sudah payah menembus sistem keamanan mereka kenapa malah kena marah... Aku laporkan ke Tuan Hartadi, lho." Raka seenaknya mengancam bosnya sendiri.
__ADS_1
"Buktikan kalau kerjamu becus. Lihat ini! Jalannya buntu." Ayash mengarahkan kameranya ke arah depan.
"Wah, apa itu. Sebentar, Bos. Aku periksa dulu."
Ayash memperhatikan sepertinya Raka sedang sibuk mengamati data yang ada di hadapannya.
"Bos... sepertinya itu hanya pengecoh saja. Singkirkan ranting-ranting yang menghalangi jalan. Di depan itu bukan hutan, tapi hanya kain bergambar. Tabrak saja."
"Oh, Shit!" Pekik Ayash.
Ayash langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Kalian semua, singkirkan ranting-ranting yang menghalangi jalan. Setelah itu, terjang saja yang ada di depan!"
Para pengawal menuruti permintaan Ayash. Mereka menyingkirkan satu per satu ranting yang menghalangi jalan.
Ayash kembali ke dalam mobilnya. Ia menghela nafas. Orang yang bernama Bayu itu benar-benar ingin menghalanginya.
"Egi, hubungi orang-orang kita yang mengambil jalur lain untuk melakukan hal yang sama. Di sana mereka juga pasti sedang kebingungan."
"Baik, Pak."
Egi langsung menghubungi ketua rombongan yang terpisah darinya.
Kesunyian kembali hadir mengiringi perjalanan mereka. Tak ada orang yang akan menyangka jika di tengah hutan belantara ada istana tersembunyi yang bahkan dirancang dengan sistem keamanan canggih. Hutan itu menurut kabar merupakan milik salah seorang pejabat tinggi, namun entah mengapa keluarga Bagaskara bisa menguasainya.
Setelah perjalanan sekitar 30 menit yang terasa sangat lama, mereka menemukan sumber cahaya di tengah kegelapan hutan. Berangsur-angsur mereka mendekati bangunan mansion yang terbilang megah dan luas dikelilingi tembok tinggi menjulang.
Di depan gerbang, mereka dihentikan oleh beberapa penjaga. Namun, para pengawal Ayash langsung berhasil melumpuhkan mereka.
Gerbang dibuka. Iring-iringan mobil mulai masuk ke halaman mansion yang sangag luas. Di depan pintu masuk, sudah ada puluhan penjaga yang menghadang.
"Bagaimana, Pak? Apa kita tetap maju dan memakai cara kekerasan?" tanya Egi.
"Tentu saja. Ini sambutan mereka dan kita harus membalasnya."
"Apa kita perlu menunggu yang lain? Mungkin sebentar lagi mereka sampai."
"Tidak perlu. Jumlah mereka seimbang dangan orang yang ada bersama kita."
Ayash turun dari mobil diikuti Egi. Para bodyguard membentuk barisan di belakang mereka.
"Minggir kalian!" perintah Ayash.
"Maaf, bos kami tidak menerima tamu larut malam. Silakan kalian pulang."
__ADS_1
"Bangsat!" pekik Ayash
Bug!
Ayash memukul salah satu dari mereka. Perkelahian langsung pecah. Kedua kubu langsung baku hantam dengan ganas. Ayash meringsek masuk dengan mendobrak pintu. Egi dan beberapa bodyguard membuat barikade di sekitar Ayash agar tidak diganggu tim lawan.
Di aula utama, para pelayan yang melihat Ayash bersama orang-orangnya masuk, berlarian sambil berteriak-teriak panik. Mereka seperti sedang mengalami razia dadakan.
"Cepat periksa semua ruangan di sini! Cari Prita sampai ketemu!" perintah Ayash.
Mereka langsung berpencar membuka satu per satu pintu dari lantai satu. Mereka tak menemukan Prita di lantai bawah. Ayash bergegas menaiki tangga menuju ruangan di lantai dua.
Satu per satu kamar ia buka. Ayash memasuki kamar utama yang tampak berantakan. Pakaian dalam wanita berserakan di lantai.
"Prita... Prita.... " Ayash menyusur setiap sudut kamar sembari memanggil-manggil nama Prita.
Ia menuju ruangan kamar mandi. Kosong, tak ada orang. Ketika melewati ruangan walk in closet, pandangan matanya tiba-tiba terhenti. Di sana terdapat deretan pakaian wanita. Ia mengambil sweater hitam yang tergantung di sana. Sweater itu dikenakan Prita saat mereka pergi ke Taman Hiburan. Kakinya seakan langsung lemas dan tersungkur ke lantai.
"Pak... Kami menemukan dua orang yang sepertinya korban penyiksaan. Satunya seorang pelayan wanita dan yang satunya... Mario."
"Apa!?" Ayash terkejut mendengar penuturan Egi. "Dimana mereka sekarang?"
"Ada di halaman belakang."
Ayash langsung berlari membawa sweater Prita di genggamannya. Egi mengimbangi kecepatan langkah bosnya.
Belum sempat menjumpai Mario, langkah mereka terhenti karena dikejutkan dengan kehadiran helikopter yang terbang rendah di atas mansion. Hembusan angin yang diciptakan pergerakannya membuat benda-benda ringan tersapu beterbangan.
Helikopter itu mengarah pada mansion utama. Mata Ayash menangkap sosok lelaki sedang menggendong wanita di atas atap.
"Prita!"
Ayash kembali berlari kencang memasuki mansion. Satu per satu anak tangga dinaikinya tanpa rasa lelah. Setelah sampai di lantai dua, ia mencari akses menuju rooftop.
Nafasnya tersengal-sengal. Ia melihat Bayu menyeringai sambil membawa Prita naik ke atas helikopter yang memang sengaja ia sediakan.
"Prita!" teriak Ayash. Namun Prita yang dalam kondisi pingsan tak dapat mendengar seruannya.
Ayash berlari hendak mengejar Prita. Namun, Helikopter itu mulai mengudara hingga menimbulkan hembusan angin kencang yang menghempaskan tubuhnya.
"Prita... ! Prita... ! Prita.... !" Ayash terus berteriak mengiringi helikopter yang mengudara semakin tinggi.
"Akh... !"
Ayash menangis putus asa. Ia gagal menyelamatkan Prita.
__ADS_1