
Bayu sedang berada di dalam ruang kerjanya. Ada banyak dokumen yang harus ia periksa dan tanda tangani. Sesekali ia memeriksa rekaman CCTV rumah yang terhubung ke ponselnya.
Ia sedang memperhatikan pergerakan wanitanya yang sejak pagi hanya beraktivitas di kamarnya. Tampak nampan makan siang masih tergeletak di kamarnya, sama sekali belum tersentuh. Sementara wanita itu terus meringkuk di atas kasurnya.
Bayu memijit keningnya memikirkan tingkah wanita itu yang belum mau menerimanya. Padahal akan sangat mudah jika dia membalas rasa cintanya yang begitu besar. Ia tak mau melepaskannya. Apapun yang terjadi. Mau tidak mau, Prita yang harus mengalah untuk mulai belajar mencintainya.
Ia meraih gagang telepon di mejanya, "Bi Ratna, pergi ke kamar Prita dan suruh dia makan. Katakan, jika dia tidak mau makan, saya akan datang."
Setelah mengatakan hal itu, ia kembali meletakkan gagang telepon pada tempatnya. Ia kembali memperhatikan ponselnya. Beberapa saat kemudian, tampak beberapa pelayan masuk ke kamarnya. Ketika melihat Prita mau makan, ia bisa tersenyum.
Trililit... Trililit....
"Halo?"
"Pak, ada orang yang ingin bertemu dengan Anda."
"Siapa?"
"Tuan Ayash Hartadi dan Egi Wiraguna."
Bayu mengernyitkan kening, 'Ayash?' batinnya.
Bayu mengepalkan tangannya. Ia kesal sekali mendengar nama itu disebut. Apalagi orang itu berani datang ke kantornya. Dia tidak akan pernah melepaskan Prita.
"Halo, Pak? Apa Anda berkenan menemui mereka? Halo.... "
"Ah, ya, tentu saja. Sebentar lagi aku turun ke bawah."
"Baik, Pak. Akan saya sampaikan."
Bayu melepaskan jas kerjanya dan melonggarkan dasi dengan kasar. Tiba-tiba hawa di sekitarnya terasa panas. Ia bergegas keluar ruangannya dengan langkah seperti orang kesal.
"Ben, ikut aku ke bawah!" perintahnya ketika melewati Beni yang ruang kerjanya ada di depan ruangannya.
Beni langsung berdiri dan mengikuti bosnya dengan buru-buru.
"Ada apa, bos?" tanyanya ketika mereka sudah berada di dalam lift.
"Ikut saja, nanti kamu akan tahu."
Beni langsung diam mendengar perintah bosnya.
Ting
Pintu lift terbuka, Bayu dan Beni berjalan menuju resepsionis. Tingkah laku Bayu terlihat seperti ingin membunuh orang. Sangat jelas terlihat kalau ia sedang emosi.
__ADS_1
Tanpa bertanya, resepsionis langsung mengarahkan Bayu dan Beni kepada tamu yang hendak menemui mereka. Bayu mengernyitkan dahinya ketika melihat orang yang hendak menemuinya bukan orang yang sudah ia bayangkan.
Irgi dan Egi langsung berdiri dari duduknya. Mereka menatap kesal kedatangan Bayu dan Beni.
"Siapa kalian?" tanya Bayu.
Irgi maju, langsung menarik kerah leher Bayu, "Dimana Prita?" teriaknya sembari melotot ke arah Bayu.
Beni dengan sigap melepas cengkraman tangan Irgi dan mendorongnya kuat hingga tubuhnya terhempas mundur ke belakang.
"Lebih baik kalian pergi dari sini. Saya tidak punya urusan dengan kalian."
"Tidak perlu berpura-pura, saya tahu, Anda yang mencelakai bos saya dan menculik Nona Prita." kata Egi.
Bayu menyeringai, "Memangnya kenapa jika aku yang melakukan semuanya? Jangan ikut campur urusanku kalau kalian tidak mau ikut susah."
Irgi kembali maju, "Katakan, dimana Prita?"
Bayu memandangi Irgi dari atas sampai bawah, "Siapa kamu? Apa kamu menyukai pacarku juga?" Bayu berkata dengan penuh percaya diri.
"Cih! Om-om gila, berkhayal Prita mau dengan lelaki berumur sepertimu." ejek Irgi.
Bayu geram mendengar ejekan Irgi. Harga dirinya sebagai lelaki merasa dilulai karena dikatakan tua. Padahal dia sendiri merasa masih muda.
"Bangsat!"
Bug!
"Om-om sialan!" pekik Irgi
Bug! Bug! Bug!
Irgi dan Bayu saling adu pukul. Beni ikut turun tangan membantu Bayu, namun dihalangi oleh Egi. Akhirnya mereka berempat terlibat adu pukul.
Suasana kantor mendadak menjadi kacau. Para karyawan berlarian untuk melihat pusat dari kericuhan. Para karyawan wanita berteriak-teriak histeris menyaksikan adu pukul empat orang itu. Apalagi mereka berkelahi sampai membanting barang-barang yang ada di area lobi hingga membuat beberapa kaca pecah.
Bug!
Irgi berhasil mendaratkan tendangan saltonya di wajah Bayu. Bayu jatuh tersungkur. Sudut bibirnya mengeluarkan darah. Tapi dia hanya menyeringai. Kemudian ia balik menyerang Irgi dengan lebih bertenaga.
Egi dan Beni juga bertarung dengan serius. Keduanya sama-sama memiliki basic bela diri tingkat tinggi. Meskipun sama-sama kena pukul, keduanya tetap melanjutkan bertarung.
Beberapa saat kemudian, pihak keamanan datang berbondong-bondong kesana. Mereka langsung menangkap Egi dan Irgi serta menyelamatkan Bayu, bos mereka.
"Berani-beraninya kalian menerobos kesini dan membuat kekacauan di kantor orang." Bayu mengusap darah yang keluar dati sudut bibirnya.
__ADS_1
"Kembalikan Prita, Bangsat! Jangan jadi banci main keroyokan!" Irgi tidak bisa bergerak karena tubuhnya dicekal beberapa orang.
"Sudah aku katakan, jangan libatkan diri ke dalam urusan orang yang bukan menjadi urusanmu! Kamu akan menyesal."
"Kamu yang akan menyesal. Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu mengembalikan Prita."
"Bawa mereka keluar dari sini! Jangan biarkan mereka datang ke sini lagi. Ingat-ingat wajah mereka dan lebih perketat orang yang keluar masuk tempat ini." perintah Bayu.
"Baik, bos." jawab para tim keamanan dengan kompak.
Mereka menyeret Irgi dan Egi keluar. Irgi masih meronta-ronta sambil melemparkan segala umpatan kepada Bayu.
Bayu menghela nafas. Seluruh tubuhnya terasa pegal-pegal karena beberapa kali terkena pukulan oleh Irgi. Ia melihat ke sekeliling, para karyawan masih berkerumun memperhatikannya.
"Kalian semu kembalilah bekerja." perintah Bayu.
Mereka langsung membubarkan diri, satu persatu kembali ke ruang kerja masih-masing.
"Apa Anda baik-baik saja, bos?" tanya Beni yang wajahnya juga terlihat babak belur dihajar Egi.
"Ya, aku baik-baik saja."
"Siapa mereka?"
"Aku juga tidak tahu. Mungkin orang suruhan Ayash."
"Bos, sepertinya akan rumit kalau kita bermasalah dengan keluarga Hartadi. Apa tidak sebaiknya Anda mengembalikan saja wanita itu?"
"Apa katamu?"
"Saya bisa mencarikan wanita lain yang lebih cantik dari dia, bahkan yang masih segel."
Bayu menarik kerah Beni, "Sekali lagi kamu bicara seperti itu, aku akan membunuhmu!" ancamnya.
"Tapi, bos... saya melakukan semua ini demi kebaikan Anda."
"Kalau kamu peduli denganku, cari cara lain. Lakukan apapun agar aku tetap bisa bersamanya. Aku tidak mau yang lain."
"Kenapa, bos? Biasanya Anda suka dengan wanita-wanita yang saya bawakan. Jika Anda menginginkan yang masih virgin, saya juga bisa mencarikannya."
"Aku sudah tidak perlu yang lain. Jangan dibahas lagi."
"Maaf, bos."
"Tolong kamu segera bereskan semua kekacauan ini. Jangan lupa, tambahkan sistem keamanan menuju kantor ini. Aku tidak mau pengacau kembali berulah di sini."
__ADS_1
"Baik, bos."
Bayu kembali ke ruangannya. Ia merebahkan diri di kursi empuk milihnya. Hari ini terasa sangat melelahkan. Ia kembali melihat ponselnya, membuka CCTV yang terhubung dengan kamarnya. Tampak Prita sedang berdiri di balkon kamar.